• 908
    Shares

MOJOK.CO –  Bernama Arab, tapi bukan Islam. Coba cek dafar berikut, jangan-jangan Anda pernah tertipu mengira mereka seorang muslim.

Ini kali, dalam rubrik Iqra, saya tak mengulas atau mengomentari karya sastra. Saya hanya akan berbagi informasi yang meniru gaya reportase di televisi atau berita online tentang sejumlah hal yang memiliki kecenderungan yang mirip satu sama lain. Jadi… selamat datang di On The Spot! Hari ini kita akan membahas “6 Penulis Nonmuslim Bernama Arab yang Terkenal di Indonesia”.

Saya menyebut bernama “Arab”, bukan “Islam”, karena sebagian mereka memang bukan muslim atau tidak menampilkan dirinya sebagai seorang muslim. Namun, nama Arabnya itu membuat sebagian orang awam di sini mengiranya sebagai muslim.

Kriteria kedua “terkenal”. Atau kata yang lebih moderat, “cukup dikenal”. Ini karena karya-karya mereka diterjemahkan dalam bahasa Indonesia atau pemikiran mereka banyak dikutip para cendekiawan di Indonesia.

Nah, siapa saja mereka?

Saya akan mulai dengan Samir Amin, ekonom marxis kelahiran Mesir, 3 September 1931. Ia banyak menulis tentang ekonomi dunia dari sudut pandang seorang marxis. Pernah bergabung dalam Partai Komunis Prancis, tetapi merasa lebih dekat dengan Mao daripada komunisme Soviet. Ia pernah menjadi Direktur Forum Ekonomi Dunia yang sangat terkenal itu.

Nama Samir Amin masyhur pada akhir 1970-an hingga awal 1990-an, terutama dalam konteks kritik-kritik kalangan Kiri terhadap perkembangan ekonomi dunia. Ia salah seorang ekonom depedensia marxis yang keras mengkritik kapitalisme, globalisasi, dan penyingkiran dunia ketiga—bersama nama-nama seperti Andre Gunder Frank, Giovanni Arrighi, Immanuel Wallerstein, Hamza Alavi, dan lain-lain—sebelum munculnya era neoliberalisme sekarang ini.

Buku tipis Ketergantungan dan Keterbelakangan karya Sritua Arief dan Adi Sasono (1981) yang menjadi pegangan para aktivis masa Orde Baru banyak mengutip pemikiran Samir Amin. Bukunya yang terkenal, Eurocentrism, diulas di jurnal Prisma pada awal 1990-an. Sebuah artikelnya yang berisi kritik terhadap globalisasi saya lihat terjemahannya muncul di jurnal Wacana (1999). Muhammad Al-Fayyadl pernah mewancarai Samir Amin selepas Arab Spring pecah dan dimuat di situs IndoPROGRESS. Kendati demikian, setahu saya, sejauh ini hanya satu karya utuhnya yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, yaitu Dunia yang Hendak Kita Wujudkan: Tujuan-tujuan Revolusioner Abad XXI, yang diterbitkan oleh Resist Book (2010).

Berikutnya adalah Tariq Ali, penulis, novelis, sejarawan, pembuat film, dan aktivis politik dari Inggris kelahiran Pakistan, 21 Oktober 1943. Ia veteran aktivis antiperang Vietnam dan pengkritik kebijakan Amerika dan Israel. Tapi, namanya lebih terkenal sebagai editor The New Left Review, jurnal yang telaten memelihara dan mengembangkan pemikiran-pemikiran Marxisme.

Tetralogi novelnya, Kitab Salahuddin, Perempuan Batu, Sultan di Palermo, dan Bayang-Bayang Pohon Delima telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh penerbit Serambi di awal 2000-an. Tetralogi ini mengambil latar sejarah yang ditulis dengan liar dan penuh sindiran perih terhadap kehidupan keagamaan. Kalau Anda kelewat peka dalam beragam,a saya tidak jamin kuat membaca tetralogi ini. Mungkin Anda akan bawa pentung untuk memukul Tariq Ali.

Bukunya yang lain, Benturan antar Fundamentalis, yang merupakan terjemahan dari The Clash of Fundamentalisms: Crusades, Jihads, and Modernity diterbitkan oleh Paramadina pada 2004. Dalam buku ini ia memperkenalkan dua bentuk fundamentalisme, yakni fundamentalisme agama (Islam) dan fundamentalisme pasar.

