Ari Headbang, Maniak Film dari Solo

EXT. Siang Hari, jalan raya, Solo 1976

Dari kejauhan tampak seorang laki-laki menggowes sepeda ontel, di belakangnya duduk anak lelakinya yang berusia 5 tahun, ia erat memeluk pinggang ayahnya. Anak lelaki itu sudah berdandan rapi mengenakan sepatu, hari ini merupakan hari bersejarah, hari pertama kali dia akan menonton ke bioskop.

INT. Siang Hari, bioskop Solo Theather, Solo 1976

Seorang anak lelaki tampak terpesona dengan layar besar di hadapannya, melihat kota asing, orang-orang berambut pirang dan kemunculan King Kong. Film yang menentukan jalan hidupnya.

INT. Sore Hari, Kedai kopi, Solo 2021

Hujan turun dengan deras, seorang perempuan tengah menanti kedatangan seseorang.
Seorang lelaki gondrong memasuki ruangan membawa tas ransel menghampiri perempuan itu, menyapanya dengan hangat lalu mereka berbincang.

Fanny
Masih ingat usia berapa nonton film ke bioskop? Nonton film apa?

Ari Headbang
Sebenarnya tadi saya mau pake kaos film pertama yang kutonton di bioskop he-he-he Waktu itu usia 5 tahun, nonton film King Kong tahun 1976 di bioskop Solo Theater. Dibonceng sepeda ontel bapak. Dulu kalo nonton ke bioskop harus dandan rapi, pakai baju bagus dan sepatu. Sejak itu aku keranjingan film sama dengan bapakku!

Fanny
Seru ya, bisa cerita gimana bapak bisa keranjingan film?

Ari Headbang
Bapakku itu buka toko persewaan buku namanya “Pitik Mas”kala itu bisnis persewaan laris dan menjanjikan, bisa menghidupi kami juga, bisa mendukung hobi bapak nonton film ke bioskop. Bapakku selalu menonton di bioskop kelas 1, dan selalu film yang pertama kali diputar. Sampai tuanya bahkan sebelum beliau meninggal masih selau nonton ke bioskop.

Fanny
Kenapa harus bioskop kelas 1?

Ari Headbang
Karena kan dulu itu masih pakai film seluloid dalam satu gulungan saat dipasang di proyektor oleh operator biasanya digunting, semisal ada yang kena jari tangan kotor. Jadinya bisa bikin adegan jumping (melompat). Bapakku enggak mau kayak begitu he-he-he mau film yang utuh di bioskop.

Fanny
Owhh.. aku baru tahu soal itu. Berapa kali biasanya bapak pergi nonton ke bioskop?

Ari Headbang
Wahh dalam 1 hari bisa 3 kali! Kadang di bioskop yang berbeda. Bapakku punya kebiasaan menulis nama aktor dan aktris di belakang tiket karcis dan membuat sinopsis singkat versinya. Aku ingat bapak selalu bilang kalo film bagus itu punya mission. Maksudnya barangkali pesan yang disampaikan. Biasanya nonton ke bioskop jadi hadiah kalo nilai raport bagus, tidak ada angka merah.

Pelayan datang mengantarkan secangkir kopi, roti bakar dan kentang goreng, menyajikan pesanan di atas meja.

Fanny
Lalu bagaimana jalan ceritanya bisa jadi kolektor fanatik?

Ari Headbang
Awalnya karena aku bermain musik aku mengoleksi kaset, piringan hitam, lalu komik
Segala macam komik, DVD film, karena ingin mengenang memori kolektif zaman kecil dahulu. Di Solo kan ada Gladak, biasanya di sana dapat poster film, kadang juga ke kota lain seperti Madiun, Shopping Yogya, Pasar Johar Semarang dan Magelang. Mulai dari situ mencoba mengumpulkan urut berdasarkan periode supaya literasinya lengkap. Mulai mengumpulkan flyer, poster kertas, poster kain, karcis, majalah, koran, buletin, slide iklan, foto-foto dari jaman Hindia Belanda sampai saat ini. Kalau kuceritakan semua koleksiku bisa jadi cerpen sendiri he-he-he

Baca juga:  Dunia Sepi Becak di Jogja Kala Pandemi

Fanny
Dibuat saja cerpennya sekalian atau malah dibuat bukunya! He-he-he

Ari Headbang
Ada rencana membuat buku sejarah bioskop di Solo tapi ini masih belum lengkap
untuk periode tahun 80-an. Padahal saya kenal semua pemilik bioskop di Solo, kadang nonton film bareng-bareng sama mereka.

Ari mengeluarkan isi dalam tas ranselnya, yang terdiri dari berjilid-jilid map, ia membawa flyer film, album foto dari aktor dan aktris atau still adegan dari film-film lawas itu hanya sedikit dari tumpukan koleksinya yang segudang. Ari menunjukkan Fanny koleksinya sambil keduanya kembali bercakap-cakap.

Koleksi LD, majalah, tentang film milik Ari Headbang. Foto oleh Fanny Chotimah

Koleksi LD, majalah, tentang film milik Ari Headbang. Foto oleh Fanny Chotimah

Fanny
Sejak kapan mulai serius mengoleksi?

Ari Headbang
Kalau untuk segala hal film sejak tahun 2011-2012 mulainya. Meski sebelumnya sudah punya juga seperti poster film misalnya.

Fanny
Ok, ngomongin tentang film Indonesia, ada tidak film yang paling berkesan?

Ari headbang
Saya suka film-film tema perjuangan seperti “Serangan Fajar”(1982), “Kereta Api terakhir”(1981), “Tapak-Tapak Kaki Wolter Mangonsidi”(1982). Tapi Film Indonesia yang paling saya suka film “Tuan Tanah Kedawung(1970)”! Sutradaranya lupa (Lilik Sudjio-pen) tapi aku terkesan karena akting Maruli Sitompul dia memainkan tokoh Samolo. Ada Suzana juga yang main, ceritanya dari komik hits, Ganes TH. Saat itu penataan gambar, pencahayaan sudah bagus, bisa membuat suasana mencekam sesuai dengan drama yang menceritakan intrik keluarga.

Fanny


Kalo sutradara film Indonesia yang favorit?

Ari Headbang
Asrul Sani! Wahh kalo dia menyampaikan ide itu elegan, sastrawinya dapet karena sastrawan. Kita belajar waktu kecil itu formula pak Asrul Sani. Saking ngefans-nya saya punya piagam piala citra pak Asrul Sani. Padahal saya belum pernah nonton film yang dapat piala citra itu, posternya belum pernah ngerti he-he-he aku cerita ke temanku kolektor di Magelang, dia dapet itu! Edaaan! Akhirnya posternya kubeli. Tapi filmnya belum dapat. Oya, nanti ada Bari anak mahasiswa sejarah yang akan gabung dengan kita.

Fanny


Oke, sering ya dikunjungi mahasiswa atau peneliti?

Ari headbang
Ya, saya senang bisa belajar bareng dengan adik-adik mahasiswa. Saya mempersilakan jika koleksi saya dijadikan bahan riset, selama untuk kemajuan pengetahuan daripada jeprat-jepret eksis di medsos!

Fanny


Sebelum pandemi seberapa sering nonton di bioskop?

Ari Headbang
Ya sering ya, tapi film-film box office Hollywood nggak bikin saya.. maaf..
‘horny’istilahnya He-he-he tapi ya film kan ada kelasnya ya jadi penilaian saya terhadap film ya melihat kelasnya, mengukur bagus dan tidaknya sesuai kelasnya.

Baca juga:  Tenang, Film “Kucumbu Tubuh Indahku” Nggak Bakal Bikin Kamu Tiba-Tiba Jadi Gay

Fanny
Ini sudah setahun lebih sejak pandemi, dan bioskop di Solo ditutup. Kangen nonton ke bioskop nggak?

Ari Headbang
Kangen Biangeeet! Patah hati saya mbak.. Kalo seperti saya dan bapak saya gitu, nonton di netflix atau di leptop itu rasanya kurang marem! Nggak dapat pengalaman sinematik seperti nonton di bioskop.

Pintu terbuka masuklah Bari si mahasiswa sejarah, Fanny meminta kesediaan Ari Headbang dan Bari untuk dipotret. Bari dan Ari Headbang yang sedang melihat-lihat koleksi yang dibawanya.

Ari Headbang
Bari sering datang ke tempat saya, nemeni saya nonton. Dalam satu malam kadang kami nonton 3 film bisa sampai pagi he-he-he kalo teman nonton di bioskop namanya Didot. Aku selalu bilang ke Didot, kalo nama penerjemah sudah muncul di film, untuk film barat Agus Muhammad atau Nurahman pasti terjemahannya bagus! Kalo untuk film Hongkong nama penerjemahnya Esterina Hutagalung. Kalo bukan mereka, pasti terjemahannya garing. Padahal subtitle itu penting! Terus kalo ada dialog bagus nanti kami catet, terus habis nonton kami obrolkan di wedangan sampai jam 3 pagi.

Fanny
Nggak tertarik ikut atau bikin komunitas film?

Ari Headbang
Lha teman-teman seumur saya sekarang, mau diajak nonton ke bioskop itu mikirnya berbulan-bulan karena punya anak, mikirin kebutuhan rumah tangga segala macem alasannya. Saking seringnya nonton ke bioskop saya dikenal karyawan-karyawan bioskop. Seringnya bisa potong antrian He-he-he. Mbak tahu ada anekdot kalo kita telat antri dapat deretan kursi di depan dibilang ‘wah nonton film cedhak lakone!’ (nonton film dekat pemainnya) He-he-he Tapi saya pernah juga dulu itu kehabisan film.

Fanny
Kehabisan film bagaimana?

