MOJOK.COKonsumen santun atau maniak kerapian terbiasa merapikan seprai kasur kamar hotel ketika akan check-out. Ternyata eh ternyata, kebiasaan ini bukannya bagus, malah merugikan lho.

Belakangan mulai gencar kampanye budaya beberes sendiri yang digalakkan oleh beberapa restoran cepat saji. Pelanggan diminta membersihkan bekas makanannya sendiri. Sampahnya dibuang pada tempatnya, nampannya dikembalikan (tidak boleh ikut dibuang, apalagi dibawa pulang).

Kampanye ini sempat diprotes oleh pelanggan yang tegang. Alasannya, sudah ada karyawan restoran yang bertugas menanganinya. Sebenarnya, argumen tersebut bisa ditampung untuk direnungkan bersama-sama.

Kalau semua pelanggan terampil beberes sendiri, terus karyawan jadi berkurang kerjaannya. Yang seharusnya manajemen rekrut karyawan tambahan untuk menyambut serbuan pelanggan, jadinya batal dibuka lowongan pekerjaan itu karena job desc beberes sudah beralih ke pelanggan.

Sebagai kapitalis sejati, wajarlah manajemen waralaba ini setia pada prinsip ekonomi yang dipeluk. Biaya karyawan makin dikit, penjualan makin banyak: profit. Nggak perlu sediakan sedotan plastik (dengan dalih kurangi limbah plastik), lalu menjual sedotan stainless steel: rezeki nomplok.

Untungnya, bude warteg nggak kampanye budaya beberes sendiri. Kalau sampai tertular semangat yang sama, bisa-bisa habis makan pakai tempe orek sama sambel goreng kentang, pelanggan bantuin bude cuci piring.

Okelah, anggap saja budaya beberes sendiri ini memang baik karena bantu mengurangi beban karyawan (baik secara harfiah maupun istilah akuntansi). Lagi pula orang-orang di negara-negara maju sudah lebih dulu mengamalkannya. Namun, budaya ini nggak bisa dibawa ke segala tempat. Misalnya, hotel.

Ada saja tamu hotel yang berpikir untuk merapikan tempat tidur sebelum check out. Alasannya, biar nggak malu sama petugas hotel kalau kamarnya berantakan kayak baru dipakai John Cena dan The Rock main smackdown.

Namun, seseorang di Twitter membagikan tangkapan layar yang didapatnya dari media sosial khusus tanya jawab Quora. Seorang bernama Al Faidzin merespons pertanyaan “Apa saja tips bermalam di hotel?” dengan jawaban yang unik.

Disarankan bahwa tamu tidak perlu merapikan kamar setelah bermalam di hotel. Kalau bisa, justru seprainya dibiarkan berantakan atau dicopot sekalian. Dengan begitu, kita memudahkan petugas hotel untuk mengganti seprai kamar hotel yang baru. Hal ini bisa menghindari oknum tak bertanggung jawab yang tak mau mengganti seprai kalau masih terlihat rapi.

Jadi, ketika baru pertama masuk kamar, kita disarankan untuk mengecek kebersihan seprai dan sarung bantal. Kalau memang nggak yakin bersih, bisa minta ganti yang baru kepada petugasnya. Tentunya kita tidak mau dong pakai peralatan tidur bekas pengunjung sebelumnya.

Boleh saja punya niat baik meringankan beban petugas terkait, tapi jangan lupakan hak sebagai konsumen untuk dapat pelayanan terbaik.

Kalau memang mau bantu, lebih baik memberikan tip kepada petugas agar semangat melayani. Tak perlu merapikan seprai, manata bantal-guling, dan melipat selimut seperti sedia kala, sampai terlihat seperti sebelum dipakai bermalam.

Selain itu, ada juga trivia tentang menginap di hotel yang saya dapat dari media sosial. Jika di kamar ada minibar berisi cemilan, itu tidak gratis. Tiap apa yang kita makan akan ditagihkan oleh resepsionis ketika check-out. Sudah begitu, biasanya harganya lebih mahal daripada beli di luar. Ini sangat menggoda ketika laper, ditambah mau keluar beli jajannya pun mager.

Solusinya, makan dulu saja apa yang ada di minibar. Sebelum check-out, ganti pakai makanan yang sama yang dibeli di minimarket terdekat dengan harga lebih murah.

Namun, apabila trivia ini sampai dibaca oleh manajemen hotel, jadi tidak relevan lagi. Bisa saja mereka bakal mengetatkan sistem penjualan, terus bisa ketahuan kalau tamu menukar barang dagangan.

BACA JUGA Kok Kita Harus Ikuran Budaya Beberes KFC? Untuk Apa? atau artikel rubrik POJOKAN lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles