Dua pekan lalu kita ramai membincangkan kasus PR matematika seorang anak SD di Semarang. Terlepas dari perdebatan apakah sama atau beda antara 4 x 6 dan 6 x 4, yang jelas kita mafhum bahwa matematika merupakan monster bagi banyak anak sekolah di Indonesia.

Selain karena menghadirkan kerumitan hidup yang merampas indahnya masa kanak-kanak dan remaja, matematika hanya berhenti menjadi pajangan yang beku di kelas-kelas. Ia tidak bisa hadir dalam realitas keseharian. Imbasnya, matematika gagal menjadi lifeskill. Ia sekadar alat untuk mendapatkan nilai di buku rapot. Itu saja.

Ini saya kasih contoh yang paling asyik: tipuan angka pada kampanye antirokok.

Biar teman-teman yang antirokok nggak keburu ngamuk duluan, saya berpesan: tetaplah menjadi antirokok. Bumi harus terus berputar. Baik yang pro maupun antirokok sama-sama dibutuhkan semesta raya. Tapi di saat yang sama, mari berbareng melawan pembodohan dan penistaan atas nalar. Deal? *Salaman*

***

Sejak sekitar enam tahun silam, saya terus-menerus mendengar bahwa korban tewas akibat rokok telah, sedang, dan akan terus berjatuhan. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), jumlah kematian itu dalam lingkup Indonesia sangat mengerikan: 427.000 orang per tahun. Data ini akurat dari WHO, dan telah saya baca puluhan kali dari berbagai sumber. Untuk keperluan tulisan pendek ini, saya memeriksa ulang, hingga data itu membawa saya masuk ke blog Bapak Tulus Abadi. Beliau adalah salah satu tokoh utama tobacco control di Indonesia.

Angka 427.000 tersebut memang sudah agak out of date, dirilis WHO pada tahun 2008. Namun dengan pengandaian sesuai asumsi gerakan antirokok sendiri bahwa prevalensi merokok di negeri ini semakin tinggi, otomatis mestinya angka itu sekarang terus membesar.

Melihat data 427.000 orang Indonesia mati per tahun karena rokok, apa yang pertama kali terlintas di kepala? Kemungkinan besar Anda menyebut nama Tuhan. “Ya Tuhan, terlaknat sekali barang satu itu! Benda pembunuh!!” Lantas Anda bertekad mengajak segenap orang tercinta untuk stop merokok, sembari mengkhotbahi mereka semua tentang angka 427.000 nan ajaib itu.

Adapun sebagian yang lain, mungkin lebih progresif. Mengelus dada, lalu bertekad bergabung dengan para ksatria antirokok di belakang Pak Tulus Abadi, Pak Kartono Mohamad, Pak Hakim Sorimuda Pohan, dan sebagainya.

Tapi, adakah yang mau berdiam sebentar, mengunyah baik-baik, mencoba memahami apa arti “per tahun 427.000 orang di Indonesia mati karena rokok”? Hampir semua di antara kita memilih tidak memahaminya dengan nalar. Penyebabnya simpel saja, yakni alam bawah sadar kita sudah kapok dengan angka-angka. Momok pelajaran matematika bukan hanya menciptakan trauma. Ia juga membentuk diri kita menjadi manusia-manusia pasrah, yang menerima begitu saja tiap kali mulut kita disumpal dengan timbunan angka.

Biar tidak ikut-ikutan pasrah, saya mencoba mengutak-utik kalkulator.

Menurut data Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2008 diperkirakan sebanyak 228.523.000 jiwa. Pahami dulu bahwa angka itu adalah konteks, di mana terletak kematian 427.000 manusia per tahun.

Dengan angka kematian per tahun 427.000 tersebut, artinya kita harus menghitung 228.523.000 dibagi 427.000. Ketemunya 535,18. Sebutlah 535. Nah, jika data WHO itu memang benar, maka artinya “pada setiap populasi 535 orang di Indonesia, terjadi 1 kematian per tahun”. Betul, bukan? Silakan dicerna lagi.

Persoalannya, apakah data kematian manusia yang sangat bombastis itu cukup berhenti di berita website, atau di laporan-laporan akhir tahun kerja LSM untuk para penyandang dana? Tentu tidak. Kita (yang setiap saat menjadi sasaran tembakan informasi) bisa mengambil sikap cerdas dan kritis, bahkan bisa melakukan “verifikasi” dalam segenap keterbatasan.

Caranya amat sangat mudah. Lihat populasi terdekat Anda. Mulai anggota keluarga, tetangga sekampung, hingga teman-teman. Nah, saya yakin, jumlah lingkaran terdekat Anda tersebut cukup untuk membentuk populasi 535 orang. Pasti cukup. Jika tidak, misalnya Anda cuma berhasil menghitung 200 orang, misalnya, saya curiga dalam diri Anda ada problem psiko-sosial yang akut. Datanglah ke konsultan kepribadian terdekat di kota Anda.

Setelah terkumpul populasi lingkaran terdekat sejumlah kira-kira 535 orang, lihatlah umur Anda. Jika Anda berusia 20 tahun, misalnya, berarti semestinya Anda menyaksikan ada 20 orang di lingkungan Anda sendiri yang mati karena rokok. Logikanya, karena kematian itu terjadi 1 orang per tahun di tiap populasi 535 orang. Benar, bukan?

