• 295
    Shares

MOJOK.COKalau perempuan mematok gaji 30 juta per bulan sebagai salah satu kriteria calon pasangannya, nggak usah kaget dan buru-buru pengin ngehujat. Standar gaji 30 juta (atau bahkan lebih) itu masuk akal dan bisa dipenuhi kok!

Sahabat celenger yang pingin kaya, tetapi sering membenci perempuan matre,

Bermula dari tagar #KontakJodohDaddy yang dibuat seseakun di twitter yang memancing followernya untuk menyebutkan kriteria jodoh yang diharapkan, sesembak bernama Selviana menanggapi dan mencuitkan kriteria yang dia inginkan.

“Aku nyari laki 30thn ke atas, penghasilan minimal 30jt/bln, good looking, good in bed, good person, not really religious, kl bs duda aja lah jd udah pengalaman. (^_^)”  

Satu akun lelaki yang berlagak seperti talent scout artis bokep menanggapi cuitan tersebut dengan kalimat yang tidak pantas. Laki-laki tersebut menyerang kehormatannya dengan kata-kata tidak bermoral, dan langsung dijawab oleh empunya tagar #KontakJodohDaddy dengan kalimat menohok yang normalnya bakal membuatnya menyesal seumur hidup, “Kalau mau, dia dapat membeli martabatmu. Sayangnya kamu tidak punya”. MAMAM!!1!

Tersinggung dengan balasan tersebut, laki-laki tersebut mengatakan seandainya kaya, dia tidak akan mau menikahi perempuan seperti Selvi yang dalam persepsinya hanya akan ngabisin duwitnya aja. Si pemilik tagar perjodohan tersebut lagi-lagi berada di pihak Selvi dan membalasnya secara telak, “sayangnya kamu terlalu miskin untuk memenuhi standarnya”.

Penanggap berikutnya laki-laki yang sok-sokan tipe investor yang baru bongkar celengan ayam, “Pertanyaannya, apakah anda investasi yg baik untuk senilai 30 juta sebulan? Penghasilan bakal naik loh, sedangkan nilai kecantikan anda akan menurun secara depresiatif…. tell me why i should invest 30 mil a month on you?

Selvi sendiri yang menjawab pertanyaan tersebut, “our 30 mil is not for me, but for you because I have my own money. Jd kita bisa jalan bersama tanpa ada yg kesulitan menyesuaikan”.

Dari pernyataan tersebut sebenarnya sudah terjawab soal standar kebutuhan yang sebenarnya memang proporsional. Selviana tidak menganggap 30 juta sebagai angka yang wah. Dia sudah berada di tahap penghasilan senilai itu di usia kurang dari 30, dan akan merasa lebih nyaman kalau pasangannya mempunyai penghasilan yang seimbang. Syukur-syukur lebih baik walaupun statusnya duda sekali pun.

Di luar itu ada syarat yang tidak kalah pentingnya yang diinginkan perempuan tersebut, good in bed dan good person. Sehat dan orang baik, kalau dalam khasanah budaya Jawa hal tersebut sudah senafas dengan pertimbangan bobot, bibit, bebet. Ya, ini tentang nilai-nilai. Bukan semata soal 30 juta yang bagi sebagian orang sebenarnya juga bukan nilai yang besar.

Sahabat Celenger yang membayangkan pernikahan indah cukup dengan saling memandang dan mengatakan, “Aku sayang kamu”,

Beberapa waktu lalu ada yang protes ke saya, “Om, menikah itu kan tidak perlu nabung. Asal sudah siap dan ada calonnya, bisa langsung meluncur ke KUA. Jangan malah ke BCA! Kapan nikahnya kalau cara berpikir kita begitu? Agama sendiri tidak pernah mensyaratkan seperti itu”.

Lah, ngajakin orang untuk ikut salah paham nih, Juragan Wedang Jahe. Rupanya ada kekeliruan dalam memahami soal perlu tidaknya menabung sebelum menikah.

Sebenarnya kalau tujuan kita hanya mengikat diri dalam pernikahan, asal resmi diakui negara, jelas bukan persoalan yang perlu dibahas lebih lanjut. Selama memenuhi syarat administrasi dan ada calonnya, langsung dapat dinikahkan di KUA.

Biayanya juga tidak mahal, hanya perlu bawa uang 100 ribu. Itu pun hanya untuk isi bensin 2 liter dan beli pizza ukuran medium plus air kemasan yang bisa dimakan sambil merenung besoknya makan apa, karena di kantong tinggal 5 ribu. Orang tua dan saksi-saksi sih sekembali dari KUA langsung disuruh pada pulang aja, nggak perlu ikutan makan pizza. Wow Pernikahan yang sungguh efektif dan efisien!

