• 77
    Shares

MOJOK.COMau bus ekonomi semacam bus Mustika, atau yang lebih bagus seperti Mila Sejahtera, 7 situasi yang menyebalkan ini tidak terhindarkan.

Saya suka dengan kendaraan umum yang ongkosnya murah. Misalnya bus mustika, kereta api, dan angkot. Cita-cita saya adalah membantu Polantas supaya tidak terlalu sibuk mengatur lalu-lintas. Maklum, bertambahnya jumlah kendaraan pribadi tidak berbanding lurus dengan bertambahnya panjang jalan raya.

Sungguh menyenangkan ketika membayangkan semua pembaca Mojok beralih ke kendaraan umum. Jadi, jalan raya yang sebelumnya macet parah bisa lebih “manusiawi”. Gas emisi kendaraan bisa dikurangi. Pun dengan naik kendaraan umum, interaksi sosial bisa dijaga. Sebuah situasi yang ideal untuk para jomblo berburu jodohnya. Sama-sama enak, kan?

Apalagi, ketika nanti sudah semakin banyak yang beralih ke kendaraan umum, bus-bus dengan badan lawas seperi bus Mustika bisa diremajakan. Sudah murah, kualitas pun bisa ditingkatkan. Kemacetan bisa dikurangi.

Namun memang, usaha mengedukasi orang banyak untuk beralih ke kendaraan umum tidak mudah. Ada beberapa asalan, salah satunya ada saja hal-hal menyebalkan yang terjadi ketika tengah mencoba kendaraan umum. Karena saya gemar naik bus, maka akan saya bagikan beberapa pengalaman menyebalkan yang saya rasakan.

Harapan saya, semoga hal-hal menyebalkan ini bisa kita temukan solusinya bersama-sama, supaya tiada lagi hambatan menikmati kendaraan umum yang ongkosnya murah semacam bus mustika.

Sedikit catatan, hal-hal menyebalkan di bawah ini juga bisa terjadi, kok, kepada orang yang naik kereta api atau pesawat.

1. Duduk dengan orang yang pakai parfum kawe berbau tajam.

Siapa yang tak suka dengan bau wangi? Ada, yaitu orang yang asam lambungnya naik. Tapi, pada umumnya, semua orang suka, terutama aroma parfum berkelas, semacam Bvlgari, La Coste, dan lain sebagainya.

Masalahnya adalah ketika ada orang yang penuh percaya diri menyemprotkan terlalu banyak parfum ke seantero tubuhnya. Apalagi, parfum yang ia gunakan adalah parfum kawe, yang percampuran antara parfum dan keringat menghasilkan bau-bauan yang lebih berbahaya ketimbang gas emisi sebuah bus yang sudah lama tidak diservis.

Aroma parfum kawe-kawean ini mencolok hidung, membuatnya terasa perih. Sudah seperti cucuk hidung kerbau, tak bisa ditolak karena hidung manusia tidak ada pintu kedap udaranya.

Saya mengalaminya ketika naik bus dari Samarinda ke Balikpapan. Sebenarnya, saya merasa beruntung karena bisa duduk di kursi favorit, yaitu di belakang pak sopir. Tapi, yang awalnya saya kira berkah, justru jadi musibah. Pak sopir terlalu rapi dan terlalu wangi.

Parfumnya menyengat, menguar ke mana-mana, membangkitkan bulu-bulu hidung saya yang, karena flu, tertidur dan layu. Sungguh, saya hanya menebak, ini pastilah parfum kelas toko kelontongan yang harganya setera sepiring nasi pecel. Sadis bener aromanya.

Susahnya jadi manusia. Kalau orang bau dimaki-maki, terlalu wangi dicaci-caci. Benar kata Vety Vera, yang enak itu yang “sedang-sedang saja”.

Baca juga:  Kurs Dolar Tinggi, Jangan Jadikan Bahan Provokasi

2. Duduk di belakang penumpang amatir.

Salah satu ciri penumpang amatir adalah yang ketika dapat kursi reclining (sandaran kursi bisa digeser ke belakang), ia akan merebahkan sandaran kursinya hingga hampir menyentuh dagu penumpang di belakangnya.

Suatu ketika saya naik bus bagus, Mila Sejahtera, yang joknya berbusa tebal, kabinnya senyap, bersuspensi udara pula. Semua kelebihan itu dihancurkan oleh gaya seorang penumpang di depan saya yang tanpa merasa berdosa, tanpa melirik ke belakang, dia rebahkan sandaran kursinya sementok-mentoknya sehingga kepalanya nyaris berada sejengkal di depan dagu saya.

Seolah-olah, si penumpang amatir ini mau creambath saja. Emang saya ini tukang salon? Saya tersenyum menyembunyikan mangkel. Mungkin saja dia baru naik patas untuk kali pertama sehingga ketika dapat kursi yang bisa digerak-gerakkan sandarannya lantas mempraktikkannya dengan cara yang semena-mena.

Mending naik yang murah saja seperti bus Mustika, namun nyaman, enggak dikira kapster salon. Huh!

3. Memilih bus dengan fasilitas khusus, tapi fasilitas tersebut tidak berfungsi.

Bagi beberapa pecinta kendaraan umum, ada beberapa fasilitas khusus yang dipertimbangkan. Misalnya, suka naik bus yang ada wifi-nya, ada pemanas air, dan ruang merokok. Saya sendiri memilih suatu bus karena ada ruang merokoknya.