Ari Headbang
Lha sudah nonton semua! Betul, sampe Kartosuro, Palur, Karasidenan Surakarta. Tahun 90-an dulu itu di sini dulu Atrium ada 8 studio, terus Solo Theater ada 4. Cineplex semua. Sampai film balen (ditayang ulang) saya tonton lagi. Kayak film Barb Wire (1996) yang main Pamela Anderson, yang hanya memamerkan keseksian Pamela terpaksa kutonton He-He-He..

Ari Headbang, maniak film dari Solo. Foto oleh Fanny Chotimah/Mojok.co

Ari Headbang, maniak film dari Solo. Foto oleh Fanny Chotimah/Mojok.co

Fanny
Kalo genre film kesukaan apa?

Ari Headbang
Saya suka film noir atau film gore seperti The Saw saya suka film yang ‘sakit’. Yang ceritanya semacam protes manusia kepada penciptanya, sebetulnya pergolakan-pergolakan seperti itu sudah dimulai di dunia sastra sejak abad 17-18.
Tapi saya ingat punya pengalaman yang enggak terlupakan kelihatan bodoh banget, waktu SMP nonton film Angle Heart (1987) yang main Mickey Rourke, Robert De Niro, Lisa Bonet.

Fanny
Kelihatan bodohnya kenapa?

Ari Headbang
Saya nonton butuh setahun baru ngeh.

Fanny
Diulang-ulang nontonnya?

Ari Headbang
Enggak.. wong nonton saja ngumpulin duit dulu. Jadi gini itu film psikologi pertama yang kutonton. Jadi kupikirkan selama setahun film itu. Lalu suatu hari ngeh cerita filmnya tentang apa.

Baca juga:  Pendapatannya Jadi Muncikari Ayam Kampus Puluhan Juta Rupiah dan Dia Memilih Tobat

Fanny
Sebagai penikmat film kalo melihat film Indonesia saat ini apa menurut mas Ari kekurangannya? Lalu apa yang perlu ditingkatkan lagi?

Ari Headbang
Kalau tidak punya uang banyak untuk bikin film yang seperti standarnya Hollywood, ya dikuatkan dari segi ceritanya saja kayak contohnya film-film India. Jadi jangan tanggung gitu. Misal film action begitu ya, kalo dibandingkan dengan film-film Shaw Brothers, saya nonton semua filmnya. Jadi saya tahu perkembangan teknik kelahi, sampe ditiru para pemain wayang orang dan ketoprak kita zaman itu.

Film action Indonesia ideal itu ya seperti film The Raid (2011). Jadi pemain-pemainnya ya bisa silat. Waktu nonton The Raid penonton berdiri tepuk tangan berarti edan berhasil ya.. penonton merasa emosional. Padahal dulu itu kalo ada yang tepuk tangan dirasani ‘woo.. ndeso’ (kampungan) He-He-He Jadi ya cukup ceritanya yang diperkuat saja.

Fanny
Mas Ari pernah nggak tepuk tangan habis nonton film?

Ari Headbang
Nggak pernah.. paling wah.. wah saja, saya kalo nonton film itu serius. Saya sediakan waktu saya untuk menonton. Kalo pun di rumah nggak pernah disambi-sambi atau sambil ngobrol, handphone pasti saya matiin. Semua film saya tonton, mau yang bagus, biasa atau eplek ewer kalo orang jawa bilang saya tonton.

Fanny
Enggak pernah tertarik tulis review film begitu?

Ari Headbang
Saya biasanya didatangi teman wartawan ada yang tanya soal film ini misalnya, ya saya ceritakan pandangan saya terus nanti dimuat jadi tulisan. Saya juga sering didatangani teman yang ingin bisa menikmati film, atau tidak mudeng jalan cerita filmnya. Biasanya saya temani nonton.

Fanny
Ini bioskop di Solo sudah buka lagi? Mau nonton apa?

Ari Headbang
Iya mau nonton lagi tapi tunggu film James Bond saja.

Fanny
Enggak nonton film Indonesia?

Ari Headbang
Belum ada yang bagus ya

Fanny
Untuk mas Ari apa arti film untuk diri mas Ari?

Ari Headbang
Wah apa ya.. saya bisa sampe seperti sekarang ini karena ilmu yang saya dapat dari film.
Saya sampe bikin kampung saya itu kampung edan film!

Sisa percakapan merupakan off the record informasi. Belum bisa dibagikan terkait koleksi dari seorang legenda bintang film Indonesia juga koleksi lain yang masih dicari, dan percakapan remeh temeh lainnya.

Matahari tenggelam hujan pun reda. Fanny berpamitan kepada Ari Headbang dan Bari,
 mereka merencanakan janji temu kembali untuk nonton bareng.

BACA JUGA  6 Hal yang Membuat Rasa Kangen Nonton Bioskop Makin Membuncah dan liputan Mojok lainnya.

Susul kali ini dipersembahkan dalam format scritp film untuk merayakan Hari Film Nasional yang dirayakan setiap 30 Maret. Selamat Hari Hari Film Nasional! Semoga Film Indonesia makin berjaya di negeri sendiri.