Mmm, oke. Itu agak sulit ya. Anda mengalami masa kecil hingga umur 10, sebutlah begitu. Hingga umur 10, Anda tak terlalu paham pada lingkungan sekitar. Baik, kalau memang demikian, dengan umur Anda yang 20 tahun, minimal Anda melihat kematian akibat rokok sebanyak 10 kematian! Bagaimana?

Mari kita bikin rumus toleransi saja. Ini semacam diskon 50%, karena kebaikan hati saya. Jika umur Anda 30 tahun, maka minimal Anda melihat kasus kematian karena rokok sebanyak 15 kasus. Jika umur Anda 40 tahun, minimal kasus kematian akibat rokok Anda lihat sebanyak 20 kasus. Dan seterusnya.

Nah, bagaimana? Betulkah demikian? Betulkah sebanyak itu kasus kematian akibat rokok Anda saksikan selama hidup Anda?

Rumus ini berlaku untuk setiap orang di Indonesia. Sebab, dengan pembagian 427.000 atas jumlah penduduk total 228.523.000 jiwa, otomatis setiap orang (termasuk Anda) akan menjadi bagian dari kelompok populasi terdekat yang berjumlah 535 orang itu tadi.

Maka, kepada siapa pun yang membaca sentilan ini, saya persilakan menghitung, ada berapa kematian akibat rokok di lingkungan terdekat Anda yang Anda ketahui sendiri. Jika ternyata memang benar jumlahnya sesuai rumus di atas, ah, saya sungguh ingin berjumpa dengan Anda. Tapi jika ternyata hasilnya jauh di bawah rumus, atau bahkan sama sekali kematian itu tidak pernah Anda temui di lingkungan terdekat Anda, maka saya ingin mengucap selamat.

Selamat, sebab selama ini Anda telah dibodohi oleh mereka. Hahaha.

 

Sumber Gambar

  • Eko Bambang Trivisia

    ora ono sing komen

    #clingak – clinguk golek konco

    • Wiro Sableng

      iki lho wes akeh akeh kag, eneng wolu. 😀

  • Makanya kan, “Lies, damned lies, statistics.”

  • izki ramadhan

    1. Perokok itu ada 2, aktif dan pasif. Saya yakin yang barusan anda bicarakan 427.000jiwa itu adalah perokok aktif dan anda belum menghitung perokok pasif.
    2. Pembahasan anda terpaku hanya pada kematian, sementara kampanye antirokok dilakukan untuk mengingatkan bahaya kematian, dan PENYAKIT yang disebabkan oleh rokok.
    3. Anda tidak bisa membagi 228.523.000jiwa dengan 427.000kematian karena dari 228.523.000jiwa tidak seluruhnya merokok.
    4. Anda kurang bijak jika menghubungkan antirokok dengan matematika.
    5. Antirokok bukan hanya tentang kematian dan penyakit, tapi juga kenyamanan lingkungan/sosial. Bagaimana perasaan anda bila ada pria yang merokok didekat istri anda yang sedang hamil sementara istri anda bukan perokok?

    • Yuliardi Swasono

      Nampaknya anda juga kurang bijak pada poin nmr 5. Urusan kenyamanan lingkungan/sosial itu masalah etika, jangan salahkan rokoknya. Apapun yg dilakukan tidak pada tempatnya adalah hal yg tidak etis dan mengganggu. Mengaji pun jika dilakukan di tempat dan waktu yg salah juga tidak baik, apa kemudian harus ada larangan mengaji? Lagi pula pada contoh anda kenapa juga harus pria, saya rasa tidak bijak juga mengkaitkan rokok dg gender. Masalah statistiknya, saya tdk tertarik untuk membahas. Terlalu panjang jika hrs membahas masalah metodologi dan sampling, tentang angka-angka di atas sy rasa tak perlu dianggap terlalu serius.

      • izki ramadhan

        @untuk BAPAK Yuliardi: baik pak, dari komentar anda, saya anggap anda
        mengerti etika. tapi perokok di indonesia ngga cuma anda, dan sayangnya
        hanya sebagian saja yang mengerti etika dan mau menerapkannya, yang
        sebagian lagi mengerti etika namun enggan menerapkan.
        untuk masalah gender, didepan kata itu kan sudah saya tulis “bila” yang berarti permisalan/contoh. kalo dari pelajaran SD sih, namanya contoh itu selalu lebih simple dari persoalan yang diberikan. oleh karena itu anda jangan terlalu fokus dengan “contoh”, bukankah anda sudah tamat SD?

        • Yuliardi Swasono

          nampaknya anda memang kurang smart mas Izki Ramadhan, saya membahas kaitan gender dg rokok justru krn contoh yg anda ajukan sendiri. Bgmn kemudian anda bilang “jangan terlalu fokus dg contoh”?? diskusi apapun, konstruksi berpikirnya dibangun dari kasus. lha sampeyan ngajuin contoh kasus, lalu nggak boleh dibahas dan orang lain nggak boleh beropini, mending situ onani otak saja sendiri. satu lagi, kalimat anda “tapi perokok di Indonesia nggak cuma anda” berarti mengasumsikan saya perokok, lha dasar konstruksi berpikirmu apa kok berujung kesimpulan bahwa saya seorang perokok? lha logika sederhana gini aja anda gak paham dan main asumsi semaunya, gimana mau bahas masalah statistik? selesaiin kuliah dulu aja mas, gak usah mikir yg berat-berat,, ntar malah ngerepoti ortu kalo sampeyan kelamaan kuliahnya. kapan-kapan kita diskusi lagi kalau anda sudah lulus filsafat logika, itupun jika saya masih berminat.

          • Hadi nusa ginting

            gebuk aja mas.

      • Apekate

        “Nampaknya anda juga kurang bijak pada poin nmr 5. Urusan kenyamanan
        lingkungan/sosial itu masalah etika, jangan salahkan rokoknya. Apapun yg
        dilakukan tidak pada tempatnya adalah hal yg tidak etis dan mengganggu.
        Mengaji pun jika dilakukan di tempat dan waktu yg salah juga tidak
        baik, apa kemudian harus ada larangan mengaji?”

        Ini pernyataan terbodoh yg pernah saya dengar… kalo bukan salah rokoknya apanya… anda perokok tapi kalo tidak ada rokok di dunia ini apa anda bisa disebut perokok ?

        anda membandingkan dengan mengaji ??? wtf, mengaji di lakukan di waktu yang salah itu yang seperti apa dan kapan? (kalau anda muslim harusnya tahu), andaipun ada yang terganggu umpamanya, itu hanya gangguan suara, anda suruh berhenti InsyaAlloh berhenti…tidak mengganggu kesehatan.

        Nah Perokok dan rokok, ketika saya terganggu dan saya menyuruh si perokok berhenti, apakah dia akan berhenti merokok ? yang ada biasanya malah lebih marah dari yang terganggu. Ketika saya terganggu dengan perokok maka pada saat itulah saya sudah menjadi perokok pasif, karena saya sudah menghirup asap rokok anda, Mengaji, ketika anda terganggu apakah anda menjadi pengaji pasif.wkwkwk…

        Silahkan merokok,tapi telan asapnya..buang puntungnya di tempat sampah.

        • FreerideJunker

          saya coba luangkan waktu merespon orang bodoh satu ini:

          Statemen anda: ..Ini pernyataan terbodoh yg pernah saya dengar… kalo bukan salah rokoknya apanya..<< kambing tetangga saya ternyata lebih pinter dari ente,, namanya barang/media/object sifatnya netral bro, kalo dipakai secara salah yg salah tetap saja bukan barang /media/object-nya,, tapi pelakunya/orangnya… kalo misalnya situ nusuk orang pakek piso terus pisonya yg dipenjara gitu ya,,, kalo dijalan ente nyetir nabrak orang , terus mobil ente yang di sel gitu ya.. hehehe, stupid moron

          Statemen anda: .. Silahkan merokok… tapi telan asapnya dan buang puntung rokoknya di tempat sampah << ente belon paham semantik dan logika, tapi nyinyirnya sudah kayak kambing mo disembelih. Saya tetap berpendapat bahwa yg salah adalah "perilaku orang"nya yang tidak mau peduli asap rokoknya yg kena orang lain pun juga sampah yg dia timbulkan jika dibuang sembarangan. Inget bro yg salah PERILAKU ORANG-nya..bukan ROKOK-nya. Kalo ente masih aja dungu, ane kasih logika sederhana deh,, ente kemana-mana naek apa bro,, motor? …mobil? ongkos bensin sehari abis brapa bro/ taruh kata 50-100 rebu. Mau nggak kalo enta ene kasih uang segitu sehari, entar motor/mobil ente ane panasin aja,,gak dipake kemana-mana,,terus asepnya ente hirup sendiri? Saya kemana-mana sehari-hari kalo gak harus keluar kota naek sepeda bro,, emang orang-orang yg pakemotor/mobil itu mau ngirup asep kendaraannya sendiri..dia yg pake kendaraan, orang laen kebagian asepnya. So..ente dah paham?

          Statemen anda: … wtf, mengaji di lakukan di waktu yang salah itu yang seperti apa dan kapan? (kalau anda muslim harusnya tahu) << …. saya muslim dan saya bangga bro, dan saya tahu persis jawaban atas pertanyaan ente bro,,, kalo situnya justru belum tahu dan situnya muslim,, berarti situ mondoknya belum tuntas. Ente lanjutin deh nyari elmu, keburu ente kalap bro.. kalopun ane jawab, situnya bakalan tambah malu. Kalo ente bukan muslim, saya anggep angin lalu aja pertanyaan ente.

    • iqbal aji daryono

      1. Itu akibat rokok. Pasif maupun aktif. Kalo cm aktif tok, yg pasif belum, brarti angkanya bakalan lbh gak masuk akal lagi.

      2. Baca lagi pernyataan WHO nya. Itu kasus ke-ma-ti-an

      3. Ada problem kecerdasan numerik pd diri anda.

      4. Matematika bahkan bs saya pakai utk ngitung seberapa intensitas anda menguap setiap minggunya. Bukan urusan bijak nggak bijak.

      5. Idem Yuliardi Swasono

      • izki ramadhan

        @untuk BAPAK Iqbal: anda sudah punya anak kan?
        harusnya anda lebih dewasa dari saya yang masih kuliah :p
        naif sekali jika anda men-judge orang berkampanye antirokok hanya karena masalah angka kematian, seperti buah pikiran anda yang anda tuangkan di website ini. Masyarakat ngelakuin kampanye antirokok bukan hanya karena masalah jumlah kematian :p
        tapi juga karena masalah kenyamanan sosial & hak para korban perokok aktif(yaitu perokok pasif) untuk menghirup udara bersih(tau sendiri kan asap rokok lebih berbahaya dari karbon monoksida).

