Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kotak Suara

Perkawinan Anak Berdampak Buruk bagi Kesehatan Mental Perempuan

Kenia Intan oleh Kenia Intan
8 Juni 2023
A A
perkawinan anak mojok.co

Ilustrasi pernikahan dini (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Perkawinan anak masih menjadi pekerjaan rumah yang cukup berat di Indonesia. Meskipun prevalensinya terus menurun dalam satu dekade terakhir seperti yang diperkirakan oleh Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS).

Mengutip estimasi SUSENAS, prevalensi perkawinan anak pada 2021 sebesar 9,23 persen. Angka ini menurun 1,12 poin dibanding tahun sebelumnya. Angka itu diambil dari responden perempuan usia 20-24 tahun yang pernah menikah sebelum usia 18 tahun. Sumber lain menyebut, Indonesia menjadi yang tertinggi di kawasan Asia Pasifik, juga tertinggi ke delapan di dunia. Satu dari sembilan anak perempuan di Indonesia menikah sebelum berusia 18 tahun.

Sebenarnya beberapa aturan sudah hadir untuk mencegah praktik ini. Salah satunya revisi Undang-Undang Perkawinan pada 2019. Aturan ini meningkatkan usia minimum anak perempuan untuk menikah menjadi 19 tahun. Namun, revisi beleid itu nyatanya masih masih memungkinan orangtua menikahkan anak perempuan lebih awal dengan mendapat persetujuan dari pengadilan agama atau pejabat setempat.

Di beberapa negara, termasuk Indonesia, perkawinan anak dianggap sebagai kebutuhan anak perempuan yang bersangkutan untuk bertahan hidup. Di banyak komunitas, perkawinan anak dipandang sebagai cara untuk melindungi anak perempuan dan memastikan keamanan finansial. Pernikahan juga sejalan dengan peran dan harapan gender tradisional.

Sementara itu melansir data Kompas, kenaikan batas usia ini meningkatkan permohonan dispensasi kawin. Pada 2022 jumlah berkas permohonan dispensasi kawin yang diajukan mencapai 52.095 berkas. Adapun Jumlah permohonan dispensasi kawin paling tinggi berasal dari Pengadilan Tinggi Agama Surabaya mencapai 15.339 permohonan.

Salah satu alasan yang mendorong orangtua mengajukan permohonan dispensasi kawin untuk anaknya karena calon perempuan sedang hamil. Alasan lain orang tua mengajukan dispensasi kawin karena anak-anaknya sudah berhubungan suami istri dan calon pengantin sama -sama mencintai.

Kesehatan mental anak perempuan dipertaruhkan

Efek merugikan dari perkawinan anak terhadap anak perempuan sebenarnya sudah didokumentasikan dengan baik. Namun, yang terekam kebanyakan dampak negatif terhadap pendidikan anak perempuan, peluang karir, kesehatan dan keselamatan fisik. Sementara dampak terhadap kesehatan emosional dan mental anak perempuan sering terabaikan.

Padahal perkawinan anak sangat mungkin berdampak besar tehadap kondisi emosional dan mental anak perempuan. Anak perempuan yang tidak siap memasuki kehidupan pernikahan, yang mana sebagian besar memang demikian, berpotensi mengalami tekanan. Apabila kondisi ini terus berlanjut bisa berpengaruh pada kesehatan mental. Tekanan bisa dipicu oleh tanggung jawab rumah tangga yang melekat setelah pernikahan, terisolir dari kehidupan sosial, dan potensi terjadinya kekerasan yang mana banyak terjadi dalam perkawinan anak.

Tingkat depresi lebih tinggi

Melansir dari tulisan yang diterbitkan oleh The Conversation berjudul “Riset: perkawinan anak di Indonesia meningkatkan depresi perempuan” ditemukan bahwa pernikahan dini, terutama pada usia 18 tahun, menyebabkan tingkat depresi yang lebih tinggi. Tingkat depresi yang tinggi ini dipicu oleh mobilitas pasar kerja yang menjadi lebih terbatas dan kesehatan fisik yang buruk.

“Saya menemukan bahwa penundaan satu tahun dalam pernikahan mengurangi kemungkinan perempuan mengalami depresi,” jelas Research Fellow in Health Economics, Monash University Danusha Jayawardana dalam The Conversation, Selasa (16/5/2023).

Temuan riset ini secara tersirat sekaligus menunjukkan bahwa ongkos yang timbul atas perkawinan anak lebih banyak diremehkan. Apabila negara-negara berkembang mau mengatasi dampak negatif dari perkawinan, manfaat yang didapat diperkirakan bisa lebih dari US$22 miliar atau sekitar Rp325 triliun.

Menimbulkan traumatis

Menikah di usia muda dapat menimbulkan pengalaman traumatis dan menegangkan bagi anak perempuan. Setelah menikah, anak perempuan bisa terpisah dari keluarga dan teman-temannya. Mereka terpaksa tinggal bersama suami dan keluarganya sehingga meningkatkan risiko isolasi sosial.

Tanggung jawab pernikahan, seperti melahirkan anak dan mengasuh anak juga dapat memberikan tekanan fisik dan emosional yang signifikan pada perempuan muda yang masih dalam masa pertumbuhan. Penelitian internasional menunjukkan bahwa mereka juga lebih mungkin menjadi korban kekerasan pasangan intim dan hubungan seksual yang dipaksakan.

Pengalaman buruk yang terus mendera bisa berdampak pada kesehatan mental. Berbagai gangguan mental seperti depresi, kecemasan, dan serangan panik bisa muncul.

Iklan

Diskriminasi gender memperburuk kondisi

Ketidaksetaraan gender sering kali menjadi asal muasal perkawinan anak. Ini menunjukkan diskriminisasi gender yang masih dipelihara di tengah masyarakat lebih banyak merugikan anak perempuan. Ujung-ujungnya kesehatan mental seperti depresi dan stres berat yang ditanggung anak perempuan menjadi semakin buruk. Tentu ini merugikan bagi kaum perempuan karena mereka yang memiliki gangguan jiwa ebih rentan terlibat dalam perilaku berisiko seperti menyakiti diri sendiri

Kondisi tersebut menjadikan fenomena “perempuan hilang” bisa ditemui di sejumlah negara, khususnya di Asia. Perempuan hilang ada istilah untuk menunjukkan berkurangnya jumlah perempuan karena berbagai sebab di suatu wilayah atau negara. Di Indonesia perkiraan perempuan hilang menjadi salah satu yang mencatatkan angka signifikan. Terhitu lebih dari satu juta pada 2010.

Penulis: Kenia Intan
Editor: Purnwan Setyo Adi

BACA JUGA Pentingnya Perempuan Pilih Caleg Perempuan di Pemilu 2024

Cek berita dan artikel lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 8 Juni 2023 oleh

Tags: kesehatan mentalPemilu 2024perkawinan anakpernikahan dini
Kenia Intan

Kenia Intan

Content Writer Mojok.co

Artikel Terkait

TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana MOJOK.CO
Esai

TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana

17 Juli 2026
Anak Indonesia bicara soal isu perkawinan anak dan kekerasan di forum dunia. MOJOK.CO
Kabar

Anak-anak Indonesia Muak Dipaksa Kawin tapi Jarang Didengar, Kini Kesal dan Mengadu ke Forum Dunia

8 Mei 2026
Zero post di Instagram cara hidup tenang Gen Z. MOJOK.CO
Urban

Gen Z Lebih Tenang Tanpa Feed Instagram (Zero Post), Aslinya Bukan Misterius Cuma Capek Mengejar Validasi dan Ingin Melindungi Diri

7 Mei 2026
Gen Z dihakimi milenial
Urban

Nasib Gen Z: Sudah Susah, Malah Serbasalah hingga Dicap “Gila” padahal Hadapi Krisis dan Hanya Mencoba Bertahan Hidup

30 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
Ilustrasi - Cerita bapak dulu bungah antar anak wisuda sarjana dari PTS Jogja, kini nelangsa antar anak susah cari kerja meski modal ijazah S1 MOJOK.CO

Cerita Bapak Dulu Bahagia Antar Anak Wisuda Sarjana, Kini Nelangsa Antar Cari Kerja Pakai Ijazah SMA karena S1 Tak Guna

19 Juli 2026
Mahasiswa KKN di desa

Serba Salah KKN di Desa: Terlalu Pendiam Dianggap Nggak Guna, Banyak Omong Dicap Sok Tahu

24 Juli 2026
Nasi Kuning Muna Cung dan Kisahnya yang Membuat Wisatawan Rela Berjalan Kaki dari Malioboro MOJOK.CO

Nasi Kuning Muna Cung dan Kisahnya yang Membuat Wisatawan Rela Berjalan Kaki dari Malioboro

22 Juli 2026
KAI Daop 6 Bagikan 80 Paket Makanan kepada Penumpang Anak di Stasiun Yogyakarta MOJOK.CO

KAI Daop 6 Bagikan 80 Paket Makanan kepada Penumpang Anak di Stasiun Yogyakarta

23 Juli 2026
Lika-Liku Meredam Tantrum Siswa Autis di Balik Keseruan Hari Anak Nasional Prambanan.MOJOK.CO

Lika-Liku Meredam Tantrum Siswa Autis di Balik Keseruan Hari Anak Nasional di Candi Prambanan

22 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.