Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Perkara Nama ala Shakespeare Bagi Hanan Attaki, Sandiaga Uno, dan Ahmad Dhani

Haris Firmansyah oleh Haris Firmansyah
30 Juli 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Bagi William Shakespeare, perkara nama itu hal sepele. Bagi Hanan Attaki mungkin iya, tapi tidak bagi Sandiaga Uno dan Ahmad Dhani.

“Apalah arti sebuah nama? Andaikata kita memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia akan tetap berbau wangi.”

Begitu kata pujangga William Shakespeare. Seorang sastrawan berkebangsaan Inggris yang sewaktu dikasih nama oleh orang tuanya nggak pakai syukuran pakai bubur merah-bubur putih.

Dari perkara nama jugalah Ustaz Hanan Attaki jadi kena cap sesat. Sebab selama ini Hanan Attaki memang membangun dirinya dengan merek dagang “Ustaz Gaul”. Konsistensinya ditandai dengan sering berceramah pakai diksi-diksi kekinian untuk mengajak hijrah hamba-hamba Allah yang baper. Lalu ada selentingan bahwa kata “gaul” berasal dari “ghoul” yang mana dalam bahasa Arab berarti hantu atau syaithon, yang berarti ustaz gaul adalah…

Saya pikir selera humor kita sudah lebih dari itu untuk menyambut Pilpres 2019 tahun depan. Lha kok ini malah balik lagi ke “Pokemon = Aku Yahudi” dalam bahasa Syriac? Padahal, bagi Wibu atawa penggemar Jejepangan, Pokemon tetaplah Pokemon yang kepanjangannya adalah Pocket Monster. Kalau dalam bahasa Suryani artinya “Aku Yahudi”, ya nggak peduli, Bos. Yang penting main Pokemon GO, cari Dragonite sampai dapat, biar bisa nguasai gym.

Lantas, haruskah kita serta-merta mengamini bahwa gaul = ghoul = setan? Yang bener aja dong. Bisa-bisa nanti kita harus menjauhi pergaulan di lingkungan kita, karena bisa diartikan “pergaulan” adalah “persetanan”. Apalagi pergaulan bebas. Udah setan, bebas lagi.

Padahal dalam berbahasa Indonesia, kita udah kenal apa itu homonim, homofon, dan homograf. Sebagai pengingat saja saya coba jelaskan lagi satu-satu. Homonim seperti yang kita tahu merupakan dua kata yang memiliki penulisan dan pelafalan yang sama tapi artinya beda. Contohnya kata “bisa” yang bermakna ganda, bisa “ular berbisa” dan “SMK Bisa!”. Yang satu bermakna racun, satunya lagi bermakna kemampuan.

Sedangkan homograf kalau kamu ingat merupakan dua kata yang penulisannya sama tapi berbeda ketika dilafalkan. Contohnya, kata “mental”. Diucapkan dengan e taling, “Revolusi Mental” adalah revolusi yang digalakkan oleh Presiden Jokowi untuk mengubah Indonesia menjadi lebih baik. Namun, apabila diucapkan dengan e pepet, “Revolusi Mental” jadi revolusi yang gagal. Tuh lihat, beda cara pelafalan satu huruf saja bisa menentukan nasib sebuah bangsa.

Sedangkan homofon adalah dua kata yang penulisannya berbeda, tapi pelafalannya sama. Misalnya, kata “masa” yang artinya jangka waktu dan “massa” yang artinya sekumpulan orang. Ah, masa~

Nah, anggap sajalah “gaul” dan “ghoul” ini termasuk homofon lintas bahasa. Walaupun dilafalkan sama, didengar oleh telinga pun tiada beda, tetap saja artinya berlainan. Kembali lagi ke quote Shakespeare, “Apalah arti sebuah nama? Andaikata kita memberikan nama setan untuk ustaz, ia kan tetap seorang pendakwah.”

Meski begitu, tidak semua orang bisa sepakat dengan Shakespeare yang cuek dengan sebuah nama. Sandiaga Uno misalnya, yang menganggap nama adalah doa. Hal itulah yang menjadi dasar penyataan beliau ketika berkelakar menyalahkan warga sekitar tentang Kali Item yang airnya butek.

Menurutnya, penyebab Kali Sentiong menjadi Kali Item adalah karena warga menjuluki kali tak berdosa tersebut dengan menyebutnya; kali (yang) item. Saya kira air kali jadi kotor karena masyarakat yang buang sampah sembarangan dan pemerintah yang mengabaikannya sebelum ada Asian Games 2018, eh, ternyata selama ini saya yang keliru.

“Jadi sebut saja Kali Sentiong. Itu kan kalau disebut Kali Item, ya item terus,” kritik Sandiaga Uno kepada warganya.

Saya jadi bingung, mana yang sebenarnya lebih dulu, Kali Sentiong dijuluki Kali Item lalu beneran jadi kali item, atau jadi item dulu lantas disebut Kali Item? Inilah misteri yang sama misteriusnya seperti duluan mana antara ayam atau telur.

Iklan

Sandiaga sepertinya lupa kalau kadang-kadang nama yang tercetus itu muncul karena kebiasaan penyebutan. Opie Kumis disebut Opie Kumis karena selama ini istikomah berkumis. Saya jadi bertanya-tanya; apakah Opie tidak akan dipanggil Opie Kumis lagi ketika sudah mencukur habis kumisnya karena jadi brand ambassador pisau cukur Gillette—misalnya?

