Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya

Adeline Hartono oleh Adeline Hartono
18 Juli 2026
A A
Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya MOJOK.CO

Ilustrasi Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Seringkali orang-orang membeli sabun atau produk pembersih pertimbangan utamanya karena aroma wanginya, padahal itu salah.

Produk home and personal care atau perawatan tubuh dan pembersih rumah seharusnya dipilih berdasarkan kemampuan membersihkan serta keamanannya. 

Namun, ketika membeli sabun, sampo, atau deterjen, kita justru lebih sering membuka tutup kemasan untuk mencium wanginya daripada membaca label untuk memahami kandungannya.

Kebiasaan itu menunjukkan bahwa aroma bukan lagi sekadar pelengkap. Wangi telah menjadi ukuran kebersihan, bahkan memengaruhi penilaian kita terhadap kualitas sebuah produk. Padahal, produk yang paling harum belum tentu paling efektif membersihkan ataupun paling sesuai untuk tubuh.

Ketika bersih harus berarti harum

Sekitar 2000 SM, sabun hanyalah campuran sederhana dari lemak hewan dan abu yang digunakan untuk mengangkat kotoran. Sabun pada masa itu bahkan tidak memiliki aroma yang menyenangkan karena nilai sebuah sabun diukur dari kemampuannya membersihkan, bukan dari wanginya (Vinupriya, 2022). 

Namun, perkembangan industri home and personal care perlahan mengubah cara kita memandang produk pembersih.

Hampir semua dari kita pernah mengalami kejadian serupa sejak kecil. Ketika pulang bermain dengan badan penuh keringat, orang tua akan berkata, “Mandi sana, badanmu bau asem.”

Teguran itu tidak sepenuhnya keliru. Bau badan memang dapat muncul ketika bakteri alami di permukaan kulit menguraikan keringat dan menghasilkan senyawa beraroma tidak sedap. Namun, pengalaman tersebut tanpa sadar membentuk cara kita memahami kebersihan.

Setelah mandi, yang pertama kali diperiksa bukan apakah kotoran dan keringat telah terangkat, melainkan apakah tubuh sudah kembali harum. Tubuh yang masih berbau dianggap belum benar-benar bersih. Sebaliknya, tubuh yang wangi langsung diasosiasikan dengan kebersihan dan kelayakan untuk bertemu orang lain.

Industri perawatan tubuh dan pembersih rumah kemudian memperkuat asosiasi tersebut. Iklan sabun tidak hanya menawarkan kemampuan mengangkat kotoran, tetapi juga kesegaran, rasa percaya diri, daya tarik, dan aroma yang bertahan berjam-jam. 

Deterjen pun tidak cukup menjanjikan pakaian bersih. Pakaian harus harum sepanjang hari agar dianggap telah dicuci dengan baik.

Akibatnya, aroma yang semula hanya menjadi nilai tambah perlahan berubah menjadi tolok ukur kualitas.

Survei Katadata Insight Center pada 2022 melaporkan bahwa 72 persen konsumen Indonesia menjadikan aroma sebagai salah satu pertimbangan utama ketika membeli sabun mandi. Survei Jajak Pendapat pada 2024 terhadap 2.143 responden juga menempatkan aroma sebagai alasan penting dalam memilih produk perawatan tubuh.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa konsumen tidak hanya membeli fungsi membersihkan. Mereka juga membeli sensasi, kenyamanan, dan citra diri yang dilekatkan pada aroma tertentu.

Iklan

Tidak ada yang salah dengan menyukai sabun yang harum. Masalahnya muncul ketika aroma dianggap sebagai bukti bahwa suatu produk lebih bersih, lebih berkualitas, dan lebih aman.

Wangi sabun atau deterjen, bukan bahan yang membersihkan

Sabun diperkirakan telah digunakan sejak ribuan tahun lalu dalam bentuk yang jauh lebih sederhana. Bahan dasarnya berupa campuran lemak dan zat alkali yang berfungsi membantu mengangkat kotoran.

Cara kerja sabun modern tentu telah berkembang. Namun, prinsip dasarnya tetap sama: kemampuan membersihkan terutama berasal dari surfaktan, yakni senyawa yang membantu melepaskan minyak dan kotoran agar mudah dibilas dengan air. Kuat atau lemahnya aroma tidak menentukan seberapa efektif proses tersebut berlangsung.

