MOJOK.CO Hari ini hari ulang tahun Nobita. Meski sudah 59 tahun, citranya sebagai anak SD pemalas akan selalu abadi—jauh lebih abadi daripada janji manis pacarmu.

Selama berpuluh-puluh tahun, kita mengenal Nobita sebagai tokoh yang bodoh, malas, dan selalu mengandalkan Doraemon dalam segala hal. Bisa dibilang, Nobita ini adalah pemalas panutan. Lah, gimana nggak panutan, ha wong doi dikit-dikit tidur dan paling ogah-ogahan kalau disuruh belajar, kok. Pokoknya, kalau ada lomba malas-malasan sejagat raya, Nobita pasti sudah menang duluan sejak pertama kali antre formulir pendaftaran, lah!

Sebagai anak tunggal, Nobita sebenarnya tidak telalu dimanjakan. Ibunya, Tamako Nobi, cukup tegas dan akan marah-marah kalau Nobita dapat nilai jelek atau susah bangun pagi. Ibunya akan berteriak terus-menerus hanya untuk membangunkan Nobita. Yah, sebelas dua belas dengan ibu saya, lah. Nggak ada lawannya kalau sudah teriak-teriak.

Sifat payah Nobita sepertinya menurun dari sang Ayah. Nobisuke Nobi, ayah Nobita, adalah seorang pegawai yang biasa-biasa saja. Ayah Nobita juga orang yang pelupa. Pokoknya, nggak ada istimewa-istimewanya, lah. Dia sebenarnya punya hobi memancing dan berkeinginan untuk mempunyai SIM, tapi selalu gagal. Heran, memangnya nggak bisa nembak SIM apa?

Nobita pertama kali muncul pada Desember 1969 sebagai tokoh anak usia sembilan tahun. Fujiko F Fujio, pencipta karakter Nobita, menasbihkan hari ini, 59 tahun lalu, tepatnya 7 Agustus 1960, sebagai hari ulang tahun Nobita.

Sebenarnya, ada banyak versi tentang hari ulang tahun Nobita, tergantung kapan  cerita tersebut dimunculkan. Yang jelas, , dalam tiap cerita, mau tahun berapa pun terbitnya, Nobita selalu menjadi  anak SD berusia sembilan tahun

Hidup Nobita Ditolong Sewashi, Cicit dari Cicitnya di Masa Depan

Di awal film Doraemon: Stand By Me, diceritakan bahwa Doraemon dikirim dari masa depan ke masa sekarang untuk menolong Nobita. Pengirim Doraemon adalah Sewashi, anggas alias cicit dari cicitnya Nobita.

Sewashi merasa kasihan dengan Nobita, kakek moyangnya. Ia merasa, kalau Nobita terus-terusan bersikap malas, kakeknya tersebut  bisa gagal menikah dengan Shizuka, dan malah menikah dengan Jaiko, adiknya Gian. Nobita di masa depan juga disebut tak punya pekerjaan yang layak. Sekalinya bikin usaha, bangkrut terus. Bisa melarat tujuh turunan.

Baca juga:  Menjadi Orang yang Takut Kucing di Tengah-Tengah Pencinta Kucing

Di hari ulang tahun Nobita ini, kita sama-sama menyadari satu hal: Usaha Sewashi ternyata nggak sia-sia. Sejak Doraemon dikirim, Nobita menjadi pribadi yang lebih baik. Bodoh dan malasnya sih tetap, tapi setidaknya, ada sedikit perkembangan.

Nobita mulai berani menghadapi Gian. Nobita juga akhirnya nggak melulu bergantung pada Doraemon. Buktinya, kadang Nobita bergantung sama Dorami yang lagi main ke kamarnya memaksa dirinya untuk berusaha sendiri, meskipun lebih banyak gagalnya.

Yah, namanya juga anak muda~

Beruntung, di akhir cerita, Nobita akhirnya menikah dengan Shizuka, gadis idamannya. Bukan dengan Jaiko.

Arti Nama Nobita yang Muluk-Muluk

Dilansir dari laman doraemon.fandom.com, nama Nobita punya arti “tumbuh dan menjadi kuat, sehat, dan punya masa depan cerah”.

Wow. Sungguh sebuah nama yang bagus, baik dari segi kata maupun arti. Tapi sayang, kenyataannya malah sebaliknya. Nobita tidak menjadi anak yang kuat dan masa depannya juga masih abu-abu, meskipun kesehatan Nobita bisa dibilang nggak ada masalah.

Sederhananya, kalau nama itu diibaratkan doa, anggap saja nama Nobita ini adalah doa yang tidak terkabul, bahkan setelah ulang tahun Nobita berulang hingga 59 kali. Sadis.

Melihat Nobita, saya merasa seperti becermin. Beberapa sifat yang ada di dalam diri Nobita, ada juga dalam diri saya. Nobita ceroboh, saya juga ceroboh. Nobita bodoh, saya juga bodoh, meskipun kebodohan saya tidak separah Nobita yang sampai dapat nol ketika ujian.

Nobita malas, saya apalagi. Nobita tukang tidur, saya juga tukang tidur. Nobita penakut, saya juga penakut. Pokoknya, jauh banget, lah, arti nama dengan kepribadian.

Eh, bukan, bukan. Nama saya bukan Nobita. Nama saya Iqbal, kamu siapa? dan artinya cukup fantastis: Cerdas, fokus, dan haus akan ilmu. Allahuakbar.

Baca juga:  Ngapain Punya Cita-Cita Mengubah Pacar Abusive?

Bodoh Boleh, tapi Hati Harus Bucin Sebucin-bucinnya

Meskipun bodohnya ampun-ampunan, Nobita ini bisa dibilang sebagai anak yang tangguh. Gimana nggak tangguh, lha wong tiap episode pasti di-bully sama Gian dan Suneo, baik dengan cara diejek, didorong, bahkan sampai dipukul dan babak belur.

Tapi herannya, Nobitanya tetap gitu-gitu aja. Hari ini mungkin dia menangis, tapi besoknya, ya, seperti biasa lagi. Entahlah, apakah sebenarnya Nobita ini tahan banting atau punya pesugihan, saya juga nggak tahu.

Nggak hanya tahan banting, Nobita ini juga tergolong orang yang nggak mudah menyerah, setidaknya dalam mengejar cinta Shizuka. Dengan kata lain, dia adalah pelopor golongan bucin aliran wibu. Walaupun awalnya nggak berbalas karena kalah dengan Dekisugi, ia tetap cuek dan menjadi bucin (lagi).

Tapi coba lihat; ketika dewasa, Nobita diceritakan menikah sungguhan sama Shizuka dan, kabarnya, dia bahkan menjadi ahli robot.Tuh, dia beneran nggak gampang menyerah, kan, meski dengan bantuan alat-alat Doraemon? Mantap.

Doa Baik untuk Ulang Tahun Nobita

Nobita pernah “diserang” teori akhir cerita yang kurang mengenakkan. Setelah menjelajahi naik-turunnya kisah hidup bersama Doreamon, sebuah teori menyebut bahwa seluruh cerita Doramon nyalah khayalan Nobita semata.  Sesungguhnya, Doraemon itu tak pernah ada dan mesin waktu pun tak pernah nyata.

Seakan kurang menyedihkan, teori ini juga menyebut bahwa Nobita hanya seorang anak yang mengalami skizofrenia dan berkhayal bertemu dengan robot yang bisa mengabulkan semua permintaannya.

Ah, tapi jika memang itu hanya khayalan, setidaknya khayalan itu adalah khayalan yang sangat indah. Si tukang khayal ini, toh, sudah berusia 59 tahun sekarang, dan saya rasa kita semua patut merayakannya.

Selamat ulang tahun, Nobita. Semoga panjang umur, sehat selalu, dan dilancarkan rezekinya. Oh iya, jangan lupa traktirannya, ya!

Eh, apa? Kamu males keluar? Ya udah, kita tidur siang aja.