Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kepala Suku

Nasib Tulisan Motivasi di Sebuah Grup Whatsapp

Puthut EA oleh Puthut EA
6 Juni 2018
A A
KEPALA SUKU-MOJOK

KEPALA SUKU-MOJOK

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK – Saya sering dimasukkan ke dalam grup Whatsapp yang aneh-aneh. Whatsapp, selain mempermudah urusan saya, sering sekali merepotkan. Terutama soal grup.

Sebagai orang yang gak enakan, saya tidak mau keluar dari grup. Takut nanti dikira sombong. Tapi kalau dibiarin, hape saya terganggu karena harus mengakomodasi lebih dari 30 grup Whatsapp. Akhirnya saya punya solusi. Saya membeli hape satu lagi khusus untuk mewadahi grup Whatsapp ini.

Hape itu sering saya biarkan di rumah. Atau saya taruh di meja kerja dan tidak pernah saya sentuh. Kalaupun saya pakai kalau pas hape utama saya habis batrei. Itu pun bukan untuk ngecek grup Whatsapp melainkan nonton YouTube atau browsing berita.

Dua kali seminggu, saya buka grup-grup Whatsapp itu. Semata supaya notifikasi grup yang menyatakan belum terbaca, hilang. Sesekali saya simak isi obrolan. Sesekali menimpali supaya terkesan tidak sombong. Ya hidup memang begitu. Tidak semua harus sesuai dengan keinginan kita.

Tapi sering pula grup Whatsapp memberi hiburan. Seperti tadi pagi. Sebagaimana biasa, sering sekali orang mengunggah kisah yang dianggap inspiratif seperti di bawah ini. Saya kutip lengkap:

—-

Di depan gerbang suatu jembatan di salah satu kota Eropa, duduklah seorang buta peminta-minta.

Ia setiap hari duduk di situ sambil memainkan biolanya yang sudah usang dan menaruh  kaleng di depan dia duduk. Dia berharap orang-orang yang lalu lalang merasa iba mendengar gesekan biolanya dan memberinya sedikit uang.

Pada suatu hari, seorang pria yang berjubah panjang lewat dan memperhatikan peminta minta buta yang sedang memainkan biolanya namun tidak ada orang lewat yang mau memperhatikan. Pria tersebut akhirnya datang menghampiri peminta buta tadi dan meminta agar peminta buta itu meminjamkan biola usangnya.

Tentu saja si peminta buta itu menolak, dan berkata, “Tidak! Ini adalah hartaku satu satunya!”

Tetapi orang tersebut terus membujuk agar si peminta buta mau meminjamkan biolanya, meski hanya untuk sebuah lagu. Akhirnya si peminta buta itu, dengan terpaksa, memberikan biola tua miliknya.

Dan Pria yang berjubah panjang tersebut berbisik, “Saya akan beri contoh bagaimana memainkan biola dengan sepenuh hati, dengan tujuan sungguh-sungguh untuk menghayati dan masuk di dalam lagu itu.” Bukan sekadar memainkan atau hanya mencari iba dengan cepat menyelesaikannya.

Setelah itu, dia mulai memainkan sebuah lagu dengan begitu indah dan syahdu. Suara biola yang begitu halus di tangan si pemain ini, membuat semua orang yang lewat berhenti. Mereka mengelilingi si pemain biola dan si peminta buta tersebut.

Begitu merdunya lagu dan bagusnya permainan biola si pria tersebut, membuat semua orang terdiam, terhanyut oleh gesekan biolanya. Kerumunan makin membesar.

Iklan

Si pengemis buta pun terkesan dan ternganga tanpa dapat berkata-kata. Kaleng yang tadinya kosong kini telah penuh dengan uang. Bahkan sampai keluar dari kaleng karena tidak cukup lagi menampung uang yang bukan hanya recehan tapi lembaran dolar yang di berikan orang-orang yang berkerumun di situ itu.

Ternyata tidak cuma satu lagu, tetapi beberapa lagu dimainkan oleh si pemain biola tersebut. Akhirnya ia pun menyelesaikan permainannya. Sambil mengucapkan terima kasih, ia mengembalikan biola itu kepada si pengemis dan berpesan kepada peminta buta itu, “Sekarang pulanglah. Dengan uang yang engkau dapat hari ini, belilah baju yang baik, mandi, cukur rambut, dan rapikan jenggotmu. Mulai besok bermainlah seperti yang aku katakan dan aku contohkan.”

Si pengemis dengan berlinang air mata dan gemetar mengucapkan terimakasih. Si pria ini tersenyum dan dengan perlahan meninggalkan tempat itu.

