Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Seni Mengkritik Anies Baswedan ala Komedian Ernest Prakasa

Haris Firmansyah oleh Haris Firmansyah
23 Juli 2019
A A
Kritik Anies Baswedan ala Ernest MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sebagai komedian, jelas Ernest Prakasa juga butuh dihibur. Mungkin, salah satu hal yang bisa menghiburnya dengan mengkritik Anies Baswedan.

Ada yang bilang komedian adalah profesi yang kerjanya menghibur orang lain, tapi sebenarnya dirinya sendiri lebih butuh dihibur. Orang yang paling kencang tertawanya adalah yang paling dalam kesedihannya. Ah, masa iya?

Kemudian tersiar berita Nunung Srimulat tertangkap basah sedang mengonsumsi narkoba jenis sabu. Mendengar kabar Mbak Nunung yang menangis ketika ditangkap polisi, kita pun mengiyakan bahwa komedian memang yang paling butuh dihibur. Terkadang, yang menyedihkan, hiburannya justru berbentuk hal terlarang. Salah satu contohnya adalah narkoba yang kita sepakati sebagai barang haram. Contoh lainnya, mengidolakan politisi secara berlebihan.

Lain pelawak kelompok (Srimulat), lain pelawak tunggal (Stand Up Comedy). Jika Mbak Nunung kecanduan sabu, Ernest Prakasa kecanduan mengkritik Anies Baswedan. Di akun Twitter pribadinya, Ernest tertangkap layar telah share berita lawas tentang Pemprov DKI yang beli dua pohon asal Afrika seharga 1,5 miliar. Lanjutnya, “Jakarta banyak polusi, solusinya penghijauan. Bener dong? Bener nggak sih?”

Sebenarnya, Ernest sedang melakukan satir dengan menyundul berita kedaluwarsa tersebut. Sekalian menimpali polemik Getah Getih yang diprakarsai oleh Anies Baswedan yang belakangan kembali jadi polemik.

Opini pun tergiring kepada sebuah narasi: belum cukup menghamburkan uang untuk anyaman, ditambah beli pohon supermahal segala. Nggak bener nih.

Sayang, cuitan Ernest telah dihapus begitu tahu bahwa pengadaan pohon itu dilakukan saat pemerintahan Ahok-Djarot. Kenapa sih dihapus, Koh? Toh di cuitan itu Koh Ernest hanya bertanya.

Hemat saya, daripada dihapus, mending ditimpali lagi:

“Bener dong! Kita mesti dukung apa yang dilakukan oleh Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta dalam gerakan penghijauan ini. Harga udara bersih memang semahal itu, Guys.”

Selesai.

Biarkan penafsiran dikembalikan kepada sobat Twitter.

Gaya satir itu zona hijau untuk melakukan kritik. Kemegahan Bahasa Indonesia sudah memberikan fasilitas berupa majas yang satu ini. Sebuah bekal untuk kita gunakan menyampaikan kritik dengan cara main cantik.

Misalnya, Ernest Prakasa bilang Pemrov DKI Jakarta sangat peduli dengan seni sampai menggelontorkan anggaran luar biasa banyak hanya untuk sebuah anyaman bambu yang masa berlakunya kurang dari setahun.

Orang yang kontra dengan pemerintah bakalan mengerti bahwa Ernest sedang menyindir kebijakan gubernur yang dirasa tidak efektif. Eh, orang yang pro pemerintah juga bisa mengartikan bahwa Ernest sedang memuji kehebatan gubernur rasa presiden kebanggaannya.

Iklan

Nggak usah pedulikan kalau nanti malah ada yang salah tafsir. Kubu satu menilai Ernest sudah pindah haluan menjadi Teman Anies. Di saat yang sama kubu satunya sadar junjungannya sedang dikritik. Inilah risiko dari pemakaian kata-kata bersayap yang punya efek samping multitafsir. Yang jelas mereka yang tidak paham dan justru marah-marah itu memang bukan target dari tulisan satir. Fokus saja dengan segmen pasar.

Gara-gara cuitan yang dihapus, Ernest dirundung oleh pejuang keadilan (media) sosial. Benar kata Anies Baswedan, semua ini tentang keberpihakan. Jelaslah Ernest memang berpihak kepada Ahok. Namun, karena fanatik, kritikannya tidak berimbang, hal itu menjadi sasaran empuk pihak lawan.

Ditambah Ernest mencuit tentang prediksinya selepas Prabowo berdamai dengan Jokowi: para penyusup demokrasi kini berbaris rapat di belakang satu tokoh yang siap menghalalkan segala cara termasuk memecah belah bangsa.

Sudahlah resmi Ernest menabuh genderang perang terhadap pendekar keadilan sosial. Padahal tahun 2024 masih setengah dekade lagi. Nyolong start-nya sungguh kebangetan.

Sebagai pembaca buku, pendengar stand up comedy, dan penonton film Ernest Prakasa, saya bisa mengerti mengapa beliau begitu membela Ahok. Sebab Anies pernah mengalahkan Ahok di pilgub, otomatis Ernest pun menganggap Anies sebagai lawan.

Seorang Ernest Prakasa tumbuh besar di zaman orde baru dimana diskriminasi terhadap suku Tionghoa masih kental. Ernest kerap dirisak karena identitasnya. Bahkan di film Ngenest, Ernest sampai takut punya anak karena nggak mau kalau nanti anaknya mengalami masa kecil yang sama dengannya sebagai keturunan Tionghoa.

Lalu, muncul Basuki Tjahaja Purnama. Ahok adalah simbol harapan. Terlebih bagi warga minoritas. Ahok memberikan contoh bahwa orang Tionghoa juga bisa jadi penguasa di pemerintahan. Kabar gembira ini juga dirasakan oleh Ernest. Ernest bisa mengucapkan selamat tinggal kepada kenangan buruk masa kecilnya yang penuh pengalaman diskriminatif.

Di suatu kesempatan, Ernest pernah membawakan materi stand up comedy yang memprediksikan karier politik Ahok: jika Jokowi maju pilpres dan menang jadi presiden, maka Jakarta bakalan punya gubernur cina, yaitu Ahok. Tak lama kemudian, prediksi Ernest itu terbukti.

Dari situ Ernest membongkar rahasia bahwa selama ini dia adalah bagian dari organisasi bawah tanah Illucinati (Illuminati KW buatan Cina). Tentu saja ini hanyalah guyon.

Ernest juga memprediksi kalau Ahok bisa jadi presiden setelah mendampingi Jokowi sebagai wapres. Entah ini prediksi atau harapan dari lubuk hati yang terdalam. Namun, Ernest harus kecewa. Ahok belum maju pilpres, sang idola tersandung kasus dengan Monas dan angka 212.

Ahok yang gagal meraih karier tertinggi di dunia politik tanah air adalah kesedihan Ernest Prakasa. Selama ini, kita (kita???) tertawa menonton film-film Ernest setiap akhir tahun, tapi tak tahu jika sang kreator menyimpan kesedihannya sendiri. Maka, caranya menghibur diri adalah dengan mengkritik Anies Baswedan sang pengganti Ahok. Demi membuktikan bahwa politisi idolanya dulu jauh lebih baik.

Sampai akhirnya itu jadi candu.

Barangkali di antara kita (kita???) ada yang begitu juga. Mengkritik setiap kebijakan pemimpin pilihan orang lain untuk menghibur diri bahwa pilihan kita yang seharusnya menang. Sebab pilihan kita selalu benar.

Terakhir diperbarui pada 23 Juli 2019 oleh

Tags: ahokAnies BaswedanErnest Prakasakritiksatire
Haris Firmansyah

Haris Firmansyah

Pegawai Bank Ibukota. Selain suka ngitung uang juga suka ngitung kata.

Artikel Terkait

Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO
Esai

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
Hairus Salim: Mengkritik Karya Pram dan Tiga Kata Kunci Mengenal Karya Pram
Video

Hairus Salim: Mengkritik Karya Pram dan Tiga Kata Kunci Mengenal Karya Pram

18 Maret 2025
Mahasiswa UIN Alauddin Makassar yang kena skors karena kritik kampus. MOJOK.CO
Ragam

Beasiswa Lenyap dari Tangan Gara-gara Kawal Kebijakan Kacau UIN Makassar

31 Oktober 2024
Sialnya Warga Banjarsari Solo, Dekat Rumah Jokowi tapi Jadi Langganan Banjir Gara-gara Proyek Jokowi.MOJOK.CO
Esai

Surat Terbuka untuk Jokowi 2014, Tolong Selamatkan Kami dari Jokowi 2024

13 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pesona Gerabah Lukis Khas Klaten di Festival Sepeda Internasional, Sukseskan Misi Kebudayaan yang Memukau Bule.MOJOK.CO

Pesona Gerabah Lukis Khas Klaten di Festival Sepeda Internasional, Sukseskan Misi Kebudayaan yang Memukau Bule

4 Juni 2026
Cara Jawa Tengah (Jateng) menjaga inflasi dan ketersediaan pangan MOJOK.CO

Cara Jawa Tengah Jaga Inflasi dan Ketersediaan Pangan agar Harga Terkendali dan Keterjangkauan Pangan bagi Masyarakat Terjamin

10 Juni 2026
Nestapa Anjing di Jogja: Dibuang Sarjana yang Baru Wisuda atau Jadi Sengsu di Atas Meja MOJOK.CO

Nestapa Anjing di Jogja: Dibuang Sarjana yang Baru Wisuda atau Jadi Sengsu di Atas Meja

8 Juni 2026
Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) perlu menghidupkan kembali adab yang selama ini menjadi ciri khas pesantren, tidak cukup perbaikan sistem MOJOK.CO

NU Perlu Hidupkan Tata Krama Organisasi di Tengah Dinamika yang Semakin Kompleks, Perbaikan Sistem Saja Tak Cukup

7 Juni 2026
Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia MOJOK.CO

Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia

8 Juni 2026
Ide Usaha Minyak Jelantah: Kotor, tapi Untung Jutaan per Bulan MOJOK.CO

Bisnis Pengepul Minyak Jelantah: Ide Usaha yang Nggak Populer tapi Bisa Untung Jutaan per Bulan

9 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.