Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Profesi

Catatan seorang peneliti BRIN yang hatinya remuk redam melihat koleganya dihina cuma bisa bikin keripik, sepatu, genteng, dan ngabisin anggaran negara

Mochammad Wahyu Ghani oleh Mochammad Wahyu Ghani
15 Agustus 2026
A A
Kegelisahan peneliti BRIN tentang keripik, sepatu, dan genteng (Unsplash)

Kegelisahan peneliti BRIN tentang keripik, sepatu, dan genteng (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa hari terakhir, saya kebingungan melihat BRIN jadi bahan tertawaan netizen. Entah ini masuknya ranah kritik atau hinaan. 

Seandainya kritik, saya berharap misalnya kritik yang keluar kayak gini. Riset BRIN tidak pernah sampai bisa langsung dirasakan ke masyarakat. BRIN jangan jadi tempat politikus mendapat panggung. Atau, BRIN tidak terbuka untuk masyarakat, ya okelah saya bisa terima.

Tapi nyatanya bukan kritik seperti itu yang kami dapat. Saya memantau linimasa media sosial. Isinya lebih banyak hanya narasi yang meremehkan anggaran 6,1 triliun per tahun, tapi hasil risetnya ecek-ecek.

Kami peneliti BRIN, mendadak jadi bahan olok-olokan publik. Katanya kami cuma bisa bikin keripik, genteng dan habis-habisin anggaran negara buat riset yang “selevel UMKM”.

Jujur, sebenarnya saya hanya peneliti bidang sosial,  sehingga inovasi berbentuk produk tidak banyak dari tupoksi saya. Tapi tetap saja, saya ikut merasakan panasnya olok-olok di media sosial. 

Apalagi saat baca utas dari salah satu akun netizen yang nyeletuk soal pengalamannya ikut PIMNAS. Di situ dia cerita, timnya bikin alat destilasi air laut yang canggih, tapi yang menang lomba malah keripik pisang. Alasannya? Produknya laku keras saat pameran. Astagfirullah. Langsung muncul macam-macam teori konspirasi.

Hal ini menjadi penting dan menjadi trigger saya menulis artikel ini. Ini bukan cuma soal lomba mahasiswa atau PIMNAS. Ini soal cara publik menilai riset. 

Padahal riset itu tidak selalu instan seperti itu. Ada yang butuh tahunan, tidak kelihatan bentuk fisiknya, dan cuma berupa data, teori, atau temuan yang baru terasa manfaatnya satu generasi kemudian.

Baca Juga:

Bantu yang Bawah, tapi Jangan Ganggu yang Atas

AeroStreet Black Classic, Sepatu Lokal Harga 100 Ribuan yang Awet

Dari istana sampai menjadi bahan tertawaan netizen

Berita soal kunjungan 150 peneliti BRIN ke Istana sebenarnya berita yang “normal”. Presiden Prabowo Subianto melihat-lihat hasil riset kami. 

Di sana ada satelit, pesawat tanpa awak, teknologi nuklir, hingga rumah tahan gempa yang bisa dibangun cuma 14 hari. Tapi yang jadi sorotan media apa?

“Genteng yang diinjak-injak.”

“Air olahan yang diminum.”

“Keripik ubi ungu yang dicicipi.”

“Sepatu yang harganya di bawah Rp80 ribu.”

Banyak Media lain yang juga ikut-ikutan mempublikasikan pameran di istana. Namun hasilnya malah publik makin semangat nyinyir. “Ah, BRIN cuma bisa bikin genteng.” “Negara habis duit buat riset keripik.” “Mending anggarannya buat hal lain.” Saya cuma bisa geleng-geleng kepala.

Padahal kalau mau baca lebih lanjut, ada juga kanal jurnalistik yang lebih berimbang. CNN Indonesia misalnya, menulis dengan judul yang lebih fair: “150 Peneliti BRIN Temui Prabowo, Bawa Riset Nuklir Hingga Antariksa” 

CNN menyebutkan kalau ada 12 klaster riset yang dipamerkan. Antara lain pangan, energi, antariksa, penerbangan, nuklir, logam tanah jarang, perumahan, transportasi, kesehatan, dan lainnya.

