MOJOK.CO – Meski punya gelar S3, nyatanya jadi peneliti prekariat itu banyak horornya, misalnya honor yang turun lama.
“Kerjanya setiap hari di depan laptop, tapi gajiannya kok menunggu lama?” kata istri saya. Saya tidak menjawab. Saat itu, honor proyek riset yang saya kerjakan memang belum cair, sedangkan tagihan rumah tangga tentu tidak mengenal istilah revisi administrasi.
Sejak lulus dari kuliah S3, hidup saya sangat bergantung dengan aktivitas riset. Namun, riset yang saya lakukan seringkali tidak sesuai dengan keinginan. Pasalnya, seringkali proyek riset yang saya lakukan jika ada honorariumnya pun sering dicairkan di akhir dan menunggu cukup lama.
Misalnya, saya pernah mengerjakan salah satu proyek tulisan yang honornya cukup besar hingga 2 digit, tapi honornya menunggu lama hingga setahun.
Hal ini pula yang membuat saya harus memutar otak untuk mencari pendapatan lain di luar proyek riset untuk menopang kehidupan sehari-hari. Terutama menyangkut isi token listrik, bensin, sembako, dan pengeluaran lainnya yang membuat otak saya berpikir keras mencari solusi pemasukan.
Meski pembayarannya sangat lama, tapi proyek tulisan tersebut cukup membuat keuangan keluarga kami tenang dan bisa digunakan untuk keperluan membahagiakan keluarga kecil kami.
Sementara, saya juga menjadi tutor online di salah satu kampus negeri untuk mendapatkan tambahan pemasukan. Honorarium juga diberikan setelah kegiatan tutor online selesai dan kadang sampai menunggu lama pencairannya.
Seni menjadi peneliti prekariat
Hal ini juga serupa dengan menjadi peneliti prekariat, saya menyebutnya. Peneliti prekariat yakni tenaga peneliti atau akademisi yang melakukan kerja-kerja riset, dengan kontrak tidak pasti, tetapi upahnya rendah atau berbasis proyek lepas, dan minim jaminan sosial dan perlindungan kerja.
Kadang istri saya nyeletuk, ”Kerjanya tiap hari di depan laptop, tapi gajiannya menunggu lama”.
Saya pun hanya diam dan tetap fokus di depan laptop sembari merampungkan beberapa tulisan yang masih belum selesai. Suka duka menjadi peneliti prekariat sungguh tidak mudah.
Apalagi jika sudah berkeluarga dan memiliki anak. Tentu harus mendapatkan pemasukan yang tetap setiap bulannya.
Namun, justru beginilah seni menjadi peneliti prekariat. Kesabaran dan ketekunan adalah jiwa korsa yang wajib dipegang. Di tengah gempuran orang-orang yang memiliki impian untuk menjadi influencer atau tokoh yang tenar. Mereka justru menjalani hari-hari mereka dengan tulus, sabar, dan dedikasi tinggi.
Satu hal yang menjadi goal para peneliti prekariat, yakni memproduksi karya sebaik mungkin. Jika karya mereka dibaca, disitasi, dan didiskusikan, maka karya mereka telah memberikan dampak bagi dunia ilmu pengetahuan.
Apalagi jika mereka mendapatkan honorarium dari hasil kerja keras mereka. Tentu, itu yang menjadi daya tarik mereka terus bekerja dalam kesunyian.
Peneliti prekariat, bekerja dalam kesunyian
Seringkali sebagai peneliti prekariat, saya dianggap oleh tetangga dan orang-orang di sekitar saya berprofesi sebagai businessman atau bahkan memelihara tuyul. Sebab saya sering di rumah, hanya sesekali ke luar rumah.
Itu pun saya gunakan untuk beraktivitas olahraga, mengantar istri ke pasar atau mendapatkan undangan konferensi ke luar kota maupun luar negeri.
Memang, sebagai peneliti prekariat sungguh tidak mudah. Kerja-kerja yang mereka lakukan memang sunyi.
Namun, dampaknya sungguh mulia, yakni menghasilkan temuan baru yang memberikan dampak besar bagi intelektual. Meski hal ini terasa utopis, tetapi inilah kerja-kerja akademik. Walaupun kadang tidak diapresiasi oleh orang, tetapi tulisan mereka berarti dalam menjaga tradisi berpikir kritis dan dunia riset.