Dengan kata lain, fragrance atau pewangi bukanlah bahan utama yang membersihkan. Fungsinya memberikan aroma dan menciptakan pengalaman tertentu ketika produk digunakan.

Aroma memang dapat membuat kegiatan mandi terasa lebih menyenangkan. Wangi tertentu juga dapat memberikan kesan segar, menenangkan, atau meningkatkan rasa percaya diri. Namun, semua itu merupakan pengalaman sensoris, bukan ukuran bahwa bakteri, minyak, dan kotoran telah terangkat lebih baik.

Sayangnya, kesan sering kali lebih mudah dipercaya daripada informasi yang tercetak kecil pada kemasan. Kita hafal aroma sabun mandi yang digunakan, tetapi tidak selalu mengetahui bahan aktifnya. 

Kita tahu deterjen tersebut wangi bunga, tetapi belum tentu memahami petunjuk pemakaian dan peringatan keamanannya. 

Pewangi bukan selalu berbahaya, tetapi bukan tanpa risiko

Pewangi bukan satu bahan tunggal. Istilah fragrance pada label dapat merujuk pada campuran berbagai senyawa alami maupun sintetis yang membentuk aroma tertentu. Karena komposisi dan konsentrasinya berbeda, risikonya pun tidak dapat disamaratakan.

Artinya, tidak semua produk berpewangi berbahaya. Namun, bukan berarti seluruh pewangi pasti cocok untuk semua orang.

Sejumlah senyawa pewangi dapat memicu iritasi atau dermatitis kontak alergi pada individu yang sensitif. Gejalanya dapat berupa kulit kemerahan, gatal, kering, atau munculnya ruam setelah produk digunakan. Produk beraroma kuat juga dapat memicu sakit kepala, migrain, atau keluhan pernapasan pada sebagian orang.

Survei Ursula Klaschka pada 2020 terhadap 1.102 orang dewasa di Jerman menemukan bahwa 19,9 persen responden menyatakan sensitif terhadap produk berpewangi. Sebagian dari mereka melaporkan keluhan pernapasan, gangguan pada selaput lendir, sakit kepala, dan masalah pada kulit.

Hasil tersebut tidak berarti satu dari lima orang di seluruh dunia pasti akan sakit akibat fragrance. Penelitian itu berbentuk survei berdasarkan pengalaman yang dilaporkan responden di Jerman. 

Namun, temuan tersebut cukup menjadi pengingat bahwa reaksi terhadap pewangi dapat berbeda pada setiap orang. Temuan ini juga menunjukkan bahwa daya tarik aroma sering kali lebih kuat daripada pertimbangan terhadap risiko kesehatan.

Tinjauan Alblooshi pada 2025 juga mencatat kekhawatiran terhadap sejumlah bahan yang digunakan dalam parfum dan kosmetik, seperti jenis ftalat tertentu, paraben, senyawa organik volatil, serta beberapa kontaminan. Bahan-bahan tersebut telah diteliti dalam kaitannya dengan gangguan hormon, reproduksi, pernapasan, neurologis, dan potensi kanker.

Namun, bukan aroma itu sendiri yang otomatis menyebabkan seluruh gangguan tersebut. Risiko bergantung pada jenis senyawa, konsentrasi, lama paparan, cara penggunaan, dan kondisi penggunanya. Dampak paparan berulang terhadap campuran berbagai bahan juga masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Karena itu, konsumen tidak perlu panik setiap kali menemukan kata fragrance pada kemasan sabun atau produk pembersih rumah. Sikap yang diperlukan bukan ketakutan, melainkan ketelitian.

Mengganti pewangi sintetis dengan minyak atsiri juga tidak otomatis membuat produk lebih aman. Bahan alami tetap mengandung senyawa aktif yang dapat memicu iritasi atau alergi, terutama pada kulit sensitif. Dalam urusan keamanan, kategori “alami” dan “sintetis” tidak dapat dijadikan satu-satunya patokan.

Belajar membaca sebelum mencium sabun dan pembersih lainnya

Kita tidak harus berhenti menyukai sabun yang harum. Aroma merupakan bagian dari kenyamanan dan pengalaman menggunakan sebuah produk. 

