Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas Sosial

Geger Sepehi 1812: Bukti Keteguhan Sri Sultan Hamengkubuwono II Menolak Tunduk pada Penjajah

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
5 April 2026
A A
Geger Sepehi 1812: Bukti Keteguhan Sri Sultan Hamengkubuwono II Menolak Tunduk pada Penjajah.MOJOK.CO

Geger Sepehi 1812: Bukti Keteguhan Sri Sultan Hamengkubuwono II Menolak Tunduk pada Penjajah (dok. kratonjogja.id)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tanggal 20 Juni 1812 menjadi salah satu catatan sejarah paling kelam bagi Keraton Yogyakarta. Pada hari itu, benteng keraton digempur, harta benda dijarah, dan kekuasaan sultan diruntuhkan. 

Peristiwa yang dikenal dengan nama Geger Sepehi ini ternyata bukan sekadar bentrokan lokal biasa. Para sejarawan mengungkapkan bahwa kejadian berdarah ini adalah efek berantai dari panasnya persaingan politik antarnegara di benua Eropa.

Berawal dari Daendels yang ingin punya posisi sejajar dengan raja-raja Jawa

Cerita panjang ini bermula dari kejayaan Prancis di Eropa. Pada masa itu, wilayah Belanda berada di bawah kendali Napoleon Bonaparte dari Prancis. Karena Belanda sedang menjajah wilayah Nusantara, otomatis tanah Jawa pun ikut terseret dalam pusaran konflik global tersebut.

Sebagai perpanjangan tangannya, pemerintah penjajah mengirim Herman Willem Daendels menjadi Gubernur Jenderal di Jawa. Daendels memimpin dengan cara yang sangat keras dan bergaya militeristik. Ia bahkan secara sepihak mengubah aturan tata krama diplomasi keraton.

Guru Besar Purna Bakti Ilmu Sejarah Universitas Indonesia, Prof. Djoko Marihandono, menjelaskan bahwa Daendels membawa semangat Revolusi Prancis ke Jawa secara paksa. Daendels menuntut agar posisinya sebagai Gubernur Jenderal diakui sejajar dengan raja-raja Jawa.

“Perubahan protokol itu melukai martabat keraton dan menjadi titik awal perlawanan sebelum Inggris masuk ke Jawa,” jelas Prof. Djoko, dalam webinar bertajuk “Jejak Kepahlawanan Sri Sultan Hamengkubuwono II”, Minggu (5/4/2026).

Dianggap merendahkan marwah keraton, Sri Sultan Hamengkubuwono II menolak 

Tentu saja, aturan yang merendahkan ini ditolak mentah-mentah oleh Sri Sultan Hamengkubuwono (HB) II. Sikap tegas dan pantang tunduk inilah yang membuat hubungan keraton dengan penjajah semakin panas.

sri sultan hamengkubuwono.MOJOK.CO
Djoko Marihandono menjelaskan bahwa Daendels membawa semangat Revolusi Prancis ke Jawa secara paksa. Daendels menuntut agar posisinya sebagai Gubernur Jenderal diakui sejajar dengan raja-raja Jawa. (dok. Istimewa)

Di tengah ketegangan tersebut, bangsa Inggris yang dipimpin oleh Thomas Stamford Raffles datang ke Jawa. Niat awal Raffles adalah mengusir pengaruh Prancis. Namun, ia rupanya memiliki agenda tersembunyi. Raffles juga ingin menundukkan Sultan HB II yang selama ini dianggap paling keras kepala dan berani menentang kekuasaan bangsa kulit putih.

Inggris kemudian merancang serangan besar ke Keraton Yogyakarta. Dalam penyerbuan ini, Inggris menggunakan taktik khusus. Mereka tidak hanya mengirim tentara Eropa, tetapi juga membawa ribuan tentara bayaran dari India yang disebut pasukan Sepoy. Lidah orang Jawa kala itu melafalkan kata Sepoy menjadi Sepehi. Dari situlah nama “Geger Sepehi” berasal.

Penggunaan tentara India ini punya tujuan ganda. Inggris ingin menekan jumlah korban tewas dari pihak orang Eropa, sekaligus memamerkan bahwa wilayah kekuasaan mereka sangat luas. Pasukan gabungan ini akhirnya mengepung keraton. Sayangnya, meski pihak keraton melawan dengan sangat gigih, pertahanan mereka akhirnya jebol akibat kalah persenjataan dan adanya bantuan dari kubu internal Jawa sendiri (Legiun Mangkunegaran) yang berpihak pada Inggris.

Serangan yang tak cuma merusak fisik, tapi juga mental dan harga diri

Runtuhnya benteng keraton barulah awal dari penderitaan. Setelah berhasil masuk, pasukan Inggris dan tentara Sepehi melakukan penjarahan besar-besaran. Mereka merampas harta benda dan pusaka keraton.

Sejarawan dari Universitas Sebelas Maret (UNS), Harto Juwono, menilai Geger Sepehi bukan sekadar kekalahan militer secara fisik. Tindakan ini adalah rencana matang Raffles untuk menghancurkan kekuatan pemikiran dan harga diri Keraton Yogyakarta. Ribuan naskah kuno diangkut secara paksa untuk dibawa ke Eropa.

Setelah keraton jatuh, Sultan HB II pun dipaksa turun dari takhta tanpa ada proses hukum yang adil. Beliau ditangkap dan dibuang jauh ke Pulau Penang. Tindakan sewenang-wenang ini menjadi bukti nyata bahwa penjajah menghalalkan segala cara demi mengamankan kekuasaannya.

“Berdasarkan data sejarah yang dihimpun dari berbagai arsip di London, Den Haag, hingga Jakarta, perjuangan Sultan HB II diwarnai dengan konflik hukum dan politik yang tajam melawan kolonialisme,” jelas Harto Juwono.

Iklan
Ilustrasi denah benteng Keraton Yogyakarta, sri sultan hamengkubuwono.MOJOK.CO
Ilustrasi denah benteng Keraton Yogyakarta (dok. kratonjogja.id)

Sikap keras Sultan HB II dalam menentang administrasi asing juga ditegaskan oleh Fajar Bagoes Poetranto, perwakilan Trah HB II. Menurutnya, Sultan HB II selalu mengedepankan kedaulatan.

“Bagi Sultan HB II, tunduk pada administrasi Barat adalah penghinaan terhadap leluhur dan tanah Jawa,” ujar Fajar.

Memperjuangkan gelar kepahlawanan nasional bagi Sri Sultan Hamengkubuwono II

Tanpa disadari oleh Inggris, penjarahan dan penghinaan di hari itu terekam jelas dalam ingatan seorang pangeran muda. Pangeran tersebut melihat langsung dengan mata kepalanya sendiri bagaimana kakeknya ditangkap dan rumahnya dihancurkan. Pangeran muda itu bernama Pangeran Diponegoro.

Trauma dan rasa sakit hati akibat Geger Sepehi membuat Diponegoro menyimpan kemarahan besar terhadap bangsa asing. Pengalaman pahit ini memunculkan keyakinan dalam diri Diponegoro bahwa bangsa asing hanya membawa penindasan. Belasan tahun kemudian, luka lama ini menjadi “bahan bakar” utama meledaknya perlawanan besar yang kita kenal sebagai Perang Diponegoro (1825–1830).

Kini, fakta-fakta sejarah tentang Geger Sepehi semakin membuka mata kita mengenai keteguhan hati Sultan HB II. Beliau bukanlah raja yang sekadar kalah dalam perang, melainkan seorang pemimpin yang konsisten menjadi simbol anti-asing dan menolak tunduk pada penjajah. 

Melalui berbagai kajian sejarah ini, berbagai pihak terus memperjuangkan agar Sri Sultan Hamengkubuwono II secara resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Kisah Geger Sepehi menjadi pengingat bagi kita tentang betapa mahalnya harga sebuah kedaulatan.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Kisah Unik Dusun Menulis Jogja yang Masih Ada Warga Tak Bisa Baca Tulis, Sejarahnya Berawal dari Sastrawan Keraton

Terakhir diperbarui pada 6 April 2026 oleh

Tags: Geger SepehiJogjakeraton Yogyakartakraton jogjasri sultansri sultan hamengkubuwono iisri sultan hb ii
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik MOJOK.CO
Esai

Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik

3 Juni 2026
ilustrasi sepeda klaten.MOJOK.CO
Eksplor

Belajar Makna “Paseduluran” dari Penjual Onthel Lawas yang Sudah Tiga Dekade Hidup dari Pit Kebo

2 Juni 2026
Fun Football, Cara Pria Dewasa untuk Tetap Waras dan Punya Alasan untuk Hidup Lebih Lama
Pojokan

Fun Football, Cara Pria Dewasa untuk Tetap Waras dan Punya Alasan untuk Hidup Lebih Lama

2 Juni 2026
Memori 20 tahun gempa Jogja di SMAN 1 Kalasan: tak ingin wariskan trauma dan ketakutan MOJOK.CO
Eksplor

Memori 20 Tahun Gempa Jogja di Kalasan: Rumah Ambrol hingga Jeritan di Jalanan, Trauma yang Tak Ingin Diwariskan ke Generasi Sekarang

23 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Campus League Basketball 2026 Regional Jakarta Season 1 tidak hanya jadi panggung prestasi basket, tapi juga warna baru solusi mobilitas masa depan anak muda dengan motor listrik Polytron MOJOK.CO

Puncak Campus League Basketball 2026 Jakarta S1: Tak Hanya Jadi Panggung Basket tapi Juga Hadirkan Solusi Mobilitas Masa Depan Anak Muda

2 Juni 2026
Proyek pengelolaan sampah menjadi listrik (PSEL) Semarang Raya dilirik dunia MOJOK.CO

Proyek Sampah Jadi Listrik (PSEL) Semarang Raya Dilirik Dunia, Jadi Solusi Masa Depan Kota

5 Juni 2026
Rooftop kos kerap jadi tempat blangkrah, tapi jadi ruang healing terbaik bagi anak kos overthinking MOJOK.CO

Tinggal di Kos dengan Rooftop, Meski Kemproh tapi Jadi Tempat Healing Terbaik dari Tekanan Hidup yang Bisa bikin Gila

3 Juni 2026
Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara MOJOK.CO

Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara

5 Juni 2026
Salah paham terhadap paket intimate wedding di wedding organizer (WO) MOJOK.CO

Salah Paham pada Paket Intimate Wedding di WO: Dikira Tekan Biaya padahal Bisa Tetap Mahal, Karena Intimate dan Biaya Itu Dua Hal Berbeda

4 Juni 2026
Curhat dan ziarah di makam ibu, tempat terbaik pulang tanpa penghakiman MOJOK.CO

Curhat di Makam Ibu Dianggap Lebay dan Sia-sia, Tapi Jadi Tempat Pulang Terbaik yang Penuh Makna dan Rasa Lega

5 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.