Apalagi berdasarkan Peraturan Pemerintah No 48 Tahun 2014 tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berlaku pada Kementerian Agama, menjelaskan kalau menikah di KUA tidak dipungut biaya selama diurus di jam kerja, di luar itu dikenakan 600 ribu. Tidak benar-benar gratis memang, perlu biaya untuk foto copy surat-surat dan mengurus syarat administrasi yang diperlukan. Jadi kalau mau bebas biaya sebaiknya menikah di KUA pada jam kerja.

Tetapi kalau yang kita pikirkan adalah kehidupan setelah menikah, tabungan bisa jadi menjadi lebih sakral daripada sekedar cinta. Sebentar, jangan buru-buru menghakimi cinta menjadi tidak penting ya. Tetap penting karena perasaan tersebut dapat menjadi bahan bakar untuk menghidupkan rasa tanggung jawab untuk mempertahankan rumah tanggga.

Tabungan pun bukan persoalan di rekening ada berapa, di rumah punya warisan apa, berapa dana yang dipersiapkan untuk investasi. Tabungan secara luas juga dapat diartikan sebagai kepastian dalam mendapatkan penghidupan, keahlian yang mendatangkan penghasilan, dan keamanan dalam bekerja.  

Dimensi kehidupan rumah tangga tidak sesederhana seperti yang kita kira. Ada kalanya stress finansial mengakibatkan kericuhan rumah tangga. Tidak sedikit laki-laki yang tersinggung dengan penghasilan istrinya yang lebih besar. Belum lagi masalah seksualitas dan cara pandang yang berbeda dalam mendidik anak.

Ya kalau dihubungkan semua bermuara pada masalah finansial. Lha mau bagaimana, uang memang bukan yang terpenting dalam hidup. Tetapi jangan lupa, pengeluaran-pengeluaran yang dapat mendongkrak kebahagiaan dalam kehidupan berumah tangga sangat terkait dengan uang.

Orang yang sudah terbiasa mengeluarkan sebulan 20-30 juta saat masih lajang, setelah menikah pasti kebutuhannya juga bertambah dan cenderung ingin menabung. Belum kalau menginginkan pendidikan anaknya wah, bagaimana caranya dia mendapat penghasilan agar dapat menyekolahkan anaknya kelak di sekolah yang berbandrol 200 juta per tahun di Jakarta? Salah satunya mendapat pasangan yang setara secara penghasilan.

Jangan salah, di banyak kota besar banyak orang tua yang ngoyo sekali dalam urusan pendidikan. Tidak sedikit orang tua yang menyekolahkan anaknya hingga menggerogoti lebih dari 40% penghasilannya. Ada lagi yang menggunakan sebagian besar penghasilannya untuk anggaran piknik. Kalau kalian ingat tokoh Bagor yang sering diceritakan Puthut EA, itu kalau piknik menjelajah bumi hingga ke Finlandia khusus hanya untuk minum Bir.

Jangan sekali-sekali menguliahi soal kesehatan finansial ke mereka. Ingat cara menggapai kebahagiaan tiap individu sangat mungkin bertolak belakang. Beda dengan saya, sehari tidak menabung, badan rasanya sakit semua. Melihat uang kok ada di dompet, rasanya ingin segera memasukannya kembali ke bank hahaha.   

Profesi apa saja yang memungkinkan untuk mendapat penghasilan 30 juta di usia 30 tahun, Om?

Banyak sekali. Semua profesi memungkinkan untuk mendapatkan sejumlah itu bahkan lebih. Dari mulai bakul gorengan hingga karyawan kantor, dari swasta hingga PNS. Banyak para pekerja kreatif di bidang grafis, IT, seni yang sukses di usia yang relatif sangat muda. Dan itu sering tidak terendus oleh kita yang masih sangat kolot dalam memandang kesuksesan. Naiknya motor, pakaian biasa, sesekali nongkrong di warmindo, nyatanya punya penghasilan dalam US dollar.

Itu yang saya maksud dengan tabungan tidak harus dalam bentuk rekening, tetapi keahlian yang dapat membuat uang mengalir deras ke rekening kita.

Jadi tidak perlu kaget soal penghasilan 30 juta per bulan, jangan memandang rendah yang mematok pasangannya berpenghasilan senilai itu, karena itu lebih lekat dengan rasa percaya diri dan ketidakmampuan kita untuk bisa mendapatkan hal yang sama atau bahkan lebih.

“Ok. Saya paham, om. Trus yang dimaksud good in bed itu apa ya?”

Oh, itu kemampuan merapikan seprei setelah bangun tidur. Kan sering kelupaan ya anak muda yang segera bergegas memulai aktivitas tanpa merapikan tempat tidurnya lagi.

Baca juga:  Bapakku Seorang Modin: Sebuah Profesi, Sederet Cerita