        • Jahweh

          Mas Izki Ramadhan sang mahasiswa yang cerdas ini nampaknya terlalu cerdas buat kita kita euy..

          “….mari berbareng melawan pembodohan dan penistaan atas nalar. Deal? *Salaman*” ini potongan kalimat pembuka dari tulisan yang dibuat sama mas mas supir truk di atas (kalo boleh saya mengingatkan kembali). Saran saya, kurangin sedikit kadar cerdas anda supaya nyampe pesan dari ajakan yang menurut saya sopan tsb, bung..

          Ada solusi yang lebih simpel tapi mengakar, bung. Anda koar-koar ‘kampanye antirokok’ atas nama hak perokok pasif yang menurut anda itu sbg ‘korban’ di sini, sementara melupakan hak para perokok aktif untuk melakukan hal yang mereka ingini. Piye toh mas? Kalo ngomongin toleransi ya jangan setengah2 atuh kan jadinya kentang. Jadi, solusi yang simpel itu ya begini bunyinya.. Bagaimana kalo ‘kampanye antirokok’ itu diganti aja ama ‘kampanye merokok pada tempatnya’? Gimana menurutmu mas Izki sang mahasiswa yang cerdas? Win-win solution atuh jadinya ya hehe..

          Oia, saya ini perokok, bung.. Tapi saya engga bisa loh merokok sembarangan atau merokok di ruangan yang isinya orang-orang yang gak doyan rokok. Apalagi ngerokok di deket anak kecil/ ibu hamil. Saya engga bisa seperti itu hehe.. Dan saya yakin, saya engga sendirian.

          Salam damai, bung.

          • Kopler Gallagher

            mangtab agan Jahweh…ane perokok superaktif…tp g sembarang jg tempat ngerokoknya…

          • Apekate

            Anda sudah bagus untuk yang ini : “Oia, saya ini perokok, bung.. Tapi saya engga bisa loh merokok
            sembarangan atau merokok di ruangan yang isinya orang-orang yang gak
            doyan rokok. Apalagi ngerokok di deket anak kecil/ ibu hamil. Saya engga
            bisa seperti itu hehe.. Dan saya yakin, saya engga sendirian.”

            Tapi teman-teman anda pun lebih banyak yang tidak seperti anda.

            Dan kalau anda bilang toleransi, ini yang di rugikan sebenarnya siapa ? Ketika anda merokok itu mengganggu orang yang tidak merokok (ini ada yang dirugikan kesehatannya),

            ketika para anti rokok ingin menghentikan anda merokok (siapa yang dirugikan? anda?, anda rugi ketika tidak merokok?, padahal anda bisa jadi lebih sehat, bisa jadi mengurangi pengeluaran, bisa jadi lebih di sayang orang)

            Silahkan merokok… tapi telan asapnya dan buang puntung rokoknya di tempat sampah.

        • ari

          Pas saya kecil bapak saya sering merokok dekat saya, alhasil pas kelas 2 SD, dokter bilang saya mengidap penyakit paru paru hampir 5 tahun baru bisa sembuh, Penelitian sudah membuktikan kalau rokok itu banyak bahan beracun yang bisa mematikan, kalau dibaratkan udara itu air, perokok yang sembarangan itu memasukan racun ke dalam sumur yang biasa dipakai orang untuk minum ,, egois ?? ya….

          Untuk perokok yang tidak sembarangan itu adalah langkah yang bagus, dan lebih bagus lagi kalau uang yang dibeli untuk rokok dibelikan untuk hal yang lebih bermanfaat..

          kalau 10.000 perhari aja bisa keluar untuk rokok
          masak keluar uang untuk kurban seekor kambing gak bisa….

  • DISQU

    sopir truk = orang goblok !

  • Sumipancenayu

    Hehe..
    penafsiran njenengan terhadap data bener mas. bahwa setiap tahun diantara sekitar 500 org ada 1 yg meninggal krn efek negatif dr merokok. Tp banyak org jg ndak sebegitu nganggur untuk mendata secara pribadi siapa saja di antara komunitas kita yg meninggal yg dulunya perokok. maka ya jelas ndak kelihatan realitasnya.. wong kita ndak nyari tau kok. hehe
    kemudian, data yg didapat WHO tentunya bukan dr sensus yg melaporkan jumlah kematian perokok per tahun per wilayah to mas.. jadi besar kemungkinan seseorang ndak menjumpai kematian perokok d komunitasnya.. tp banyak kematian perokok d komunitas lain

    melalui tulisan ini njenengan kan kepengen mengajak pembaca utk ndak mendiskriminasikan rokok.. sy setuju. tp tdk mengkambinghitamkan salah satu pihak hingga menyebutnya sebagai pembodohan. hehe

  • kalau saya sih umur di tangan Tuhan..,hidup mati ada jalannya masing-masing., disekitar saya malah banyak yang kebalik2 mas… pakde2 saya bahkan mbah saya yang perokok bisa sampai berumur 64th lebih…tetangga saya ada yang melarang merokok gak boleh pake vetsin pokoknya gaya hidup terlalu sehatlah malah keluarganya sering sakit2an…
    hehehe

