Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Alasan di Balik Banjir dan Longsor di Lereng Gunung Slamet Bukan karena Aktivitas Tambang, tapi Murni Faktor Alam

Redaksi oleh Redaksi
29 Januari 2026
A A
Penyebab banjir dan longsor di lereng Gunung Slamet, Jawa Tengah. MOJOK.CO

ilustrasi - banjir dan longsor di lereng Gunung Slamet. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Jawa Tengah mengungkap alasan utama banjir dan longsor di lereng Gunung Slamet yang mencakup Kabupaten Pemalang, Kabupaten Tegal, Kabupaten Purbalingga di Jawa Tengah. Ialah murni karena faktor alam.

Hujan ekstrem bukan satu-satunya penyebab banjir dan longsor

Hujan deras melanda kawasan puncak Gunung Slamet pada akhir Januari 2026. Curah hujannya mencapai 100-150 mm per hari di wilayah hulu (lereng Gunung Slamet) dan berlangsung sejak Jumat (23/1/2026) hingga Sabtu (24/1/2026).

Tak pelak, debit air meningkat secara drastis. Padahal, idealnya curah hujan normal mencapai 50 mm per hari. Alhasil, bencana banjir pun terjadi. 

Namun, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Jawa Tengah, Widi Hartanto mengungkap curah hujan ekstrem bukan satu-satunya penyebab banjir dan longsor di kawasan lereng Gunung Slamet.

Ia menyebut terdapat kombinasi antara kerapatan jaringan aliran sub-Daerah Aliran Sungai (DAS) yang tinggi, kemiringan lereng yang curam, dan jenis tanah latosol coklat yang menjadi penyebab utama longsor.

Kerapatan jaringan aliran Sub-DAS yang tinggi 

Widi Hartanto. MOJOK.CO
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Jawa Tengah, Widi Hartanto. (Sumber: Humas DLHK Provinsi Jawa Tengah)

Widi Hartanto mencatat sudah banyak titik longsoran di kawasan lereng Gunung Slamet sejak tahun 2022. Salah satu penyebab utamanya karena kombinasi antara kerapatan jaringan aliran Sub-DAS yang tinggi.

Misalnya, Sub DAS Penakir atau bagian dari hulu Sub DAS Gintung yang mengaliri Kecamatan Pulosari dan Moga Kabupaten Malang. Di situ, dominasi kemiringan lerengnya mencapai lebih dari 64 persen (tergolong agak curam hingga sangat curam). Akibatnya, kecepatan limpasan permukaan serta daya pengikisan aliran meningkat.

“Sub-DAS Penakir rentan terhadap terjadinya erosi lahan dan longsor lereng di bagian hulu–tengah. Dampak lanjutannya,  berupa peningkatan muatan sedimen dan pendangkalan sungai di bagian hilir,” ujarnya dikutip melalui keterangan resmi, Kamis (29/1/2026).

Selain itu, menurut pengamatan tim Widi, kawasan Sub DAS Penakir didominasi oleh tanah latosol. Karakteristik tanah Kawasan Sub DAS Penakir, kata dia, rentan terhadap erosi dan longsor sebab sifat tanahnya yang gembur dan mudah jenuh air. 

“Banjir bandang terjadi lewat peningkatan limpasan permukaan yang cepat, serta suplai sedimen tinggi akibat sifat tanah yang dangkal, tidak stabil, dan mudah tererosi,” jelasnya.

Lokasi tambang jauh dari titik longsor di kawasan lereng Gunung Slamet

Selain itu, daya dukung dan daya tampung lingkungan untuk melindungi diri dari tekanan juga memengaruhi terjadinya banjir dan longsor. Misalnya, jika tutupan lahan memiliki kerapatan yang tinggi, maka dampaknya tidak akan terlalu besar meskipun curah hujan tinggi.

kawasan lereng gunung. MOJOK.CO
Ilustrasi titik banjir di kawasan Gunung Slamet. (Sumber: Humas Pemprov Jateng).

