Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia

Caroline Noel Amaris Purnomo oleh Caroline Noel Amaris Purnomo
15 Juli 2026
A A
Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia MOJOK.CO

Ilustrasi Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

PETA sebagai solusi strategis terintegrasi untuk jadikan AI teman remaja

AI memang bisa membantu mereka yang kesepian. Persoalannya, AI tidak pernah mengajarkan seseorang menghadapi penolakan, perbedaan pendapat, atau konflik yang menjadi bagian dari hubungan antarmanusia. Karena itu, solusi terhadap fenomena ini tidak cukup hanya dengan menyuruh remaja “mengurangi bermain gawai”. 

Yang dibutuhkan adalah intervensi dari banyak pihak sekaligus. Saya menyebutnya sebagai pendekatan PETA: Perlindungan, Edukasi, Teknis, dan Aktivasi sosial.

Iklan

Perlindungan Hukum Komprehensif (P)

Penerapan aturan hukum telah dilakukan oleh pemerintah California melalui Companion Chatbots Act atau S.B. 243 mulai pada 1 Januari 2026 lalu. Regulasi ini mewajibkan notifikasi berkala bahwa pengguna berinteraksi dengan AI, melarang konten seksual untuk anak di bawah umur, verifikasi ketat usia pengguna, dan mewajibkan protokol respons krisis bagi pengguna berpikiran bunuh diri. 

Edukasi Literasi Digital (E)

Kita dapat mengadopsi model kurikulum Cyber Wellness Singapura yang melatih anak bersikap kritis terhadap manipulasi algoritma sejak dini. Keberhasilan sistem ini bergantung penuh pada sinkronisasi antara Kementerian Pendidikan selaku pembuat regulasi, guru di sekolah, serta orang tua yang wajib menerapkan batas kontrol gawai di rumah. 

Di Indonesia sendiri, upaya serupa sebenarnya telah diinisiasi melalui gerakan nasional seperti Siberkreasi. Namun, program tersebut masih belum terintegrasi secara struktural ke dalam kurikulum wajib sekolah dan belum menyediakan sistem kontrol digital yang menyatukan peran aktif orang tua dan sekolah.  

Teknis Intervensi Fitur Pengembang (T)

Regulasi hukum diperkuat dengan tanggung jawab pengembang mengintegrasikan fitur “Reality Nudge”. Bukan sekadar usage timer otomatis, fitur ini mendorong pengguna untuk kembali ke dunia nyata melalui pengingat istirahat dan saran aktivitas fisik, untuk mencegah ketergantungan emosional. 

Pihak pengembang juga wajib memberikan transparansi pengolahan data pengguna agar ruang digital ini tidak disalahgunakan menjadi alat monetisasi emosi yang manipulatif.

Aktivasi Sosial (A)

Memahami bahwa alasan utama remaja berpaling pada AI adalah pencarian ruang aman dan pelarian dari kecemasan sosial, maka aktivasi ini berfokus pada penyediaan ruang diskusi aktif secara tatap muka. Ruang ini dapat dirancang dalam bentuk komunitas sebaya yang dinamakan “The Unplugged Sanctuary”. 

Solusi ini disusun berdasarkan studi riset di Jabodetabek yang menunjukkan bahwa rasa memiliki dalam komunitas penggemar justru mengurangi ketergantungan emosional remaja pada AI. 

Mekanisme operasional aktivasi sosial ini bekerja melalui tiga tahapan sistematis yang dijalankan secara konsisten pada lingkungan kampus dan komunitas tempat ibadah. Pertama, The 90-Minute Digital Detox Pact, yaitu komitmen kelompok mengunci gawai dalam kotak selama 90 menit untuk memutus distraksi digital. 

Iklan

Kedua, Vulnerability Circle, yaitu ruang refleksi di mana remaja dilatih mendengarkan tanpa interupsi, dan bertukar cerita kecemasan sosial mereka. Ketiga, Conflict Simulation Roleplay, di mana mereka diposisikan dalam simulasi konflik hubungan dunia nyata, lalu dituntun untuk mencari solusi dua arah.

AI bukan teman curhat yang sesungguhnya

Saya pernah mencoba cara sederhana bersama beberapa rekan di komunitas gereja. Kami mempertemukan remaja yang memiliki minat serupa, menemani mereka mengobrol hingga akhirnya akrab. Setelah itu kami mundur perlahan dan membiarkan mereka membangun hubungan sendiri.

