Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kotak Suara

Tingkat Optimisme Anak Muda pada Sektor Politik dan Hukum Sangat Rendah

Agung Purwandono oleh Agung Purwandono
19 November 2023
A A
Tingkat Optimisme Anak Muda pada Sektor Politik dan Hukum Sangat Rendah MOJOK.CO

Ilustrasi Tingkat Optimisme Anak Muda pada Sektor Politik dan Hukum Sangat Rendah.

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Optimisme anak muda pada masa depan sektor politik dan hukum di Indonesia masih sangat rendah. Alasan anak muda pesimis pada sektor ini karena praktif korupsi di Indonesia masih sangat tinggi. 

Rasa optimisme terhadap masa depan politik dan hukum yang rendah ini muncul dalam Survei Indeks Optimisme Generasi Muda 2023 yang dilakukan Good News From Indonesia (GNFI) berkolaborasi dengan perusahaan riset Populix. Hasil riset menunjukkan, respon rendah ini juga terjadi di tahun lalu. Tahun 2023, sektor ini hanya mencatat skor 5,72. 

Anak muda pesimistis dengan penegakan hukum di Indonesia

Responden juga merasa pesimistis terhadap penegakan hukum di Indonesia yang tidak diskriminatif di masa depan. Dari semua aspek yang ada, isu korupsi dan penegakan hukum menjadi permasalahan yang paling banyak diragukan responden.

“Saya menyorot Korupsi Kolusi dan Nepotisme menjadi indeks nilai optimisme yang paling rendah. Namun, ini merupakan ‘pesimis yang optimis’ dimana anak muda sangat concern terhadap KKN,” kata  Ilham Saputra, Komisioner Komisi Pemilihan Umum periode 2017-2022 memberikan tanggapan.

Hasil riset yang rendah di sektor politik dan hukum bisa jadi alasan untuk mendorong agar anak muda mampu membangun kesadaran politik. Misalnya, dengan mengajak anak muda untuk mengecek latar belakang para calon legislatif maupun eksekutif yang sedang bersaing. 

“Politik dan hukum ini sangat dipengaruhi oleh faktor pemimpin, dan anak muda memegang peran penting untuk menentukan nasib Indonesia ke depan dengan menyuarakan pendapatnya dan memilih pemimpin yang tepat,” ungkapnya.

Survei tahun ini juga menyoroti secara khusus tentang Pemilu. Meski pada aspek politik cenderung pesimis, namun pada aspek Pemilu masih cukup optimis dengan skor 7.0 dari skala 10. Unsur dengan skor tertinggi adalah memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi, menunjukkan sebenarnya anak muda antusias menyambut Pemilu. Namun, mereka masih menyimpan keraguan pada kinerja penyelenggara Pemilu. 

Dimensi pendidikan dan kebudayaan punya peringkat optimisme tertinggi

Indeks ini mengungkap tingkat optimisme generasi muda terhadap lima dimensi utama, yang meliputi: Pendidikan dan Kebudayaan, Kebutuhan Dasar, Ekonomi dan Kesehatan, Kehidupan Sosial, Politik dan Hukum. Tahun 2023 ada dimensi tambahan yaitu Lingkungan dan Pemilu.

Berbeda dengan hasil survei tahun sebelumnya yang mendapatkan nilai tertinggi pada dimensi kebutuhan dasar, tahun ini skor tertinggi ada pada dimensi pendidikan dan kebudayaan. Dalam dimensi ini, “kuliner Indonesia dapat diterima dunia” memiliki skor tertinggi, yaitu 9,04. Lebih tinggi dibandingkan dengan keyakinan anak muda “mampu berkontribusi pada pengembangan IPTEK” yang mendapatkan skor 8,00 poin.

“Anak-anak mdua Indonesia sangat bangga terhadap budayanya, termasuk percaya bahwa kuliner kita punya potensi untuk dapat dikenal oleh dunia. Sementara di bidang IPTEK tidak seyakin itu. Mungkin, generasi muda Indonesia saat ini merasa sains kita tidak kuat dan belum mampu berinovasi. Boleh dibilang ini adalah stereotype, tapi ini menjadi persepsi anak-anak muda Indonesia dalam sektor pendidikan dan kebudayaan,” papar Timothy Astandu, CEO & Co-Founder Populix.

Survei ini juga mengungkapkan mayoritas responden terlihat lebih optimis dapat memenuhi kebutuhan sandang, pangan, papan, dan kebutuhan gizi pada pasangan dan anak, dibandingkan pemenuhan gizi seimbang diri sendiri. Tingkat optimisme ini berbeda dengan dimensi ekonomi dan kesehatan. Di mana bagi responden mahasiswa dan yang belum bekerja, memiliki tingkat optimisme yang rendah untuk terserap di dunia pekerjaan.

Generasi milineial dan gen Z dominasi anak muda

Timothy Astandu, CEO & Co-Founder Populix menambahkan, hasil survei dan kolaborasi dengan GNFI inipunya tujuan. Yaitu, untuk mengetahui pendapat generasi muda tentang hal-hal yang menjadi perhatian untuk perkembangan bangsa di masa depan.

“Kami melihat dengan adanya bonus demografi di mana dalam beberapa tahun ke depan akan didominasi oleh generasi milenial dan juga generasi Z, hal ini menjadi sangat penting untuk

diperhatikan oleh seluruh pemangku kepentingan di Indonesia, aspek-aspek yang harus dibenahi dan apa saja yang dapat terus didorong pertumbuhannya,” terangnya. 

Iklan

Akhyari Hananto, Founder GNFI mengungkapkan, di tengah berbagai situasi yang sebetulnya wajar apabila masyarakat menjadi pesimis. Selain itu patut bersyukur masih punya modal masyarakat terutama anak-anak muda yang ternyata masih optimis. 

“Hal ini seharusnya dapat dimanfaatkan oleh para pemangku kepentingan, terutama penyelenggara negara. Bagaimana modal optimisme ini digerakkan dengan berbagai kebijakan, program, dan aktivitas yang dapat menggerakkan kemajuan,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima Mojok.co, Minggu (19/11/2023).

BACA JUGA Survei Charta Politika: Ganjar-Mahfud Teratas, tapi Prabowo-Gibran Unggul Head to Head

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 19 November 2023 oleh

Tags: anak mudaPemilu 2024politik
Agung Purwandono

Agung Purwandono

Jurnalis di Mojok.co, suka bercocok tanam.

Artikel Terkait

Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif MOJOK.CO
Urban

Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif

9 April 2026
Tunggu Aku Sukses Nanti.MOJOK.CO
Seni

Realitas Pahit Film “Tunggu Aku Sukses Nanti” yang Bikin Gen Z Menangis: Susah Cari Kerja dan Dihina Saat Kumpul Keluarga

27 Maret 2026
Pekerja muda hobi bikin kue
Sehari-hari

Dicap Hobi Kuno, Bikin Kue Jadi Jalan Gen Z Jakarta Tetap Waras dari Beban Kerja Usai Ibu Tiada

10 Februari 2026
nongkrong di kafe, jakarta selatan.MOJOK.CO
Ragam

Nongkrong Sendirian di Kafe Menjadi “Budaya” Baru Anak Muda Jaksel Untuk Menjaga Kewarasan

14 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

#NgobroldiMeta jadi upaya AMSI dan Meta dukung pelaku media memproduksi jurnalisme berkualitas di era AI MOJOK.CO

#NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI

10 April 2026
Ironi WNI Kerja di Arab Saudi: Melihat Teman Senasib yang “Pekok” Nggak Mau Pulang ke Tanah Air dan Nekat Melanggar Visa MOJOK.CO

Ironi WNI Kerja di Arab Saudi: Melihat Teman Senasib yang “Pekok” Nggak Mau Pulang ke Tanah Air dan Nekat Melanggar Visa

9 April 2026
Gagal seleksi PPPK dan CPNS meski daftar di formasi PNS atau ASN sepi peminat. Malah dapat kerja yang benefitnya bisa bungkam saudara yang sebelumnya menghina MOJOK.CO

Gagal Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat Dihina Bodoh, Malah Dapat Kerjaan “di Atas” ASN Langsung Bungkam Penghina

9 April 2026
Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living MOJOK.CO

Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living

8 April 2026
Jogja Bisa Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung MOJOK.CO

Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 

8 April 2026
Mahasiswa KKN di desa

KKN Itu Menyenangkan, yang Bikin Muak adalah Teman yang Jadi Beban Kelompok dan Warga Desa yang “Toxic”

9 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.