Instagram Reel yang Terlalu Mirip TikTok Bikin App Ini kayak Tukang Caplok Ide mojok.co
ilustrasi Instagram Reel yang Terlalu Mirip TikTok Bikin App Ini kayak Tukang Caplok Ide mojok.co

Instagram Reel yang Terlalu Mirip TikTok Bikin App Ini kayak Tukang Caplok Ide

MOJOK.CO – Instagram Reel persis banget TikTok, Instastory persis banget Snapchat. Emangnya sah-sah aja ya saling copy konsep begini?

Tempo hari Instagram Reel, sudah tersedia di Indonesia. Instagram Reel adalah fitur baru yang memudahkan pengguna buat melihat video-video singkat dari pengguna lain, baik yang sudah di-follow maupun yang belum. Singkatnya, fitur ini identik banget sama bentuk lini masa yang ada di aplikasi TikTok. Tinggal swipe untuk melihat konten demi konten berikutnya. Di sebelah kanan juga bakal ada tombol like, comment, dan share. Ada angka yang memperlihatkan berapa orang yang telah menonton video tersebut. 

Cara bikin Instagram Reels juga persis cara kerja TikTok. Kita bisa merekam video, memilih sound atau musik yang akan jadi latar belakang, menyuntingnya dengan berbagai fitur yang disediakan, lalu mengunggahnya. Konon, kalau bikin Instagram Reel, konten kita juga bisa lebih cepat viral kayak TikTok, mungkin Instagram juga menukil sistem algoritma yang sama.

Nggak sedikit orang yang merasa deja vu dua kali saat pakai fitur Instagram Reel. Pertama karena fitur ini seolah secara sembrono meng-copy paste konsep TikTok yag makin banyak penggunanya. Kedua karena ini bukan pertama kalinya Instagram mencaplok ide dari aplikasi lain yang lagi tenar.


Nggak salah kalau Instagram kelihatan seolah-olah kayak aplikasi tukang caplok. Pokoknya kelihatan super licik, curang, dan nggak mau kalah. Snapchat sekarat karena konsep video vertikal mereka ditransmisikan jadi Instagram Story yang justru lebih populer. Setelahnya, Instagram makin berjaya, di awal 2021 saja sudah mengantongi 1,074 miliar pengguna dengan 71% pengguna aktif. Dengan jumlah pengguna yang lebih banyak ini, nggak mustahil kalau Instagram juga bakal ngalahin TikTok dalam “clone wars” media sosial.

Secara legal, tidak ada aturan yang benar-benar secara tegas menganggap pencurian ide dan konsep dalam aplikasi media sosial itu dilarang. Kalau menilik kasus Instagram dan Snapchat sebelumnya, nggak ada regulasi yang bisa melindungi Snapchat. Ide dianggap sebagai konsep mentah saat masing-masing teknisi pengembang media sosial bisa menerapkan hal yang sama pada aplikasi mereka. Hasilnya memang nggak bisa sama persis, setidaknya ada user interface yang dibuat berbeda bahkan di-upgrade jadi lebih baik.

Instagram Reel yang disebut copy paste dari TikTok bahkan nggak bisa di-pause ketika diketuk sekali. Justru, Instagram Reel menyediakan fitur mute yang nggak dipunyai TikTok. Bisa jadi, Instagram justru lebih unggul dengan fitur ini daripada TikTok sendiri. Sebab, Instagram punya banyak waktu buat melakukan riset terhadap keluhan pengguna TikTok dan menghindarinya. Instagram juga dapat keuntungan mengawasi pasar dari “kejauhan”, melihat apakah produk semacam TikTok disukai orang-orang atau hanya produk yang dirayakan sesaat kayak aplikasi Vine.

Pengguna Instagram dan Tiktok mungkin awalnya skeptis dengan fitur Instagram Reel ini, berusaha denial dan tetap betah di TikTok. Sentimen negatif sama keberadaan Instagram Reel itu wajar, sama kayak kita yang sebal dengan produk bajakan. Sayangnya, loyalitas pengguna media sosial itu satu dari sekian bentuk kefanaan dunia. Kalau Instagram Reel bisa memberikan user interface yang lebih bagus, nggak lemot, dan memodifikasi apa yang kurang dari TikTok, bukan nggak mungkin kita bakal meninggalkan TikTok kayak kita meninggalkan Snapchat.

Jika fitur Instagram Reel berhasil, bisa jadi Twitter, Facebook, bahkan WhatsApp bakal mengadopsi ide ini juga. Jadilah media sosial kita seragam dan nggak kreatif. Sebuah manifestasi ATM (Amati Tiru Modifikasi) yang kepolen.

BACA JUGA Klasemen 5 Teratas Pengguna Instagram Story Paling Memuakkan dan tulisan AJENG RIZKA lainnya.