Peneliti prekariat mungkin sering dianggap sebelah mata atau justru tidak ada, tapi kerja-kerja mereka terus dinanti oleh para pembaca. Baik akademisi, peneliti, praktisi maupun mahasiswa yang tengah kebingungan mencari referensi untuk tugas kuliah dan tugas akhir mereka.
Jika selama ini banyak orang yang tidak tahu tentang profesi peneliti prekariat. Mereka sebenarnya tidak tahu saja bahwa mereka adalah aktor penting di balik riset-riset serius di negeri ini.
Peneliti bukan hanya yang bekerja di BRIN
Kebanyakan orang tahu bahwa peneliti itu adalah mereka yang bekerja di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Namun, sebenarnya banyak peneliti lainnya yang bekerja di luar lembaga pemerintah, mereka juga menghasilkan riset-riset dan memproduksi karya intelektual tanah air.
Dalam konteks ini, para peneliti prekariat mendedikasikan diri mereka untuk terus menemukan ide dan inovasi intelektual di bidangnya masing-masing.
Mereka setiap hari harus begadang dan seringkali menghabiskan waktu di depan laptop untuk menulis, membaca, mengedit draf tulisan mereka, merevisi hasil review dari reviewer, dan akhirnya hasil riset mereka dalam bentuk artikel jurnal, buku, book chapter maupun edited volume diterbitkan.
Jika semua peneliti prekariat dikumpulkan dalam satu forum. Tentu mereka bakal menjadi pasukan tak terkalahkan. Pasalnya mereka adalah tulang punggung intelektualisme negeri ini.
Memang, apabila dibandingkan dengan dosen, akademisi, peneliti di lembaga riset pemerintah, dan lembaga think thank. Para peneliti prekariat bisa dikatakan masih kalah jauh pamornya dan masih minim penghargaan.
Andai saja, mereka diberikan suara untuk mengeluarkan pendapatnya. Mereka juga ingin diwadahi dan mendapatkan tempat yang layak untuk terus memproduksi riset-riset yang bermutu.
Ekonomi keluarga tergantung proyek yang dikerjakan
Dalam konteks lain, meskipun mereka tidak memiliki beban kerja seperti halnya peneliti level pemerintah. Mereka justru terbebani dengan berbagai macam kebutuhan hidup, mulai dari urusan pokok keluarga, cicilan rumah tangga, Kredit Pemilikan Rumah (KPR), biaya sekolah anak, dan lainnya.
Untuk itu, perekonomian mereka sangat tergantung bagaimana proyek yang mereka kerjakan, hibah yang didapat, dan honorarium yang diperoleh. Jika selama ini, di negeri ini peneliti kurang mendapatkan perhatian.
Sesungguhnya, karena peneliti belum mendapatkan tempat yang layak dalam dunia akademik tanah air. Sementara, di beberapa negara, seperti halnya Singapura, Inggris, Belanda, China, dan negara-negara maju lainnya, mereka justru menghargai profesi peneliti dan gaji, serta tunjangan yang mereka dapatkan sangat fantastis.
Bahkan, setiap bulan mereka bisa menyisihkan dana untuk berlibur. Sedangkan, peneliti kita justru disibukkan dengan terus memproduksi riset, tetapi tidak sempat untuk berlibur.
Harapan besar saya sebagai peneliti prekariat, semoga mereka dimana pun tempatnya bisa terus memproduksi riset-riset yang berdampak dan bermutu, serta mendapatkan gaji yang sesuai dengan harapan. Sehingga mereka mampu mencukupi kebutuhan keluarga mereka.
Di tengah biaya hidup yang terus meroket. Karena tanpa mereka, iklim riset negeri ini juga akan mengalami penurunan, bahkan jauh perbedaannya dibandingkan negara-negara lainnya.
Penulis: Firmanda Taufiq
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Sekte “Pemuja Kargo” di Ekosistem Kampus Indonesia yang Mencetak Peneliti Palsu dan Ilmuwan Abal-Abal dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai.
















