Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kotak Suara

Prinsip Muhammadiyah Menjelang Tahun Politik 2024

Hammam Izzuddin oleh Hammam Izzuddin
17 November 2022
A A
prinsip muhammadiyah di tahun poltik 2024 mojok.co

Ilustrasi bendera Muhammadiyah (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir mengajak segenap masyarakat untuk melihat 2024 bukan hanya sebagai tahun politik, namun juga sebagai proses transformasi kebangsaan. Ia ingin agar proses demoktratisasi yang sudah terbangun sejak reformasi tidak meninggalkan visi bangsa yang dicita-citakan sejak awal.

Lembaga-lembaga negara dan mereka yang hendak berkontestasi dalam pemilu mendatang, menurut Haedar, perlu membuka lagi lembaran konstitusi dan sejarah bangsa. Hal itu dilakukan agar mereka memahami betul bahwa selain demokratisasi, berbagai hal yang dilakukan perlu sejalan dengan cita-cita awal bangsa.

“Ada tiga hal yang ingin Muhammadiyah kenalkan yakni visi karakter bangsa, Indonesia berkemajuan, dan negara Pancasila darul ahdi wa syahadah. Agar jadi perspektif para calon yang hendak berkontestasi,” tegas Haedar pada konferensi pers jelang Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta, Rabu (16/11).

Menurutnya, Muhammadiyah terbuka bagi para kontestan pemilu yang hendak bertemu. Namun mereka perlu memahami tiga aspek tadi agar tidak terjadi hal yang Haedar sebut sebagai “dislokasi politik”.

“Jangan sampai mereka yang ingin meraih kekuasaan tapi lupa akan filosofi bangsa. Jadi ini penting karena dengan cara itu kita dapat mengamalkan sila keempat Pancasila,” terangnya.

Haedar menerangkan sila keempat tersebut bisa diimplementasikan dengan menyikapi kemenangan maupun kekalahan dalam pemilu secara arif dan bijaksana. Segala hal dilakukan melalui musyawarah dan setelah terpilih tidak hanya bagi-bagi jabatan.

Pada kesempatan yang sama, Haedar juga menjelaskan beberapa hal yang menjadi fokus materi Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Solo mendatang. Hal tersebut di antaranya program Muhammadiyah lima tahun ke depan, gerak komunitas ke akar rumput, risalah islam berkemajuan.

Terkait risalah Islam berkemajuan, ia menilai selama ini umat beragama mengalami ketertinggalakan secara sosial dan ekonomi. Salah satunya terkait aspek keadaban publik yang menurutnya rendah di Indonesia.

“jadi agama itu perlu dihadirkan untuk membawa kemajuan bangsa. Bukan hanya kecerdasan iptek tapi juga keadaban,” paparnya.

Menurutnya, jika potensi agama dikembangkan secara baik, maka isu politik identitas dan radikalisme tidak perlu menjadi kekhawatiran lagi. Sebab ruang publik diisi orang-orang dengan pemahaman agama yang mumpuni. Islam berkemajuan, menurut Haedar, ingin mendorong masyarakat memiliki standar peradaban yang salah satunya ditempuh lewat pendidikan.

“Jadi kunci kemajuan bangsa di pendidikan. Muhammadiyah ingin memberi sumbangan agar pendidikan kita harus melakukan langkah, tidak melulu soal link and match dengan dunia kerja. Akan tetapi upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan nilai. Jepang kuat tradisi tapi bisa hidup modern, itu terjadi ada value,” ucapnya.

Reporter: Hammam Izzudin
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA Haedar Nashir: Muktamar Muhammadiyah ke-48 Bebas Intervensi

Terakhir diperbarui pada 5 Desember 2022 oleh

Tags: Haedar NashirMuhammadiyahPemilu 2024
Hammam Izzuddin

Hammam Izzuddin

Reporter Mojok.co.

Artikel Terkait

Siswa Katolik di Muhammadiyah Pekalongan. MOJOK.CO
Sekolahan

Cerita Siswa Katolik Suka Otak-atik Motor hingga Lulus dari SMK Muhammadiyah dan Dapat Beasiswa Magang ke Jepang 

18 Mei 2026
Tapak Suci Unair. MOJOK.CO
Sehari-hari

Saat Pencak Silat Dianggap Biang Kerok, Saya Bersyukur Jadi Bagian Tapak Suci Unair yang Anti Tawuran

21 April 2026
Muhammadiyah vs NU di Rumah Kami: Dua Hati, Beda Hari Lebaran, Selesai di Meja Makan yang Sama MOJOK.CO
Esai

Muhammadiyah vs NU di Rumah Kami: Dua Hati, Beda Hari Lebaran, Selesai di Meja Makan

9 Maret 2026
Muhammadiyah selamatkan saya dari tabiat buruk orang NU. MOJOK.CO
Sehari-hari

Saya Bukan Muhammadiyah atau NU, tapi Pilih Tinggal di Lingkungan Ormas Bercorak Biru agar Terhindar dari Tetangga Toxic

25 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Cerita alumnus Unika, side hustle untuk temukan kebermaknaan. MOJOK.CO

Kisah Alumnus Unika Pilih Side Hustle dengan Mengubah Sampah Plastik Jadi Kerajinan agar Waras dari Kerjaan Freelance

15 Juli 2026
Derita Orang Rembang, Makan Mie Gacoan Harus ke Tuban MOJOK.CO

Makan Mie Gacoan adalah Kemewahan bagi Anak Muda Desa, Rela Motoran 2 Jam Demi Makanan yang “Menyiksa” Mulut Mereka

14 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kerja sama dengan Australia. MOJOK.CO

Satu Dekade Jogja dengan Melbourne Symphony Orchestra: Bukti Orkestra Nggak Melulu Kaku bahkan Bisa Dinikmati Sambil Lesehan

15 Juli 2026
Suzuki S-Presso memang mobil aneh karena jelek tapi keren MOJOK.CO

Ibarat kata, Suzuki S-Presso adalah “Crocs KW” yang jelek tapi keren dan kini menjadi benteng pertahanan terakhir melawan kegilaan dunia yang serba mahal ini

14 Juli 2026
Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri.MOJOK.CO

Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri

17 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.