Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Konter

Instagram Sedang Menggali Kuburannya Sendiri!

Isidorus Rio Turangga Budi Satria oleh Isidorus Rio Turangga Budi Satria
5 Juli 2021
A A
Instagram Sedang Menggali Kuburannya Sendiri! MOJOK.CO

Instagram Sedang Menggali Kuburannya Sendiri! MOJOK.CO

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Alih-alih percaya bahwa Reels akan bikin mati TikTok, saya justru kasihan sama Instagram yang mati-matian berevolusi jadi sesuatu yang makin jauh dari identitas awal mereka.

Head of Instagram, Adam Mosseri, seakan menggali kuburannya sendiri ketika bilang, “We’re no longer a photo-sharing app.”

Dalam unggahan video singkat berdurasi 2 menitan, Adam menjelaskan bahwa Instagram akan membawa perubahan masif ke aplikasi tersebut. 4 hal jadi fokus utama yakni Creator, Video, Shopping, dan Messaging.

Sekilas, ini nampak menarik. Di atas kertas, Instagram berupaya jadi super-app yang relevan dengan zaman dan berusaha terlihat wah banget, tapi mereka lupa; sebuah aplikasi yang terus berubah hanya akan kehilangan identitasnya.

Oke pertama, kita mulai dari Reels.

Seorang selebtwit sempat menuliskan dalam sebuah twit ketika dia menyebut dengan percaya diri bahwa Reels akan jadi lonceng kematian bagi TikTok. Setelah Instastories sukses membawa lonceng kematian bagi Snapchat, Reels digadang-gadang melalukan hal serupa ke TikTok. Lucu sekali opini ini, karena terlihat sangat polos dan naif.

Reels di-desain sedemikian rupa supaya mirip dengan TikTok. Instagram seolah membuang harga diri mereka dengan membuat fitur yang plek-ketiplek dengan fitur utama TikTok. Hanya karena Reels mirip TikTok apakah akan membuat TikTok mati? Tentu saja hanya waktu yang bisa menjawab.

Namun, saya yakin, jawabannya untuk saat ini adalah: TIDAK. Setidaknya, TikTok tidak menjual jiwa mereka ke pasar untuk menjadi sesuatu yang bukan identitas mereka. Dari sejak awal di-launching, TikTok adalah platform video pendek dan tidak pernah beranjak dari titik tersebut. Reels? HAHAHA!

Kedua, poin kreator.

Dengan menghapus identitas sebagai photo-sharing app, Instagram justru membuat jarak yang besar sekali dengan para kreator mereka. Harus ke mana para comic artist mengunggah artwork mereka kalau Instagram yang jelas-jelas platform terbaik untuk ini terang-terangan menyebut diri, “Eh, antum nggak bisa share images lagi di sini, yaw!”

Di setiap pengembangan aplikasi, harusnya kreator jadi faktor utama yang tidak boleh diabaikan. Karena selain biasanya jadi opinion leader, mereka juga napas utama aplikasi. Yang membuat aplikasi tak pernah kehilangan ruh mereka di tengah tuntutan pasar digital yang makin kompleks.

Bayangin, di Instagram, dalam 2-3 tahun terakhir, kreator tidak lagi leluasa untuk semakin kreatif berkarya, tapi 90%-nya justru dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan perubahan Instagram yang makin lama makin gak jelas mulai dari perubahan identitas hingga algoritma.

Ketiga, shopping dan messaging.

Ini lebih “wagu” lagi. Instagram Shop sejatinya adalah fitur yang tidak pernah diinginkan oleh users. Dari beberapa forum reddit di Amerika Serikat, tidak ada satu pun yang mengapresiasi kolom Shop di Instagram.

Iklan

Sudahlah tidak diinginkan, eh, di pembaharuan terbaru, shopping malah dimasukkan sebagai 1 dari 4 poin utama rebranding baru Instagram. Coba dibuka datanya deh, seberapa banyak bisnis UMKM yang terbantu dengan fitur Instagram Shop, pada berani nggak ini?

Akselerasi ekonomi digital memang menggiurkan, tapi pintu masuk users ke e-commerce masih lewat aplikasi sejenis Shopee dan Tokopedia. Meski ceruk ini menguntungkan, nyaris sulit mengubah kebiasaan orang berbelanja di e-commerce lalu digeser ke Instagram Shop. Selain ini sudah jadi pola yang nyaris template, jujur aja deh, ada berapa banyak, sih, orang yang sudi beli barang lewat Instagram Shop ketimbang Shopee atau Tokopedia?

