Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Tokoh Sastra Paling Berpengaruh di Galapagos dan Otak yang Seukuran Kacang Polong

Dea Anugrah oleh Dea Anugrah
26 Oktober 2014
A A
Tokoh Sastra Paling Berpengaruh di Galapagos dan Otak yang Seukuran Kacang Polong MOJOK.CO

Tokoh Sastra Paling Berpengaruh di Galapagos dan Otak yang Seukuran Kacang Polong MOJOK.CO

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Ada bajingan megalomaniak yang mensponsori proyek penulisan buku 666 Tokoh Sastra Dalam Negeri Paling Berpengaruh. Namanya dimasukkan.

Pertengahan 1957, Lawrence Ferlinghetti dan Shigeyoshi Murao dari penerbit City Lights yang menerbitkan buku Allen Ginsberg (tokoh sastra), Howl and Other Poems, ditangkap dengan tuduhan menyebarkan kecabulan.

Pada bulan Oktober tahun yang sama, Pengadilan Tinggi California menyatakan bahwa buku karya tokoh sastra tersebut “punya signifikansi sosial” dan dengan demikian “tidak cabul”. Ferlinghetti dan Murao selamat. Howl and Other Poems dikenal luas serta dianggap sebagai salah satu kumpulan puisi terpenting abad 20.

Peristiwa itu setidaknya menunjukkan dua hal: Pertama, planet ini tidak pernah kehabisan stok moralis. Kedua, negara mestinya ada untuk segenap warga, bukan sekadar alat bagi mayoritas.

Kita boleh sebal kepada orang-orang terbelakang yang menuding Howl sebagai perusak moral generasi muda, tapi tak bisa tidak menghargai kesediaan mereka untuk tampil dan beradu argumentasi. Kita bisa melihat: kedua belah pihak punya rasa hormat terhadap kebebasan.

Di Indonesia, peristiwa semacam itu tentu tidak perlu ada. Kita punya sistem yang jauh lebih efisien. Anda pengin satu-dua buku karya tokoh sastra hilang dari peredaran?

Datangi saja kantor penerbitnya beramai-ramai, bawa bensin dan obor dan batu dan bambu runcing dan nama Tuhan (jika di rumah ada gamis atawa daster arab, pakai saja, itu nilai lebih), niscaya penerbitnya akan membakar buku yang tidak Anda inginkan tersebut dengan gembira. Lebih gembira ketimbang saat mereka menerbitkannya.

Jangan cemas, Anda tidak akan dianggap mengganggu ketertiban. Anda senang buku dibakar, penegak hukum senang karena Anda penuh pengertian. Menyelenggarakan pengadilan itu merepotkan dan tidak murah. Buku karya tokoh sastra? Ayolah, Pengadilan punya banyak urusan yang lebih penting. Pencemaran nama baik, misalnya.

Pengadilan atas buku, apabila diselenggarakan secara benar, tentu banyak gunanya.

Bayangkan situasi seperti ini:

Ada bajingan megalomaniak yang mensponsori proyek penulisan buku 666 Tokoh Sastra dalam Negeri Paling Berpengaruh. Sebagai ganti uang yang dikeluarkan, tokoh sastra ini ingin namanya turut dimasukkan sebagai salah seorang tokoh. Mungkin ia berpikir itu bukan masalah, toh namanya cuma butuh satu dari 666 kapling yang tersedia. 665 nama lain boleh siapa saja dan atas alasan apa saja.

Tapi kau tidak sependapat dengannya. Kau sudah membaca seluruh karya sastra dalam bahasa nasionalmu yang perlu dibaca dan paham apa-apa yang terjadi sepanjang sejarah kesusastraan negerimu, dan menurutmu, bajingan megalomaniak itu sama sekali tak layak dapat tempat. Jangankan satu entri, satu baris dalam catatan kaki pun tidak. Karyanya buruk sekali (seekor iguana bahkan bisa menulis lebih bagus) dan yang ia kerjakan selama ini hanyalah menyelenggarakan lomba-lomba dan menerbitkan jurnal yang tidak ada manfaatnya.

Kesimpulanmu, orang itu penipu besar dan berniat memanipulasi sejarah sastra lewat buku tersebut. Kau bisa menuntut, misalnya, supaya buku tersebut tidak masuk ke sekolah-sekolah dan dinyatakan sebagai sumber yang tidak otoritatif untuk pelajaran kesusastraan. Kau bisa mempertahankan pendapatmu di pengadilan. Kecuali Pengadilan menganggap manipulasi dan pembodohan bukan masalah, kecil kemungkinan tuntutan itu mental.

