[MOJOK.CO] “Ayah Pidi Baiq adalah sosok di balik ketenaran seri novel Dilan. Sementara Iqbaal yang berada di depannya.”

Di dua novel Dilan, Pidi Baiq menulis pakai sudut pandang orang pertama. Selama bercerita, Pidi Baiq mengaku sebagai Milea. Dengan bahan cerita yang dikumpulkan berdasarkan kesaksian Milea tentang Dilan, Pidi Baiq mengisahkan ulang sepak terjang panglima tempur geng motor tersebut dalam menggombali Milea sampai dapat hatinya.

Untungnya dia Pidi Baiq. Jadi, dia membagi royalti penjualan buku Dilan dengan Milea asli yang menjadi narasumber. Seandainya, Pidi Jahad, mungkin royaltinya dibawa kabur sendiri.

Melihat mantan pacarnya menulis novel tentang dirinya, Dilan asli ikut-ikutan minta dituliskan novel oleh Ayah Pidi Baiq. Keluarlah seri ketiga novel Dilan, yakni Milea, suara dari Dilan dengan sudut pandang pertama dari Dilan sebagai sang penutur kisah. Mungkin Dilan ingin pembaca sekalian bisa melihat dari dua sudut pandang pencerita, meninjau kronologi asmara dari sisi cewek dan sisi cowok. Atau mungkin Dilan ingin dapat royalti juga.

Tapi, ada teori fans yang menyebutkan bahwa Dilan itu ya Pidi Baiq itu sendiri. Bisa dilihat dari jejak digitalnya di Twitter, betapa mesra mention-mention Milea dengan Ayah. Mungkin Dilan itu kepanjangannya “Pidi Baiq Sewaktu Masih Berandalan”. Who knows? Barangkali teman-teman Pidi Baiq saat SMA.

Kemarin, saya melihat foto unggahan dari teman Facebook bernama Agung S. yang sebelumnya pernah bikin parodi “Warisan” Afi Nihaya Faradisa menjadi “Arisan – Welcome to My Paradise”. Unggahannya adalah foto presiden Soeharto naik motor diiringi Paspampers, namun ditambahi caption “Pak Harto, dia adalah presidenku tahun 1990”.

Demi melihat betapa sangarnya Pak Harto nunggang motor dikawal paspampers yang lari-lari kecil, saya jadi tergelitik sendiri. Saya membayangkan jika Pidi Baiq menulis biografi tentang presiden-presiden Indonesia. Mungkin seperti ini jadinya….

Baca juga:  Hari-Hari Seragam PNS Kementerian Keuangan

Soekarno: Dia Adalah Presidenku Sejak 1945

Jika Dilan memakai motor Honda CB 100 Gelatik dan membonceng Milea, Bung Karno pakai sepeda onthel dan membonceng Fatmawati.

Tunggu….

Tidak hanya Fatmawati. Tetapi juga Oetari Tjokroaminoto, Inggit Garnasih, Hartini, Kartini Manoppo, Ratna Sari Dewi, Haryati, Yurike Sanger dan Heldy Jafar.

Setidaknya Pidi Baiq harus menulis biografi Presiden Soekarno dalam sepuluh jilid, dengan memakai sudut pandang masing-masing istri dan Presiden Soekarno sendiri.

Soeharto: Dia Adalah Presidenku Tahun 1990

Dilan meremaja di tahun 1990 saat Pak Harto masih berkuasa. Wajar jika ada banyak kesamaan antara dua pria romantis tersebut. Romantisme Pak Harto terlihat betul dari sikap setianya menanggung beban sebagai presiden selama 30 tahun lebih demi bangsa dan rakyatnya.

Jika mengikuti gaya bicara Dilan, Pak Harto akan berkata begini pada setiap akhir pidatonya:

“Sekarang kalian tidur. Jangan protes. Dan, jangan jadi presiden.”

“Kenapa?” tanya seluruh rakyat Indonesia.

“Berat,” jawab Pak Harto. “Kalian nggak akan kuat. Biar aku saja.”

Pernyataan itu terus dilontarkan oleh Pak Harto setiap periode.

Rasa sayang Pak Harto dengan rakyat pun terbukti dengan adanya operasi petrus (penembak misterius).

“Jangan bilang ada yang mengintimidasi rakyatku. Nanti besoknya, orang itu akan hilang.”

Sebagai Bapak Pembangunan Indonesia, Pak Harto juga mengagumi Indonesia seperti Dilan yang senantiasa menyanjung Milea.

“Indonesia, kamu cantik, tapi kamu belum menjadi Macan Asia. Nggak tahu kalau nanti aku sudah bangun infrastruktur dan berhasil swasembada pangan. Tunggu aja.”

Habibie & Ainun

Sudah dibuat, difilmkan dan ditonton 4 jutaan orang.

Gus Dur: Dia Adalah Presidenku Tahun 1999

Abdurrahman Wahid yang biasa disapa Gus Dur ini bercita-cita menulis novel. Tapi, impiannya yang terwujud malah menjadi presiden. Tak mengapa, toh setelah menjadi presiden, banyak penulis yang mengabadikan jokes beliau dalam buku humor. Karyanya tetap tercetak jua.

Baca juga:  Sinyal Kuat Susi Pudjiastuti sebagai Cawapres, Dari Hasil Survei Sampai Godaan Jokowi

Di momen Gus Dur mundur, tercetuslah kalimat ini….

“Tujuan jadi presiden adalah untuk berhenti. Bisa karena habis masa jabatan, bisa karena dimakzulkan.”

Megawati: Dia Adalah Presidenku Tahun 2001

Bu Megawati bertemu Pak Jokowi di rakernas PDI-P.

“Kamu Jokowi ya?” tanya Bu Mega.

“Iya, Bu,” jawab Pak Jokowi.

“Aku prediksi, kamu akan jadi presiden.” Bu Mega pun berlalu untuk membuka raker.

Setelah itu, Bu Mega mengusung mantan gubernur DKI Jakarta tersebut mewakili partai asuhannya pada pilpres 2014.

Susilo Bambang Yudhoyono: Dia Adalah Presidenku Dua Periode

Pak SBY adalah presiden pertama yang dipilih secara langsung oleh rakyat dalam proses Pemilu Presiden pada tahun 2004. Jika mengikuti cara Dilan dalam menyimpulkan indahnya pacaran, SBY akan menjunjung tinggi demokrasi:

“Demokrasi itu indah, jika bagimu tidak, mungkin kamu salah pilih pemimpin.”

Pak SBY juga dikenal sebagai presiden yang hobi menyanyi dan punya banyak album. Namun, Pak SBY tidak mewajibkan presiden berikutnya bisa menyanyi juga karena…

“Mengapa presiden harus bisa menyanyi? Padahal ini Republik Indonesia, bukan Republik Cinta Management.”

Jokowi: Dia Adalah Presidenku Sekarang

Momen yang harus diceritakan adalah ketika Jokowi memberi hadiah kepada istrinya yang berulang tahun. Tentu disertai sebuah surat yang mana isinya sebagai berikut:

SELAMAT ULANG TAHUN, IRIANA.

INI HADIAH UNTUKMU, CUMA SEPEDA.

TAPI AKU BERI CUMA-CUMA.

AKU SAYANG KAMU

AKU TIDAK MAU KAMU PUSING KARENA MEMIKIRKAN NAMA-NAMA IKAN.

JKW!

Komentar
Add Friend
No more articles