[MOJOK.CO] “Masalah seks dan perhatian adalah dua motivasi paling umum pria selingkuh.”

Tulisan saya sebelum ini, “Pengakuan Lima Pria Mengapa Mereka Selingkuh”, membuat sebagian besar perempuan merasa waswas dengan pasangan mereka masing-masing. Timbul kekhawatiran bahwa semua pria memang berpotensi selingkuh dan bagaimanapun perempuan mengantisipasi, perselingkuhan akan tetap terjadi.

Inilah masalahnya: kita mengkhawatirkan apa yang belum terjadi dan repotnya kita sudah yakin pasti terjadi sebelum hal tersebut terjadi! Gue malah mengkhawatirkan pikiran yang demikian karena itu membuktikan orang merasa insecure dengan apa yang mereka jalani. Kita memang harus mengetahui alasan perselingkuhan dan memahami bagaimana hal itu dapat terjadi, tapi bukan lantas membuat kita tidak tidur nyenyak seolah besok pagi giliran kitalah yang menjadi korban perselingkuhan.

Dari lima responden yang kemarin ngobrol sama gue soal topik ini, mereka mengakui hal yang sama: seks dan perhatian adalah fokus pria saat dekat dengan perempuan. Dua hal itu juga yang mengikat mereka dengan istri masing-masing sehingga jika salah satu atau kedua hal ini tidak terpenuhi, akan membuat hubungan turun kualitas.

Saat kita bicara keharmonisan hubungan pria wanita, kita sungguh-sungguh sedang bicara tentang kondisi lahir batin dan skill seksual. Kalau ada perempuan yang menganggap remeh perkara membuat dirinya menarik dan berkualitas lahir batin, pasti karena perempuan itu tidak paham bahwa pria dapat bosan dan stuck menghadapi skill, penampilan, dan sikap pasangan yang monoton.

Kita perempuan hidup dengan manusia biasa berjenis kelamin pria yang kadang bisa memaklumi kekurangan kita dan kadang tidak, tergantung situasi dan kondisi. Mestinya, ini yang dipahami perempuan alih-alih mencemaskan pria mereka akan selingkuh.

Sampai di sini, pasti perempuan berpikir, “Jadi perselingkuhan terjadi karena salah saya?”

Jawabannya, setiap perselingkuhan terjadi karena turunnya kualitas hubungan pasangan tersebut. Sebuah hubungan mempunyai masa naik atau turun mengikuti kemajuan atau kemunduran kualitas dua orang di dalamnya. Jadi, kemajuan dan kemunduran itu yang harus disadari keduanya. Karena kita bicara hubungan pria wanita, maka kemajuan dan kemunduran ini terkait lahir dan batin keduanya.

Kita mestinya tidak cukup hanya berharap hubungan yang harmonis datang dari pasangan yang pengertian dan setia. Hubungan kan tanggung jawab berdua. Jika pasangan kita pengertian dan setia, kita sebaiknya tidak berhenti sampai di sana dan mengatakan ke semua orang, “Suami saya tidak punya masalah kok dengan saya. Hubungan kami baik-baik saja selama ini.”

Baca juga:  Dilema pada Komitmen dan Pertimbangan Risiko

Kita tentu senang mendengar ungkapan demikian dan berharap semua rumah tangga seperti itu sehingga masalah selingkuh tidak jadi isu nasional. Tapi, benarkah kita cukup berhenti sampai di sana karena telah puas dengan apa yang kita dapatkan dari pasangan dan telah yakin dengan yang ditunjukkan pasangan kepada kita?

Jika ya, maka tulisan ini tidak lagi berguna. Sayangnya, saat “Pengakuan Lima Pria Mengapa Mereka Selingkuh” kita baca, kita lebih banyak khawatir ketimbang yakin dengan hubungan yang kita jalani!

Berikut akan gue jabarkan bagaimana perselingkuhan ini sebenarnya. Gue merangkum tiga pertanyaan terbanyak yang gue terima dari topik ini. Pertanyaan datang dari pria dan wanita, jadi ini pertanyaan umum dari kedua gender ini.

Apakah pria pasti selingkuh?

Tidak ada kepastian pria pasti selingkuh sebagaimana tidak ada kepastian pria tidak selingkuh. Perselingkuhan terjadi dengan syarat-syarat yang berlaku—tidak pernah terjadi begitu saja tanpa adanya proses. Perselingkuhan memiliki tahap-tahap dan pria tahu mereka telah berselingkuh atau tidak karena tahap-tahap ini mudah dikenali. Jadi, jika dikatakan perselingkuhan terjadi tanpa disadari dan karena itu seseorang tidak tahu cara menghentikannya, itu lebih terdengar sebagai upaya ngeles.