Sementara, Widi melihat tutupan lahan di kawasan Gunung Slamet kondisinya beragam. Ada yang rapat, ada yang ditumbuhi kayu-kayuan atau tanaman keras. Belum lagi lahan masyarakat yang ditumbuhi tanaman atau tumbuhan semusim.

Hal itu, kata Widi, turut membuktikan bawah kawasan tersebut tidak berhubungan dengan aktivitas penambangan tapi masih terjadi banjir dan longsor. Widi mengklaim aktivitas penambangan berada di bawah, tepatnya di bagian kaki gunung dengan elevasi ratusan meter lebih rendah dari titik longsoran.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah, Agus Sugiharto menegaskan tidak ada aktivitas tambang yang berada di tubuh Gunung Slamet. Sebab selama ini, mereka sudah melakukan penataan serta memberikan surat peringatan kepada seluruh pelaku usaha tambang.

Iklan

“Lokasi tambang berada jauh dari titik longsor. Tidak ada pertambangan yang masuk ke tubuh Gunung Slamet,” tegasnya.

Ia menilai pelaku usaha tambang sudah menjalankan aktivitas sesuai ketentuan administratif, teknis, prinsip good mining practice, dan kaidah lingkungan hidup dengan baik. Jika ada yang melanggar, Agus menegaskan pemerintah tidak akan ragu menindak tegas pelaku usaha tambang yang melanggar aturan. 

Penindakan dilakukan melalui tahapan pembinaan, pengawasan, pengendalian, hingga penertiban terhadap pemegang izin usaha pertambangan. Jika setelah dibina dan diawasi masih tidak patuh, kata Agus, maka akan ditertibkan. 

“Bentuknya bisa penghentian sementara, penghentian permanen, hingga pencabutan izin,” ujarnya.

Sebagai contoh, Dinas ESDM Jawa Tengah telah mengusulkan pencabutan Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUP OP) PT Dinar Batu Agung kepada Kementerian Investasi/BKPM melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP). 

Usulan tersebut diajukan setelah perusahaan dinilai tidak menindaklanjuti rekomendasi perbaikan berdasarkan hasil evaluasi lintas instansi.

Upaya penangan jangka panjang banjir dan longsor di lereng Gunung Slamet

Guna mencegah bencana banjir dan longsor yang lebih parah di kawasan lereng Gunung Slamet, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah melakukan upaya penanganan jangka panjang. Pertama, melakukan rehabilitasi hutan dan lahan. Salah satunya dengan memperbaiki tutupan dan tegakkan hutan lindung serta hutan produksi dengan penanaman pohon.

kawasan lereng gunung dari atas. MOJOK.CO
ilustrasi kawasan lereng Gunung Slamet dari atas. (sumber: Humas Pemprov Jawa Tengah)

“Kami ada program itu. Teman-teman seluruh stakeholder juga sudah banyak yang berkontribusi untuk penanaman di kawasan Gunung Slamet. Pemprov Jateng juga sudah mengajukan kepada Kementerian Kehutanan agar kawasan hutan Gunung Slamet menjadi Taman Nasional yang meliputi lima kabupaten,” kata Widi sebagaimana arahan Gubernur Ahmad Luthfi.

Mengenai bencana yang terjadi di sejumlah daerah di Lereng Gunung Slamet, berbagai upaya penanganan telah dilakukan oleh pemerintah. Di antaranya evakuasi warga ke tempat aman, pendirian posko logistik dan dapur umum, layanan kesehatan, penanganan teknis infrastruktur melalui pembersihan material dan asesmen kerusakan, serta mendirikan posko pelayanan kesehatan.

Sementara itu, dalam upaya mitigasi bencana, Dinas ESDM Jawa Tengah telah menyampaikan informasi potensi gerakan tanah kepada seluruh bupati dan wali kota di Jawa secara rutin. Khususnya selama musim penghujan di pertengahan tiap bulan. 

Informasi tersebut disusun berdasarkan peta rawan longsor dengan data prakiraan cuaca dan curah hujan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Selain menyampaikan informasi ke bupati dan wali kota, Dinas ESDM Jawa Tengah juga mengklaim telah mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan saat hujan lebat dengan intensitas tinggi dan durasi panjang.

