Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Gunung Sampah TPST Piyungan Adalah Objek Wisata Andalan Jogja yang Siap Dikemas Lebih Cantik demi Menarik Wisatawan

TPST Piyungan bisa di-branding dengan nama wisata Gunung Sampah Pertama di Dunia. Sungguh istimewa sebuah daerah bernama Jogja. Menulis saja saya sudah terharu begini.

Fajar Junaedi oleh Fajar Junaedi
23 Juli 2023
A A
Merekam Temuan Pemulung di TPST Piyungan, Uang Dolar hingga Benda Keramat yang Bikin Sulit Kencing Gunung sampah Piyungan adalah objek wisata andalan Jogja. Elok, syahdu, wangi. TPST Piyungan pasti bisa mengalahkan Puncak Becici

Ilustrasi Gunung sampah Piyungan adalah objek wisata andalan Jogja. Elok, syahdu, wangi. TPST Piyungan pasti bisa mengalahkan Puncak Becici. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Gunung sampah Piyungan adalah objek wisata andalan Jogja. Elok, syahdu, wangi. TPST Piyungan pasti bisa mengalahkan Puncak Becici.

Perbukitan Piyungan adalah jalur yang asyik bagi saya untuk bersepeda. Berangkat dari rumah di area perbatasan Kalurahan Potorono dan Jambidan Jalan Pleret kilometer 1,5, saya biasanya mengayuh sepeda ke arah timur menyusuri jalan kampung di Potorono. Tidak sampai 500 meter, ada pemandangan indah khas Jogja. 

Iklan

Memandang ke arah selatan, perbukitan yang hijau menyejukan mata. Di tengahnya ada pemandangan putih berkilauan laksana perak yang memantulkan sinar matahari. Itulah bukit buatan manusia yang berjuluk Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan. Sampah-sampah plastik dan anorganik sejenisnya sepertinya yang membuat TPST terlihat berkilauan indah sekali.

Setelah menyeberangi jembatan gantung Ngampon yang melintang di atas Sungai Opak, sepeda lipat saya kayuh berbelok ke selatan. Pepohonan yang masih cukup lebat di pinggir jalan, dan letaknya yang berada di kaki perbukitan, menjadikannya jalur sejuk ini cukup populer di kalangan penggemar olahraga sepeda di Jogja. 

Menuju ke selatan, melewati pertigaan Jembatan Jlamprang, akhirnya kita akan menemukan satu titik yang selalu menjadi kontroversi di Jogja. Tentu Anda semua sudah paham dengan titik ini. Titik ini adalah segala keindahan sampah di Jogja.

Ingatan saya akan bukit indah bernama TPST Piyungan 

TPST Piyungan menjadi populer bukan hanya bagi warga Jogja, namun juga warga luar daerah istimewa ini. Ramainya linimasa dengan unggahan TPST Piyungan, dan diiringi masifnya pemberitaan mengenai sampah di menjadikannya semakin populer.

Beberapa kali saya masuk ke TPST Piyungan. Apa-apa yang saya tulis ini adalah rekaman ingatan saya saat masuk ke TPST Piyungan. Pertama, saat diajak sahabat dari Majelis Pemberdayaan Masyarakat Muhammadiyah memberikan bantuan kepada Komunitas Pemulung Mardiko. 

Komunitas ini beranggotakan lebih dari 400 orang. Sebagai sebuah komunitas berbasis akar rumput, komunitas ini adalah pejuang lingkungan sejati. Mereka memilah sampah di TPST, dengan risiko tinggi. Mereka bekerja di lingkungan kerja yang sangat tidak sehat bernama Jogja dan berebut dengan sapi saat mengais sampah. Perlu diketahui bahwa di TPST Piyungan, sapi-sapi dilepas memakan sampah yang baru dibongkar. 

Di samping para pemulung, di tingkat hulu, mulai terbentuk komunitas yang peduli sampah. Umumnya, mereka mengorganisir diri dalam dua bentuk, yaitu komunitas bank sampah dan komunitas sedekah sampah. 