KEESOKANNYA

Sungguh, peminta buta tadi sudah kembali duduk di tempat yang sama tetapi berbeda penampilan. Dia memakai setelan jas dengan rambut dikuncir, janggut rapi, dengan bau parfum yang lembut. Dia mulai memainkan biolanya dengan halus dan dengan sepenuh hati.

Sebentar saja orang-orang yang lewat kembali berkerumun menikmati 1 hingga 2 lagu dari si peminta buta sambil memasukan uang ke dalam kotak yg cukup besar.

Sejak hari itu peminta buta bukan lagi dianggap sebagai peminta-minta tapi orang menyebutnya: Seniman jalanan, yang sangat menghibur pejalan yg lewat di gerbang jembatan

—-

Sebetulnya tulisan itu masih panjang. Tapi jenis tulisan seperti ini pastilah membosankan Anda. Setidaknya membosankan saya. Apalagi kalimat-kalimat berikutnya adalah himbauan dan nasihat serta motivasi hidup.

Tapi bukan itu yang membuat saya tertawa geli. Salah satu anggota grup kemudian bertanya, “Itu Eropa di bagian mana kok uangnya dolar?”

Satu lagi menambah, “Lha itu katanya buta kok tahu kalau orang-orang banyak berkerumun?”

Lalu ditambahi lagi dengan komentar, “Lha itu sebetulnya kan masih juga pengemis. Masak seniman pengemis? Itu hanya pengemis yang necis.”

Seandainya Anda seorang motivator, dan pesertanya sebawel anggota grup Whatsapp itu, maka saya tak tahu apa yang harus Anda lakukan…

Terakhir diperbarui pada 6 Juni 2018 oleh

Tags: grup whatsappMotivasipengemis butaseniman jalanan
Puthut EA

Puthut EA

Kepala Suku Mojok. Anak kesayangan Tuhan.

Artikel Terkait

Derita perempuan di grup WA mahasiswa FH UI. Isinya kekerasan seksual. MOJOK.CO
Sehari-hari

Nasib Perempuan di Tongkrongan dan Grup WA yang Isinya Laki-laki Mesum: Jelek Dihina, Cantik Dilecehkan

15 April 2026
Sarjana nganggur diteror info loker di grup WA keluarga. MOJOK.CO
Sekolahan

Grup WhatsApp Keluarga Besar Isinya “Teror” bagi Sarjana Nganggur, Sehari-hari Dikasih Info Loker Aneh-aneh

18 Februari 2026
Dakwoh membuktikan bahwa hijrah nggak harus ninggalin dunia lama. Simak perjalanan hidupnya yang penuh tantangan dan inspirasi
Video

Motivasi Hidup Ala Dabwok: Hijrah Nggak Harus Ninggalin Musik

17 Mei 2025
6 Demotivasi dari Indonesia pada Hari Pertama sebagai Negara
Esai

6 Demotivasi dari Indonesia pada Hari Pertama sebagai Negara

19 Agustus 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pekerja Jakarta, WFH, kerja sesuai hobi.MOJOK.CO

Kerja Sesuai Hobi Bikin Menderita: Kita Jadi Tak Lagi Punya Tempat Menenangkan Pikiran Saat Muak dengan Pekerjaan

18 Mei 2026
Anak tunggal dari pengusaha toko kelontong diterima di UGM. MOJOK.CO

Lolos UGM Justru Dilema karena Tak Tega Tinggalkan Ibu untuk Merantau dan Buka Toko Kelontong Sendirian

21 Mei 2026
WNI tergabung ke GSF menuju Gaza diculik militer Israel dan renungan kegagalan pemerintah dunia hentian genosida Palestina MOJOK.CO

Di Balik Penculikan WNI-GSF oleh Militer Israel: Sipil Berlayar karena Pemerintah Dunia Gagal Stop Genosida Palestina

19 Mei 2026
buku remy sylado.MOJOK.CO

Mendobrak Fiksi Sejarah Jawa-sentris lewat Inani Keke dan Trabar Batalla, Harta Karun yang Sempat dianggap “Budaya Rendah”

15 Mei 2026
Pegawai Bank Jualan Mie Ayam Malam Hari, Istri Bahagia dan Rumah Idaman jadi Tujuan MOJOK.CO

Kisah Pegawai Bank Jualan Mie Ayam Malam Hari, demi Istri Bahagia dan Rumah Idaman

21 Mei 2026
Nikah di KUA dianggap murahan. MOJOK.CO

Nikah di KUA adalah Solusi bagi Karjimut karena Gratis, tapi Keluarga Menentang Hanya karena Gengsi dan Dicap Nggak Niat

20 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.