  • dHoLay

    ngopi aja dlu,,,

    • Rizal

      “….mari berbareng melawan pembodohan dan penistaan atas nalar. Deal? *Salaman*”
      ini potongan kalimat pembuka dari tulisan yang dibuat sama mas mas supir truk di atas….
      Asli keren pembicaraannyaaaa.. Kmana mana.. Kanan kiri atas bawah ngalor ngidul… Wkwkwkwkkwkwkwwkkkkk
      #saya perokok dan suka matematika

  • Adién Gunarta

    mungkin bapak keliru dengan menyamakan matematika dan statistika (demografi).. dua hal itu ada perbedaan konsep, perbedaan metode. monggo sekarang dikaji dan diuji melalui statistika

  • Bibe

    Situ kok goblog sih? Gak ada orang mati karena rokok, semua mati karena kehendak Tuhan,…. Mungkin benar per 500 orang itu hanya 1 yang mati, tapi berapa yang kena kanker paru2, berapa yang jantung dll? Logika berpikirnya sederhana aja pak, yang namanya asap itu adalah residu atau sisa pembakaran, mau asap bakar sate, asap kendaraan bermotor apalagi asap pembakaran tembakau ya tetep saja mengandung racun residu…. Itu simpel tapi namanya perokok kalau sudah merokok ya jadi bpdoh, kayak saya dulu….. Hahahahaaha cilokooo

    • murka

      Semua orang pasti akan mnghadapi yg namanya KEMATIAN, betul yang anda katakan “gak ada org mati karena rokok, semua karena kehendak TUHAN”.

      MEROKOK MATI, GAK MEROKOK MATI.
      Jadi perokok, merokok aja sampe mati, yang bukan perokok gak usah buat antirokok krn kalian juga akan mati, dan belum tentu perokok akan lebih dulu mati dibandingkan anda yang bukan perokok.

  • trigus (adm coppasus)

    aku termasuk alergi dengan ngitungan, jadi kalau ada perintah ngitung begitu, otomatis alam bawah sadarku menolaknya, ada semacam protek dalam diri ku ini, anti ngitung. biarlah orang2 pada ribut melarang rokok, saya sudah sekuat tenaga mencoba mengurangi rokok, setiah hari, sudah berhasil walau pelan, 1 bungkus jadi separo, satu batang jadi habis, pengurangannya berhasil bukan,, jadi trims bagi yang kampanye

  • Apekate

    Anda terlalu ribet untuk hal hanya menjelaskan tentang rokok. Pakai otak dan akal sehat anda (kalu anda punya otak dan akal sehat) logika saja, sudah diteliti dan di buktikan bahwa ROKOK 90% kandungannya adalah bahan berbahaya/istilah kerennya RACUN.

    Silahkan anda meracuni diri anda sendiri..saya tidak protes anda merokok. Tapi asap rokok yang anda timbulkan mohon ikutan di telan kedalam tubuh anda, jangan anda bagikan ke orang lain…itu RACUN. (Kasus kebalikan : saya minum racun tikus…anda saya ajak minum racun tikus mau gak ?? pasti gak mau. Oke done,)

    Sudah beres kan kami yg tidak suka rokok senang, anda yg perokok juga senang bisa merokok…

    MATI ada di tangan TUHAN bro…

    • FreerideJunker

      makanya di atas penulis mengajak untuk “terhindar dari pembodohan” karena ada contoh orang orang seperti ente ini, yg gak mau ribet. Sekalinya dicekoki “data” langsung ndlosor menelan mentah-mentah dengan senang hati, tanpa mau ribet mengkritisi data apalagi mau melihat kepentingan yg bermain di balik data. Besok lagi kalo naik motor/mobil jangan lupa asepnya diplastikin,,ntar sampe rumah ente telen sendiri ya bro.. jangan kita yg tiap hari gowes disuruh hirup asep kendaraan ente.

  • David Lambok

    Kalau cara berpikirnya begitu, semua data statistik pun bisa dianggap keliru atau berlebihan. Bos saya yang konglomerat misalnya, semua teman dan kenalannya ya kelas atas dan kelas menengah. Supirnya saja bisa biayai kuliah anak di kampus mahal di Jakarta. Kalau dari sudut pandangnya kemiskinan itu tidak ada. Dia bisa bilang tidak ada kemiskinan atau kalaupun ada sangat kecil sekali.

    Contoh lain tentang data statistik kecelakaan di jalan raya. Seumur hidup saya, kenalan yang meninggal karena di jalan raya malah belum ada. Saya bisa bilang statistik kecelakaan di jalan raya itu tidak akurat.

    Saya tidak anti dengan rokok. Sah-sah saja membela rokok. Namun logika berpikir dalam tulisan ini keliru.

  • Edward

    perokok wajib baca ini. kenapa orang2 bukan perokok benci sama perokok? sebenernya bukan sama semua perokok, tapi sama perokok yang nggak bertanggung jawab, merokok di tempat umum. anda sekalian pasti berpikir “emang dilarang ya merokok di tempat umum?”. emang bener sih merokok di tempat umum itu nggak dilarang, tapi apa anda nggak memperhatikan perasaan orang2 di sekitar anda yang ikut kena dampaknya menghisap asap rokok yang anda keluarkan? bagi anda mungkin enak sebagai yang menghisap asap beserta aroma tembakaunya, tapi apa enaknya bagi yang menghisap asap yang anda keluarkan? yang ada mereka batuk2 karenanya. selain itu, sebagai perokok pasif kesehatannya lebih terancam daripada perokok pasif. dengan ini, anda telah menzalimi orang lain. bukan hanya perasaannya, juga kesehatannya yang tidak ada bedanya dengan membunuhnya. anda masih berpikir tidak ada salahnya merokok di tempat umum? di mana rasa kemanusiaan yang anda miliki?

