• 1.4K
    Shares

MOJOK.CO – Gulung tikarnya salah satu gerai OK Oce Mart merupakan indikasi bahwa ledakan energi dukungan tidak akan pernah bisa sebesar energi penolakan.

Ada gerai OK Oce Mart yang tutup, konon karena labanya nggak cukup buat sewa lahan. Begitulah berita yang terdengar. Segolongan umat manusia tertawa gembira, kita tahu mereka siapa. Sekumpulan lainnya berusaha keras menyangkal, dan kita juga tahu siapa mereka.

Saya sendiri merasa harus ikut bersedih, sembari berdoa agar kabar itu bohongan belaka. Bagaimana pun, ini menyangkut hajat hidup orang lain. Tapi saya tidak akan ikut-ikutan menyangkal juga, karena yang seperti ini sudah saya bayangkan sejak semula.

Ketika pertama kali mendengar namanya, semua pasti sudah bisa menduga toko swalayan itu berdiri dengan latar belakang apa. Kemudian kita juga sama-sama tahu, untuk segmen konsumen mana ia menyasar.

Lalu, ketika lambat laun tempat itu menjadi sepi, terus bertambah sepi, jauh berbeda dengan ingar bingar seremoni pembukaannya, saya bayangkan empunya toko ngomel-ngomel,

“Halah, katanya bikin gerakan bersama. Begitu ane buka toko ginian, lengkap dengan brand yang jelas milik kita bersama, eh teman-teman nggak ada yang nyamperin. Jadi mana dukungannya? Wuuu, palsu!”

Hehehe, dukungan. Saya kok tidak percaya ada orang bisa meledakkan energi bersama demi sebuah aksi dukungan. Yang tenaganya meledak-ledak tak terbendung itu bukan dukungan, melainkan penolakan.

Coba, mana ada aksi demo yang berhasil mengumpulkan massa membanjir tumpah ruah untuk sebuah dukungan? “Dukung Anu! Hidup Itu! Sukseskan Cah Kae!”

Nggak, nggak ada yang begitu-begitu. Yang ramai riuh rendah adalah “Tolak ABC! Hajar EFG! Sikat XYZ!”

Nah, kalau yang model anti-antian begitu, bukan yang pro-proan, jelas lebih maut. Energi marah selalu lebih gede daripada energi simpati, kan? Apalagi kalau marahnya disasarkan kepada personifikasi sosok musuh bersama. Lengkap sudah!

Kita ambil contoh lain yang lebih hot. Ketika Mas Mardani dan Bu Neno ngotot dengan tagar GantiPres, enggan menggantinya dengan BowoPres, ya wajar saja. Lha wong memang GantiPres itu isunya menolak, kok. Beda dengan BowoPres, yang jelas-jelas ekspresi mendukung. Ledakan energi dukungan tidak akan pernah bisa sebesar energi penolakan. Catat itu, Mbak. Itu sudah hukum alam.

Baca juga:  Umat Islam, Bersiaplah Menyambut Reuni Alumni 212

Itulah kenapa mendidihnya semangat ribuan orang yang menggeruduk Monas waktu itu jangan dibayangkan bisa berlanjut dengan semangat berbelanja di OK Oce Mart. Kenapa? Sebab menggeruduk Monas adalah tindakan yang dilandasi semangat menolak sesuatu (atau seseorang). Lha kalau belanja di OK Oce Mart? Jelas itu bukan penolakan. Itu dukungan.

Barangkali akan sedikit beda nasibnya kalau OK Oce Mart mengapitalisasi sikap kontra kepada sesuatu yang lain. Lebih-lebih kalau musuh bersama bisa diwujudkan dalam imajinasi komunal, semisal jaringan ritel asing dan aseng. “Tolak ritel asing dan aseng! Demi aktivitas berbelanja yang lebih dekat kepada takwa, toko kami solusinya!”

Andai jargon semacam itu bisa diteriakkan secara nonstop di halaman parkir depan OK Oce Mart, bukan mustahil ghiroh massa akan terpantik lagi. Bahkan saya yakin para alumni Monas akan berbelanja sembako di sana setiap hari.

Itu tadi baru perkara mendukung dan menolak. Belum lagi tentang harapan akan solidaritas teman-teman sekitar.

Saya membayangkan, para pebisnis yang menjadi supplier di OK Oce Mart berharap kawan-kawan seperjuangan mereka akan peduli. Dengan bekal kepedulian itu, para saudara sevisi akan rajin datang, berbelanja banyak, bahkan jika perlu mereka akan mengambil stok kebutuhan untuk sebulan.

Sayangnya, mekanisme yang berjalan di dunia fana ini tidaklah demikian. Tidak ada itu dukungan pertemanan untuk bisnis. Bisnis ya bisnis, temenan ya temenan.

Saya sendiri punya cerita. Dulu, di akhir masa kuliah, bersama beberapa kawan saya pernah membikin angkringan. Konsepnya adalah angkringan berbasis komunitas. Jadi, kelima pemegang saham, termasuk saya, memiliki komunitas masing-masing. Dengan modal sosial semacam itu, kami berharap angkringan kami bakalan ramai, tak pernah sepi pembeli, karena yang jajan di sana ya kawan-kawan kami sendiri.

Lalu bagaimana hasilnya? Yaelah, boro-boro ramai. Kawan-kawan kami datang hanya satu kali saja, yakni pada saat pembukaan. Selanjutnya kadang ada juga yang datang sih, satu-dua yang mampir untuk sekadar nyeruput teh jahe. Tapi selebihnya, mereka asyik dengan dunia mereka sendiri, tak peduli kami yang berharap-harap agar mereka berkunjung setiap hari.

Baca juga:  Memahami Partikel Penegas Bahasa Ngapak dan Sunda, dari Kata “Mah” sampai “Tulih”

Berkunjung tiap hari? Enak aja. Emangnya apa yang bisa kami tawarkan? Menu biasa saja. Harga pun normal saja. Lokasi agak jauh dari tempat rekan-rekan kami berkumpul, dan tempatnya pun nggak cukup nyaman untuk nongkrong berlama-lama.

Lantas dengan logika apa kami pemilik angkringan hebat dengan beking komunitas-komunitas besar itu berharap mendapat support berbasis rasa sungkan dan pekewuh dari teman-teman?

Pekewuh alias rasa sungkan itu memang ada, ya itu tadi saat grand opening. Setelah itu, pekewuh itu lambat laun musnah. Bahkan karena dagangan kami sering tak habis, biar tidak mubazir kami bagi-bagilah ke rekan-rekan kami itu. Walhasil, efek sosial-politiknya luar biasa: alih-alih berkunjung ke angkringan kami, mereka lebih memilih untuk bersabar menanti dagangan sisa.

“Gimana, gimana, ada yang bisa kami bantu?”

Salah seorang kawan kami bertanya sambil senyam-senyum culas, ketika pada suatu tengah malam ia melihat saya datang sambil membawa tas kresek besar sisa barang jualan.

Kontan, saya gondok di TKP. Saya batalkan bagi-bagi sisa dagangan. Kaki saya langkahkan balik kanan, dan saya bersumpah malam itu terakhir kalinya mereka melihat saya datang untuk membagi-bagi sisa dagangan.

Sumpah saya terpenuhi. Dua atau tiga pekan setelah malam itu, angkringan kami gulung tikar.

Demikianlah. Dari segenap pelajaran hidup tersebut, akhirnya saya mengambil satu hikmah besar. Pertama, jangan ringkih dengan mengharapkan belas kasihan teman-teman sendiri untuk menghidupi bisnis kita. Enak aja, cuma berbasis perasaan tak enak hati, lalu mereka kita suruh bayar dan kita nggak mau rugi?

Kedua, warung yang laris itu nggak ada urusannya sama dukungan sosial dan komunitas-komunitasan. Syarat warung laris itu cuma dua: menunya enak, harganya murah. Itu sudah.

Saya kira, pesan hikmah ini sangat layak dicermati oleh para pengelola OK Oce Mart berikut semua rekanannya. Karena walau bagaimanapun juga, kami adalah saudara senasib sepenanggungan yang sama-sama pernah mengalami rasanya gulung tikar.

  • 1.4K
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles