Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Nasib Jadi Sastrawan: Dibayangi Kemiskinan dan Ketimpangan, Perlu Komitmen untuk Mensejahterakan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
5 Agustus 2025
A A
Diskusi "Nasib Sastrawan" di Festival Sastra Yogyakarta 2025 MOJOK.CO

Diskusi "Nasib Sastrawan" di Festival Sastra Yogyakarta 2025. (Dok. Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tidak sedikit orang membayangkan, menjadi sastrawan adalah kehidupan yang sangat ideal. Karena bergelut dengan buku, menulis karya-karya laris, lalu bisa hidup makmur dari karya-karya tersebut.

Namun, nyatanya, bayangan itu hanyalah romantisasi belaka. Nasib mereka yang bergelut dengan sastra tidak sepenuhnya demikian.

Kenyataan itulah yang coba diudar oleh Mahfud Ikhwan, Saut Situmorang, dan Himas Nur dalam diskusi panel penutup Susur Galur Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2025 bertajuk “Nasib Sastrawan”.

Sebuah diskusi penutup yang terasa epik dan tajam. Panggung Pasar Buku FSY 2025 di Grha Budaya Taman Budaya Embung Giwangan, Jogja–lokasi acara–menjelma menjadi ruang diskusi yang terasa penuh pergulatan.

Tiga narasumber mengajak audiens membicarakan berbagai dimensi kehidupan insan sastra hari ini. Mulai dari kondisi ekonomi, posisi sosial, hingga pergulatan identitas.

Nasib sastrawan: penyair miskin, novelis dalam ketimpangan

Penyair Saut Situmorang menegaskan bahwa posisi penyair sering kali berada di titik paling rentan dalam ekosistem sastra.

“Penyair adalah sastrawan yang paling miskin,” ujarnya. Dengan nada satiris, ia menyentil minimnya perhatian institusional.

“Seenggaknya, kasihlah pajak untuk penyair—biar bisa diakui negara,” katanya.

Nyaris serupa, Mahfud Ikhwan yang dikenal sebagai novelis dan esais mengakui bahwa sangat sedikit sastrawan di Indonesia yang benar-benar bisa hidup layak dari karyanya.

“Kebanyakan sastrawan kita tidak hanya gagal secara pasar, tapi juga dalam menemukan sistem dukungan yang adil,” ungkapnya.

Diskusi "Nasib Sastrawan" di Festival Sastra Yogyakarta 2025 MOJOK.CO
Diskusi “Nasib Sastrawan” di Festival Sastra Yogyakarta 2025. (Dok. Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta)

Ia menyinggung ketimpangan relasi antara penulis dan penerbit, serta tabu yang menyelimuti pembicaraan seputar upah, royalti, dan distribusi pendapatan. “Masalah ini nyata, tapi sering tidak dibicarakan,” tambahnya.

Sementara itu, Himas Nur membawa perspektif generasi muda yang lebih beragam. Ia mempertanyakan generalisasi dalam frasa “nasib sastrawan” yang sering luput mengakui perbedaan pengalaman berdasarkan usia, kelas sosial, hingga gender.

“Nasib sastrawan yang mana, nih? Karena faktanya, generasi sastrawan itu beragam,” ujarnya.

Ia menyoroti bagaimana banyak sastrawan muda, terutama perempuan dan nonbiner, menghadapi diskriminasi struktural dan harus bertahan hidup dengan pendapatan minim sambil terus berkarya. Menurut Himas, isu ini perlu terus dibicarakan karena belum menemukan solusi tuntas.

Iklan

Diskusi yang dipandu oleh Ni Made Purnama Sari berlangsung terbuka dan dinamis. Sebagai moderator, ia memberi ruang luas bagi narasumber untuk menyampaikan pengalaman dan pandangan kritis, sekaligus membuka dialog dengan audiens.

Beberapa peserta turut menyoroti pentingnya dukungan komunitas dan kelembagaan dalam membangun keberlanjutan karier sastra.

Dukungan dari institusi

Bagaimanapun, institusi pemerintah juga harus ambil bagian dalam mendukung dan memperjuangkan kesejahteraan sastrawan.

Merespons dialog tersebut, Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Ismawati Retno, menyatakan bahwa kesejahteraan sastrawan menjadi variabel penting yang harus dibicarakan di samping perbincangan soal karya-karya mereka.

“Sastra bukan hanya soal estetika, tapi juga kehidupan yang dihidupi para penulisnya. Kita tidak bisa terus meromantisasi sastrawan tanpa membicarakan kesejahteraan mereka. Forum ini membuka ruang yang sangat dibutuhkan,” Ismawati.

Ismawati juga menegaskan, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta berkomitmen untuk tidak hanya memberi ruang tampil bagi para penulis. Tetapi juga memperkuat ekosistem literasi melalui dukungan terhadap komunitas dan jejaring kerja yang lebih adil.

Sebab, menjadi sastrawan bukan hanya soal menulis dengan indah, tetapi juga perjuangan ekonomi, sosial, dan politik yang melekat dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Puisi-puisi yang Memberi Anugerah di Jogja, Ubah Jalan Hidup Seorang Kuli Jadi Penyair dan Cerita-cerita Lain atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 5 Agustus 2025 oleh

Tags: Festival Sastra YogyakartaFSYpendapatan sastrawanpenghasilan sastrawansastrawan
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Menelusuri hal-hal kalcer di Kotagede Jogja MOJOK.CO
Ragam

Menelusuri Kotagede Jogja: Nemu Banyak Hal Kalcer, Memantik Kesadaran agar Sastra Lebih Membumi

5 Agustus 2025
Puisi memberi anugerah beberapa orang yang mengembara ke Jogja MOJOK.CO
Ragam

Puisi-puisi yang Memberi Anugerah di Jogja, Ubah Jalan Hidup Seorang Kuli Jadi Penyair dan Cerita-cerita Lain

4 Agustus 2025
Jalan Malioboro Jogja era 1960-an jadi renungan untuk komunitas sastra hari ini MOJOK.CO
Ragam

Sisi Magis Jalanan Maliboro Jogja Era 1960-an Bisa Jadi Renungan bagi Komunitas Sastra Hari ini

4 Agustus 2025
Usung tema Rampak. Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2025 jadi ruang temu dan kolaborasi MOJOK.CO
Seni

Festival Sastra Yogyakarta 2025 Tak Sekadar Pertunjukan, Pikirkan Nasib Sastrawan hingga Melahirkan Penulis Baru

28 Juli 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

KIP Kuliah.MOJOK.CO

Mahasiswa Pura-Pura Miskin demi Dapat KIP Kuliah Memang Ada, Uang Beasiswa Habis buat Hedon agar Diakui di Tongkrongan

14 Mei 2026
Melalui Seminar Literasi di Pesta Buku Jogja, IKAPI DIY dorong Yogyakarta jadi Ibu Kota Buku UNESCO karena punya ratusan penerbit MOJOK.CO

Jogja dan Produksi Pengetahuan Lewat Ratusan Penerbit Buku, Modal Jadi Ibu Kota Buku UNESCO

16 Mei 2026
Kopi starling dan kopi keliling: cuma Rp5 ribu tapi beri suntikan kekuatan pekerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel) untuk survive kerja tanpa Work Life Balance MOJOK.CO

Kopi Starling Cuma 5 Ribu tapi Beri Kekuatan Pekerja Jaksel Survive Tanpa Work Life Balance, Ketimbang 50 Ribu di Coffee Shop Elite

14 Mei 2026
Pesan President Jancukers Sujiwo Tejo untuk Mahasiswa Rojali di Jogja MOJOK.CO

Pesan President Jancukers Sujiwo Tejo untuk Mahasiswa Rojali di Jogja

17 Mei 2026
Efek rutin olahraga gym, dulu dihina gendut dan jelek kini banyak yang mendekat MOJOK.CO

Efek Gym: Dari Dihina “Babi” karena Gendut dan Jelek bikin Lawan Jenis Gampang Mendekat, Tapi Tetap Sulit Nemu yang Tulus

11 Mei 2026
lulusan unesa dapat beasiswa dan langsung kerja. MOJOK.CO

Lulus Sarjana Dapat Tawaran Beasiswa S2 dari Rektor, Elpanta Pilih Langsung Kerja sebagai Pegawai Tetap di Unesa

11 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.