Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Sisi Kelam di Balik Wajah Purworejo yang Tenang dan Damai

Akhmad Alhamdika Nafisarozaq oleh Akhmad Alhamdika Nafisarozaq
25 November 2025
A A
Sisi Kelam di Balik Wajah Purworejo yang Tenang dan Damai MOJOK.CO

Ilustrasi Sisi Kelam di Balik Wajah Purworejo yang Tenang dan Damai. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Usia produktif lebih memilih merantau

Perantauan sudah seperti “ritual wajib” bagi sebagian besar pemuda Purworejo. Apalagi Jogja berada begitu dekat. Cukup naik Prameks dengan tarif yang bahkan tidak sampai setengah harga es kopi kekinian, sudah bisa merantau.

Kota besar seperti Jakarta jadi tujuan berikutnya. Akibatnya, banyak desa atau kelurahan di Purworejo yang “sunyi generasi muda”. Waktu kumpul teman lama, yang datang biasanya itu-itu saja. Yang lain sudah menyebar ke dunia luar, baik untuk kerja maupun pendidikan. 

Beberapa orang tua bahkan sudah pasrah. Mereka merelakan anak-anaknya pergi karena merasa daerah belum mampu memberi harapan yang setara.

Ruang publik Purworejo yang terbatas

Purworejo memang punya taman kota, alun-alun, dan beberapa ruang publik lain. Namun, dari sudut pandang warganya, ruang-ruang itu belum terasa “hidup”. Bahkan belum menjadi titik kumpul yang benar-benar menciptakan aktivitas dan interaksi yang variatif. 

Beberapa warga membandingkannya dengan tempat-tempat rekreasi di kabupaten tetangga. Khususnya yang mulai ramai dan berkembang. 

Padahal, ruang publik yang hidup bisa menjadi percepatan ekonomi kecil-kecilan. Misalnya, pedagang kaki lima akan tumbuh, komunitas berkegiatan, sampai acara sederhana yang bisa memancing kunjungan warga dari luar. Semua itu baru terasa kurang ketika diamati dari dekat.

Purworejo belum bisa memaksimalkan potensi wisata

Padahal punya pantai selatan, perbukitan Menoreh, sampai situs sejarah. Namun, geliat wisata Purworejo masih terasa pelan. 

Beberapa warga bahkan suka membandingkan dengan Kebumen. Tahukah kamu, belakangan ini, Kebumen mulai menunjukkan taringnya melalui berbagai event besar. Bahkan, Kebumen mendapatkan pengakuan dari dunia melalui UNESCO Global Geopark Kebumen. 

Di Purworejo, masalahnya bukan kurang destinasi, tapi pengelolaannya yang belum konsisten atau optimas. Ada tempat bagus, tapi aksesnya bikin orang bertanya, “ini wisata apa jalur offroad?” 

Ada spot yang sempat viral, tapi tidak ada kelanjutan pengembangannya. UMKM sekitar pun belum semua tersambung dengan ekosistem wisatanya. Sekilas sepele, tapi kalau sektor wisata tidak bergerak, banyak potensi ekonomi yang ikut “tidur”.

Industri kreatif yang masih minim apresiasi

Beberapa event kreatif, seperti konser kecil, pameran seni, pertunjukan komunitas pernah digelar di Purworejo. Namun, banyak di antaranya yang kurang mendapat apresiasi. Penontonnya sedikit, gaungnya kecil, dan promosi tidak tersebar luas.  

Teman saya bercerita bahwa Purworejo berbeda jauh dengan Jogja. Masyarakat Jogja, mau yang asli maupun pendatang, menunjukkan antusiasme dengan datang ke berbagai acara seni atau kreatif. Bahkan acara kecil tetap mendapat sambutan antusias. 

Hal ini membuat pegiat kreatif lokal Purworejo sering merasa kurang mendapat dukungan. Padahal, daerah yang hidup secara kreatif biasanya akan memantik hal-hal lain: wisata, kuliner, UMKM, komunitas, dan seterusnya.

Pola pikir yang menghambat

Salah satu hal menarik adalah soal respons generasi tua terhadap perubahan. Banyak orang sepuh di Purworejo yang sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini. Sampai-sampai setiap ada pembaruan kecil saja, respons mereka cenderung skeptis. 

