Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Kiprah Indonesia di Piala Dunia 1938 yang Sulit Diterima

Pasthiko Pramudhito oleh Pasthiko Pramudhito
9 November 2022
A A
indonesia di piala dunia mojok.co

Ilustrasi nonton bola (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Indonesia merupakan negara Asia pertama yang mencatatkan namanya di ajang Piala Dunia. Tepatnya pada Piala Dunia 1938 di Prancis. Saat itu Indonesia masih berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda. Namun fakta ini jarang diungkap.

Berbicara soal timnas dari benua Asia yang mampu mencatatkan namanya pertama kali di turnamen sepak bola terbesar di dunia agaknya kita perlu berbangga hati. Singkirkan dulu nama tim raksasa macam Jepang, Korea Selatan, ataupun Australia. Indonesia merupakan yang pertama.

Timnas Indonesia yang saat itu bernama Hindia Belanda berjalan dengan mulus ke Piala Dunia setelah Jepang mengundurkan diri dari babak kualifikasi akibat perang besar dengan Tiongkok. Saat itu memang hanya dua negara di kualifikasi karena dunia sepak bola Asia belum serius dalam menggarap cabang olahraga ini.

Berdasarkan catatan Java Post, timnas Hindia Belanda berangkat menuju Prancis pada 27 April 1938 menggunakan kapal laut, sampai di Prancis pada bulan Juni 1938.

Selang 2 hari, timnas Hindia Belanda berlaga melawan raksasa Eropa, Hungaria. Mereka kalah 6-0 dari Hungaria. Laga itu menjadi satu-satunya pertandingan yang dilakoni Timnas Hindia Belanda di ajang Piala Dunia karena sistem fase gugur yang digunakan membuat tim yang kalah langsung tersingkir.

Sebetulnya, Hindia Belanda sempat mencetak gol ke gawang Hungaria lewat sontekan, Tjaak Pattiwael, namun, gol tersebut dianulir oleh wasit. Pattiwael menjadi sejumlah orang Indonesia di antara orang Belanda dan Tionghoa di squad Hindia Belanda.

Saat itu banyak pemain Indonesia memang menolak ikut karena bermain karena harus bermain untuk pemerintah kolonial. Namun, meskipun bermain untuk Hindia Belanda Tjaak Pattiwael mengungkap “Tidak peduli apapun yang terjadi, saya tetap membela Indonesia”. Pesan Tjaak Pattiwael itu disampaikan anaknya pada suatu kesempatan seperti dilansir di laman FIFA.

Sebetulnya agak sulit memang menerima fakta partisipasi Indonesia pada ajang Piala Dunia 1938 ini. Pasalnya, bendera yang digunakan bukan bendera Indonesia, melainkan bendera Belanda, pun juga nama yang dipakai adalah Hindia Belanda bukan Indonesia.

Protes para pemain

Pada masa kolonial terdapat dua federasi sepakbola, yakni Nederlandsch Indsiche Voetbal Uni (NIVU) dan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI).

Undangan Piala Dunia saat itu datangnya untuk NIVU, bukan PSSI. NIVU mengkoordinasikan dengan PSSI untuk membentuk timnas yang akan dikirim ke Prancis untuk Piala Dunia.

PSSI dibawah Soeratin Sosrosugondo yang menaungi para pemain tanah air kemudian setuju untuk bekerjasama dengan NIVU. Namun, pada akhirnya kerja sama tak berlangsung lama karena beberapa hal.

Misalnya, NIVU yang secara sepihak langsung memilih pemain yang akan diikutsertakan, padahal Soeratin ingin ada satu pertandingan antara PSSI dan NIVU untuk menentukan pemain-pemain yang akan dibawa ke Prancis. Selain itu, Soeratin juga tidak menghendaki bendera Belanda yang dipakai NIVU, alih-alih bendera Indonesia atau netral.

Akhirnya, Soeratin tidak mengikutsertakan pemain PSSI di tim Hindia Belanda ke Piala Dunia 1938 sebagai aksi protesnya. Meskipun nyatanya masih ada beberapa pemain Indonesia yang ikut terbang ke Prancis. Bagi pemain yang ikut, menurut jurnalis Sumohadi Marsis mereka hendak menjadikan sepak bola sebagai sebuah gerakan untuk mencapai kemerdekaan.

