Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Dulu Primadona, Kini Jalur Juwana-Batang jadi Neraka di Pantura

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
30 September 2023
A A
Gubernur Jateng mengecek ruas Jalan Batangan di Pati, Jawa Tengah. Jalan ini selalu jadi keluhan masyarakat, sampai dapat julukan jalur neraka di pantura MOJOK.CO

Gubernur Jateng mengecek ruas Jalan Batangan di Pati, Jawa Tengah. Jalan ini selalu jadi keluhan masyarakat. (Jatengprov.go.id)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Jalur Juwana-Batang punya julukan sebagai jalur neraka di Pantura. Bagaimana tidak, tiap tahun jalanan ini selalu mengalami kerusakan yang berimbas pada macet parah. Padahal, zaman dahulu, jalur ini menjadi primadona penyokong perekonomian Hindia Belanda.

Jalur Pantai Utara Jawa alias Pantura sudah eksis sejak masa Kerajaan Mataram Islam. Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels kemudian melakukan revitalisasi jalan ini saat  memimpin (1808-1811).

Daendels memasukkan jalur Pantura dalam proyek raksasanya, Jalan Raya Pos, yang membentang 1.000 kilometer dari Anyer, Banten hingga Panarukan, Jawa Timur.

Lekas setelah pembangunan Jalan Raya Pos di Pantura rampung, ia segera jadi jalur yang vital. Seperti yang kita tahu, memasuki abad ke-20, ada puluhan pabrik gula  atau suikerfabriek yang dibangun di sekitaran Pantura. Jalur Juwana-Batang pun segera ramai oleh lalu lintas kendaraan pengangkut gula.

“Jalur Gula” Pulau Jawa

Sejarah mencatat, ada puluhan pabrik gula (PG) yang pemerintah Hindia Belanda dirikan di sekitar Jalan Pantura. Salah satu yang terkenal, dan berada di rute Juwana-Batang adalah PG Cepiring yang berlokasi di Kendal.

Penelitian Libra H. Inagurasi dari Universitas Indonesia (2010) menunjukkan, PG Cepiring sudah berdiri sejak masa Tanam Paksa 1835. Ia dimiliki perusahaan perkebunan bernama Maatschapij tot Exploitatie der Kendalsche Suikerfabrieken.

Berdasarkan catatan Libra, ada empat pabrik gula yang berdiri di Karesidenan Semarang, lokasi PG Cepiring berada. Hingga 1905, terdapat 15 ribu pribumi, 400 orang Tionghoa, dan 100 orang Eropa yang bekerja di pabrik-pabrik tersebut.

Memang, Libra mencatat, jalur kereta api masih menjadi pilihan utama untuk distribusi gula-gula hasil produksi. Namun, setelah Jalan Raya Pos di Pantura buka, jalur ini menjadi rute alternatif pengiriman gula maupun bahan mentah dari Jawa Barat dan sebaliknya.

Kala itu, Jalan Raya Pos tepat berada di sebelah selatan PG Cepiring. Alhasil, jalan ini pun menjadi satu dari tiga jalur yang PG Cepiring pakai untuk mendistribusikan gula.

Menurut catatan Libra, PG Cepiring punya tiga jalur utama. Jalur kereta, yang sebagian besar untuk distribusi gula ke wilayah-wilayah Surakarta, Yogyakarta, dan sekitarnya. Jalur laut, melalui perahu di Kali Bodri yang terhubung ke laut, dipakai untuk mengirim gula ke Batavia.

Sementara jalur Juwana-Batang, jadi rute untuk mengirimkan hasil produksi ke wilayah-wilayah Pantura lain, seperti Pekalongan dan Cirebon. Sangat vital, bukan?

Jalur neraka Pantura yang mulai ramai sejak 1920

Memasuki abad ke-20, jalur kereta api lebih efektif dalam pengiriman hasil produksi gula. Namun, jalan raya, khususnya di Pantura, tetap menjadi primadona bahkan makin ramai oleh kendaraan pribadi.

Menurut catatan Endah Sri Hartatik dalam bukunya Dua Abad Jalan Raya Pantura (2018), sejak 1907 mulai terdapat layanan kendaraan bermotor di Pulau Jawa. Bahkan, pada 1922, tercatat ada impor sebanyak 1.502 unit mobil ke Jawa.

