MOJOK.COMenerjemahkan perilaku absurd karakter Patrick Star di serial SpongeBob SquarePants, justru menunjukkan banyak nilai moral tersembunyi.

Patrick Star adalah teman dari sosok protagonis, SpongeBob si celana kotak. Kita semua kenal dengan karakter ini, tapi apakah kita betul mengerti pola pikirnya?

Saya mencoba lebih memahami tentang Patrick ini lewat pseudo-filsafat yang akan saya bawa untuk menjelajah ke dalam pikiran Patrick. Tolong kenakan sabuk pengaman, mari kita mulai.

Pada suatu waktu SpongeBob pernah berkunjung ke mimpi Patrick Star. Cukup mengejutkan, ternyata Patrick bermimpi sedang menaiki semacam kuda-kudaan, cuma yang ini versi kuda laut.

Kendati demikian, SpongeBob menjelaskan kalau dalam mimpi, Patrick bisa menjadi apa saja dan menjadi siapa saja. Dari berlipat ganda sampai menjadi gedung. Namun segala bujuk rayu SpongeBob ditolak mentah-mentah.

“Yups,” kata Patrick sembari tetap menikmati kesenangannya.

Melihat adegan tersebut, saya teringat akan dialog Diogenes dengan Raja Alexander.

“Kamu bisa meminta apapun kepadaku Diogenes. Harta, jabatan, apapun itu,” kata Raja Alexander.

“Bisakah kamu menyingkir?” kata Diagones yang mengejutkan Raja Alexander, “kamu menghalangi hangat matahari yang sedang kunikmati.”

Dari dialog sederhana itu, bisa kita simpulkan bahwa Diogenes dan Patrick sebenarnya merupakan seorang sinisme. Seseorang yang punya cara hidup bukan berdasarkan obsesi akan materi dan reputasi semata.

Patrick Star merupakan karakter penuh sinisme. Hal itu ditunjukkannya dengan cara menolak persepsi masyarakat atas kebahagiaan yang artifisial atau melulu soal kesuksesan finansial.

Oke, mungkin banyak dari kita yang menilai kalau itu tindakan konyol, tapi kalau kita selami perilaku Patrick Star yang konsisten seperti itu, jelas tidak ada konyol-konyolnya sama sekali. Justru dengan begitulah Patrick bisa menikmati kehidupan. Setidaknya lewat tiga kata ajaib: syukur, sabar, dan ikhlas.

Seperti ketika Flying Dutchman memberinya empat permintaan, padahal Patrick hanya mau minta tiga permintaan saja. Lalu Patrick berkata, “Permintaan, permintaan, seandainya aku tahu lebih awal.”

Permintaan itu pun dituruti, dan waktu dimundurkan satu detik.

Hal semacam ini dikenal sebagai kemampuan super dalam penguasaan diri akan kebutuhan. Patrick secara refleks langsung mampu melawan konsumerisme hedonis. Perilaku ini pun sering dikenal sebagai tindakan “Kebajikan Stoic”, di mana hasrat kebutuhan akan pengetahuan lebih kuat ketimbang hasrat bersifat material.

Baca juga:  Menghitung Aset Kekayaan Plankton, CEO Chum Bucket, Musuh Bebuyutan Mr. Krabs

Ada pula adegan di mana otak Patrick Star tertukar dengan terumbu karang yang membuatnya jadi jenius. Masalahnya, Patrick justru merasa tidak bahagia dengan kecerdasannya. Apalagi ketika Patrick menyadari kalau kecerdasan ternyata bisa mengurangi kebahagiaan.

Patrick Star pun memutuskan untuk menukar kecerdasannya dengan kebahagiaan. Menukar otak jeniusnya agar bisa terus bermain bersama sahabatnya. Langkah yang terkesan tidak cerdas, tapi cukup rasional sekaligus sangat bermoral.

Patrick merasa dirinya lebih baik menjadi bodoh tapi bermanfaat bagi sahabatnya, ketimbang menjadi jenius tapi merugikan orang banyak. Apalagi, mesti diingat pula, keputusan Patrick ini diambil saat dirinya berada di posisi punya otak super-jenius.

Oleh sebab itu, saya akan menolak ketika kalian menyebut perilaku Patrick Star ini bodoh. Dia cukup rasional ketika menimbang untuk menukar pengetahuan dengan kebahagiaan. Dia cukup moralis ketika menukar kemanfaatan ketimbang keegoisan.

Patrick merasa orang cerdas cenderung membawa kesengsaraan di sekitarnya. Plankton misalnya, cerdas tetapi hanya membawa kesengsaraan pada sekitarnya. Atau Eugene H. Krabs alias Tuan Krabs, yang cerdas tetapi selalu mengeksploitasi pegawainya.

Tidak ingin mengulangi kesalahan para orang cerdas yang memanfaatkan kepintarannya, Patrick pun lebih memilih prinsip moralnya.

Patrick menyadari akan sisi manusiawinya yang penuh emosi, rapuh akan terpaan moralitas yang coba berlindung atas justifikasi ilmu pengetahuan. Patrick yang baik, Patrick yang filosofis.

Pada sebuah adegan di mana Patrick bekerja di sebuah warteg bernama Krusty Krab, Patrick Star, misalnya, kesan seperti itu kembali muncul. Saat itu Patrick menjawab pertanyaan telepon dari pelanggan Krusty Krab.

“Apa ini Krusty Krab?” tanya seorang pelanggan yang mau pesan.

“Bukan, ini Patrick!” telepon ditutup. Lalu telepon berdering lagi.

Adegan berlanjut hingga tiga kali, tapi jawabannya tetap sama, “Bukan, ini Patrick!!!”

Pada dialog ini seharusnya kita mengerti apa yang coba Patrick ingin sampaikan kepada dunia: Inilah aku (Patrick)!

Tidak seperti SpongeBob yang terjebak oleh tipu daya kuasa modal sosok Eugene Krabs, tidak pula menjadi Squidward yang penuh keterpaksaan akan pekerjaannya, Patrick punya prinsip yang berbeda.

“Bukan, ini Patrick!” adalah kata yang kuat dan penuh persona akan karakter Patrick Star. Bahkan hal ini menjadi sebuah penegasan akan eksistensi yang tak akan bisa direnggut oleh apapun. Termasuk dari tempat kerjanya.

Baca juga:  Pemirsa Televisi Indonesia Dikasih Sampah, Eh, Minta Nambah

“Ini Patrick!” juga menjadi slogan yang mirip seperti Karl Marx dalam buku Manuskrip Ekonomi dan Filsafat 1844. Patrick menjadi perwakilan penolakan alienasi kapitalisme dan borjuis terhadap eksistensi kelas proletar.

Patrick ingin menjadi manusia (human being) yang dinilai sebagai individu merdeka—bukan menjadi karyawan yang hanya berharga berdasarkan produktivitasnya saja, bukan menjadi objek yang hanya menjadi sebatas alat produksi untuk meraup keuntungan.

Namun lebih jauh, dia ingin diapresiasi sebagai subjek yang berkuasa atas dirinya dan pekerjaannya, sebagai kontributor inovasi dari tempatnya bekerja. Ya, dia ingin menjadi Patrick. Tidak lebih dan tidak kurang.

Rasanya sangat banyak cara hidup Patrick yang sudah kita hiraukan dan remehkan selama ini. Namun meskipun kita coba menggali lebih dalam, kita hanya akan mencari-cari makna, tenggelam, dan larut di dalam pemikiran serta perilaku Patrick.

Patrick juga pernah membawa khazanah ilmu pengetahuan yang disebut “wumbo”.

Bagi yang kurang mengerti wumbo bisa simak dialog Patrick ini, “…aku wumbo, kamu wumbo, dia (perempuan/laki-laki) wumbo, wumbo’u, setelah wumbo, wumboing, ingin menjadi wumbo, wumbologi; ingin belajar wumbo? Itu tingkat pertama, SpongeBob.”

Menakjubkan sekali bukan ketika kita mempelajari sesuatu? Bahkan filsafat sebenarnya hanyalah bagian kecil dari wumbo. Dan kita akan kembali lagi mempelajari wumbo melebihi teori apapun yang menjelaskan segala disiplin ilmu. Apapun itu.

Kita akan bertemu dengan banyak misteri dari pemikiran Patrick. Seperti katanya saat menyembunyikan kotak rahasia dari SpongeBob. Dia berkata, “The inner mechanism of my mind are an enigma.”

Kiranya kalimat itu sudah merangkum seluruh dialektika pemikir dari berbagai bidang yang mempelajari konsep pikiran entah itu psikologis-neorulogi ataupun filsafat.

Ini bukan hanya permainan gramatikal; leksikal kata yang ambigu (univocal). Namun kalimat ini adalah pengejawantahan dari segala konklusi; baik itu secara teoritis ataupun praktis.

Kalimat tersebut jika premis-premisnya ditarik dan didekonstruksi maka interpetasinya akan menghasilkan revolusi pada pemikiran metafisik-epistemologi.

Sebelumnya, tanpa mengurangi kapasitas Anda sekalian, saya hanya beranggapan bahwa presuposisi dan asumsi pribadi kita masih sangat rendah daripada Patrick Star. Meski begitu kita dapat menjadikannya sebagai teladan di dunia yang penuh kepalsuan ini.

BACA JUGA Menghitung Aset Kekayaan Plankton, CEO Chum Bucket.