MOJOK.CO – Ketika Kylian Mbappe menjadi Juara Dunia pada usia 19 tahun, gambaran soal Pele muncul di kepala beberapa orang. Meski begitu, tidak di kepala saya. Justru gambaran Ronaldo di Barcelona 1996 yang keluar saat menyaksikan anak muda ini berlari.  

Cukup mudah melihat potensi seorang anak jago bermain sepak bola atau tidak saat kita masih bermain kala kanak. Dalam kenangan saya saat bermain di pematang sawah, pinggir jalanan, sampai parkiran masjid. Ada tiga tingkatan seorang anak bermain bola pada situasi tersebut.

Pertama, anak yang tidak punya kesempatan di sepak bola sama sekali sejak bola pertama kali menyentuh kakinya. Gerakannya lemah dan lambat saat bergerak. Kaki mereka seperti membawa beban kelewat berat. Bahkan gerakan robot Asimo pun jauh lebih baik.

Anak-anak seperti ini—maaf—sudah barang tentu tempatnya akan di belakang. Menjadi seorang pemain bertahan atau kiper. Posisi yang dipilihkan, karena teman-temannya tidak enak hati melarangnya bermain, lalu memberinya posisi yang dianggap tidak terlalu berguna bagi tim.

Lalu, kedua, ada anak-anak yang punya fisik kuat tapi sentuhannya berantakan. Tendangannya kencang bukan main. Punya postur—hampir—seperti orang dewasa. Kokoh, pintar gocek sana-sana atau cuma merasa bisa gocek. Jika di muka gawang dalam keadaan yang kosong masih akan menendang bola sekencang-kencangnya. Merasa kekuatan kakinya sekuat Gabriel Batistuta.

Anak yang selalu berambisi jadi pencetak gol dan akan marah-marah jika mendapat umpan tidak sempurna. Bermain dengan hasrat dan semangat meluap-luap tak terkira, seperti merasa kalau setiap bermain sepak bola, semuanya adalah Final Piala Dunia. Anak yang masih punya kesempatan—kalau orang tuanya mampu mendaftarkan ke sekolah sepak bola yang tepat untuknya. Tapi anak ini bisa jadi lebih berbakat di bidang asuransi atau bank daripada jadi atlet sepak bola.

Lalu, ketiga, golongan terakhir. Anak kurus, lincah, dan punya lari cukup kencang. Anak yang akan jadi idola semua teman-temannya jika satu tim, sekaligus jadi pemain yang paling diwaspadai ketika menjadi lawan tim. Saking jagonya, kadang kalau tim lawan sedang kalah terlalu mencolok, si anak paling jago ini akan ditransfer dadakan—hanya demi skor permainan bisa sedikit berimbang saja.

Anak ini jelas akan mudah populer. Di manapun berada. Di kampung, di kota, di sekolah. Mau main bola? Oh, sebentar, kita harus ajak seorang teman. Dia jago. Dan ajakan main bola akan muncul dari mana-mana. Semua teman ingin mengajaknya bermain. Seolah keberadaannya mampu menularkan bakat ke semua anak-anak di timnya. Benar-benar anak yang disukai semua orang.

Dan anak itu bernama: Kylian Mbappe.

Perjalanan hidup seorang Mbappe bak dongeng. Bahkan lebih sempurna dari cerita Cinderella. Pada usia ketika kebanyakan kita masih sibuk memilih film apa yang akan ditonton bersama pacar pada akhir pekan, Mbappe sudah memulai debut di klub besar Perancis, AS Monaco. Namanya dibicarakan pada musim pertamanya berlaga di Liga Champions. Bahkan seorang legenda seperti Gianluigi Buffon merasa perlu menaruh perhatian khusus kepada remaja ini.

Dua tahun kemudian, Mbappe sudah bikin iri seluruh remaja di Perancis. Dibeli mahal oleh Paris Saint Germain (PSG). Bermain bersama penyerang-penyerang terbaik di muka bumi. Serta panggilan timnas Perancis untuk Piala Dunia setahun kemudian. Panggilan yang bagi pemain profesional seperti berangkat haji. Puncak dari karier seorang pemain sepak bola.