  • N A Amrulloh

    ada hal yang saya setuju, tapi ada sedkiti yang saya kurang setuju,

    saya setuju, data tersebut berlebihan,

    kematian sebanyak itu sama saja berkisar 50% jumlah kematian total penduduk Indonesia, pada th 2003 kematian pertahun ±700rb/th, jika laju pertumbuhan penduduk 1,4% maka jumlah kematian pada tahun 2014 tidak mencapai 850rb/th,

    Kalimat yang lebih mudah lagi, “2 orang mati yang satu rokok, yang satu bukan”

    “kalau ada 10 orang mati, yang 5 penyebabnya bisa macam-macam, tapi yang 5 lagi harus rokok, tidak boleh tidak”

    Lucu atau aneh???

    saya punya pendapat berbeda tentang samplingnya, saya tidak menyalahkan atau melehmahkan metodologi, karea bisa saja benar, dan bisa saja salah,

    contohnya jumlah kematian karena kecelakaan kendaraan menurut kepolisian skitar 48rb/th(kalau ini kayaknya jujur), sedangkan penduduk desa saya sekitar 2000jiwa sejak saya lahir sampai saya menginjak 30th ini, baru dengar 3 kematian karena kecelakaan, itupun yang satu karena mabok.
    sekali lagi ga perlu dibuat serius tentang cara/metode/rumus, masing2 punya pendapat, belum tentu benar, dan belum tentu salah.

    Satu lagi bagi para pembenci Rokok,
    Silahkan baca sejarah rokok dunia,
    dan sejarah masuknya rokok di Indonesia,
    pada awalnya rokok di Indonesia adalah obat,

    di jalan saya nemu tulisan di bak truk
    “Perokok bukan penyebab kematian,
    Merokoklah sebelum mati”

  • Annisa Rahmalia

    Ya ampun. Yang nulis artikel ini belajar statistik dulu deh. Kalau bener pengen paham dari mana keluar angka itu ya. Kalau cuma mau debat kusir ya nggak usah juga sih. Tapi yang jelas artikel ini seperti komentar bang David Lambok: logika berpikirnya keliru.

  • krisanalfa

    Yang dibicarakan di sini itu kebodohan mereka yang protes rokok karena salah berhitung, bukan karena merokok itu berbahaya. Terlepas dari apapun para anti rokok menyangkal tulisan ini, jelas bahwa tulisan ini benar adanya. Itu harus kita pahami dulu sebelum membuat sanggahan. Kalo hal itu gak mau dipahami, ya akhirnya debat ga nyambung. Kasian ya? Saya perokok, saya tidak peduli apa yang anda akan katakan soal saya.

  • Ardi Yunanto

    Persoalannya mungkin bukan cuma apa kita bisa memastikan berapa yang mati dari 535 orang di sekeliling kita? Boleh jadi amatan kita cermat dalam, katakanlah, 10 tahun terakhir. Persoalannya, apa penjelasan yang lebih akurat dari mati karena rokok? Bagaimana berbagai jenis penyebab kematian bisa dibilang disebabkan oleh rokok? Saya pikir itu bisa lebih memperkaya argumen daripada mengajukan matematika yang praktiknya pun sulit untuk dilakukan secara akurat. Walau tentu saja, saya sih berharap kalaupun saya bisa mengecek seakurat itu, jumlah korbannya sangat sedikit.

  • Ariezzoella

    hahahaha
    wkwkwkwk
    lucu kali baca komennya
    ada masalah?? cari solusi dong om… kok malah pada nyusun strategi perang
    aktif and pasif??
    tinggal pake masker aja kok om” ganteng and cerdas, gak perlu tawuran segala :v
    au ah jadi tambah pusing saya mikirin orang berpendidikan :V