Iklan

Misal, ketika ada rencana pembukaan Mie Gacoan, komentar yang muncul justru, “Mending mie ayam depan gang. Lebih enak.” 

Padahal, persoalannya bukan soal mie mana yang lebih enak. Ini soal bagaimana kota bisa berkembang secara ekonomi dan sosial lewat hadirnya brand baru. Ketika pola pikir stagnan terlalu mengakar, perkembangan berjalan sangat pelan. Akhirnya, generasi muda yang ingin perubahan merasa tidak punya cukup ruang untuk berproses.

Kenyataan di balik Purworejo yang tenang

Melihat Purworejo hanya dari jalur lintas memang membuatnya tampak adem ayem dan tenang. Tapi, setelah bersentuhan langsung dengan warganya, cerita-cerita yang muncul justru menunjukkan bahwa ketenangan itu menyimpan banyak hal yang perlu pembenahan. 

Dan pada akhirnya, apa yang terjadi di Purworejo bukanlah cerita eksklusif satu daerah. Daerah lain termasuk Kebumen, bisa belajar dari keresahan ini. Bukan untuk saling membandingkan, tapi menyadari bahwa setiap daerah punya PR masing-masing. 

Mungkin sudah saatnya daerah-daerah di pesisir selatan Jawa ini berhenti saling “melihat rumput tetangga”. Saatnya mulai menata rumputnya sendiri. Karena kalau tetangga maju, daerah sendiri ikut terdorong. Dan kalau satu daerah berkembang, kawasan lain ikut bergerak.

Penulis: Akhmad Alhamdika Nafisarozaq

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Suka Duka yang Saya Rasakan Selama Tinggal di Purworejo Bagian Selatan dan kenyataan pahit lainnya di rubrik ESAI.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 25 November 2025 oleh

Tags: alun-alun purworejoJogjakarier di purworejokebumenmasalah di purworejoPurworejoumkm purworejo
Akhmad Alhamdika Nafisarozaq

Akhmad Alhamdika Nafisarozaq

Pekerja. Asli Kebumen.

Artikel Terkait

Penjual kue putu di Jogja. MOJOK.CO
Ragam

Kegigihan Gunawan Jualan Kue Putu di Kota-kota Besar selama 51 Tahun agar Keluarga Hidup Sejahtera di Desa

14 Januari 2026
Kos horor di Jogja.MOJOK.CO
Ragam

5 Tahun Tinggal di Kos-kosan Horor Jogja: Gajiku Lebih “Satanis” dari Tempat Tinggalku

12 Januari 2026
Dosen Profesi Nelangsa, Gaji Kalah sama Ngajar Anak SD (Unsplash)
Pojokan

Gelap Masa Depan Dosen, Lulusan S2 Jogja Mending Ngajar Anak SD di Surabaya yang Lebih Menjanjikan dari sisi Gaji

12 Januari 2026
Mobilitas bus pariwisata menjadi tantangan tersendiri bagi Kawasan Sumbu Filosofi (KSF) dan tata kelola di Jogja MOJOK.CO
Liputan

Lalu-lalang Bus Pariwisata Jadi “Beban” bagi Sumbu Filosofi Jogja, Harus Benar-benar Ditata

10 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Momen haru saat pengukuhan Zainal Arifin Mochtar (Uceng) sebagai Guru Besar di Balai Senat UGM MOJOK.CO

Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri

16 Januari 2026
Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut MOJOK.CO

Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut

14 Januari 2026
Jombang itu kota serba nanggung MOJOK.CO

Jombang Kota Serba Nanggung yang Bikin Perantau Bingung: Menggoda karena Tenteram, Tapi Terlalu Seret buat Hidup

12 Januari 2026
Gotong royong atasi tumpukan sampah Kota Semarang MOJOK.CO

Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang

16 Januari 2026
nongkrong di kafe, jakarta selatan.MOJOK.CO

Nongkrong Sendirian di Kafe Menjadi “Budaya” Baru Anak Muda Jaksel Untuk Menjaga Kewarasan

14 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.