Di dalam area TPST Piyungan, komunitas kampung terbentuk. Para pemulung membangun rumah di sekitar kompleks yang penuh sampah ini. Sebelum pandemi, saya pernah menjumpai sebuah warung angkringan berada di pusat pembongkaran sampah. 

Di samping warung ada sebuah tempat cuci tangan yang dikelola komunitas Mardiko yang dibangunkan oleh Lazismu. Bagi yang ingin wisata kuliner yang beda, minum kopi di dalam kompleks TPST Piyungan bisa menjadi pilihan. Sungguh luar biasa Jogja dengan segala wisata unggulan. Sebagai warga, saya sangat bangga. 

Gunung sampah Piyungan, objek wisata andalan Jogja

Saat sore hari, ada pemandangan yang indah. Sinar matahari yang memerah memantul di tumpukan sampah plastik. Buat para pemburu senja, berburu panorama di TPST Piyungan bisa menjadi bahan unggahan di media sosial yang elok. 

Memandang ke arah barat, tampaklah Kota Jogja dan sebagian Bantul. Dari dua daerah inilah, ditambah Kabupaten Sleman, sampah mengisi TPST Piyungan yang menyajikan pemandangan elok itu. Puncak Becici pasti minder bersaing dengan puncak gunung sampah khas Jogja.

Musim terbaik untuk mendapatkan pemandangan elok ini adalah saat musim kemarau. Di saat musim penghujan, jalanan menjadi licin oleh sampah yang berserak. Bau harus khas sampah lebih terasa di musim penghujan daripada di musim kemarau. Sungguh momen yang langka dan sangat disukai warga dan wisatawan. UNESCO pasti bangga dan siap menjadikan gunung sampah Jogja sebagai percontohan untuk negara maju.

Iklan

Mahasiswa saya pernah melakukan reportase di sana. Ada dua kelompok yang melakukan reportase setahun sebelum pandemi. Salah satu kelompok meliput tentang komunitas Mardiko, sedangkan satu kelompok lain meliput tentang problem sampah. Kami melakukan liputan dari pagi sampai magrib. Mendampingi kedua kelompok mahasiswa ini adalah perjalanan kedua saya ke TPST Piyungan.

Pengalaman indah di objek wisata andalan

Bagi mahasiswa, masuk ke TPST Piyungan merupakan pengalaman pertama dalam hidup. “Akhirnya saya tahu secara langsung TPST Piyungan yang sering viral,” begitu ujar mahasiswa yang asli Jogja. 

Ternyata, selama ini, TPST Piyungan memang hanya diketahui dari berita dan linimasa media sosial. Datang langsung, berjumpa dengan para pemulung, duduk di warung angkringan di dalam area TPST Piyungan menjadi perjalanan wisata bagi para mahasiswa.

Perjalanan terakhir saya ke TPST Piyungan terjadi di masa pandemi, dan pascapandemi. Dengan mengayuh sepeda, jalur di bawah gunung sampah menjadi jalur favorit. Saat ada blokade oleh warga, jalur jalan kampung yang lebih sepi bisa menjadi pilihan. Dari jalan Bawuran, sepeda bisa dikayuh menuju ke atas bukit di mana TPST Piyungan berada.

Jika tidak siap dengan bau sedap dari gunung sampah, ada jalur lain bersepeda. Bukit Sosok yang terkenal bisa menjadi pilihan. Bukit ini berada di sisi selatan TPST Piyungan. Dari puncaknya, kita bisa berfoto dengan latar belakang TPST Piyungan yang memantulkan sinar matahari melalui tumpukan sampah plastiknya yang menggunung. Syahdu sekali.

Panorama yang mungkin hanya ada di Jogja saja 

Sebagai sebuah unique selling point, panorama objek andalan ini tinggal dikemas menjadi call to action agar wisatawan berbondong-bondong datang. Lokasi TPST Piyungan yang tidak jauh dari berbagai objek wisata lain, seperti Puncak Becici, Puncak Sosok, dan sebagainya bisa menjadi potensi.

