Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Saya Menyelesaikan Tesis Pascasarjana dengan Modal Cuma Rp120 Ribu, Dapat Nilai A Pula

Modal ngerjain tesis saya cuma Rp120 ribu. Dapat nilai A dan lulus pascasarjana dengan mulus.

Alexander Arie oleh Alexander Arie
2 September 2021
A A
Saya Menyelesaikan Tesis Pascasarjana dengan Modal Cuma Rp120 Ribu, Dapat Nilai A Pula MOJOK.CO

Saya Menyelesaikan Tesis Pascasarjana dengan Modal Cuma Rp120 Ribu, Dapat Nilai A Pula MOJOK.CO

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Menempuh pendidikan pascasarjana di masa pandemi memang pengalaman menarik, apalagi pas bikin tesis. Beda banget jika dibandingkan ketika saya memperoleh gelar sarjana belasan tahun silam. Yah, pada dasarnya, kuliah ketika sudah menyandang status bapak tentu berbeda dengan saat masih bujangan nggak laku.

Dulu, galau muncul kalau SMS nggak dibalas gebetan, sekarang galaunya kalau dapat WhatsApp dari bank mengingatkan kalau cicilan KPR belum dibayar. Dulu, kuliah sambil antar, jemput, lalu makan bareng jodoh orang, sekarang sambil bermain dan nyuapin anak.

Pada mulanya, saya ngebayangin akan bikin tesis paling mutakhir, sesuatu yang “wah”. Apalagi, saya menempuh pendidikan pascasarjana dengan bantuan beasiswa. Saya dapat dana yang lebih dari cukup untuk bikin tugas akhir sebagus mungkin.

Apa daya, dengan bantuan candaan para pejabat di awal kehadirannya, infeksi SARS-CoV-2 sukses mengubah tatanan dunia. Tentu saja termasuk menggeser perspektif saya tentang tesis.

Ingat, mau namanya tesis, tugas akhir, skripsi, sampai disertasi, ia hanya akan bisa disebut baik ketika diselesaikan. Sekali lagi, tesis yang baik adalah tesis yang selesai.

Ada satu “keunggulan” tesis di masa pandemi, setidaknya di kampus saya, yakni tidak perlu mengumpulkan print out sama sekali. Bahkan sampai tahap akhir, format tugas akhir yang dikumpulkan adalah pdf. Berkaca dari skripsi saya dahulu kala yang sangat boros kertas, kebijakan semacam ini sangat menyenangkan.

Dan sebenar-benarnya saya bisa bilang kalau saya sama sekali tidak pernah mencetak satu lembar pun bagian dari tesis dalam proses menyelesaikan pendidikan pascasarjana. Pohon-pohon pasti bangga, entah kalau taipannya.

Hemat kertas, sudah. Tahap kedua, yang perlu dikondisikan, adalah penelitian tanpa harus keluar rumah. Tentu cara saya ini tidak bisa dilakukan mahasiswa pascasarjana di semua jurusan. Namun, saya mencoba memberi insight betapa media sosial menyediakan data berlimpah. Jika tidak malas merangkainya, tentu akan menjadi sebuah penelitian menarik.

Pilihan yang saya ambil adalah menganalisis konten media sosial berikut komentar-komentar yang menyertainya. Dalam perspektif administrasi publik, media sosial pemerintah bisa disebut sebagai bagian dari e-government dan komentar-komentar “netizen yang selalu benar” adalah bagian dari citizen engagement. Sudah dua teori besar administrasi publik yang terlibat dan sudah sangat cukup untuk menjadi sebuah tesis.

Metode penelitian yang saya gunakan adalah mixed method. Jadi, data dari media sosial dianalisis terlebih dahulu secara kuantitatif, kemudian diperdalam dengan kualitatif melalui wawancara. Tadinya malah cuma mau kuantitatif saja. Namun, saat sidang proposal, bapak dosen penguji memberi tantangan untuk menambahkan elemen wawancara itu.

Terlepas dari semakin sulitnya mengambil data di media sosial, terutama sejak kejadian Cambridge Analytica pada Facebook, selalu ada cara untuk memperoleh data yang diharapkan.

Ketika kondisi hampir mentok, tinggal masuk ke YouTube dan mengetik kebutuhan kita. Saran saya: pakai Bahasa Inggris. Di situ kita akan menemukan begitu banyak mas-mas India menawarkan solusi pada berbagai kebutuhan kita, terutama yang terkait dengan penggunaan aplikasi komputer, sudah termasuk bahasa pemrograman.

Satu-satunya kesempatan saya keluar uang yang spesifik untuk tesis adalah ketika membayar sekitar 8 dolar Amerika pakai PayPal untuk sebuah dataset aktivitas sebuah akun media sosial pemerintah. Jadi, saya berani menyebut Rp120 ribu rupiah sebagai biaya tesis karena memang hanya itulah duit yang dikeluarkan spesifik untuk data penelitian.

Terutama bagi mahasiswa pascasarjana, baik yang dibiayai beasiswa seperti LPDP maupun beasiswa kantor. Ada nominal yang terbilang cukup untuk digunakan sebagai biaya penelitian, berkisar belasan hingga puluhan juta. Yang menggemaskan adalah selalu saja ada pemikiran bahwa pagu tersebut adalah hak yang kudu dioptimalkan.

Iklan

Jadi, jangan heran kalau ada saja mahasiswa yang dapat pagu Rp20 juta, misalnya, akan membuat pengaturan sedemikian rupa sehingga proposal penelitiannya akan mepet-mepet segitu. Pada titik ini, penanggung biaya tentunya memiliki tanggung jawab.

Untuk beasiswa seperti LPDP, ada ketentuan yang cukup rigid bahkan sampai level komponen sehingga biaya yang dimintakan harus benar-benar bisa dipertanggungjawabkan. Nah, model kontrol semacam ini belum tentu ada di beasiswa dari kantor pemerintah, misalnya.

Di grup WhatsApp pasti sering melintas Google Form penelitian, mulai TA, skripsi, tesis, sampai disertasi. Sesekali ada yang menggunakan pancingan berupa saldo e-wallet yang diundi. Nah, duit-duit penarik responden begini kadang menjadi bagian yang diklaim kepada institusi penanggung biaya. Walau begitu, ada saja sponsor yang belum mengakomodasi elemen ini sehingga kalau harus dipasang sebagai biaya, tentu jadi tanggungan mahasiswa.

Untuk wawancara, saya memasrahkan pada birokrasi seutuhnya. Iya, saya menyebar surat ke sejumlah instansi pemerintah yang relevan melalui surat elektronik dan berharap ada respons. Pada akhirnya, sejumlah kantor berkenan memberi umpan balik dan bahkan memberikan kesediaan untuk diwawancara pakai Zoom. Mengingat yang wawancara adalah saya dan narasumber alias ada dua pengguna doang, jadi ya tidak sampai 40 menit dan berarti tidak perlu mengeluarkan sejumlah uang untuk langganan Zoom.

Kebetulan pula, saya membutuhkan perspektif influencer sebagai data kualitatif. Maka, ya dengan menghilangkan segenap rasa malu, saya kirim DM panjang-panjang minta tolong ke sejumlah influencer dan kok ya syukurlah ada beberapa yang memberikan tanggapan.

Kalau ada yang tidak merespons? Ya, nasib. Kantor pemerintah, ada. Influencer malah lebih banyak lagi. Makanya, metodenya disusun sedemikian rupa sehingga tantangan yang ada bisa dikelola dengan baik.

Untuk pengolahan data kualitatif, karena nggak punya duit untuk mengakses aplikasi seperti NVivo, saya memilih untuk menggunakan R for Qualitative Data Analysis (RQDA) yang notabene berbasis R alias gratis-tis-tis. Tantangannya hanya dalam proses instalasi. Berkat kombinasi mas-mas bule dan mas-mas India di YouTube, saya sukses mempelajari RQDA. Hal yang sama juga berlaku dengan analisis statistik, yang juga menggunakan R. Gratisan memang menyenangkan.

Jadi, selain biaya listrik dan internet yang pada dasarnya adalah pengeluaran rutin rumah tangga, serta sesekali teh kekinian yang lebih banyak es batu daripada airnya sebagai pelepas stres, uang yang saya keluarkan untuk menghasilkan tesis benar-benar hanya 8 dolar. Tidak ada yang lain.

Saya sendiri baru menyadari hal tersebut ketika hendak coba-coba membuat proposal biaya penelitian kepada pengelola beasiswa begitu penelitian selesai. Dan nyatanya, dengan modal segitu, nilai tesis saya sebagaimana tertulis di berita acara sidang kemudian adalah A bulat.

Tulisan ini tentu tidak ingin menggeneralisasi seluruh tugas akhir di pascasarjana. Teman-teman yang butuh data di laboratorium atau survei di jalanan juga memiliki penelitian yang keren dan otomatis butuh dana. Tulisan ini hanya ingin mengajak teman-teman yang lagi gamang dalam mengerjakan tesis tapi terkendala duit atau takut pergi-pergi karena takut Covid-19 agar bisa memperoleh ruang-ruang yang memungkinkan untuk mendapatkan data, menghasilkan analisis, dan pada akhirnya membuahkan tugas akhir yang tetap ciamik dan berdaya ungkit.

Ngomong-ngomong, saya mau usul satu penelitian murah tapi pasti keren. Coba, deh, ada mahasiswa yang membuat analisis regresi atau korelasi antara jumlah perundungan yang diterima oleh koruptor di media sosial dan durasi hukuman yang kemudian diperolehnya dari hakim. Kita pasti tertawa-tawa saat mengumpulkan variabel independen berupa komen netizen, tetapi naik darah saat melihat variabel angka hukuman.

BACA JUGA 4 Tips dari Dosen UGM agar Skripsi Cepat Selesai dan tulisan menggelitik lainnya di rubrik ESAI.

Terakhir diperbarui pada 2 September 2021 oleh

Tags: beasiswadesertasiLPDPpascasarjanas2skripsiTesis
Alexander Arie

Alexander Arie

Universitas Indonesia. Tinggal di Jakarta. Asli Bukittinggi.

Artikel Terkait

Mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah PTN Surabaya pertama kali makan di restoran All You Can Eat (AYCE): norak, mabuk daging, hingga sedih karena hanya beri kenikmatan sesaat MOJOK.CO
Kuliner

Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

6 Februari 2026
Ulfi Rahmawati, penerima beasiswa LPDP alumnus UNY. MOJOK.CO
Kampus

Tak Melihat Masa Depan Cerah sebagai Guru Honorer di Ponorogo, Pilih Kuliah S2 dengan LPDP hingga Kerja di Perusahaan Internasional

21 Januari 2026
Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Ketika Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa MOJOK.CO
Esai

Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?

19 Januari 2026
Dosen Profesi Nelangsa, Gaji Kalah sama Ngajar Anak SD (Unsplash)
Pojokan

Gelap Masa Depan Dosen, Lulusan S2 Jogja Mending Ngajar Anak SD di Surabaya yang Lebih Menjanjikan dari sisi Gaji

12 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sinefil.MOJOK.co

Orang Nggak Mau Dijuluki “Sinefil” karena Tahu Itu Ejekan, tapi Tetap Banyak yang Mengaku “Si Paling Film”

9 Februari 2026
Balai Penjamin Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Sumatera Selatan menjadikan peringatan Hari Ulang Tahun ke-42 sebagai momentum strategis untuk memperkuat ekosistem pendidikan yang inklusif dan kolaboratif MOJOK.CO

BPMP Sumsel Bangun Ekosistem Pendidikan Inklusif Melalui Festival Pendidikan

7 Februari 2026
self reward.mojok.co

Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan

6 Februari 2026
Sriwijaya FC, Tim Bola “Mainan” Politisi yang Dikelola seperti Toko Kelontong, Tapi Saya Tak Malu Pernah “Dibaptis” Jadi Fansnya.MOJOK.CO

Sriwijaya FC, Tim Bola “Mainan” Politisi yang Dikelola seperti Toko Kelontong, Tapi Saya Tak Malu Pernah “Dibaptis” Jadi Fansnya

5 Februari 2026
Rayakan 20 Tahun Asmara, Ruzan dan Vita Rilis Video Klip "Rayuanmu" yang Bernuansa Romansa SMA. Tayang di Hari Valentine!.MOJOK.CO

Rayakan 20 Tahun Asmara, Ruzan & Vita Rilis Video Klip “Rayuanmu” yang Bernuansa Romansa SMA. Tayang di Hari Valentine!

9 Februari 2026
Dat, pemuda dengan 3 gelar universitas putuskan tinggalkan kota demi bangun bisnis budidaya jamur di perdesaan MOJOK.CO

Cabut dari Kota Tinggalkan Perusahaan demi Budidaya Jamur di Perdesaan, Beberapa Hari Raup Jutaan

4 Februari 2026

Video Terbaru

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.