Hasilnya cukup mengejutkan. Mereka mulai lebih sering bertemu, pergi bersama, dan berbincang tanpa terus-menerus menatap ponsel. Ketika menemukan teman yang benar-benar mendengar mereka, AI kembali menjadi sekadar alat hiburan, bukan pengganti hubungan manusia.

Pengalaman itu membuat saya sadar bahwa yang dicari remaja sebenarnya bukan kecanggihan AI. Mereka hanya ingin didengar. Masalahnya, algoritma selalu punya waktu untuk mendengarkan, sementara manusia sering kali terlalu sibuk. Di situlah AI menemukan celahnya. 

Pada akhirnya, AI companion adalah anestesi digital. Ia meredakan rasa sakit untuk sementara, tetapi tidak menyembuhkan akar kesepian yang membuat remaja berpaling dari hubungan nyata.

Melalui strategi PETA, kita tidak sedang menolak kemajuan teknologi, melainkan memastikan AI tetap menjadi alat yang membantu manusia, bukan menggantikan manusia. Sebab ketika algoritma menjadi satu-satunya tempat remaja merasa didengar, yang hilang bukan sekadar percakapan, melainkan kemampuan mereka untuk membangun hubungan yang autentik.

Jangan biarkan layar ponsel menjadi satu-satunya tempat remaja untuk curhat dan merasa didengar, sementara dunia nyata perlahan kehilangan suaranya.

Penulis: Caroline Noel Amaris Purnomo
Editor: Agung Purwandono

*) Tulisan ini merupakan Juara III Essay Contest Beswan Djarum 2025/2026. Naskah telah disunting oleh redaksi Mojok.co tanpa mengubah gagasan utama penulis.

BACA JUGA Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan dan tulisan menarik lainnya di Esai Mojok.co

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 15 Juli 2026 oleh

Tags: AIArtificial Intelligencecurhatremajateman
Caroline Noel Amaris Purnomo

Caroline Noel Amaris Purnomo

Artikel Terkait

Usaha les komputer di Bogor. MOJOK.CO
Urban

Tak Hasilkan Banyak Cuan dari Buka Usaha Les Komputer, tapi Merasa Bermakna Bisa Ajarkan Gen Alpha yang Masih Gaptek

30 Juni 2026
siswa sekolah.MOJOK.CO
Sekolahan

Sisi Lain AI yang Melemahkan Nalar Siswa: Kesulitan Calistung, Tak Bisa Membaca Jam, hingga Sulit Mengingat Materi Pelajaran

17 Juni 2026
Kita Sibuk Menertawakan Baby Boomer yang Tertipu AI, Padahal Gen Alpha Punya Masalah yang Lebih Berbahaya MOJOK.CO
Esai

Kita Sibuk Menertawakan Baby Boomer yang Tertipu AI, Padahal Gen Alpha Punya Masalah yang Lebih Berbahaya

12 Juni 2026
Curhat dan ziarah di makam ibu, tempat terbaik pulang tanpa penghakiman MOJOK.CO
Sehari-hari

Curhat di Makam Ibu Dianggap Lebay dan Sia-sia, Tapi Jadi Tempat Pulang Terbaik yang Penuh Makna dan Rasa Lega

5 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

cari kerja, UGM.MOJOK.CO

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026
donasi ekonomi.MOJOK.CO

“Rakyat Bantu Rakyat” Menguat, tapi Jangan Jadi Alasan Pemerintah Lepas Tangan dan Abai Pada Nasib Masyarakat

14 Juli 2026
SSB MAS merawat bibit-bibit muda sepak bola Kota Jogja meski dari Lapangan Minggiran yang tidak rata MOJOK.CO

SSB Tertua di Kota Jogja Merawat Bibit-bibit Muda Meski dari Lapangan Bola Tidak Rata

11 Juli 2026
manfaat program WiFi gratis bagi pedagang sekaligus warga Klaten. MOJOK.CO

Memanfaatkan WiFi Gratis di Sejumlah Titik Klaten: Meski Harus Berebut, Tetap Jadi Solusi Alternatif saat Paket Data Habis

10 Juli 2026
Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan MOJOK.CO

Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan

16 Juli 2026
Yang Melelahkan bagi Disabilitas Tak Tampak Bukan Penyakitnya, tetapi Harus Terus Membuktikan Diri Sakit MOJOK.CO

Yang Melelahkan bagi Disabilitas Tak Tampak Bukan Penyakitnya, tetapi Harus Terus Membuktikan Diri Sakit

13 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.