Saya ucapkan kepadamu: jaalana Allah waiyyakum min al aidzin wal faidzin. Semoga Allah menjadikan kita semua tergolong orang-orang yang kembali (fitrah) dan memperoleh kemenangan.

Hari raya bagi anak-anak hanya menghadirkan perasaan gembira. Hari raya adalah tentang baju baru, makan hidangan mewah bersama keluarga, juga berkeliling dari satu rumah ke rumah lainnya dengan membawa pulang uang THR. Hari raya adalah kemeriahan petasan dan kembang api. Anak-anak memaafkan dengan tulus. Saling ledek di antara anak-anak mudah luntur bersalin dengan tawa.

Itulah sebabnya, fitrah atau kesucian dalam Hari Raya sering digambarkan lewat warna putih kapas atau murninya bayi yang baru lahir. Bebas dari prasangka, polusi juga dosa-dosa kehidupan.

Akan tetapi, kita telah menerima bahwa hari raya buat orang dewasa adalah pertaruhan kejujuran. Kita telah membenci banyak hal sebagaimana kita menyukai banyak hal. Sebagian orang yang dulu kita sebut teman telah sengaja kita singkirkan untuk tak lagi menjadi teman.

Bermaafan di hari raya, untuk orang dewasa adalah peristiwa menantang. Lebih sering terjadi, kita saling memaafkan lewat lisan saja, alias sekadar redaksi, sebab dalam hati yang paling dalam, kita tahu tetap tak bisa benar-benar bersilaturahmi kembali dengan sosok tersebut. Situasi yang sesungguhnya menyedihkan.

Bagaimana perempuan memaknai hari raya Idulfitri?

Saya baru saja membaca berita pasangan suami istri yang pulang kampung dari Gombong (Jawa Tengah) ke Bandung (Jawa Barat) sejauh 278 km berjalan kaki dengan menggendong anaknya. Mereka baru saja di-PHK dari pabrik konveksi dan tak memiliki apa-apa lagi di Gombong.

Baca juga:  Orang Alim dan Obat Kesenduan Saat Lebaran

Berbekal 120.000 rupiah, mereka berjalan kaki pada siang hari dan beristirahat serta menumpang mandi di SPBU pada malam hari.

Masitoh, perempuan yang berjalan kaki ratusan kilometer bersama Dani sambil menggendong anaknya tentu punya pemaknaan Idulfitrinya sendiri. Pengalaman perempuan bernama Masitoh tidak sama dengan pengalaman perempuan lain yang masih bersemangat checkout baju-baju baru di marketplace untuk bersiap mengunggah foto keluarga berseragam putih di feed Instagram.

Perempuan lajang berbeda pengalaman dengan perempuan berpasangan. Perempuan lajang mempersiapkan mental untuk pertanyaan kapan menikah dari keluarga besar. Ada pula perempuan buruh lajang yang akan melewati kesendirian di sebuah kontrakan petak dengan satu-satunya harapan adalah agar kontrak kerjanya di sebuah pabrik diperpanjang hingga ia bisa menabung untuk pulang.

Perempuan berpasangan sedang mempersiapkan diri untuk menjawab pertanyaan seputar momongan. Ada yang dengan tenang menjawab “sedang program”. Namun, ada pula yang hanya bisa meringis karena sudah lelah hati bertahun-tahun mendapati kalimat-kalimat yang menyakitkan tentang kondisi reproduksinya.

Ada perempuan dengan pasangan yang amat suportif secara finansial dan psikis sehingga tak menanggung kecemasan soal rencana kehamilan sendirian. Ada perempuan yang perlu menabung berbulan-bulan untuk bisa pergi berkonsultasi ke dokter kandungan.

Ada perempuan yang semangat menabung agar bisa berprogram, tapi tidak mendapat dukungan dari pasangan yang merasa bahwa istrinya yang bermasalah, sedang ia tidak. Ada perempuan pekerja salon yang menabung untuk membeli vitamin kesuburan untuk suami, tapi suami tak mau mengubah gaya hidupnya.

Baca juga:  Iman ala Orang Madura: Jual Bensin Eceran di Pintu Keluar SPBU dan Sate Terbaik Nomor Dua Sedunia

Fitrah adalah suatu kesadaran mendalam akan keesaan Tuhan (tauhid) yang tertanam dalam lubuk hati (nurani) yang merupakan pusat kedirian manusia.

Kembali kepada fitrah, artinya kembali meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya penolong dan pelindung. Allah tak pernah meminggirkan perempuan. Allah tak pernah mensubordinasi perempuan. Allah tak pernah memberi label-label buruk pada perempuan. Allah menerima penghambaaan perempuan dengan utuh.

Bagaimana pun rupa reproduksi perempuan, fitrahnya adalah cenderung kepada kebaikan. Bagaimana pun rupa fisik perempuan, fitrahnya adalah cenderung kepada kebaikan. Bagaimana pun status seksualitas dan sosial perempuan, fitrahnya adalah cenderung kepada kebaikan.

Perempuan lajang, perempuan istri, perempuan Ibu, semuanya sama-sama setara sebagai hamba. Semua pengalaman perempuan, semoga kembali kepada fitrah, menuju Allah yang hanya menilai tiap-tiap kebaikan.

Taqaballahu minna wa minkum. Kullu aamin wa antum bi khoirin.


Kamu bisa baca kolom Kelas-Kalis lainnya di sini. Rutin diisi oleh Kalis Mardiasih, tayang saban hari Minggu.