Tapi ya begitulah. Publik lebih paham dengan genteng yang diinjak-injak daripada satelit yang tidak bisa mereka lihat secara fisik. Publik lebih heboh lihat Presiden minum air olahan, daripada baca soal teknologi nuklir yang sedang dikembangkan BRIN. 

Bahkan banyak netizen atau bahkan influencer yang percaya diri menulis: Negara lain sudah bikin roket, sudah ngembangin nuklir, eh BRIN CUMA BIKIN KERIPIK. PADAHAL kalau menyimak atau minimal membaca, nuklir atau roket ya juga jadi bahan penelitian BRIN selama ini.

Istri saya juga peneliti BRIN dan sekarang dia takut membayangkan risetnya jadi bahan tertawaan.

Yang paling bikin saya sedih bukan cuma tertawaan netizen yang menganggap riset kami tidak “mendunia”. Tapi melihat istri saya.

Istri saya peneliti BRIN bidang ilmu hayati. Dia lagi serius-seriusnya mengembangkan riset tentang sorgum. Tanaman yang mirip gandum tapi lebih tahan kekeringan, bisa tumbuh di lahan marginal, dan punya potensi besar buat ketahanan pangan. 

Dia dan timnya kerja keras. Menulis catatan hingga malam. Kadang bawa tanah dan sampel tanaman ke rumah. Kadang ngomel-ngomel sendiri kalau eksperimennya gagal.

Tapi beberapa hari terakhir, dia dihantui ketakutan.

“Apa riset sorgumku nanti juga dianggap receh kayak genteng?”

“Apakah masyarakat bakal ngetawain aku cuma karena aku neliti tanaman?”

“Apakah riset botani terapan tidak perlu ada di negeri ini?”

Saya cuma bisa diam. Peluk dia. Dan bilang, “Nggak usah memikirkan omongan netizen.”

Tapi dalam hati, saya marah. Kenapa riset yang jelas-jelas penting buat masa depan bangsa malah punya potensi direndahkan? BRIN sudah mengembangkan mie sehat bebas gluten berbasis sorgum, genteng komposit dari bagas sorgum, hingga gula semut dari nira sorgum. 

Ini bukan riset iseng tapi riset ketahanan pangan. Kalau berhasil, bisa bikin Indonesia nggak tergantung impor gandum. Tapi publik bisa aja milih nyinyir.

Kenapa saya menulis ungkapan hati ini?

Saya sadar, sebagai peneliti sosial, inovasi produk emang bukan core utama saya. Saya lebih sering berkutat sama data, wawancara, dan teori. 

Tapi ibarat anak SMA. Kalau ada temannya anak IPA yang sedang ditindas, tentu yang maju dan melawan malah anak IPS. 

Saya sudah melihat rekan-rekan saya di bidang eksak yang bekerja mati-matian. Mereka tidak tidur berhari-hari demi eksperimen. Mereka kadang harus berhadapan dengan alat yang rusak, mengantre di lab, bahan yang mahal, dan tekanan target. Dan semua pengorbanan itu direduksi jadi “keripik” dan “genteng”.

Anggaran riset BRIN sekarang hanya menyentuh Rp1,9 triliun. Bahasa bayinya anggaran riset satu tahun di BRIN tidak sampai sampai 5 hari MBG.  

Tapi, tantangannya bukan lagi soal duit. Tantangannya adalah ketersediaan gagasan riset yang kuat, terukur, dan berdampak. Kami juga sedang fokus ke teknologi semikonduktor, kecerdasan buatan, dan rekayasa genetik. Ini semua buat daya saing Indonesia 20-30 tahun ke depan.

Tapi publik tidak melihat itu. Publik cuma lihat genteng, keripik, dan sepatu murah yang katanya “receh”. Padahal di balik itu, yang kami teliti adalah varietas tanaman yang menjadi narasi “keripik” dan material maju yang jadi narasi “sepatu murah dan genteng”.

Riset adalah jalan membuat Indonesia maju

Riset yang terlihat “kecil” belum tentu tidak penting. Genteng biomassa dari serabut kelapa dan sekam padi itu bisa jadi solusi rumah murah dan ramah lingkungan. 