Kepentingan mobil di kalangan pabrik gula tercatat juga meningkatkan impor otomobil menjelang depresi ekonomi (krisis malaise) 1930. Kata Endah, jumlahnya mencapai 10 ribu unit.

Iklan

Banyaknya impor mobil ini seturut dengan beroperasinya Jalan Pantura untuk masyarakat umum. Sebelumnya, Daendels hanya memperuntukkan jalanan ini untuk kendaraan-kendaraan pelat pemerintah, atau kepentingan industri negara.

Maka, segera setelah menjadi jalan umum, jalur Juwana-Batang pun langsung ramai. Sebabnya, selain jadi rute terpanjang di Pantura, ada banyak lokasi-lokasi penting di sepanjang jalur ini. Termasuk keberadaan kantor pos, pasar-pasar, hingga permukiman baru yang mulai bermunculan.

Sepanjang 1929-1930, bahkan 44 ribu mobil, 4 ribu truk, 7 ribu sepeda motor, dan 2 ribuan bus lalu lalang di jalan ini. Kondisi jalan pun mendapat perhatian lebih, yang sejak 1930 biaya pemeliharaan jalan di rute Juwana-Batang jadi yang terbesar.

Sayangnya, kini jalur yang dulu jadi primadona ini punya julukan yang berkebalikan, yakni jalur neraka Pantura. Kerusakan jalan yang diikuti pembangunan secara reaktif, sudah jadi hal lumrah. Kemacetan, jadi makanan sehari-hari. Apalagi saat mudik, pengendara pun bisa menginap berhari-hari di jalan karena macet parah.

Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Sejarah Jalur Pantura, Ada Sejak Mataram Islam yang Tumbalkan Nyawa Ribuan Pribumi di Masa Belanda

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 30 September 2023 oleh

Tags: jalan neraka di panturajuwanapantura
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

4 jenis pengendara motor di pantura seperti Rembang yang harus dilarang nyetir motor di jalan raya MOJOK.CO
Catatan

4 Jenis Pengendara Motor di Pantura yang Harus Diwaspadai di Jalan Raya: Top Level Ngawur dan Tak Tahu Aturan!

23 April 2026
Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran MOJOK.CO
Esai

Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran

22 April 2026
Pengendara motor plat K ngga ngerti fungsi zebra cross, lampu, sein, hingga spion MOJOK.CO
Catatan

Pengendara Plat K Tak Paham Fungsi Zebra Cross-Spion, Cuma Jadi Pajangan dan Abaikan Keselamatan Orang saat Bawa Kendaraan

7 Maret 2026
Banjir di Muria Raya, Jawa Tengah. MOJOK.CO
Mendalam

Saat Warga Muria Raya Harus Kembali Akrab dengan Lumpur dan Janji Manis Awal Tahun 2026

20 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Guru PPPK Paruh Waktu, honorer.MOJOK.CO

Guru, Profesi yang Dihormati di Desa tapi Hidupnya Sengsara di Kota: Dimuliakan Seperti Nabi, Digaji Lebih Kecil dari Kuli

23 April 2026
Derita guru CLC di Malaysia. MOJOK.CO

WNI Jadi Guru di Luar Negeri Dapat Gaji 2 Digit, Pulang ke Indonesia Malah Sulit Kerja

23 April 2026
Campus Leagu: kompetisi olahraga kampus untuk masa depan atlet mahasiswa MOJOK.CO

Campus League Musim 1: Kompetisi Olahraga Kampus untuk Fondasi Masa Depan Atlet Mahasiswa, Menempa Soft Skills Krusial

22 April 2026
Tongkrongan gen Z di coffee shop

Tongkrongan Gen Z Meresahkan, Mengganggu Kenyamanan dari Yang Bisik-bisik sampai Berisik

23 April 2026
4 jenis pengendara motor di pantura seperti Rembang yang harus dilarang nyetir motor di jalan raya MOJOK.CO

4 Jenis Pengendara Motor di Pantura yang Harus Diwaspadai di Jalan Raya: Top Level Ngawur dan Tak Tahu Aturan!

23 April 2026
Sesal pernah kasar ke bapak karena miskin. Kini sadar setelah ditampar perantauan karena ternyata cari duit sendiri tidak gampang MOJOK.CO

Sesal Dulu Kasar dan Hina Bapak karena Miskin, Kini Sadar Cari Duit Sendiri dan Berkorban untuk Keluarga Ternyata Tak Gampang!

21 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.