Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas Olah Raga

Petenis Yayuk Basuki Buka Rahasia, Pernah Mengalah di US Open Demi Ikut PON

Yvesta Ayu oleh Yvesta Ayu
27 September 2022
A A
Yayuk Basuki mengalah di US Open 1997

Mantan petenis Indonesia, Yayuk Basuki saat bercerita tentang karirnya di Yogyakarta, Senin (26/09/2022). (Yvesta Ayu/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Yayuk Basuki, petenis legendaris asal Indonesia membagikan sebuah kisah yang selama ini menjadi rahasia yang ia simpan rapi. Ia pernah sengaja mengalah dalam pertandingan US Open meski diunggulkan. Alasannya, demi ikut Pekan Olahraga Nasional (PON).

Yayuk Basuki atau pemilik nama lengkap Nany Rahayu memiliki segudang prestasi dalam dunia olahraga tenis. Ia mengharumkan nama Indonesia dalam dunia tenis pada tahun 1990-an. Segudang prestasi pernah diraih atlet kelahiran Yogyakarta, 30 November 1970 ini. Lima kali berturut-turut menjuarai Asian Games, peringkat 21 Women’s Tennis Association (WTA) pada 1997 hingga masuk perempat final ganda Prancis Terbuka pada tahun yang sama.

Namun, tak banyak yang tahu bila Yayuk pernah mengalah kalah mengikuti ajang internasional demi membela Yogyakarta. Saat ditemui di Yogyakarta, Senin (26/09/2022), Yayuk bercerita pernah mengalah untuk kalah dan menyingkir dari pertandingan dalam event akbar US Open di Amerika Serikat pada 1996 silam. 

Alasannya, demi bisa mengikuti PON dan mewakili Yogyakarta. Padahal Yayuk menjadi salah satu petenis yang diunggulkan dalam ajang tersebut.

“Saat pertandingan di US Open babak awal, tiba-tiba saya ditelpon diminta pulang untuk mengikuti PON. Saya sebenarnya bisa lanjut tapi demi kepentingan yang lebih besar dan saya ingin menjaga nama baik ayah saya. Akhirnya saya mengalah [untuk kalah] dan pulang ke indonesia untuk mewakili Jogja di PON,” paparnya.

Jadi atlet tak selalu mengejar materi

Tak ingin menyia-nyiakan prestasi setelah melepas mimpinya di US Open, Yayuk Basuki pun bekerja keras untuk membawa pulang medali emas dalam PON 1996 di Jakarta.

Hasilnya tiga medali emas dia persembahkan untuk DIY dari cabang olahraga (cabor) Tenis. Tiga medali emas tersebut dipersembahkannya untuk kategori beregu, single dan double.

“Kebetulan, itu kan PON terakhir saya. Maka, saya berambisi menutup karir dengan prestasi terbaik untuk Yogyakarta,” paparnya.

Pengalamannya tersebut baru diceritakan Yayuk Basuki saat ini. Satu hal yang tak mungkin diceritakannya pada waktu itu.

Meski harus berkorban turnamen internasional yang sangat bergengsi demi membela tanah kelahirannya, Yayuk mengaku tidak menyesal. Komitmennya terhadap janji pada ayahnya untuk membanggakan DIY adalah yang utama.

“Tapi, terus terang, kisah ini dulu saya sembunyikan, ya, karena kalau saya buka bisa-bisa saya di-bully, dong. Toh, niat saya cuma menjaga marwah Yogyakarta saja, tidak ada niat lain, cari materi atau apalah,” kata Yayuk Basuki.

Pengalaman-pengalaman berharga semacam itu yang akhirnya dia coba tanamkan kepada anak didiknya. Bahwa menjadi atlet bukan melulu mendapatkan materi yang besar, tetapi ada hal-hal lain yang perlu dipertimbangkan.

Apalagi saat ini banyak atlet yang selalu mengedepankan mendapatkan pendapatan besar alih-alih memberikan kemampuannya demi prestasi.

Bahkan banyak atlet yang akhirnya memilih pindah daerah atau negara untuk mendapatkan penghasilan yang besar. Meski tak 100 persen menyalahkan atlet yang melakukannya, mereka perlu mempertimbangkan prestasi yang diraihnya.

Iklan

Tolak tawaran untuk bela daerah lain

Yayuk menceritakan, dia pernah ditawari pindah daerah lain pada era 1980-an. Tak main-main, dia ditawari Rp 5 juta, nominal yang sangat besar saat itu.

