Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kotak Suara

Kepedulian Masyarakat Indonesia pada Politik Rendah, Apa Sebabnya?

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
10 Februari 2023
A A
survei kepedulian masyarakat terhadap politik

Ilustrasi tingkat kepedulian masyarakat Indonesia terhadap politik masih rendah (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kepedulian masyarakat Indonesia atas isu politik masih tergolong rendah di ASEAN. Banyak yang menganggap bahwa politik tidaklah penting. Bahkan, kepercayaan publik Indonesia terhadap parpol paling rendah dibandingkan lembaga lain seperti TNI dan KPK.

Kepedulian masyarakat Indonesia terhadap politik masih terkesan rendah di ASEAN. Berdasarkan data yang dipaparkan World Values Survey (WVS), hanya 19 persen masyarakat Indonesia yang menganggap politik penting. Bahkan, warga yang berpandangan politik memiliki manfaat hanya 25 persen.

Lebih lanjut, lembaga riset yang berbasis di Austria itu juga melaporkan, hampir setengah total responden atau 41,3 persen menganggap politik tidak penting. Sementara 12,8 persen menilai politik sangat tidak penting.

Dalam survei yang dilakukan sepanjang 2017-2022 ini, WVS juga menemukan bahwa 49,5 persen masyarakat Indonesia tidak pernah mendiskusikan isu-isu politik dalam obrolan mereka.

Adapun, untuk negara ASEAN, rakyat Filipina merupakan warga yang paling peduli politik. Total ada 39 persen responden yang menjawab bahwa politik sangat penting bagi kehidupan mereka.

Temuan ini cukup mengejutkan, mengingat di Asia Tenggara, Indonesia merupakan negara demokrasi terbesar. Rata-rata 50 juta lebih masyarakat berpartisipasi dalam pesta demokrasi tersebut.

Lantas, apa yang bikin kepedulian masyarakat Indonesia terhadap politik begitu rendah?

Tidak percaya elite politik

Menurut dosen Fakultas Hukum Universitas Andalas, Najmuddin M. Rasul, perubahan peta komunikasi politik bangsa Indonesia di era transisi otoritarian ke demokrasi secara tidak langsung menjadi bahan bakar apatisme politik ini. Menurutnya, perubahan itu ditandai dengan perubahan pola penggunaan media dari media massa (mainstream) ke media sosial, serta perubahan norma.

Dalam bukunya yang berjudul Tren Perubahan Partisipasi Politik Generasi Milenial di Era Transisi ke Demokrasi (2019), gelombang ketiga komunikasi telah memengaruhi gaya hidup generasi muda.

Tidak hanya menyokong generasi muda mendapatkan informasi dan pengetahuan yang diperlukan dengan cepat, kemajuan teknologi informasi juga berpengaruh signifikan terhadap perubahan perilaku politik generasi muda.

Makin banyaknya paparan pemberitaan mengenai gosip dan kontroversi elite politik secara cepat dan masif, makin memantapkan stigma bahwa politik itu kotor. Alhasil, generasi milenial pada akhirnya cenderung tidak peduli dengan politik.

”Mereka tidak peduli karena mereka tidak percaya dengan elite, aktor, atau partai politik. Mereka juga tidak percaya dengan penyelenggara dan sistem politik,” kata Najmuddin.

Kepercayaan atas parpol rendah

Temuan Najmuddin diafirmasi oleh sejumlah survei. Laporan Indikator Politik Indonesia pertengahan tahun 2022 lalu, misalnya, yang menemukan bahwa kepercayaan masyarakat atas parpol sangat rendah. Kepercayaan ini bahkan paling rendah jika dibandingkan instansi lainnya.

Dari total 1.200 responden, hanya 56,6 persen yang punya kepercayaan atas parpol. Angka ini tertinggal jauh dengan institusi yang paling dipercaya, yakni Tentara Nasional Indonesia (TNI) sebesar 93,3 persen.