Baca juga:  PSSI dan Indra Sjafri Mencoreng Arang ke Kening Sendiri

Keberadaan Mbappe di timnas Perancis awalnya cukup meragukan—khususnya bagi saya. Pemain ini terlalu muda untuk mengemban nomor 10. Nomor yang saat Mbappe masih berbentuk kromosom sedang dikenakan penari balet terindah sepanjang masa atas nama Zinedine Zidane. Memercayakan nomor tersebut kepada seorang remaja berusia 19 tahun? Pfft, yang benar saja kau, Didier Deschamps.

Dari pembelaan saya, keraguan yang sama akan kemampuan Mbappe tidak hanya dari saya, tapi juga dari Pelatih timnas U-17, Jean-Claude Giuntini. Mbappe dianggap sebagai pemain yang tidak konsisten, dan enggan untuk terlibat pada pertahanan. Pada Piala Eropa U-17 di Bulgaria, nama Mbappe tidak masuk dalam rencana. Giuntini lebih suka Odsonne Eduard (sekarang main di Glasgow Celtic). Hasilnya? Tim muda Perancis juara dengan Eduard yang muncul sebagai top skor. Terlihat langkah yang tepat bukan?

Hal tersebut terus belanjut untuk timnas Perancis U-18, Mbappe kembali tidak dipanggil. Sampai kemudian Ludovic Batelli, pelatih timnas U-19 memanggilnya tanpa ragu. Dari kacamata Batelli, Mbappe menunjukkan bakat yang terlalu cepat untuk usianya. Benar-benar anugerah tak terhingga bagi Perancis memiliki kaki cepat Mbappe. Di saat yang bersamaan Batelli juga sudah mendapatkan Ousmane Dembele, seorang pemain cepat lain yang bahkan tidak bisa membedakan mana kaki terkuatnya.

Mbappe pun masuk timnas U-19 Perancis, usianya baru 17 tahun, dan Perancis juara Eropa sekali lagi untuk timnas junior pada kategori umur yang berbeda. Dongeng sempurna.

Di Final Piala Eropa U-19 saat bermain melawan Italia (menang 4-0), Batelli tidak bisa menyembunyikan kepuasaannya bisa memanggil Mbappe. “Dia juga membuat gerakan sombrero untuk mempermalukan pemain Italia saat mencetak gol keempat,” kata Batelli.

Jika Anda lupa apa itu gerakan sombrero, itu adalah gerakan melewatkan bola di atas kepala pemain lawan. Gerakan yang biasa dilakukan Neymar.

Namun bukan itu yang membuat saya harus merevisi keraguan akan kemampuan Mbappe. Keraguan atas remaja ini runtuh saat menyaksikan anak ini mampu memporak-poranda pertahanan Argentina di pentas sebesar Piala Dunia dengan gerakan yang lebih sederhana. Cukup lari kencang tak terhentikan dari tengah lapangan. Ayolah, itu kan cuma teknik biasa saja, tapi tidak jika di kaki yang dianugerahi kecepatan dan kemampuan menjaga sentuhan bola itu tetap terkendali.

Menyaksikan adegan ini, ingatan saya mendadak kembali pada video pertandingan Barcelona melawan Campostela pada 1996. Saat itu, ada seorang pemain berkepala plontos bertubuh kekar, menggiring bola dari tengah lapangan. Benar-benar tidak terhentikan—bahkan oleh tarikan baju seorang pemain bertahan sekalipun.

Kecepatan sekaligus sentuhannya begitu luar biasa. Sampai adegan ini diakhiri dengan gol, Boby Robson, pelatih Barcelona saat itu, berdiri dari bench. Memegang kepalanya tak percaya dengan peristiwa yang baru saja terjadi di hadapannya.

“Anda dapat pergi ke mana pun yang Anda mau di dunia dan Anda tidak akan pernah menemukan pemain yang bisa mencetak gol seperti itu,” kata Robson.

Baca juga:  Real Madrid Kolektif dan Tujuan Team Bonding yang Dilakukan Arsenal

Yes, Sir, pemain itu bernama Ronaldo Luiz Nazario de Lima.