  • Reynaldi Telaum Banoea

    kalo gitu ganti aja jadi kampanye antipolusi :)haha

  • Scriptlance 2012

    Yang luput dari perhatian kalangan anti rokok adalah, ada lebih banyak lagi penderitaan dan kematian yang disebabkan oleh banyak hal lain, daripada sekedar asap rokok. Konsumsi junk food, produk makanan yang setiap hari dikonsumsi rutin oleh anak2 dari sejak usia dini sekali. Sebut saja permen/gula2, yg mengandung bahan kimia olahan yg diklaim aman. Sebut saja pasta gigi yg masuk ke mulut kita dua kali satu hari. Antiseptik mouthwash, deodoran, pewangi mulut, obat nyamuk semprot dan bakar, lipstik, pewarna kuku, sabun, shampoo. Minuman ringan soda. Obat2an ringan sakit kepala, minuman penambah energi. Gorengan dengan minyak daur ulang yg saya yakin juga sangat disukai kalangan antirokok. Kebiasaan makan minum, pemakaian produk kimia ini sudah dianggap biasa. Coba bayangkan para pekerja salon atau selebritis yang setiap hari dirias dengan berbagai produk semprotan dan berada di dalam ruang rias/salon. Mereka senang dengan bau wangi semerbak hairspray dll, tapi apakah dijamin aman di kemudian hari?
    Segala bentuk rupa2 makanan yang sudah menahun kita konsumsi dan juga kebetulan ikut dikonsumsi para perokok, yg apes masuk dalam data WHO tersebut. Segala sesuatu yang dikumur, dikunyah, ditelan, diminum dengan tingkat kandungan kimiawi “aman” dan dilakukan bertahun-tahun terkumpul di dalam tubuh para perokok yg masuk di dalam data tersebut dan langsung dicentang meninggal akibat rokok. Cermati berapa banyak orang di sekitar anda yg telah lebih dahulu menghadap pencipta karena penyakit selain merokok. Berapa banyak yang meninggal karena kanker paru-paru tapi tidak pernah merokok (pasti vonisnya karena asap rokok). Cermati berapa banyak orang yg sampai masa tuanya masih merokok dan sehat. Obyektiflah dalam menilai segala sesuatu. Bukan hanya rokok yang dapat menyebabkan kematian, segala sesuatu yang telah kita gunakan dan konsumsi sejak bayi turut berkontribusi banyak, bahkan lebih lama dari periode seseorang mengenal rokok. Rokok menjadi tumbal karena kebetulan merupakan sesuatu zat yg terlihat berbahaya saat dikonsumsi. Ada bara api dan asap yang dekat sekali dengan wajah perokok. Inilah yg menimbulkan citra kurang baik bagi perokok. Sate, barbeque, kambing guling, sisa-sisa arang yg masih menempel di daging nya bukanlah masalah besar dibandingkan rokok.
    Saya tidak menghalangi kampanye anti rokok dlsb, tapi konsistenlah dalam menentang penggunaan zat lain. Ada banyak zat merugikan yg lebih banyak dan lebih lama dikonsumsi oleh manusia dibandingkan dengan rokok.

  • Wates Awal

    merokok gak merokok, kita harus cinta matematika. itu yang saya tangkap.
    tapi sebagai orang yang penuh prasangka, saya menduga ada pihak luar yang berkepentingan untuk mencekik bangsa kita. entah karena pemilik pabrik rokok negara kita kaya raya, kita juga petani tembakau, terdapat ribuan buruh rokok, cukai rokoknya gede, atau segudang prasangka lain. tapi yang mencolok mata saya adalah metode ‘devide et impera’nya antara perokok dengan orang disebelahnya…
    hidup matematika!

  • Muhammad Ali Akbar Huzain

    Belajar statistika dulu ya pak 😀
    Saya dulu juga pernah berpikir seperti anda, tapi itu ketika saya masih SMA. Belum mengerti apapun tentang statistika. Jadinya kesimpulannya begitu sederhana seperti yang anda simpulkan.

    Perlu anda ketahui bahwa data statistik itu tidak disimpulkan pada satu tahun saja, melainkan lebih dari itu. Kita ambil contoh 10 tahun. Dalam 10 tahun telah ada 4.270.000 korban meninggal karena rokok di Indonesia. Itu bukan berarti per tahun 427.000. Melainkan itu jumlah korban selama 10 tahun sehingga didapat rata-rata 427.000 korban pertahun. Jadi pertahun jumlah korban bisa kurang dan lebih dari 427.000 jiwa.

    Sepertinya saya sudah mendapatkan korban kegagalan pendidikan matematika 😀
    Matematika bukan hanya tambah kurang kali bagi pak, coba belajar bab lain dulu. Jangan hanya bab yang anak SD pun bisa mengerjakan. Belajar statistik, geometri, matriks, dll dulu baru bikin artikel tentang statistik 😀

  • merokolebihdarisekedarhak

    KALAU MASIH ADA ORANG YG ANTI ROKOK NUNTUT HAK UNTUK BEBAS DARI ASAP ROKOK ( YG BELUM JELAS TERBUKTI KEBENARANNYA KARENA ALASAN KESEHATAN ) .. YA SILAHKAN !!!

    TETAPI DENGAN 1 SYARAT YG SANGAT TERAMAT SEDERHANA … HAKNYA HARUS SAMA RATA !!!

    UNTUK GEDUNG SEDIAKAN 50% AREA BEBAS ASAP ROKOK DAN 50% AREA UNTUK MEROKOK ( KARENA BANYAK PEROKOK YG SUKA MEROROK DALAM BERAKTIVITAS )

    UNTUK ANGKUTAN UMUM SEDIAKAN 50% AREA BEBAS ASAP ROKOK DAN 50% AREA UNTUK MEROKOK ( KARENA PEROKOK JUGA SUKA MEROKOK SAAT DALAM PERJALANAN SAMA SEPERTI BUKAN PEROKOK YG MUNGKIN SUKA NGELAMUN JOROK SAAT DI ANGKUTAN UMUM )

    UNTUK AREA PUBLIK SEDIAKAN 50% AREA BEBAS ASAP ROKOK DAN 50% AREA UNTUK MEROKOK ( KARENA PEROKOK JUGA WARGA NEGARA YG PUNYA HAK )

    MAMPU ???!!! SILAHKAN !!!!

