Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas Memori

Menelusuri Jejak PO Bus Pertama di Indonesia: Ada di Salatiga, Sayang Gulung Tikar di 2016

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
12 Oktober 2023
A A
Menelusuri Jejak PO Bus Pertama di Indonesia: Eksis Sejak Masa Penjajahan, Baru Gulung Tikar 2016 MOJOK.CO

Bus Esto, bus pertama di Indonesia. (Sikano Dinpersip Kota Salatiga)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Berbicara soal perusahaan otobus atau PO bus tertua di Indonesia, pasti kita akan menyebut nama-nama legend seperti PO Coyo, PMTOH, hingga PO Medal Sekarwangi. 

Namun, jauh sebelum PO tersebut eksis, sudah ada perusahaan serupa yang hadir di Kota Salatiga. PO ini jadi andalan pada masa kolonialisme, tapi sayangnya harus berhenti beroperasi karena mengalami masalah finansial.

Seperti apa perjalanannya?

Sebelum angkutan bus muncul di Salatiga

Mungkin sebagian besar dari kalian bertanya-tanya, mengapa PO Bus ini pertama kali muncul di Salatiga? Dan bukan di kota-kota besar lain seperti Batavia, Semarang, ataupun Surabaya.

Sebagai informasi, pada masa kolonial Hindia Belanda, Salatiga merupakan kota penting bagi pemerintah. Kala itu, kota ini berfungsi sebagai tempat bermukim warga Belanda, kota perkebunan–dengan ditetapkannya afdeeling untuk mendukung sistem cultuurstelsel (tanam paksa), dan “kota militer”.

Mengutip penelitian Eny Setyowati berjudul “Sejarah Transportasi Bus ESTO dan Pengaruhnya terhadap Perkembangan Kota Salatiga Tahun 1923-1942” (2017), pada 1926 pemerintah menetapkan Salatiga sebagai Gemeente (kotapraja dengan otonomi penuh). Sebelumnya, ia merupakan kotapraja dengan otonomi terbatas.

Imbas penetapan itu, pemerintah kemudian merencanakan transformasi Salatiga menjadi kota modern mengikuti pola pembangunan di Eropa. Salah satu yang diperbaiki adalah akses transportasi publik.

Eny Setyowati menulis, sebelum kendaraan bermesin banyak di Salatiga, pedati (gerobak sapi) untuk angkutan barang dan dokar (kereta kuda) untuk angkutan penumpang menjadi andalan utama masyarakat setempat.

Sebagai gambaran, seseorang yang akan bepergian dari Salatiga ke Surakarta, misalnya, harus naik dokar trayek Salatiga-Boyolali. Kemudian, mereka harus transit untuk pindah moda dokar trayek Boyolali-Surakarta. 

Dari persewaan mobil jadi PO Bus

Kebutuhan akan akses transportasi mesin menjadi hal penting di Salatiga. Seperti Endah Sri Hartatik catat dalam bukunya Dua Abad Jalan Raya Pantura (2018), memasuki 1920 ada impor sebanyak 1.502 unit mobil ke Jawa.

Pengusaha keturunan Cina-Jawa asal Kudus, Kwa Tjwan Ing melihat ini sebagai peluang. Bersama istrinya, Siauw King Nio, ia bikin usaha Autoverhuurder atau persewaan mobil.

Saat awal merintis, ia melayani jasa sewa unit mobil kecil pada 1921. Kala itu, deretan mobil yang ia sewakan berjejer di sepanjang ruas Solo Scheweg (sekarang Jalan Jenderal Sudirman). Warga setempat sangat meminati usaha ini, khususnya warga negara Belanda.

Akhirnya, Kwa Tjwan Ing makin melebarkan sayap usahanya. Setahun berselang, ia menambah unit truk untuk keperluan angkut barang sekaligus angkutan massal. Barulah pada 1923, ia memberanikan diri menutup usaha rental mobil dan membuka usaha angkutan umum berupa bus kota.

Baca halaman selanjutnya…

Iklan

Kelahiran PO Bus Esto di tahun 1923

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 14 Oktober 2023 oleh

Tags: busbus tertuaESTOPO Bus pertama di IndonesiasalatigaTransportasi
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Mudik Lebaran dengan pesawat
Urban

Saya Tidak Peduli Keluar Duit Lebih Banyak demi Tak Mengorbankan Kenyamanan, Pilih Mudik dengan Pesawat daripada Mode Apa Pun

11 Maret 2026
Bus patas Haryanto rute Jogja - Kudus beri suasana batin muram dan sendu gara-gara lagu-lagu 2000-an yang ingatkan masa lalu MOJOK.CO
Sehari-hari

Naik Bus Haryanto Jogja – Kudus Campur Aduk, Batin Seketika Muram dan Sendu karena Suasana dalam Bus Sepanjang Jalan

9 Maret 2026
Mahasiswa Muslim Kuliah di UKSW Salatiga: Kampus Kristen yang Nggak Perlu Ngomongin Toleransi MOJOK.CO
Esai

Mahasiswa Muslim Kuliah di UKSW Salatiga: Kampus Kristen Kok Nggak Ngomongin Toleransi

2 Februari 2026
Ilustrasi naik bus, bus sumber alam.MOJOK.CO
Ragam

Sumber Alam, Bus Sederhana Andalan “Orang Biasa” di Jalur Selatan yang Tak Mengejar Kecepatan, melainkan Kenangan

13 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Suasana Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten. MOJOK.CO

“Jajanan Murah” yang Tak Pernah Surut Pembeli di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten

17 Maret 2026
Tuntutan sosial dan gengsi bikin kelas menengah jadi orang kaya palsu hingga abaikan tabungan demi kejar standar sukses MOJOK.CO

Gara-gara Tuntutan, Nekat Jadi Orang Kaya Palsu: “Hambur-hamburkan” Uang demi Cap Sukses padahal Dompet Menjerit

14 Maret 2026
Makanan Khas Jawa Timur Obat Rindu Kala Mudik ke Surabaya (Aly Reza/Mojok.co)

Makanan Khas Jawa Timur di Jogja yang Paling Bikin Perantau Surabaya Menderita: Kalau Nggak Niat Mending Nggak Usah Jualan, Bikin Kecewa

14 Maret 2026
Jadi gembel di perantauan tapi berlagak tajir pas pulang kampung. Siasat pura-pura baik-baik saja agar orang tua tidak kepikiran MOJOK.CO

Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan

19 Maret 2026
Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku Mojok,co

Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku

19 Maret 2026
Belajar Tentang Sejarah Ekonomi Komunis China dari Duanju, Drama Vertikal yang Nagih MOJOK.CO

Belajar Sejarah Ekonomi Komunis China Lewat Kamerad Chang dan Duanju yang Bikin Nagih

16 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.