Sepatu murah yang kalian hina itu sebenarnya Namanya SMART RUBBER. Banyak UMKM yang bisa bikin sepatu, tapi apa bisa bikin karetnya? Karet itu mungkin bisa jadi solusi anak sekolah untuk tidak perlu beli sepatu mahal namun berkualitas.

Dan yang paling penting, hargai prosesnya. Riset itu tidak seperti masak mie instan. Ada yang butuh waktu bertahun-tahun, gagal puluhan kali, dan baru terasa manfaatnya puluhan tahun kemudian.

Saya mungkin cuma peneliti sosial. Istri saya mungkin cuma peneliti tanaman. Tapi kami sama-sama bangga jadi bagian dari BRIN. Sama-sama percaya bahwa riset adalah jalan buat Indonesia maju.

Penulis: Mochammad Wahyu Ghani

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Inferiority Complex dalam Dunia Riset Indonesia

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 15 Agustus 2026 oleh

Tags: BRINgenteng brinkeripik brinpeneliti brinPrabowosepatu brinsepatu murah
Mochammad Wahyu Ghani

Mochammad Wahyu Ghani

Peneliti junior di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dengan ketertarikan pada proses riset, pengolahan data, dan pengembangan pengetahuan.

ArtikelTerkait

jon snow dan permainan tahta

Jon Snow dan Sosok Mendiang Gus Dur: Tak Perlu Mati-Matian Mempertahankan Tahta

16 Mei 2019
prabowo ziarah

Apa Salahnya Prabowo Ziarah Ke Makam Pak Harto?

31 Mei 2019
golput dan prabowo

Masuknya Prabowo ke Kabinet dan Perkiraan Golput yang Akhirnya Terbukti

22 Oktober 2019
rekonsiliasi

Untuk Partai Oposisi, Jangan Mau Diajak Rekonsiliasi

7 Juli 2019
Menggunakan Dana Pribadi untuk Program Makan Bergizi Gratis Itu Bukan Heroik, tapi Tanda Buruknya Tata Kelola Kebijakan di Pemerintahan

Menggunakan Dana Pribadi untuk Program Makan Bergizi Gratis Itu Bukan Heroik, tapi Tanda Buruknya Tata Kelola Kebijakan di Pemerintahan

15 Januari 2025
Efek Positif Timnas Indonesia yang Luput dari Perhatian, Kafe-kafe Sepi Jadi Hidup Lagi erick thohir prabowo shin tae-yong pssi

Jangan Salahkan Pak Prabowo Nonton Laga Timnas Pakai Link Bajakan, Salahkan Orang-orang Terdekatnya yang Nggak Sayang sama Beliau!

24 November 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cerita orang Muhammadiyah di tengah kultur NU Tegal yang kental: awalnya syok, lama-lama bisa ambil hikmahnya Mojok.co

Cerita orang Muhammadiyah di tengah kultur NU Tegal yang kental: awalnya syok, lama-lama bisa ambil hikmahnya

12 Agustus 2026
Kawasan Surabaya Utara: Dijuluki Mexico-nya Surabaya dan Identik dengan Hal Negatif

Sisi lain kehidupan warga Surabaya Utara, orang yang klemar-klemer tidak cocok tinggal di daerah ini

13 Agustus 2026
Kawasan Surabaya Utara: Dijuluki Mexico-nya Surabaya dan Identik dengan Hal Negatif

Jangan ke Surabaya Utara saat siang hari, jalannya bikin emosi, panasnya nggak masuk akal!

10 Agustus 2026
Saya masuk desil 10, saya dianggap elite oleh negara, padahal hidup saya benar-benar mengenaskan

Saya masuk desil 10, saya dianggap elite oleh negara, padahal hidup saya benar-benar mengenaskan

13 Agustus 2026
5 jurusan kuliah S2 yang sebaiknya diambil di Indonesia saja Mojok.co

5 jurusan kuliah S2 yang sebaiknya diambil di Indonesia aja, nggak usah jauh-jauh ke luar negeri

10 Agustus 2026
Dibanding sound horeg, voli tarkam jauh lebih masuk akal buat event Agustusan  

Dibanding sound horeg, voli tarkam jauh lebih masuk akal buat event Agustusan  

12 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.