Bagi saya, puncak dari karier Ronaldo, the real Ronaldo, adalah saat dirinya masih di Barcelona. Meski gelar yang dicapai tidak mentereng. Hanya Piala Winner, Copa Del Rey, dan Piala Super Spanyol. La Liga? Maaf, saat itu Barcelona belum sekuat saat diperkuat Ronaldinho. Tapi apa yang dipertontonkan Ronaldo benar-benar bikin semua orang berdecak kagum. Bagaimana kaki sekokoh itu bisa bergerak secepat itu? Bagaimana mungkin anak semuda ini sudah bisa memimpin klub sebesar Barcelona seorang diri?

“Sekarang kita terbiasa melihat (Lionel) Messi menggiring bila melewati enam pemain, tapi tidak saat itu,” kenang Luis Enrique saat berada di lapangan yang sama.

Tahun 1996 adalah tahun terbaik Ronaldo. Dia adalah—sampai saat ini—jadi satu-satunya, pemain yang mendapat gelar Pemain Terbaik Dunia versi FIFA ketika masih berusia 20 tahun. Gabungan antara kecepatan, sentuhan, dan tenaga meledak-ledak pada usia muda benar-benar jadi kombinasi mengerikan bagi pemain bertahan.

Kecepatan ini kembali muncul pada sosok yang harus dihentikan oleh Marcos Rojo saat memasuki kotak penalti Argentina dan berbuah penalti untuk keunggulan pertama Perancis. Laga yang dimenangkan Perancis dalam anak tangga menuju gelar juara dunia.

Meskipun menjuarai Piala Dunia untuk kedua kalinya bagi Perancis, kita harus akui bersama kalau rencana serangan balik anak asuh Deschamps ini sama sekali tidak canggih. Benar-benar old fashion. Cuma biarkan lawan menguasai bola. Buat ruang yang cukup lebar untuk Mbappe bisa berlari. Cukup, itu saja. Tidak ada kombinasi umpan satu dua sentuhan rumit seperti gaya Carlo Ancelotti atau Jose Mourinho. Cara Deschamps benar-benar jauh lebih old school lagi.

Descamps tahu betul. Pemain mudanya ini belum sematang Ronaldo pada Piala Dunia 1998. Mbappe terlihat begitu istimewa di kompetisi lokal karena dibantu Neymar dan Edinson Cavani di PSG, tapi di Perancis? Olivier Giroud dan Antoine Griezmann tidaklah seistimewa itu.

Satu-satunya langkah logis adalah meredam kemegalomaniakan Paul Pogba yang terlalu sering show off dengan sengaja kehilangan bola dan memanfaatkan paru-paru muda serta kaki enerjik Mbappe. Biarkan bola masuk ke pertahanan, patahkan, lalu letakkan bola pada ruang kosong. Tidak perlu khawatir bola terlalu kencang, ada Mbappe yang bisa mengejarnya.

Cara bermain sederhana ini terbukti ampuh. Pada babak gugur pertandingan Perancis di Piala Dunia 2018 yang mereka menangkan, tidak sekalipun Deschamps memaksakan timnya untuk menguasai bola terlalu lama. Tiki-taka oper sini oper sana itu basi, sudah jadi bagian dari masa lalu. Deschamps menggunakan taktik yang tidak berani dilakukan Aime Jacquet saat memiliki Thierry Henry pada Piala Dunia di rumah mereka sendiri 20 tahun lalu.

Deschamps mengembalikan lagi, bagaimana asyiknya bermain bola kepada anak-anak di seluruh Perancis. Bagaiman berlari dan berlari menggiring bola tanpa perlu dipusingkan dengan tanggung jawab mempertahakan penguasaan bola. Keasyikan-keasyikan yang muncul dari kaki-kaki lincah Kylian Mbappe. Persis seperti keasyikan yang dirasakan anak-anak saat percaya bahwa kaki mereka sama kencangnya dengan kaki Ronaldo Luiz Nazario de Lima pada masa kejayaannya.