    MASALAH PUNTUNG ROKOK ?? SAYA KIRA ITU HAYA FAKTOR KETERBIASAAN .. BANYAK KASUS JUSTRU SAMPAH ITU DIMULAI DARI PARA YG BUKAN PEROKOK YG SECARA SEMBARANGAN BUANG SAMPAH BEKAS MAKANAN / PELASTIK / TISU (mungkin bekas onani) SECARA SEMBARANGAN , MAKA BANYAK ORANG AKAN BERFIKIR WAJAR JIKA MENYAMPAH …

    kalau merokok telan asapnya agar tidak terhirup orang lain ???
    SADAR GK SIH ?? UNTUK MEMPRODUKSI KERTAS / PLASTIK / ATAU APALAH MEDIA KALIAN UNTUK MENGKAMPANYEKAN ANTI ROKOK JUSTRU BANYAK MENIMBULKAN POLUSI ??? SILAHKAN TELAN POLUSINYA ITU DULU BARU MENGGURUI PEROKOK !!! MAMPU ?? ( ITU BARU CONTOH KECIL YA ) !!!!

  • tondy DMR

    Yang pertama, saya perokok, aktif, bahkan mungkin lebih banyak pengalaman merokok dibanding anda, namun saya berkampanye anti rokok, sebab saya menyadari bahwa merokok itu berbahaya. namun selalu ada alasan bagi setiap orang untuk melakukan sesuatu yang berbahaya.

    yang kedua, disaat pertama anda menyebutkan permasalahan matematika, kenapa contohnya yaitu bercerita tentang kematian rokok menjadi lebih dari permasalahan utama nya (permasalahan matematikanya).

  • Bukan berarti menolak kampanye antirokok, tapi kampanye antirokok nampaknya semakin tidak bersahabat.
    Selain menggunakan segala macam argumen angka-angka yang “maksa banget”, tampilan gambar vulgar tentang penyakit akibat kebiasaan merokok sangat mengganggu pandangan setiap orang.

    Kita menghargai tuntutan sikap etis bagi para perokok untuk tidak merokok di sembarang tempat, tapi gambar vulgar dalam kemasan rokok (yang biasanya diburamkan dalam konteks pemberitaan) justru bisa diangggap melanggar etika juga. Ia bisa dikategorikan sebagai kekerasan visual kepada masyarakat. Masyarakat kita adalah masyarakat merdeka dan punya pilihan hidup sendiri, mereka cukup cerdas dan tak perlu ditakut-takut layaknya anak kecil. “Kegemasan” berlebihan sekelompok orang terhadap para perokok menimbulkan dugaan adanya sesuatu di balik “kekejaman” penggunaan gambar-gambar vulgar tersebut.

    Yang paling penting, issu kebiasaan merokok tak perlu dikaitkan dengan kematian. Cukup sampai pada faktor kesehatan dan tingkat produktifitas saja. Sebab, baik perokok maupun tidak toh keduanya akan sama-sama mati juga. Biarlah keputusan merokok atau tidak bagi seseorang tetap menjadi pilihan individu. Menikah sesama jenis aja “katanya” boleh masa merokok tidak boleh..??

    Pada akhirnya kematian bukanlah perkara merokok atau tidak, tapi semata-mata oleh perkara ajal…!! 🙂

  • Opick

    Kampanye anti rokok gencar, kampanye anti kondom, kampanye anti miras gimana ceritanya?
    Ni secara moral dan estetika timur..terlepas dari istilah statistik

  • Muchtar Syaif

    Maaf mau berkomentar,, jgn tersinggung, deal? “Salaman” #kalo gk mau salaman jgn lanjut baca komentar ini..haha

    Sedikit saja,
    Tulisannya bagus dan terlalu meremehkan pembaca.. anda mau ngasi informasi apa nantangin berkelahi? Haha.. mari ciptakan guyub rukun dg tata bahasa yg baik..

    Kemudian utk data kematian akibat rokok,, ya memang kurang tepat kalo pembandingnya adalah jumlah seluruh penduduk, seharusnya pembandingnya ya jumlah perokok..

    Nah utk yg antirokok dan utk yg perokok, saling toleransi saja.. knp org merokok dan knp org tdk merokok alasannya sangat beragam dan ada yg memang logis utk dicerna pikiran..

    #semoga kita termasuk dalam org2 yg mau mencerna informasi termasuk mncerna kembali komentar sy ini..
    Kalau dlm bahasa penulis artikel diatas harus pinter2 “ngunyah” informasi..

    Dalam hal ini sy pesen sm si penulis supaya pinter2 dalam memberi sedekah informasi,..
    (Smoga komentar ini terbaca)

  • Dharmaputra Akis

    ha ha ha ha sante aja kali… yang rokok ya monggo yang gak yah paling tidak sopan lah kalo mau ngingetin

  • Arwena Aragorn

    Ni orang dgaji pabrik rokok yaaa? Gw lihat kematian karena rokok sering… Gw dokter paru

  • Arwena Aragorn

    Asal loe Iqbal kematian berhubungan dg rokok gk selalu karena kanker paru bjsa juga karena penyakit jantung.. Paru yg rusak membuat jantung jd penyakitan juga .. Loe belajar deh biologi gimana sistem organ Saling terkait kerjanya

  • Arwena Aragorn

    Tapi kalo loe tetep ngotot gk percaya bahaya rokok dam memutuskan tetep jd perokok gpp, mungkin ini jalan Tuhan memberi kami rezeki…
    Gk sekarang sie mungkin 20 th lagi… Ato lebih lama tp bisa juga gk lama lagi… Pernah punya pasien kanker paru, perokok umur 30 dah almarhum… Nama nya juga faktor risiko ad yg kena ada yg gk… Cuma perokok kemungkinan nya lebih tinggi..

No more articles