MOJOK.COBau ketek adalah malapetaka yang bikin gamang. Mau bilang ke empunya bau, sungkan. Didiamkan, kok baunya tak tertahankan.

Kalau harus menyebut satu peranti hidup yang paling tidak mungkin saya tinggalkan dan paling menentukan nasib kehidupan saya, saya tidak akan menyebut sikat gigi, charger hp, atau celana dalam. Saya akan menyebut deodoran.

Badan saya aslinya bau tengik. Saya tak tahu kenapa. Entah karena saya tidak suka minum air putih, karena konsumsi lemak-lemakan berlebih, atau bisa jadi pula karena timbunan dosa yang terlalu tebal—dan Anda tahu bahwa keringat campur dosa itu memang bau.

Saya menyadari bau ketek saya itu sejak SMA. Ini satu karunia yang tiada tara. Karunia di situ tentu saja bukanlah bau keteknya, melainkan kesadaran akan bau ketek itu.

Ceritanya, ada dua kawan cewek sedang ngobrol. Saya nguping. Persis ketika obrolan mereka menyerempet topik bau badan, mereka ngikik bersama. Tapi tiba-tiba keduanya lekas menyetop tawanya, waktu sadar saya sedang di dekat mereka!

Saya merasa sedang membaca kode gamblang semacam: “Eh orangnya di sini!”

Cleguk! Bau ketek! Asemmm! Setengik itukah ketek saya??

Dengan panik, segera saya mencari kepastian. Saya bertanya ke orang-orang terdekat. Tentu emak saya yang paling bisa saya tanyai. Dan ternyata, segalanya terkonfirmasi. Ini benar-benar aib tak tertanggungkan.

Mekanisme konfirmasi atas bau ketek itu memang vital dan mendasar. Kita telah kehilangan jarak objektif dengan tubuh kita sendiri. Kita tidak bisa menilai badan kita, terutama perkara bau. Manusia dibekali kemampuan berdaptasi yang terlalu sempurna atas bau. Bau busuk yang terus-menerus Anda hirup lama-lama akan netral saja di hidung Anda.

Soal ini ada contohnya. Sejak kecil sampai menikah, saya tinggal di rumah ortu saya, dekat Pabrik Gula Madukismo di Bantul. Tiap musim giling, pabrik itu membuang limbahnya bersama air irigasi ke sawah-sawah. Nah, di depan rumah kami ada sawah luas, sehingga otomatis bau limbah itu menghajar pula perkampungan saya.

Tapi itu cuma kami rasakan sehari dua hari tiap permulaan musim giling. Setelahnya, kami sendiri lupa kalau ada bau seperti itu. Saya baru ingat bahwa limbah pabrik itu bau menyengat gara-gara ada kawan datang ke rumah dan mengira saya kentut.

***

Oke, kembali ke wacana per-ketek-an. Sekali lagi saya tekankan, kita tak punya jarak objektif dengan tubuh kita, utamanya dalam perkara bau. Nah, karena faktor itu, masalah sosial yang lebih luas lagi terus-menerus tercipta, dan sering kali tak ada solusinya.

Begini. Tak banyak orang menyadari bau keteknya. Orang berketek paling tengik pun jarang yang menyadari aib besar itu. Dia tak sadar keteknya bau, sementara itu kawan-kawan di sekitarnya tersiksa sepanjang waktu.

Para kawan itu pun terjebak dalam situasi maharumit. Mau bilang, “Mbak, maaf, ketekmu itu lho!” kok ya nggak sopan, dan bisa-bisa membuat Si Mbak luka perasaan. Tapi mau terus-menerus menahan diri demi tata krama, aduh, kok ya aroma ketek itu menyerbu gencar luar biasa.

Ada jutaan kasus seperti itu. Problem polusi lingkungan tak dapat ditanggulangi hanya demi menjaga perasaan kawan. Padahal, kita yang tak tega mengingatkan kawan kita tentang bau keteknya itu sedang membiarkan dia terus terjerumus dalam kubangan persoalan.

Coba bayangkan. Kalau dia pedagang, apalagi orang yang berbisnis jasa layanan offline, ordernya akan terus seret. Sebagus apa pun layanannya, Anda lebih suka dilayani Mas Wangi atau Mas Ketek?

Kalau dia orang yang sedang pacaran, bisa-bisa dia diputus pacarnya pas lagi sayang-sayangnya. Saya punya kawan seperti itu. “Ya ampun Bal, dia tu baik banget, tapi bau. Aku mau ngasih tau dia nggak enak.”

Kalau dia jomblo dan sedang berjuang cari jodoh? Lebih bahaya lagi.

Perkara-perkara seperti inilah yang saya kira harus segera diselesaikan pada 100 Hari Pertama Mas Nadiem dan Pak Tito. Kesadaran masyarakat akan bau ketek masing-masing akan menentukan derajat keterdidikan bangsa Indonesia, juga jadi faktor determinan dalam kualitas sumber daya manusia.

Mau Nadiem merombak kurikulum sekolah sebrutal apa pun, kalau para pelaku kurikulum itu sendiri tidak sadar dengan bau ketek mereka, percayalah, semua langkah reformasi total itu tiada guna.

***

Alkisah, akhirnya saya segera menindaklanjuti fakta tengiknya ketek saya. Saya beli parfum semprot murahan. Saya semprotkan tiap hari persis di dua titik sentra permasalahan.

Namun problem ketek ini ternyata tak sederhana. Parfum tak bisa mengalahkan bau ketek. Catat ini baik-baik. Parfum adalah pewangi, bukan penghilang bau.

Sampai kemudian Allah Subhanahuwata’ala menurunkan hidayah-Nya lewat kawan saya yang paham kimia. “Bau ketek itu dari keringat, keringat itu bersifat asam. Kalau mau menetralisirnya, pakailah yang tingkat kebasaannya tinggi.”

Maka, saya menemukan bedak MBK yang legendaris itu. Di situlah persoalan saya selesai dengan menggembirakan, bahkan kemudian saya berani pacaran.

Repotnya, bubuk MBK sering tidak praktis. Saya pun menemukan bahwa roll-on menawarkan kebasaan yang lumayan. Dari situlah awal mula ketergantungan hidup saya kepada roll-on.

Akhir kata, sebarkan cerita ini ke grup-grup Whatsapp Anda, dan berdoalah ada yang sadar diri lantas mengonfirmasi bau ketek masing-masing ke pihak lain yang lebih objektif dan tidak punya kepentingan politik apa pun. Itu akan menjadi amal saleh Anda yang tiada tara.

Atau kirimkan langsung link tulisan ini ke kawan Anda yang keteknya paling busuk, sambil pura-pura bilang, “Brooo ini tulisan nggak mutu bangeeet wkwkwk, coba kamu share ke temenmu yang bauk!”

Semoga dia nggak bego-bego amat, dan segera sadar bahwa dia sendirilah sasaran dakwah pemurnian ketek yang Anda lancarkan.

BACA JUGA Jengkol dan Bau Biadabnya atau esai IQBAL AJI DARYONO lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles