Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran

Bachtiar W. Mutaqin oleh Bachtiar W. Mutaqin
22 April 2026
A A
Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran MOJOK.CO

Ilustrasi Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kata pejabat pemerintah: “Kita mencontoh Belanda! Tanggul laut mereka sukses menyelamatkan negara!” Iya, Pak, betul. Tapi tolong catat: Pantura itu bukan Amsterdam, dan bapak-bapak sekalian jelas bukan Meneer Belanda.

Setiap kali para pejabat negara dan elite pemerintahan berkumpul di ruangan ber-AC untuk membahas nasib rakyat pesisir, saya selalu menyiapkan hati untuk tidak emosi.

Tempo hari, Pak Prabowo memimpin rapat terbatas untuk mempercepat pelaksanaan megaproyek Giant Sea Wall atau Tanggul Laut Raksasa di pesisir utara Jawa. Bapak Pengelola Otorita Pantura juga bilang kalau sekarang udah dalam tahap perencanaan untuk persiapan konstruksinya. Saya cuma bisa menghela napas panjang.

Sebagai wong kalahan yang pernah menetap di Semarang dan kakinya lebih sering terendam air rob ketimbang air hangat bathtub hotel bintang lima, jujur saja, saya merasa proyek ini cukup absurd.

Ibarat melihat orang pas hujan deras dan rumahnya kebanjiran karena gentengnya bocor, tapi alih-alih mbenerin genteng, dia malah sibuk mbangun pagar di halaman rumah. Pagarnya mewah, megah, menghabiskan anggaran hingga triliunan rupiah, tapi ya, mohon maaf, nggak tepat sasaran, Ndan!

Tembok raksasa dan efek plasebo pejabat

Kalau Anda bertanya kepada para pakar ekologi pesisir, saya yakin mereka akan menjawab bahwa proyek ini sebenarnya nggak penting-penting amat.

Pertama, kita perlu melihat kondisi Pantura. Bagaimana ia punya pantai yang landai, materialnya dominan pasir dan lumpur yang sebagian besar dibawa oleh sungai dan akhirnya ngumpul di dekat pantai.

Kedua, masalah gelombang atau ombak. Gelombang di Pantura lho, nggak tinggi-tinggi amat. Riset dari Undip juga udah bilang kalau tinggi gelombang rata-rata mentok di bawah 2 meter. Kalau dalam konteks paparan gelombang, ini masuk kategori terlindungi. Beda dengan pantai selatan Jawa yang ombaknya bisa dipakai untuk selancar.

Logikanya gini lho, tanggul beton raksasa itu baru masuk akal kalau kamu punya pantai yang landai dan ombak di depan rumahmu tingginya di atas dua meter. Lah ini di Pantura…

Lalu, kenapa pemerintah ngotot setengah mati ingin bikin tanggul raksasa? Jawabannya sederhana: efek plasebo.

Ada lho penelitian dari Rangel-Buitrago dan Neal yang membuktikan kalau opsi beton ini dipilih murni karena alasan psikologis. Ia menyebabkan efek plasebo karena mampu memberikan “perlindungan” yang instan dan kasat mata. Secara psikologis, beton raksasa ini sukses memberikan ilusi bahwa masalahnya udah beres.

Wujud tanggulnya ada, kelihatan megah, bisa dipegang dan digambari grafiti, tapi penyakit utamanya masih ada dan dibiarkan membusuk. Sayangnya, pejabat kita itu, harus diakui, suka banget sama hal-hal begini. 

Ada proyeknya, ada tendernya yang panjang, ada tumpukan beton yang nantinya bisa diresmikan pakai potong pita dan gunting emas sambil diliput stasiun TV nasional.

Bayangkan kalau solusi yang diambil adalah penataan zonasi pesisir yang ketat, atau penanaman mangrove secara ugal-ugalan. Pejabat mana coba yang mau difoto pas lagi di kubangan lumpur dan waktu nanam mangrove?

Iklan

Selain itu, mari kita jujur-jujuran aja soal motif ekonomi di balik tanggul laut raksasa. Tanggul laut dibangun untuk melindungi keuntungan ekonomi kawasan. Masalahnya, nilai manfaat ekonomi yang dilindungi ini sangat bergantung pada seberapa mahal “harga tanah” di balik tanggulnya.

Jadi, pertanyaan berikutnya: tanggul raksasa ini sebenarnya dibangun untuk melindungi rumah-rumah reyot milik warga pesisir yang saban hari tergenang rob, atau justru hanya untuk melindungi aset-aset korporat dan kawasan industri raksasa yang nilai tanahnya triliunan rupiah itu?

Yang nyedot air tanah di Pantura siapa, yang disuruh nahan laut siapa

Ini adalah bagian yang paling bikin kita merasa sedang dikibuli berjamaah oleh sistem.

