Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Camkan Ini: MUI Melarang Penggunaan Ayat Al-Quran dan Hadis untuk Kepentingan Politik Praktis

Redaksi oleh Redaksi
28 April 2018
A A
Ayat-dan-Politik-MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Praktik politisasi agama yang selama ini banyak berlangsung di masyarakat semakin hari semakin menyebalkan saja. Banyak perpecahan antar sesama dan lintas umat beragama yang disebabkan oleh isu-isu dan doktrin-doktrin agama dalam kumparan politik praktis. Maklum, agama memang menjadi salah satu medan empuk dalam menarik dukungan masyarakat dalam kontestasi politik.

Instrumen agama disalahgunakan untuk memuji atau menyerang pihak-pihak yang sedang bertarung dalam kontestasi politik. Mulai dengan cara yang lumayan “ngelmu” seperti bermain dalil, sampai cara goblok othak-othak gathuk dengan menghitung nilai huruf nama tokoh dan kemudian mencocokannya dengan nama salah satu surat di Al-Quran (Halo Oom Sugik Nur, sehat?)

Efek politisasi agama ini pun semakin susah untuk dinalar. Lha gimana, gara-gara politik, orang-orang bisa tega tidak menyalati mayat saudara seagama sendiri. Apa nggak bedebah itu namanya?

Hal tersebut mau tidak mau kemudian memaksa para pemangku kebijakan untuk membatasi penggunaan instrumen agama dalam politik praktis. Maklum, jika dibiarkan terus-menerus, konflik horizontal di masyarakat yang sudah terjadi berpotensi akan semakin membesar.

Upaya untuk membatasi penggunaan instrumen agama dalam politik praktis ini sudah dimulai beberapa waktu yang lalu oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Melalui pernyataannya, ia melarang para ulama, kiai, ustaz, dan pemuka agama lainnya untuk tidak berceramah dengan sisipan agenda politik di tempat ibadah.

“Politik substantif seperti tegakkan keadilan dan kejujuran, penuhi hak dasar manusia, cegah kemunkaran, dll adalah ajaran agama yg wajib diperjuangkan dimanapun dan kapanpun. Namun berkampanye untuk pilih paslon ini, partai itu, atau caleg ini-itu di rumah ibadah harus dicegah,” kata Lukman Hakim Saifuddin.

Nah, yang terbaru, muncul larangan untuk menggunakan ayat Al-Quran dan hadis untuk kepentingan politik praktis.

Larangan penggunaan ayat Al-Quran dan hadis untuk kepentingan politik praktis ini dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah.

Larangan tersebut disampaikan langsung oleh Ketua MUI Jawa Tengah Ahmad Daroji.

“Politisasi agama untuk politik praktis tidak diperkenankan. Tidak dibenarkan menggunakan ayat-ayat atau hadist, perang ayat. Sama-sama Alquran kok diadu,” kata Ahmad Daroji. “Menggunakan ayat atas nama kelompok, tidak dibenarkan untuk alat politik praktis. Ngapain kita bertengkar, mengapa harus mengadu agama. Kita harus menciptakan kondisi yang kondusif dan damai menjelang pilkada dan seterusnya.”

Lantas, apakah larangan dari MUI Jawa Tengah ini akan benar-benar dipatuhi oleh segenap masyarakat Jawa Tengah atau Indonesia yang aktif dalam proses kontestasi politik? Tentu saja belum tentu. Sebab, sudah bukan rahasia lagi bahwa di era politik seperti sekarang ini, banyak masyarakat yang menganggap sebelah mata para ulama hanya karena perbedaan pandangan politiknya.

Setinggi apa pun ilmu seorang ulama, semahsyur apa pun namanya, kalau tidak sejalan jalur politiknya, tak perlu diikuti. Sebaliknya, sereceh apa pun ilmu seorang ulama, kalau memang sejalan jalur politiknya, maka ia wajib ditaati omongannya, dimuliakan, dan bahkan kalau perlu, dibela mati-matian.

Bukan begitu, Mas, Mbak? Halah, iyain saja, wong memang begitu kenyataannya.

politik praktis

Terakhir diperbarui pada 2 Mei 2018 oleh

Tags: AgamaAl-QuranIslampemilupolitik
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Penyebab Tokoh Agama dan Kaum Intelektual Melakukan Pelecehan Seksual MOJOK.CO
Tajuk

Penyebab Tokoh Agama dan Kaum Intelektual Melakukan Pelecehan Seksual

20 April 2026
Habis Doa Langsung Goyang- Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri MOJOK.CO
Esai

Habis Doa Langsung Goyang: Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri

17 April 2026
Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium MOJOK.CO
Esai

Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan, Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium

16 Februari 2026
AI, ChatGPT, Kecerdasan Buatan Bisa Nggak Cerdas Lagi kalau Gantikan PNS dan Hadapi Birokrasi Fotokopi MOJOK.CO
Ragam

ChatGPT Bukan Ustaz: Bolehkah Bertanya Soal Hukum Agama kepada AI?

28 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Romantisasi bunuh diri di Jembatan Cangar Mojokerto harus dihentikan MOJOK.CO

Ironi Jembatan Cangar Mojokerto: Berubah Jadi Titik Bunuh Diri Gara-gara Salah Kaprah Diromantisasi hingga Menginspirasi

24 April 2026
Omong kosong berkebun untuk slow living di desa. Punya kebun di desa justru menderita karena tanaman dirampok warga MOJOK.CO

Kena Mental Punya Kebun di Desa: Hasil Berkebun Tak Bisa Dinikmati Sendiri, Sudah Dirampok dan Dirusuhi Masih Digalaki

23 April 2026
Amplop nikahan jadi kebingungan untuk fresh graduate di Jakarta

Dilema Hadiri Nikahan Rekan Kerja di Jakarta, Gaji Tak Seberapa tapi Gengsi kalau Isi Amplop Sekadarnya

24 April 2026
Gen Z pilih soft living daripada slow living

Soft Living, Gaya Hidup Gen Z yang Memilih Menyerah tapi Tenang ketimbang Mengejar Mimpi “Besar” Tak Pasti

22 April 2026
kurir dan driver ShopeeFood. MOJOK.CO

Membiasakan Ngasih Tip Kurir ShopeeFood meski Kita Bukan Orang Mapan: Uang 5 Ribu Nggak Bikin Jatuh Miskin, Tapi Sangat Berarti buat Mereka

28 April 2026
Dugaan penganiayaan anak di daycare Little Aresha, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Jogja MOJOK.CO

Hancur Hati Ibu: Amat Percaya ke Daycare LA Jogja dan Suka Kasih Tip ke Pengasuh, Anak Saya Justru Dibuat Trauma Serius

25 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.