Namun menurut berbagai sumber, yang semakin bikin kiprah Indonesia pada Piala Dunia 1938 sulit diterima adalah pertandingan yang diselanggarakan sebelum kemerdekaan tahun 1945 tidak diakui oleh PSSI. Itulah kenyataannya.

Penulis: Pasthiko Pramudhito
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA Film Dokumenter Korupsi FIFA akan Dirilis Jelang Piala Dunia

Terakhir diperbarui pada 29 September 2025 oleh

Tags: Piala duniatimnas indonesia
Pasthiko Pramudhito

Pasthiko Pramudhito

Magang Mojok

Artikel Terkait

Perempuan-Perempuan Cilik Merawat Asa Timnas di Tengah Kekosongan Ekosistem Profesional, MLSC.mojok.co

Perempuan-Perempuan Cilik Merawat Asa Timnas di Tengah Kekosongan Ekosistem Profesional

30 Juni 2026
Piala Dunia, Joachim Klement yang Tak Pernah Salah Ramal dan Skenario-Skenario Ajaib.MOJOK.CO

Joachim Klement yang Tak Pernah Salah Ramal dan Skenario-Skenario Ajaib Pildun

25 Juni 2026
Gotong Royong ala Serigala Putih: Napas Kultural Uzbekistan di Pentas Piala Dunia.MOJOK.CO

Sepak Bola Gotong Royong Bernama Mahalla, Senjata Taktis Uzbekistan di Piala Dunia

17 Juni 2026
Timnas Kongo dan Wajah Baru Kolonialisme di Sepak Bola Afrika.MOJOK.CO

Timnas Kongo dan Wajah Baru Kolonialisme di Sepak Bola Afrika

12 Juni 2026
Kalau gue jadi Patrick Kluivert, gue nggak mau menjadi pelatih Timnas Indonesia gantikan Shin Tae Yong karena Ketum PSSI Erick Thohir problematik MOJOK.CO

Kalau Jadi Patrick Kluivert Gue Nggak Mau Kerja sama Erick Thohir yang Interview Kerja di Hari Raya, Tak Punya Value dan Tak Tahu Batas

9 Januari 2025
Timnas Indonesia Gagal Lagi di AFF, Siapa yang Pantas Disalahkan?

Timnas Indonesia Gagal Lagi di AFF, Siapa yang Pantas Disalahkan?

28 Desember 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Apa Salahnya ASN Jualan Nasi Kuning? Gaji Tetap, Kebutuhan Terus Bertambah MOJOK.CO

Apa Salahnya ASN Jualan Nasi Kuning? Gaji Tetap, Kebutuhan Terus Bertambah

12 Agustus 2026
Konferensi pers menuju lima tahun Cherrypop sebagai lebaran skena MOJOK.CO

Cherrypop 2026: 5 Tahun Lebaran Skena, Jeda, dan Cerita-cerita di Balik Panggung yang Ubah Jalan Hidup Banyak Orang

10 Agustus 2026
Mending Beli Rumah di Menganti, Surabaya Pinggiran daripada Sidoarjo. MOJOK.CO

Alasan Pasangan Muda Beli Rumah di Surabaya Pinggiran daripada Sidoarjo: Kena Imbas Pembangunan Perkotaan

12 Agustus 2026
Tinggal di Belanda 21 tahun, akhirnya menyerah jadi WNI dengan jalur naturalisasi kewarganegaraan. MOJOK.CO

Menyesal Jadi WNI Setelah 21 Tahun Tinggal di Belanda, Ternyata Pindah Kewarganegaraan Itu Mudah

14 Agustus 2026
Mahasiswa KKN UGM dan LPS berkolaborasi hadirkan edukasi literasi keuangan di desa terluar Mentawai MOJOK.CO

Literasi Keuangan untuk Desa Terluar di Mentawai: Jadi Bekal Masyarakat Desa Hadapi Ragam Persoalan Finansial

10 Agustus 2026
Pegawai Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih pinggir kuburan harus dibekali dengan keahlian supranatural hingga ilmu sosial MOJOK.CO

Keahlian-keahlian Vital untuk Pegawai Kopdes Pinggir Kuburan, Berguna buat Diri Sendiri dan Pembeli

13 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.