Salah satu alasan kenapa Pantura daratannya terus-menerus amblas dan tenggelam itu bukan cuma karena perubahan iklim njuk lautnya tiba-tiba ngamuk kayak di film Aquaman. Tapi ada faktor lain yang memperparah, yaitu penurunan muka tanah atau land subsidence.

Ibaratnya, tanah di Pantura itu adalah kue bolu yang baru matang. Masih anget dan belum keras kayak rengginang. Nah, di atas kue bolu ini, dibangunlah pabrik-pabrik raksasa, kawasan industri, gedung-gedung bertingkat.

Sudah bebannya seberat dosa koruptor, industri-industri ini dengan rakusnya menyedot air tanah dalam-dalam karena biayanya dianggap jauh lebih murah daripada harus berlangganan PDAM atau mengolah air hujan.

Logika bodohnya begini. Anda punya kasur air di kamar trus airnya disedot pakai pompa listrik. Di atas kasur, Anda taruh dipan dan kulkas dua pintu. Sudah pasti kasurnya ambles tak bersisa. Itulah yang sedang terjadi di Pantura. Belum lagi ketambahan dengan fenomena naiknya permukaan laut akibat perubahan iklim. Tambah ambyaaar…

Tapi apa yang dilakukan pemerintah? Alih-alih menertibkan tata ruang wilayah dan melarang industri-industri besar itu menyedot air tanah secara ugal-ugalan, mereka malah cuma menyalahkan air laut tok.

Asap pabrik yang bikin bumi tambah panas, air cepat terkuras, dan bangunannya yang bikin tanah makin ambles, eh lautnya yang dihukum dan dikurung pakai tembok. Sungguh dark comedy birokrasi kelas wahid.

Baca halaman selanjutnya

Laut yang dikadali, nelayan Pantura yang mati berdiri

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 22 April 2026 oleh

Tags: banjir panturapanturapemerintahtembok laut
Bachtiar W. Mutaqin

Bachtiar W. Mutaqin

Dosen Geografi UGM dan peneliti tamu di Guilin University of Technology. Tertarik dengan isu-isu lingkungan dan perubahan iklim.

Artikel Terkait

Pengendara motor plat K ngga ngerti fungsi zebra cross, lampu, sein, hingga spion MOJOK.CO
Catatan

Pengendara Plat K Tak Paham Fungsi Zebra Cross-Spion, Cuma Jadi Pajangan dan Abaikan Keselamatan Orang saat Bawa Kendaraan

7 Maret 2026
Dilema Genteng Tanah Liat: Sejuk di Jogja, tapi Jadi Horor di Sumatera Barat MOJOK.CO
Esai

Dilema Genteng Tanah Liat: Sejuk di Jogja, tapi Jadi Horor di Sumatera Barat

11 Februari 2026
Banjir di Muria Raya, Jawa Tengah. MOJOK.CO
Mendalam

Saat Warga Muria Raya Harus Kembali Akrab dengan Lumpur dan Janji Manis Awal Tahun 2026

20 Januari 2026
Ngerinya jalan raya Pantura Rembang di musim hujan MOJOK.CO
Catatan

Jalan Pantura Rembang di Musim Hujan adalah Petaka bagi Pengendara Motor, Keselamatan Terancam dari Banyak Sisi

12 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Orang Desa Nggak Cocok Jadi PNS Jika Tak Punya Ilmu Menjilat Atasan. MOJOK.CO

PNS Tinggalkan Suasana Slow Living di Desa karena Muak dengan Teman Kantor yang Suka Menjilat Atasan, Ujungnya Malah Bernasib Lebih Buruk

17 April 2026
Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja MOJOK.CO

Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja

20 April 2026
Derita orang Jember kerja di Jakarta: teralienasi karena dianggap tertinggal MOJOK.CO

Orang Jember Kerja di Jakarta: Mencoba Berbaur tapi “Tersisihkan”, Dianggap Tertinggal dan Tak Tersentuh Pendidikan

16 April 2026
Tidak bisa jadi PNS/ASN kalau tidak mau terima gaji buta sebagai CPNS

PNS Dianggap Pekerjaan Mapan karena Bisa Makan Gaji “Buta”, tapi Aslinya Mengoyak Hati Nurani

16 April 2026
Sesal pernah kasar ke bapak karena miskin. Kini sadar setelah ditampar perantauan karena ternyata cari duit sendiri tidak gampang MOJOK.CO

Sesal Dulu Kasar dan Hina Bapak karena Miskin, Kini Sadar Cari Duit Sendiri dan Berkorban untuk Keluarga Ternyata Tak Gampang!

21 April 2026
Suzuki Satria FU, motor yang pernah bikin penunggangnya merasa paling tampan tapi kini memalukan MOJOK.CO

Dulu PD Paling Tampan dan Jadi Idaman saat Naik Motor Suzuki Satria FU, Kini Malah Geli dan Malu karena Ternyata Jamet

22 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.