Iklan

Bahkan, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang terus diterpa isu miring sejak akhir 2019 masih punya nilai yang lebih tinggi, yakni 73,2 persen. Sementara dua lembaga parlemen, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD), masih-masih dinilai di angka 60-an persen.

Hasil tersebut setali tiga uang dengan The Indonesia Institute (TII) yang dirilis akhir Desember 2022. Dalam laporannya, TII menemukan bahwa 91,49 persen anak muda tidak mau masuk partai politik.

Dalam Diskusi Ruang Publik #17 bertajuk “Unpacking Persepsi dan Partisipasi Anak Muda Jelang Pemilu 2024”, Direktur Eksekutif TII Adinda Teriangke menyebut hanya ada 8,51 persen anak muda yang ingin gabung parpol.

Bahkan, dari presentase tersebut, mayoritas lebih memilih menjadi anggota biasa (5,32 persen. Sementara 3,19 persen lainnya ingin bekerja aktif di parpol.

“Meski kecil tapi ada harapan bahwa anak muda masih ada yang memandang parpol menjadi media untuk mereka memperjuangkan kepentingan,” ujar Adinda.

Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Amanatia Junda

BACA JUGA Sepanjang 2022, Porsi Perempuan Muncul di Media Hanya 14 Persen

Terakhir diperbarui pada 10 Februari 2023 oleh

Tags: ASEANkepeduliankepercayaanparpolPartai PolitikPemilu 2024politiksurvei politik
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Gugun El Guyanie : Awalnya Soal Skripsi, Berakhir Membongkar Dinasti
Video

Gugun El Guyanie : Awalnya Soal Skripsi, Berakhir Membongkar Dinasti

28 Oktober 2025
Republik dan Bayang Penjajahan yang Tak Usai
Video

Republik dan Bayang Penjajahan yang Tak Usai

25 Oktober 2025
Feri Amsari: Partai Politik Adalah Masalah Terbesar Bagi Demokrasi Kita
Video

Feri Amsari: Partai Politik Adalah Masalah Terbesar Bagi Demokrasi Kita

1 Juni 2025
Kotak Pandora Politik Terbuka: Gus Romy Ungkap Krisis di PPP
Video

Kotak Pandora Politik Terbuka: Gus Romy Ungkap Krisis di PPP

20 Mei 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Seorang kakak (anak perempuan pertama) kerja keras jadi tulang punggung keluarga gara-gara ortu miskin dan adik tidak tahu diri MOJOK.CO

Anak Perempuan Pertama Mengorbankan Masa Muda demi Hidupi Orang Tua Miskin dan Adik Tolol, Tapi Tetap Dihina Keluarga

11 Maret 2026
Sesal suka menolong orang lain usai ketemu lima jenis orang yang tidak layak ditolong meski kesusahan. Dari tukang judi slot hingga orang susah bayar utang MOJOK.CO

Kapok Suka Menolong Orang Lain usai Ketemu 4 Jenis Manusia Sialan, Benar-benar Nggak Layak Ditolong meski Kesusahan

12 Maret 2026
Ilustrasi - Anak pertama dicap gagal.MOJOK.CO

Rela Hidup Miskin di Desa demi “Kebahagiaan” Adik-Adiknya di Kota, tapi Malah Dicap Pemalas dan Beban Keluarga

11 Maret 2026
Saya Orang Jogja yang Iri pada Klaten yang Keberadaannya Makin Diperhitungkan Mojok.co

Klaten Daerah Tertinggal yang Perlahan Berubah Menjadi Surga, Dulu Diremehkan dan Dianggap Kecil Kini Sukses Bikin Iri Warga Jogja

11 Maret 2026
Orang "Gagal" yang Dihina Hidupnya, Buktikan Bisa Lolos CPNS hingga PNS. MOJOK.CO

Dulu Kerap Dihina, Ditolak Kampus Top hingga Nyaris DO dan Beasiswa Dicabut, Kini Buktikan Bisa Lolos Seleksi CPNS

10 Maret 2026
Kerja di Jakarta, Purwokerto, KRL.MOJOK.CO

Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto

13 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.