Ah, saya rasa dia akan tetap menjadi Opie Kumis, dengan atau tanpa kumis. Sama seperti kita menghargai masa lalu Gugun Gondrong dengan memanggilnya demikian kendati kini beliau sudah cepak.

Meski begitu, perihal ketidaksepakatan dengan Shakespeare tidak hanya dari Sandiaga Uno, melainkan juga muncul dari Ahmad Dani. Bahkan untuk perihal nama, saya rasa tidak ada yang lebih niat daripada Ahmad Dhani.

Bersama sang istri, Ahmad Dhani sampai mengajukan permohonan ganti nama di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Sementara istrinya mengganti nama Raden Wulansari jadi Mulan Jameela, Dhani mengganti namanya dari Dhani Ahmad Prasetyo menjadi Ahmad Dhani Prasetyo.

Lah? Cuma memindahkan letak nama gitu? Kalau begitu doang sih nggak perlu ke pengadilan, rename di Facebook aja, Mas. Repot amat.

Atau jangan-jangan ini adalah cara Ahmad Dhani melupakan masa lalunya bersama Maia Estianty? Sebab saat Dhani masih menyandang nama Dhani Ahmad, Maia juga kerap disapa Maia Ahmad. Ya kale ada Maia Dhani~

Bahkan, dulu Ahmad Dhani sempat bikin band dengan nama Ahmad Band. Nama band tersebut menandakan dirinya memang musisi paling egois dan arogan setanah air. Padahal personilnya bukan Ahmad Dhani doang, tapi yang dipakai cuma nama dia. Ternyata sifat tersebut nular ke sesama punggawa Dewa 19, yaitu Andra yang mendirikan band Andra and the Backbone. Buah emang jatuh nggak jauh dari temannya.

Kebiasaan soal pengabadian nama sendiri ini pun juga nular ke tiga anak cowok Dhani sendiri (yang dari Maia) dalam The Lucky Laki. Setelah sempat keluar beberapa lagu, El dan Dul yang ditinggalkan Al bersolo karier, kompak bikin band “Ahmad Bersaudara”. Hal ini mengingatkan kita dengan band legendaris Koes Bersaudara yang nantinya ganti nama jadi Koes Plus. Mungkin ketika ada perombakan dan disusupi personil bukan keturunan Ahmad Dhani, band Ahmad Bersaudara pun bakal ikutan ganti nama jadi Ahmad Plus.

Saking nggak sepakatnya Ahmad Dhani dengan Shakespeare soal nama, Dhani sampai repot-repot memindahkan nama Ahmad sebagai nama depan untuk nama sesuai KTP. Apakah benar cuma masalah buat Pemilu 2019 karena dirinya nyaleg saja alasannya? Biar pemilihnya nanti nggak bingung waktu lihat kertas suara, “Ini siapa sih Dhani Ahmad? Keknya kenal. Kalau Ahmad Dhani tahu aku, alien yang nggantiin musisi Ahmad Dhani Dewa 19 yang diculik UFO sebelum Pilpres 2014 itu kan?”

Atau  jangan-jangan sebenarnya Ahmad Dhani nggak pengen-pengen banget ganti nama? Tapi demi memberi nama akhiran buat sang istri, ya diotak-atik dikit lah. Biar jadi Mulan Dhani gitu, ya kale Mulan Ahmad, mirip-mirip sama yang punya Maia dulu dong.

Terakhir diperbarui pada 30 Juli 2018 oleh

Tags: ahmad dhanialienAndra and the Backbonedewa 19Hanan AttakiKali ItemKoes Plusmaia estiantymulan jameelapilpres 2014Pilpres 2019Sandiaga UnoShakespeareThe Lucky LakiUFO
Haris Firmansyah

Haris Firmansyah

Pegawai Bank Ibukota. Selain suka ngitung uang juga suka ngitung kata.

Artikel Terkait

Busuknya Romantisasi ala Jogja Ancam Damainya Salatiga (Unsplash)
Pojokan

Sisi Gelap Salatiga, Kota Terbaik untuk Dihuni yang Katanya Siap Menggantikan Jogja sebagai Kota Slow Living dan Frugal Living

5 Januari 2026
Peterpan Punya Kasta Lebih Tinggi Dibanding Sheila on 7 MOJOK.CO
Esai

Sederet Alasan Mengapa Peterpan Lebih Memengaruhi Selera Pendengar Musik Indonesia Dibanding Band Papan Atas Lain, Salah Satunya Sheila on 7

23 Juni 2025
Kalau Nanti Punya Uang, Saya Akan Beli Toyota Corolla 76 untuk Bapak MOJOK.CO
Otomojok

Kalau Nanti Punya Uang, Saya Akan Beli Toyota Corolla 76 untuk Bapak

20 Mei 2025
Memang Kenapa Kalau Prabowo Subianto Jadi Presiden? MOJOK.CO
Esai

Memang Kenapa Kalau Prabowo Subianto Jadi Presiden Indonesia?

18 Desember 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tak Mau Jadi Beban Orang Tua, Mahasiswa Psikologi UGM Pilih Kuliah Sambil Ngojol untuk Bayar UKT MOJOK.CO

Tak Mau Jadi Beban Orang Tua, Mahasiswa Psikologi UGM Pilih Kuliah Sambil Ngojol untuk Bayar UKT

2 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
bpjs kesehatan.MOJOK.CO

Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif

5 Februari 2026
Lolos Unair lewat jalur golden ticket tanpa SNBP. MOJOK.CO

Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP

7 Februari 2026
Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers MOJOK.CO

Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers

6 Februari 2026
gen z kerja merantau beban mental dan finansial.mojok.co

Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

6 Februari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.