Tapi itu contoh ekstrem saja.

Iklan

Indonesia memang belum terbiasa menyelenggarakan pengadilan untuk buku, tapi situasi seburuk itu mustahil terjadi di sini.

Kecuali di Galapagos, seluruh penghuni planet ini mengalami evolusi. Bentuk fisik dan kecerdasan makhluk hidup berkembang bersama proses panjang tersebut.

Hanya di Galapagos, hewan-hewan hari ini tak ada bedanya dengan nenek moyang mereka dua ribu tahun silam.

Hanya manusia dengan kecerdasan dua ribu tahun silam, dan otak seukuran kacang polong, yang sanggup menjadi bajingan megalomaniak seperti dalam ilustrasi di atas. Beserta para pendukungnya.

Dan apabila dukungan itu sampai berupa usaha-usaha memenjarakan orang yang tidak sependapat, lebih-lebih dengan alasan konyol semacam pencemaran nama baik, bisa dipastikan bahwa perkembangan otak si pendukung lebih lamban seribu tahun dibandingkan yang didukung—tiga ribu tahun di belakang manusia normal. Otaknya, menurut perkiraan kasar, maksimum seukuran biji sawi belaka.

BACA JUGA Betapa Tidak Enaknya Jadi Mahasiswa Sastra Indonesia dan tulisan lainnya di rubrik ESAI.

Terakhir diperbarui pada 1 Maret 2021 oleh

Tags: 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh di IndonesiaDenni JASastraSaut SitumorangTokoh SastraTokoh Sastra Paling Berpengaruh
Dea Anugrah

Dea Anugrah

Artikel Terkait

JILF 2025 Mojok.co
Kilas

JILF 2025 Angkat Isu Sastra dan Kemanusiaan

15 November 2025
Usung tema Rampak. Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2025 jadi ruang temu dan kolaborasi MOJOK.CO
Seni

Festival Sastra Yogyakarta 2025 Tak Sekadar Pertunjukan, Pikirkan Nasib Sastrawan hingga Melahirkan Penulis Baru

28 Juli 2025
Memilih Pindah Jurusan dari Sastra ke Pendidikan Gara-Gara Dicap Madesu, Mahasiswa UNY Ngenes Karena Nasib Guru Ternyata Lebih Suram.MOJOK.CO
Kampus

Mahasiswa Sastra Pindah ke Jurusan Kependidikan di UNY Gara-Gara Dicap Madesu, Menyesal Karena Tahu Nasib Guru Lebih Ngenes!

25 Mei 2024
Workshop Penulisan Tiba Bersua Dorong Masyarakat Ciptakan Karya Sastra MOJOK.CO
Kilas

Workshop Penulisan Tiba Bersua Dorong Masyarakat Ciptakan Karya Sastra

23 Oktober 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Adegan horor tiap awal bulan di kehidupan dewasa. Gajian ludes seketika karena kebutuhan MOJOK.CO

Awal Bulan di Kehidupan Dewasa Itu Horor: Setelah Gajian Gaji Langsung Ludes di Kalkulator

2 Juni 2026
Curhat dan ziarah di makam ibu, tempat terbaik pulang tanpa penghakiman MOJOK.CO

Curhat di Makam Ibu Dianggap Lebay dan Sia-sia, Tapi Jadi Tempat Pulang Terbaik yang Penuh Makna dan Rasa Lega

5 Juni 2026
Sejumlah titik ruas jalan rusak di Jawa Tengah (Jateng) dapat perbaikan di 2026 MOJOK.CO

Jalan Rusak di Jawa Tengah Dapat Perbaikan di 2026: Rusak Berat Diprioritaskan, Pengerjaan Dilarang Asal-asalan

5 Juni 2026
Pengalaman Kuliah di Polandia, Eropa Sambil Jadi Tour Guide. MOJOK.CO

Pengalaman Kuliah di Eropa Sambil Jadi Tour Guide bikin Enggan Kembali ke Tanah Air, tapi Tak Ada Jalan Lain Selain Pulang

4 Juni 2026
Ilustrasi hidup.MOJOK.CO

Sejatinya Manusia Hidup untuk Mengakali Kematian

2 Juni 2026
pekerja kantoran.MOJOK.CO

Akal-akalan “Kantor adalah Keluarga”, Menguras Mental dan Menggerogoti Karier

4 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.