Nah, kalau soal fitur messaging, sih, dari dulu yang memang sudah bobrok pola pikirnya. Sudahlah privasi diobok-obok sama Facebook, eh penyatuan aplikasi Messenger antara Facebook dan Instagram justru bisa bikin random peoples di Facebook bisa tiba-tiba kirim DM ke akun Instagram kita. Saya beberapa kali mendapat DM dari orang di Facebook yang nawarin bisnis MLM sampai nawarin kontrakan bulanan.

Dan terakhir, pesan buat developer Instagram, mbok uwis, leren, tenangno pikirmu.

Di tengah akselerasi digital yang berfokus di konten video, Instagram harusnya tak perlu mencoba relevan dengan zaman. Berani beda itu baik dan tidak perlu mengekor popularitas TikTok.

Lagipula, simpelnya gini, kalau semua aplikasi jadi video-based, apa nggak membosankan nantinya platform media sosial di dunia ini? Sebelum ada Reels, orang datang ke Instagram bukan untuk mencari video ala TikTok dan seharusnya itu alasan yang lebih dari cukup untuk mempertahankan main value Instagram sebaagi sebuah aplikasi.

Jadi ya, alih-alih percaya bahwa Reels akan bikin mati TikTok, saya justru kasihan sama Instagram yang mati-matian berevolusi jadi sesuatu yang makin jauh dari identitas awal mereka. You live long enough to be something that you actually don’t want to be.

BACA JUGA Instagram Reels: Setelah Snapchat dan TikTok, Siapa Lagi yang Mau Direbut Pasarnya, Wahai Instagram? dan kisah bersama aplikasi lainnya di rubrik KONTER.

Terakhir diperbarui pada 5 Juli 2021 oleh

Tags: FacebookIG ReelsIG storeisInstagrampencurian data FBReelsShopeetiktoktokopedia
Isidorus Rio Turangga Budi Satria

Isidorus Rio Turangga Budi Satria

Dulu nulis bola. Sekarang nulis tekno.

Artikel Terkait

Open Donasi Bodong Mengeksploitasi Kemiskinan MOJOK.CO
Catatan

Gara-Gara Kapitalisme, Kita Lebih Mudah Nyawer Gift TikTok atau Berdonasi Online daripada Membantu Tetangga yang Susah

22 Januari 2026
2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup MOJOK.CO
Ragam

2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup

17 Januari 2026
Pengalaman Beli HP "Spek Dewa" Rp900 Ribu di Shopee: Kepepet Berujung Konyol, tapi Beruntung Diselamatkan Kurir.MOJOK.CO
Ragam

Pengalaman Beli HP “Spek Dewa” Rp900 Ribu di Shopee: Kepepet Berujung Konyol, tapi Beruntung Diselamatkan Kurir

10 Oktober 2025
Salah beli sepatu ala anak Jakarta di Shopee. MOJOK.CO
Catatan

Sekalinya Beli Sepatu di Shopee Malah Tertipu Toko Berlabel Ori, Nggak Jadi Gaya-gayaan Malah Berujung Cedera

9 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa Jogja nugas di coffee shop

Nugas di Kafe Dianggap Buang-buat Duit, padahal Bikin Mahasiswa Jogja Lebih Tenang dan Produktif

6 April 2026
Pembangunan Masif Rusak Hutan Papua, Belasan Spesies Satwa Terancam Punah.MOJOK.CO

Pembangunan Masif Rusak Hutan Papua, Belasan Spesies Satwa Terancam Punah

3 April 2026
Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer MOJOK.CO

Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer

7 April 2026
Sumbangan pernikahan di desa, jebakan yang menjerat dan membuat warga menderita MOJOK.CO

Sumbangan Pernikahan di Desa Menjebak dan Bikin Menderita: Maksa Utang demi Tak Dihina, Jika Tak Ikuti Dicap “Ora Njawani”

8 April 2026
Hasutan dan jebakan orang minta donasi di Stasiun Tugu Jogja, ternyata berkedok penipuan MOJOK.CO

Turun Stasiun Tugu Jogja Muak sama Orang Minta Donasi: Tidak Jujur Sejak Awal, Jual Kesedihan Endingnya Jebakan

5 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.