Mengatasi bencana harus dilakukan bersama

Kepala Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah, Agus Sugiharto berharap melalui penyampaian informasi potensi bencana, sistem peringatan dini, serta penegakan aturan yang konsisten, masyarakat semakin memahami bahwa longsor merupakan fenomena alam yang dapat diprediksi dan diantisipasi.

Sebelumnya, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin menyatakan akan mengusulkan kepada pemerintah pusat agar kawasan hutan lindung benar-benar diperkuat dan mendapat perhatian serius. 

Ia menilai, momentum bencana ini seharusnya dimanfaatkan untuk menyatukan langkah lintas daerah, khususnya lima kabupaten di sekitar kawasan hulu Gunung Slamet, agar bersama-sama mengajukan penguatan status dan pengelolaan hutan lindung.

“Nah, momen ini sebenarnya pas untuk bagaimana menyatukan dari lima kabupaten ini untuk berbicara bersama-sama, mengirim bersama-sama berkasnya untuk hutan lindung benar-benar harus kita kuatkan,” jelasnya.***(Adv)

BACA JUGA: Kota Semarang Coba Tak Sekadar Melawan Air untuk Atasi Banjir, Tapi Pakai Cara Fisika dan Wanti-wanti Kelalaian Sosial atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 31 Januari 2026 oleh

Tags: banjir dan longsorbencana banjirgunung slametjawa tengahpenyebab banjir
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer MOJOK.CO
Catatan

Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer

7 April 2026
Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran” MOJOK.CO
Urban

Tiga Kali Gagal Seleksi CPNS, Pas Sudah Diterima Jadi ASN Malah Tersiksa karena Makan “Gaji Buta”

7 April 2026
slow living, jawa tengah, perumahan, desa.MOJOK.CO
Sehari-hari

Omong Kosong Slow Living di Jawa Tengah: Gaji Kecil, Tanggungan Besar, Ditambah Tuntutan “Rukun” yang Bikin Boros

11 Februari 2026
UMK Jogja bikin perantau Jawa Tengah menderita. MOJOK.CO
Ragam

Penyesalan Orang Jawa Tengah Merantau ke Jogja: Biaya Hidup Makin Tinggi, Boncos karena Kebiasaan Ngopi di Kafe, dan Gaji yang “Seuprit”

11 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ilustrasi tinggal di desa.MOJOK.CO

Bersih Desa, Tradisi Sakral yang Kini Cuma Jadi Ajang Gengsi: Bikin Perantau dan Pemudanya Sengsara, Buang-Buang Waktu dan Uang

20 April 2026
Lulusan SMK cuma kerja jadi pegawai di SPBU, diremehkan saudara tapi malah jadi tempat ngutang MOJOK.CO

Lulusan SMK Kerja di SPBU Diremehkan, Malah Jadi Tempat Ngutang buat Kuliah Anak Saudara karena Dikira Punya Segepok Uang

21 April 2026
Nasib pekerja gen Z dicap lembek oleh milenial

Gen Z Jadi Kambing Hitam Generasi Senior, Dicap Lembek dan Tak Bisa Kerja padahal Perusahaan yang “Red Flag”

16 April 2026
Derita S2 karena Dipaksa Ibu, kini Bahagia Menanam Cabai Rawit MOJOK.CO

Menyesal Kuliah S2 karena Dipaksa Ibu, kini Lebih Bahagia Menanam Cabai Rawit dan Berkebun

15 April 2026
Guru CLC di Malaysia sejahtera daripada guru kontrak. MOJOK.CO

WNA Pilih Jadi Guru di Luar Negeri dengan Gaji 2 Digit daripada Kontrak di Indonesia dan Mengabdi untuk Anak Pekerja Migran di Sana

21 April 2026
Mahasiswa UNJ lulus setelah gagal seleksi PTN jalur SNBT

Penyandang Disabilitas Gagal Diterima PTN Jalur SNBT, Kini Lulus Sarjana Pendidikan di UNJ Berkat “Antar Jemput” Ayah

19 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.