Salah seorang penulis Indonesia yang tampaknya dekat dengan Tariq Ali adalah penulis yang terus menanjak namanya, Eka Kurniawan. Dalam beberapa tulisan, disebutkan mereka beberapa kali bertemu dan konon Tariq Ali termasuk yang mendorong agar karya-karya Eka Kurniawan diterjemahkan ke bahasa Inggris.

Baca juga:  Alfian Tanjung yang Luar Biasa… Ambyar

Penulis berikutnya adalah Amin Maalouf, sastrawan Prancis kelahiran Lebanon, 25 Februari 1949. Karena menghindari konflik dan kekerasan akibat perang saudara yang tak pernah usai di negaranya, ia pindah ke Prancis pada 1975. Amin seorang jurnalis, tapi di luar itu ia menulis novel sejarah dengan latar belakang masyarakat Timur Tengah, perjumpaan Islam-Kristen, konflik dan kekerasan di Timur Tengah, dan lain-lain. Meski berbahasa ibu Arab, ia menulis kebanyakan dalam bahasa Prancis. Amin banyak memeroleh penghargaan bergengsi di bidang kesusasteraan.

Dalam catatan saya, setidaknya ada empat novelnya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, yakni Cadas Tanios, Leo the African, Balthasar’s Odissey, dan Samarkand, serta satu esai panjang tentang identitas, In the Name of Identity. Novelnya yang paling menarik adalah Cadas Tanios dan Leo the African. Yang pertama, novel dengan latar belakang Lebanon abad ke-19 yang menurut banyak pengamat merupakan hikayat moyangnya. Sedangkan yang kedua adalah kisah Hassan bin Waqzan, seorang muslim Andalusia yang berpetualang setelah Andalusia direbut kembali oleh pasukan Kristen.

Yang menarik juga adalah buku nonfiksinya, In the Name of Identity. Berbasis pengalaman pribadi yang pahit plus bacaan yang luas, menurut saya, Amin memberikan konsepsi identitas pascakolonial yang sangat bernas. Tulisannya enak dibaca dan mudah dipahami. Dalam buku ini, Maalouf mengatakan bahwa keluarganya menganut Katolik Melkite, aliran gereja katolik Timur masih bagian dari Katolik Vatikan, tapi tidak mengakui ajaran selibat.

Nama keempat adalah Jurzi Zaidan alias Djardji Zaidan alias Djirdji Zaidan alias George Zaidan, kelahiran Lebanon, 14 Desember 1861 dari keluarga Kristen Ortodoks Yunani dan meninggal pada 21 Juli 1914. Ia menulis seri dan roman-roman sejarah berlatar Islam. Ia juga pendiri majalah dan penerbit Al-Hilal, sebuah terbitan terkemuka di Mesir. Dalam kesusasteraan Arab, Jurzi sering disebut sebagai Alexander Dumas-nya Mesir.

Namanya di Indonesia terkenal pada 1950 sampai 1980-an. Novel pertamanya, Bendera Hitam dari Churasan, diterjemahkan oleh Mahjuddin Sjaf dan diterbitkan Balai Pustaka tahun 1950. Sejak itu novel-novelnya banyak diterjemahkan ke bahasa Indonesia: dalam hitungan saya ada lebih dari sepuluh. Selain Balai Pustaka, novelnya diterbitkan oleh penerbit Sumur Bandung, Bulan Bintang, Harris, dan Alma’arif. Tiga yang terakhir adalah penerbit Islam. Novel terjemahan yang terakhir diterbitkan adalah Padang Karbala: Telaga Darah dan Airmata (1981) oleh penerbit Alma’arif.

Dua nama cendekiawan yang saya dapati pernah mengutip Jurzi Zaidan adalah Hamka dan Gus Dur. Hamka memberi pengantar salah satu novel terjemahan Zaidan dan menyebut Zaidan sebagai “ridjalul nahdlatil haditsah” (tokoh yang membuka jalan baru) dalam perkembangan sastra Arab. Hamka tahu sekali bahwa Jurzi seorang Kristen. Ia juga mafhum banyak karyanya yang memperlihatkan kehadiran tokoh-tokoh Kristen. Namun, keluasan pengetahuan dan kejujurannya, menurut Hamka, membuatnya layak diterima dan seharusnya diapresiasi kalangan Islam. Sedangkan Gus Dur mengutip karya sejarah Zaidan tentang Islam dalam sebuah tulisannya di jurnal Prisma.

Berikutnya adalah Edward Said, intelektual Amerika kelahiran Yerusalem (1 November 1935-25 September 2003). Ia intelektual publik dan aktivis pembela Palestina yang sangat gigih. Namanya menjulang setelah bukunya, Orientalisme, terbit dan menjadi salah satu tonggak studi-studi pascakolonialisme.

Baca juga:  Menolak Jenazah Teroris Tidak Akan Menghukum Terorisnya

Orientalisme adalah buku yang membongkar wacana kuasa di balik karya-karya ilmiah dan kesusasteraan yang ditulis orang-orang Barat berkaitan dengan Timur, khususnya Islam. Barangkali karena inilah dua karya Said pertama kali diterjemahkan dan diterbitkan oleh penerbit Islam, Pustaka Salman ITB, Bandung. Dua karya itu adalah Orientalisme (1984) dan Penjungkirbalikan Dunia Islam (1986) yang terbit jauh sebelum geger soal pascakolonialisme. Ciri penerbit Pustaka Salman ini yakni selalu ada kalimat Quran yang ditulis dengan gaya kufi. Sampul Orientalisme dihiasi ayat Surah Ali Imran 113: “Mereka itu tidaklah semuanya sama, di antara ahli kitab ada sekelompok orang….”

Tersebab kritiknya terhadap representasi Islam oleh barat, dan mungkin juga karena namanya, Edward Said sering dikira muslim. Saya ingat seorang guru besar Ilmu Politik UGM pernah menyebutnya sebagai muslim sembari mengutip buku Orientalisme.

Sejak pascakolonialisme ramai diperdebatkan, karya-karya Said banyak diterjemahkan di Indonesia, antaranya oleh penerbit Mizan dan Obor. Selain itu, kata-katanya sering dikutip intelektual Indonesia. Sebuah kelompok anak muda baru-baru ini bahkan menjadikan pemikirannya sebagai subjek kajian.

Last but not least, Gibran Khalil Gibran, penulis Amerika kelahiran Lebanon, 6 Januari 1883 yang meninggal di New York, 10 April 1931. Ia salah seorang “asy-syu’ara al-mahjar” (penyair-penyair yang bermigrasi). Ia bersama keluarganya bermigrasi ke Amerika pada 1891.

Penyair yang di Amerika dipanggil Kahlil ini menulis banyak puisi yang diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Dalam penelusuran saya, terjemahan buku Gibran pertama, Sang Nabi, dilakukan oleh Bahrum Rangkuti dan diterbitkan penerbit Pembangunan pada 1949. Bahrum Rangkuti adalah intelektual dan sastrawan muslim yang juga memperkenalkan penyair Muhammad Iqbal ke publik Indonesia di awal 1950-an.

Setelah itu terjemahan Indonesia karya-karya Gibran berhamburan. Salah satunya diterbitkan Pustaka Jaya pada 1980-an melalui terjemahan Sri Kusdyantinah yang dicetak ulang puluhan kali. Salah seorang dedengkot penerbit Yogya pernah mengatakan kepada saya, dia menjadi kaya raya karena larisnya penjualan terjemahan buku-buku Gibran. Betapa kondangnya nama ini. Penyair Sapardi Djoko Damono juga ikut menerjemahkan karya Gibran Sang Nabi. Hingga sekarang kita masih bisa menemukan karya Gibran di toko-toko buku di Indonesia.

Pengaruh Gibran lain tentu saja terlihat dari banyaknya nama Gibran diambil sebagai nama orang di Indonesia, baik sekadar mengambil Gibran-nya maupun sepenuhnya: Gibran Khalil Gibran. Saya pernah memesan ojek online dan sopirnya bernama Gibran Khalil Gibran. Gibran paling terkenal tentu saja adalah Gibran Rakabuming Raka, putra Presiden Indonesia Joko Widodo.

Puisi-puisi Gibran memang “quotable”, karena itu sering dikutip sebagai penghias pidato atau untuk menyatakan cinta. Gibran adalah orang Timur yang paling sering dikutip di Barat. Konon, kalimat terkenal “Jangan kamu tanyakan apa yang negara berikan padamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negara” yang sering disebut berasal dari John F. Kennedy sebenarnya berasal dari Gibran. Gibran beragama Kristen Maronit, tapi diyakini juga banyak belajar sufisme Islam.

Demikianlah, Amin, Ali, Tariq, Said, Zaidan, Khalil, Gibran—nama-nama yang di sini sering dikaitkan dengan nama-nama muslim. Jelas nama-nama itu bukan monopoli Islam. Di Arab khususnya, nama-nama itu nama biasa, dipakai oleh muslim, Kristen, juga Yahudi.

Jadi, masih pengin ganti nama?

Baca edisi sebelumnya: Belajar Hidup dengan Membayangkan Kematian setiap Hari dan tulisan di kolom Iqra lainnya.