“Saya diiming-imingi Rp5 juta, kalau mau membela daerah itu di PON. Tapi, langsung saya tolak, kok,” paparnya.

Selain berharap pada komitmen atlet DIY untuk tetap membawa nama bendera daerah, Yayuk pun berharap ada perhatian dari pengambil kebijakan untuk memperhatikan atletnya dengan lebih baik. Bagaimana tidak, anggaran pembinaan olahraga bagi atlet daerah masih sangat minim dibandingkan anggaran lainnya.

Bahkan di tingkat nasional, anggaran olahraga hanya 0,02 persen dari APBN atau sekitar Rp1,8 triliun per tahun. Angka itu pun masih harus dibagi dengan sektor kepemudaan.

“Pusat saja segitu, bagaimana di daerah. Ini yang perlu jadi perhatian pemerintah daerah. Saya nggak bisa menyalahkan atlet juga, kalau memang mau pindah membela daerah lain. Karena untuk mengasah kemampuan, dengan mengikuti pertandingan di dalam atau luar negeri, tentu butuh biaya kan. Apalagi atlet, orangtuanya juga sudah berinvestasi besar untuk terjun di olahraga,” imbuhnya.

Reporter: Yvesta Ayu
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA: Es Teh Indonesia Viral, Berapa Konsumsi Gula yang Ideal?

 

Terakhir diperbarui pada 27 September 2022 oleh

Tags: alasan cowok tidak angkat teleponolahragapontenisyayuk basuki
Yvesta Ayu

Yvesta Ayu

Jurnalis lepas, tinggal di Jogja.

Artikel Terkait

Tren kalcer dan monopoli olahraga bikin gowes (bersepeda) jadi terlalu ambisius MOJOK.CO
Urban

Tren Kalcer dan Monopoli Olahraga bikin Gowes Jadi Terlalu Ambisius, Mau Sekadar Bersepeda tapi Malu Dicap Cupu

3 Juni 2026
tren olahraga kalcer.MOJOK.CO
Urban

Tren dan FOMO Olahraga “Kalcer” yang Mahal Lahir karena Minimnya Fasilitas Publik di Perkotaan

29 Mei 2026
Pelari kalcer, fenomena olahraga lari
Urban

Bagi Pelari Kalcer, Kesehatan Tak Penting: Gengsi dan Diterima Sirkel Elite Jadi Prioritas Mereka

27 April 2026
Mohammad Turi, doktor termuda Unesa. MOJOK.CO
Kampus

Olahraga Jadi Alasan Hidup Pemuda Asal Madura Ini usai Ayah dan Ibu Tiada, hingga Raih Gelar Doktor Termuda di Unesa dengan IPK Sempurna

20 November 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius Mengenal Perjuangan Rakyat Prancis MOJOK,CO

Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius untuk Mengenal Perlawanan Rakyat Prancis

1 Juni 2026
Pengalaman Merusak Astrea Grand Jadi Motor Racing Kampung MOJOK.CO

Pengalaman Saya “Merusak” Astrea Grand Milik Bapak Menjadi Motor Racing Kampung: Jebakan Menyenangkan dari Motor Honda yang Menjerat Saya Sampai Tua

2 Juni 2026
Curhat dan ziarah di makam ibu, tempat terbaik pulang tanpa penghakiman MOJOK.CO

Curhat di Makam Ibu Dianggap Lebay dan Sia-sia, Tapi Jadi Tempat Pulang Terbaik yang Penuh Makna dan Rasa Lega

5 Juni 2026
Riset, Peneliti, Guru Besar Abal-Abal.MOJOK.CO

Sekte “Pemuja Kargo” di Ekosistem Kampus Indonesia yang Mencetak Peneliti Palsu dan Ilmuwan Abal-Abal

3 Juni 2026
Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) perlu menghidupkan kembali adab yang selama ini menjadi ciri khas pesantren, tidak cukup perbaikan sistem MOJOK.CO

NU Perlu Hidupkan Tata Krama Organisasi di Tengah Dinamika yang Semakin Kompleks, Perbaikan Sistem Saja Tak Cukup

7 Juni 2026
Proyek pengelolaan sampah menjadi listrik (PSEL) Semarang Raya dilirik dunia MOJOK.CO

Proyek Sampah Jadi Listrik (PSEL) Semarang Raya Dilirik Dunia, Jadi Solusi Masa Depan Kota

5 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.