Potensi utama pengembangan TPST Piyungan sebagai objek wisata adalah wisata sosial. Maksudnya adalah sebagai objek wisata sosial tentang kegagalan tata kelola sampah sebuah daerah istimewa.  

Sambil bersepeda atau berjalan berkeliling gunung sampah, kita bisa berwisata tentang bagaimana sampah tidak berhasil diatasi dengan bijak dari hulu sampai hilir. Para pengunjung objek wisata ini pun tentu bukan main-main. 

Para pengambil kebijakan, pemerintah dari berbagai daerah dan pusat, lembaga swadaya masyarakat, organisasi masyarakat, siswa sekolah, dan bahkan turis mancanegara, bisa disegmentasi menjadi pengunjung objek wisata TPST Piyungan. 

Tujuannya tentu agar lebih menjual, bisa di-branding dengan nama wisata Gunung Sampah Pertama di Dunia. Sungguh istimewa sebuah daerah bernama Jogja. Menulis saja saya sudah terharu begini.

Penulis: Fajar Junaedi

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA TPST Piyungan Ditutup Lagi, Kapan Jogja akan Benar-benar Menemukan Solusi untuk Sampah yang Makin Melimpah? dan pengalaman menarik lainnya di rubrik ESAI.

Terakhir diperbarui pada 23 Juli 2023 oleh

Tags: BantulJogjamasalah sampah diypiyungansampah jogjaslemanTPST Piyungantpst piyungan ditutup
Fajar Junaedi

Fajar Junaedi

Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan sekretaris Lembaga Pengembangan Olahraga Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Artikel Terkait

Bupati Sleman, Harda Kiswaya, menyerahkan hibah daerah ke ormas, tempat ibadah, dan para seniman MOJOK.CO
Kabar

Hibah Pemkab Sleman untuk Ormas, Tempat Ibadah, dan Seniman: Serahkan Ratusan-Miliaran Juta untuk Dioptimalkan

10 Juli 2026
Senjakala Lapangan Sepak Bola di Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya.MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Senjakala Lapangan Bola di Kota Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya

9 Juli 2026
kebun sayur di kota jogja.MOJOK.CO
Kabar

Cara Warga Wirobrajan Hadapi Keterbatasan Lahan: Mengubah Tembok Kampung Menjadi Kebun Sayur

8 Juli 2026
Lapangan Bola di Kauman, Jogja. MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Lapangan Paving: Kemewahan yang Tersisa bagi Anak-anak Kota Jogja untuk Bermain Bola

7 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Setiabudi Jakarta Selatan, Work Life Balance.MOJOK.CO

Kawasan Setiabudi Strategis buat Ngekos, tapi Menyimpan Masalah yang Menyiksa Perantau Gen Z Jakarta

7 Juli 2026
Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik India menjalin kesepakatan kerja sama konservasi terhadap Candi Perwara Kompleks Candi Prambanan MOJOK.CO

Menerjemahkan Candi Prambanan sebagai Bukti Historis Hubungan Nusantara-India

8 Juli 2026
spmb 2025, zonasi.MOJOK.CO

Ketika SPMB Berubah Jadi Pasar Gelap Kursi Sekolah

6 Juli 2026
Yang Melelahkan bagi Disabilitas Tak Tampak Bukan Penyakitnya, tetapi Harus Terus Membuktikan Diri Sakit MOJOK.CO

Yang Melelahkan bagi Disabilitas Tak Tampak Bukan Penyakitnya, tetapi Harus Terus Membuktikan Diri Sakit

13 Juli 2026
Yamaha Gear Ultima, Motor Underrated tapi Tangguh: Andalan Para Ibu Rumah Tangga hingga Bikers Pecinta Touring.MOJOK.CO

Yamaha Gear Ultima, Motor Underrated tapi Tangguh: Andalan Para Ibu Rumah Tangga bahkan Cocok Bagi Bikers Pecinta Touring

12 Juli 2026
Senjakala Lapangan Sepak Bola di Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya.MOJOK.CO

Senjakala Lapangan Bola di Kota Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya

9 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.