Nah, sayangnya, jok di ruang kecil untuk merokok itu “dijual” juga. Hasilnya, fasilitas ruang merokok itu kehilangan fungsi dasarnya. Kan saya jengkel karena salah satu fungsi khusus sebuah bus yang jadi kelebihan malah tidak bisa digunakan.

4. Tarifnya mazhab kolor yang sudah kendor.

Ini sungguh terjadi, sebuah bus yang tarifnya seperti kolor yang karetnya sudah tidak berfungsi. Gampang dinaikkan, gampang pula turun. Bus seperti ini biasanya beroperasi saat polisi jarang beroperasi. Sopirnya ronda malam, saat banyak penumpang dibuai bantal. Mereka bisa sesuka hati memasang harga. Ciri-ciri busnya: karcis hanya bergambar bus, tak ada nama PO, atau malah tidak pakai karcis. Yang model begini biasanya sistem setoran.

Nah, kalau kamu naik bus yang seperti ini, jika sudah tahu tarifnya 19.000, bayarlah uang pas. Kalau kamu nekat bayar pakai pecahan 50 ribu, maka uang kembalian yang paling mungkin adalah 30.000 (bukan 31.000). Jika begitu, kamu sudah termasuk golongan orang-orang yang selamat daripada dikembalikan hanya 25.000 saja

PO terkenal tak bakal berani curang seperti ini karena mandor mereka seperti Wiro Sableng, tiba-tiba muncul ketika ada masalah. Yang suka begini biasanya abal-abal.

5. Tongkrongan Lemmy berhati Meggy

Ada pula yang suka begini: sebelum berangkat, gasnya dibleyerbleyer, pokoknya sangar. Begitu mancal keluar dari terminal, lagaknya seperti mau ikut drag race. Enggak tahunya, bus masih ngetem di pintu keluar. Maka dari itu, saya bayangkan bus yang begini bertampang Lemmy dari grup metal Motorhead tapi lagunya kalem seperti yang biasa dibawakan Meggy Z.

Baca juga:  Pahlawan Ekonomi Kita Bernama Hedonisme

Diperlakukan begini, sih, masih mending, daripada sengaja ditipu. Ada juga polah bus yang gasnya dibikin bar-ber-bor, dimain-mainkan terus seolah-olah mau terbang rendah di jalan raya. Ealah, pas berangkat, ternyata busnya masuk ke SPBU samping terminal, isi solar tak seberapa, lalu memutar, balik lagi ke terminal, ngetem lagi di sana. Alangkah betapa sungguh PHP-nya bis seperti ini. Yang demikian itu, saya pernah mengalaminya di Ponorogo dan Jember.

6. Duduk sebangku dengan keturunan Flinstones

Ini sering menimpa saya, duduk dengan penumpang yang sedari berangkat sampai saya turun, dengan durasi jarak sekitar 150 kilometer, dia hanya main gawai, menoleh pun tidak, apalagi bicara. Dioperek terus itu gawainya. Dia bisa begitu terus-terusan karena dia bawa PLN sendiri yang listriknya dicolokkan langsung ke ponselnya.

Saya menduga, orang macam ini pasti keturunan keluarga Flinstone yang tersesat di zaman sekarang, keluarga zaman batu tetapi hidup di alam medsos.

Aslinya, tipe orang yang asyik sendiri seperti ini sama saja dengan orang yang membaca buku sepanjang jalan dan menganggap orang yang ada di sebelahnya hanyalah hantu. Di Jepang atau di Singapura, kamu tak mengapa berlaku begitu, tapi karena ini Indonesia, kelakuanmu yang terkesan ilmiah itu akan tampak menyebalkan juga.

Diem-diem bae, ngobrol, napa!

7. Membuang klakson ke sembarang telinga.

Saya pernah mengalami, dua kali naik bus yang gaya pak sopir dalam hal membunyikan klakson adalah seperti membuang sampah bebunyian ke sembarang telinga. Klaksonnya kayak orang nge-rap, nyalipnya malah enggak. Kayak anak SMA tawuran. Gertak sambil muter-muter sabuk berkepala gir, lalu lari ngibrit ketika gertakannya “dibeli” oleh lawan.

Kejadian itu saya alami di perjalanan Tulungagung ke Surabaya, lalu dari Surabaya ke Besuki. Interval keduanya mirip, yakni membunyikan klakson antara per 9 hingga 10 detik. Saya yang beruntung dapat kursi terdepan, langsung menyesal naik bus itu, tapi enggak berani turun karena sudah bayar ongkos. Apes benar telinga ini.

Saya lantas bertanya di dalam hati. Sopir yang kelakuannya begini itu apa karena dia anggap karena membunyikan klakson itu gratis lantas dia bisa semena-mena membuang klakson ke sembarang telinga? Saya usul, sebaiknya, khusus sopir yang wataknya begitu, klaksonnya diletakkan di bumper belakang saja, disandingkan dengan mesin, biar saingan berisiknya.

Itulah 7 situasi menyebalkan yang tak pandang kelas bus. Mau yang ekonomi semacam bus Mustika, Mila Sejahtera, atau mau yang lebih bagus pun, tidak akan terhindar. Kalau yang paling menyenangkan tentu ada satu, yaitu ketika bus masuk ke area parkir rumah makan. Langsung terang mata ini.

  • 77
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles