Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran

Bachtiar W. Mutaqin oleh Bachtiar W. Mutaqin
22 April 2026
A A
Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran MOJOK.CO

Ilustrasi: Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Laut yang dikadali, nelayan Pantura yang mati berdiri

Sekarang mari kita lihat dampak dari ego raksasa berbentuk beton ini.

Alam itu punya cara kerjanya sendiri. Kalau Anda membangun tembok raksasa, tentu saja bakalan mengubah pola pergerakan arus, gelombang, dan juga sedimen. Air laut dan sedimen yang tertahan tembok itu nggak akan tiba-tiba menguap jadi debu ajaib. Mereka pasti akan mencari jalan lain.

Iklan

Dampaknya apa? Wilayah yang nggak dilindungi tembok akan menjadi korban hantaman abrasi yang jauh lebih masif.

Kalau Anda nggak percaya, silakan buka Google Maps sekarang. Lihat dan amati sisi timur dan barat Kota Semarang, atau di sisi timurnya Kota Jakarta. Anda akan melihat dengan sangat jelas bagaimana abrasi menggerogoti daratan seperti tikus kelaparan.

Membangun tanggul laut di satu titik sama saja dengan memindahkan bencana ke kampung sebelah. Kita ini sedang bermain lempar batu sembunyi tangan dengan alam semesta, dan percayalah, alam tidak pernah kalah.

Lalu, bagaimana nasib ekosistem pesisirnya?

Mangrove, padang lamun, dan terumbu karang itu bukan sekadar hiasan akuarium raksasa. Mereka adalah tempat ikan-ikan memijah, kawin, berkembang biak, dan mencari makan. Tembok raksasa ini berpotensi menghilangkan tempat tumbuh habitat alami tadi. Kalau “rumah” para biota laut ini rata dengan beton, ikan-ikan bakal minggat.

Imbasnya langsung memukul objek penderita abadi di negeri ini: nelayan tradisional.

Bagi nelayan kecil yang kapalnya cuma muat dua orang dan modalnya pas-pasan, laut adalah sawah mereka. Kalau ikan-ikannya hilang karena rumahnya digusur proyek raksasa, mereka mau cari ikan ke mana? Ke tengah samudra pakai perahu dengan mesin Dongfeng itu?

Tembok raksasa ini mungkin mengamankan aset-aset pabrik di pinggir pantai, tapi secara perlahan membunuh mata pencaharian nelayan kita.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Sindrom londo dan mimpi kesiangan menyamakan Pantura dengan Amsterdam

Bagian paling menggelikan dari semua narasi megaproyek ini adalah kiblat pemikirannya. Pejabat kita sering kali membusungkan dada sambil bilang, “Kita akan mencontoh Belanda! Tanggul laut mereka sukses menyelamatkan negara!”

Iya, Pak, betul. Tapi tolong catat: Pantura itu bukan Amsterdam, dan bapak-bapak sekalian jelas bukan Meneer Belanda.

Konteks lokal, geografi, tata kelola air, dan kedisiplinan penegakan hukum lingkungan kita itu berbeda bagai bumi dan langit. Mengadopsi teknologi asing secara plek jiplek entah mengapa adalah sindrom akut birokrasi kita.

Dalam konteks ancaman perubahan iklim yang multidimensi, tanggul raksasa ini bukanlah solusi jangka panjang. Ia cuma monumen keangkuhan yang menolak beradaptasi.

Iklan

Masih banyak opsi yang jauh lebih efisien dan ramah lingkungan. Misalnya pelarangan penggunaan air tanah yang berlebihan oleh industri, perbaikan dan pengetatan tata ruang, atau mengembalikan fungsi ekosistem. Tapi sayang, hal-hal itu tak bisa digunting pitanya di depan kamera.

Jadi, bersiaplah saja melihat uang pajak kita menjelma menjadi beton raksasa yang pada akhirnya tak mampu menyelamatkan kita dari mara bahaya.

Penulis: Bachtiar W. Mutaqin
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Demak dan Kudus (Hampir) Tenggelam, Banjir Besar Membuat Warga Putus Asa dan Putus Harapan dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 22 April 2026 oleh

Tags: banjir panturapanturapemerintahtembok laut
Bachtiar W. Mutaqin

Bachtiar W. Mutaqin

Dosen Geografi UGM dan peneliti tamu di Guilin University of Technology. Tertarik dengan isu-isu lingkungan dan perubahan iklim.

Artikel Terkait

Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda MOJOK.CO
Esai

Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda

10 Juli 2026
Malang Santai Sayang, tapi Kritik Tak Lagi Santai MOJOK.CO
Esai

Malang Santai Sayang, tapi Kritik Tak Lagi Santai 

26 Juni 2026
Jawa Tengah dan Bappenas bersinergi dalam percepatan pembangunan infrastruktur di Pantura dan Pansela MOJOK.CO
Kilas

Pembangunan Infrastruktur Pantura dan Pansela Jadi Prioritas karena Jateng Punya Banyak Potensi Ekonomi

9 Juni 2026
4 jenis pengendara motor di pantura seperti Rembang yang harus dilarang nyetir motor di jalan raya MOJOK.CO
Catatan

4 Jenis Pengendara Motor di Pantura yang Harus Diwaspadai di Jalan Raya: Top Level Ngawur dan Tak Tahu Aturan!

23 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Anak-anak bermain bola di Pelataran Masjid Gedhe Kauman, Kota Jogja. MOJOK.CO

Ketika Lapangan Hijau Berbayar Kalah Mewah dengan Paving Gratis Masjid Kauman

11 Juli 2026
Rekonstruksi kasus penganiayaan pelajar berujung meninggal di Jalan Yos Sudarso, Gondokusuman, Kota Jogja (depan SMA 3 Yogyakarta) MOJOK.CO

Gambaran Jelas Penganiayaan Pelajar di depan SMA 3 Yogyakarta dalam 21 Adegan Rekonstruksi

9 Juli 2026
Dalam Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum, Najwa Shihab berpesan pada para mahasiswa penerima Djarum Beasiswa Plus agar terus menulis (esai) apapun profesinya MOJOK.CO

Pesan untuk Gen Z: Menulislah Apapun Kelak Profesinya, Tak Lupa Akar di Manapun Posisinya

7 Juli 2026
Lapangan Bola di Kauman, Jogja. MOJOK.CO

Lapangan Paving: Kemewahan yang Tersisa bagi Anak-anak Kota Jogja untuk Bermain Bola

7 Juli 2026
Derita anak magang atau PKL SMK: diperlakukan sebagai pekerja penuh waktu hingga ikut lembur dan dibentak-bentak MOJOK.CO

Magang SMK Tak Dibayar tapi Jadi Tenaga Kerja Serabutan, Ikut Lembur hingga Dibentak-bentak kalau Ada Kesalahan

9 Juli 2026
Saat mengantar anak mencari kos untuk persiapan kuliah di PTN Jogja: anak antusias jadi mahasiswa baru (maba), orang tua justru menyimpan kecemasan yang tidak hanya persoalan UKT mahal MOJOK.CO

Saat Antar Anak Cari Kos dan Tak Sabar Jadi Maba, Ortu Tampak Antusias tapi Diam-diam Sembunyikan Cemas

8 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.