Perselingkuhan tidak akan terjadi jika tanpa alasan. Karena seks dan perhatian adalah fokus pria saat dekat dengan perempuan, alasan ini pula yang menjadi motivasi dominan. Tapi, harus diingat, alasan seks dan perhatian yang jomplang, yang mendorong mereka mencari pemenuhan kepada perempuan lain, tidak akan muncul jika hubungan dengan pasangan diawali dengan ketegasan sikap. Komitmen yang dibangun dengan ketegasan sikap akan menumbuhkan rasa tanggung jawab dan keterlibatan lahir batin. Dua hal ini melindungi hubungan sampai kapan pun.

Ketika perempuan tidak mendapatkan secara penuh tanggung jawab dan keterlibatan lahir batin dari pasangan mereka, ini adalah indikasi hubungan mereka akan mudah digoyahkan pihak ketiga. Untuk mencegah perselingkuhan terjadi lewat jalan ini, caranya adalah dengan meningkatkan kualitas hubungan, bukan mencurigai pasangan. Kecurigaan dan kecemasan tidak melindungi suatu hubungan dari pihak ketiga. Sesungguhnya, musuh seorang kekasih bukanlah pihak ketiga, tapi diri mereka sendiri yang tidak cukup memiliki ketegasan sikap dan rasa tanggung jawab pada hubungan yang mereka jalani.

Baca juga:  5 Model Rambut Pria yang Populer, Diperagakan oleh Marno Blewah

Apakah perselingkuhan terjadi karena kekurangan si perempuan?

Sekali lagi: setiap perselingkuhan terjadi karena turunnya kualitas hubungan pasangan tersebut.

Sekali lagi: kualitas hubungan searah dengan kualitas pribadi dua orang dalam hubungan.

Artinya, apa pun yang terjadi dalam hubungan, kedua orang ini punya andil. Termasuk ketika hubungan rusak, baik perempuan maupun laki-laki berperan dalam kerusakan tersebut.

Jika perempuan selalu menyalahkan pria yang terkenal tidak setia, pria akan membela diri dengan alasan, ia tidak setia karena si perempuan punya kekurangan. Inilah asal muasal mengapa akhirnya perempuanlah yang terlihat menjadi sebab pria berselingkuh. Gue tidak menyarankan perempuan membuat dirinya terpojok dengan cara ini. Lebih baik memandang permasalahan dengan adil agar dirinya tidak menjadi korban dua kali.

Jika perselingkuhan telah terjadi dalam suatu hubungan dan pasangan tersebut masih ingin memperbaiki hubungan mereka, mulailah dengan memperbarui kualitas hubungan mereka. Mereka harus mampu mengevaluasi diri masing-masing: di bagian mana mereka mendorong pasangan masing-masing untuk merusak hubungan mereka sendiri?

Sebuah tudingan akan membuat marah orang yang bersalah sekalipun, sebab membela dirinya adalah sifat instingtif manusia. Kalau ingin ada penyelesaian dalam sebuah perselingkuhan, jangan mulai dengan tudingan, tapi dengan introspeksi.

Ini tidak mudah. Korban akan merasa, bukan tanggung jawab mereka untuk introspeksi. Kan mereka korban. Tapi, karena kita membahas hubungan pria wanita, tidak bisa tidak, apa pun posisi kita dalam tragedi hubungan ini, kitalah orang pertama yang dituntut mengalah jika masih ingin hubungan tetap baik.

Apakah orang ketiga harus disalahkan?

Kita hanya dapat menuntut orang ketiga dengan bukti-bukti perzinahan dan itu serta-merta akan menyeret pasangan kita sendiri. Cukup sampai di situ. Jangan semakin melukai diri sendiri, terutama harga diri kita, dengan menyerang orang ketiga.

Jika kita tidak dapat mengontrol diri kita dengan baik dalam urusan ini, masalah kita bertambah satu lagi. Kita dapat meminta dengan tegas kepada orang ketiga untuk menjaga sikapnya terhadap pasangan kita, tapi kita tidak dapat melakukan lebih keras lagi karena bagaimanapun, orang yang paling bertanggung jawab memasukkan orang ketiga ke dalam hubungan kita adalah pasangan kita sendiri.

Komentar
Add Friend
No more articles