Namun, posisinya sebaiknya dikembalikan sebagai nilai tambah, bukan ukuran utama kebersihan dan keamanan.

Sebelum membeli produk, konsumen dapat memperhatikan fungsi, bahan aktif, petunjuk pemakaian, peringatan pada kemasan, dan reaksi tubuh setelah menggunakannya. Orang dengan kulit sensitif, riwayat alergi, migrain, atau gangguan pernapasan dapat mempertimbangkan produk tanpa tambahan pewangi.

Label fragrance-free pun perlu dipahami dengan tepat. Produk tersebut umumnya tidak diberi bahan khusus untuk menciptakan aroma, tetapi tetap dapat memiliki bau yang berasal dari bahan bakunya. Jadi, produk tanpa pewangi tidak selalu benar-benar tanpa bau.

Pada akhirnya, produk yang baik bukanlah produk yang paling tajam aromanya ataupun yang paling lama meninggalkan wangi. Produk yang baik adalah produk yang menjalankan fungsinya, digunakan dengan benar, dan cocok dengan kondisi penggunanya.

Lain kali ketika memilih sabun, sampo, atau deterjen, kita tetap boleh mencium aromanya. 

Namun, setelah itu, jangan lupa membalik kemasan dan membaca keterangannya. Sebab, tubuh yang harum belum tentu lebih bersih, sedangkan aroma yang menyenangkan belum tentu menjadi penanda bahwa sebuah produk paling aman.

*) Tulisan ini merupakan finalis Essay Contest Beswan Djarum 2025/2026. Naskah telah disunting oleh redaksi Mojok.co tanpa mengubah gagasan utama penulis.

Penulis: Adeline Hartono
Editod: Agung Purwandono

BACA JUGA TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai.

Terakhir diperbarui pada 18 Juli 2026 oleh

Tags: beswan djarumesaiesai mojokpewangisabun
Adeline Hartono

Adeline Hartono

Adeline Hartono adalah mahasiswa Bioteknologi Universitas Diponegoro yang aktif meneliti isu kesehatan dan lingkungan. Di sela kegiatan laboratorium, ia senang mengubah temuan ilmiah menjadi tulisan yang lebih mudah dipahami masyarakat untuk menjembatani dunia sains dengan kehidupan sehari-hari.

Artikel Terkait

Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan MOJOK.CO
Esai

Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan

16 Juli 2026
Yang Melelahkan bagi Disabilitas Tak Tampak Bukan Penyakitnya, tetapi Harus Terus Membuktikan Diri Sakit MOJOK.CO
Esai

Yang Melelahkan bagi Disabilitas Tak Tampak Bukan Penyakitnya, tetapi Harus Terus Membuktikan Diri Sakit

13 Juli 2026
Dalam Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum, Najwa Shihab berpesan pada para mahasiswa penerima Djarum Beasiswa Plus agar terus menulis (esai) apapun profesinya MOJOK.CO
Eksplor

Pesan untuk Gen Z: Menulislah Apapun Kelak Profesinya, Tak Lupa Akar di Manapun Posisinya

7 Juli 2026
Bagi Najwa Shihab, gagasan liar anak muda seperti dalam esai para penerima Djarum Beasiswa Plus dalam Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum 2026 harus diberi ruang MOJOK.CO
Eksplor

“Gagasan Liar” Anak Muda Harus Diberi Ruang, Terdengar Tak Lazim tapi Penting Dibicarakan

6 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dugaan Korupsi Bupati Sukoharjo: Warisan Bernama Korupsi MOJOK.CO

Dugaan Korupsi Bupati Sukoharjo: Warisan Bernama Korupsi 

13 Juli 2026
Beralih dari profesi dokter ke petani di Klaten. MOJOK.CO

Resah Jadi Dokter: Tangani Pasien Petani dengan Keluhan Sama, Pilih Turun ke Sawah demi “Menyembuhkan” Tanah

13 Juli 2026
Suzuki S-Presso memang mobil aneh karena jelek tapi keren MOJOK.CO

Ibarat kata, Suzuki S-Presso adalah “Crocs KW” yang jelek tapi keren dan kini menjadi benteng pertahanan terakhir melawan kegilaan dunia yang serba mahal ini

14 Juli 2026
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026
Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan MOJOK.CO

Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan

16 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.