Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Kalau Lulus Beasiswa LPDP, Emang Berapa Duit yang Kamu Dapat?

Nia Lavinia oleh Nia Lavinia
31 Agustus 2021
A A
Kalau Lulus Beasiswa LPDP, Emang Berapa Duit yang Kamu Dapat?

Kalau Lulus Beasiswa LPDP, Emang Berapa Duit yang Kamu Dapat?

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sudah jadi rahasia umum beasiswa LPDP itu adalah peluang dapat pemasukan yang menggiurkan. Emang dapet duit berapa sih?

Konon, cuma ada tiga pekerjaan paling aman (anti dipecat, tidak dipotong gaji, dan tidak dianggap melihara babi) selama pandemi ini di muka Bumi. Pertama, PNS; kedua, pegawai BUMN; ketiga, penerima Beasiswa LPDP.

Sebelum ini, saya pernah dua kali menulis tentang beasiswa LPDP. Pertama adalah tips lolos seleksinya, dan kedua, tanggapan soal apakah penerima beasiswa ini boleh mengkritik pemerintah.

Di tulisan ketiga ini saya mau sedikit memberikan testimoni selama menjadi penerima manfaat beasiswa LPDP. Apa saja privilese yang saya dapatkan beserta kewajiban-kewajiban yang harus saya lakukan.

Sebagai konteks, saya adalah awardee (sebutan keren dari penerima beasiswa) LPDP dalam negeri yang sudah menjalani kuliah selama 1 tahun. Seperti maba pada umumnya, saya sempat kecewa karena tidak bisa merasakan (((atmosfer))) kuliah di kampus karena perkuliahan dilaksanakan dalam sistem daring.

Awalnya saya pikir kekecewaan terbesar yang saya alami akibat kuliah daring adalah karena tidak bisa mengakses fasilitas kampus khususnya perpustakaan, tetapi setelah saya dikasih tahu kalau kuliah S2 ada coffee break-nya, rasa kecewa saya jadi lebih tinggi dari sebelumnya. Heh.

Setelah menjalani satu tahun kuliah, barulah saya menyadari bahwasanya I’m living my best life dengan skema kuliah daring ini. Saya jadi nggak perlu ngekost, merasakan macet-macetan di Jakarta, dan yang paling penting, saya masih bisa merawat (dan dirawat) oleh ibu, saya jadi tidak perlu khawatir kelaparan karena beliau selalu menyediakan makanan ketika otak saya hanya punya ruang untuk memikirkan jawaban ujian.

Tidak pernah sebelumnya dalam hidup saya, merasakan keleluasaan dalam melakukan apa pun yang saya inginkan. Saya bisa belajar tanpa diliputi sedikitpun kekhawatiran.

Saya bisa membeli buku yang saya butuhkan, mengikuti semua seminar dan pelatihan berbayar yang saya inginkan, beli software analisis data yang harganya lumayan, bisa ke psikolog tanpa mengeluarkan sedikit pun uang, dan terakhir, saya bahkan bisa nabung karena kuliah online bikin saya nggak boros seperti jika saya ada di perantauan.

Sebagai tambahan, menjadi awardee juga memperpanjang nafas saya dari pertanyaan-pertanyaan (yang sebenarnya lebih mirip tekanan) terkait kapan rencana saya untuk menikah, atau apakah saya sudah bekerja di perusahaan dengan ekspektasi gaji kelewat tinggi karena itu semua bisa diselesesaikan dengan jawaban, “saya masih sekolah Om/Tante, hehe.”

Oh, inikah indahnya menganggur sekolah sambil dibayarin negara? ~

Apa yang saya tulisan di sini terlihat begitu indah dan menyenangkan. Too good to be true, lah ~ Tapi benarkah demikian? Jangan-jangan aslinya…

…ya memang indah dan menyenangkan, soalnya gratis, Sist!

Kalau bayar sendiri nggak ada indah-indahnya, apalagi buat prekariat kayak saya, bisa S2 ya cuma bakal jadi mimpi aja karena kuliah S2 di Indonesia tuh mahaaal (apalagi di luar negeri, wqwq).

Iklan

Untuk bisa kuliahin saya di kampus dan jurusan yang sekarang (beda kampus, beda jurusan, beda-beda besaran biayanya, btw), LPDP setidaknya harus membayar:

Uang pendaftaran/tes masuk 1 juta sebanyak 1 kali

Uang pangkal/Gedung 15 juta sebanyak 1 kali

Uang semester 13 juta sebanyak 4 kali (Total 52 juta)

Dana tunjangan buku 10 juta sebanyak 2 kali (Total 20 juta)

Dana penelitian untuk tesis 15 juta sebanyak 1 kali

Itu saja sudah 100 juta lebih. Belum lagi dana biaya hidup bulanan yang jumlahnya 4 juta per bulan sebanyak 24 kali (Total 88 juta), belum ditambah biaya asuransi BPJS kelas 1, dana kedatangan ke kampus tujuan yang nilainya 2 kali biaya hidup bulanan, dan dana darurat lain, yang jika ditotal ada lah 200 juta.

Itu baru kampus dalam negeri. Untuk kampus luar negeri, totalnya bisa dikalikan mmm 5 atau bahkan 10 kali tergantung negara dan kampus tujuan.

FYI aja, awardee di kampus Amerika, Australia, Inggris, Jepang, dan negara top tier lain, (((dana biaya hidupnya))) aja rata-rata di atas 20 juta. Dana bantuan tesisnya juga dua kali lipat dari awardee dalam negeri.

Lebih ngeri lagi kalo jadi awardee program doktoral. Selain dapat biaya hidup untuk diri sendiri, juga bisa dapat dana tunjangan keluarga, dan tentu saja, dana disertasinya bisa sampai 60-75 juta (program doktoral dalam negeri), dan 120-150 juta (program doktoral luar negeri).

Selain bayarin kuliah, LPDP juga ngasih insentif berupa dana bantuan seminar internasional kalau misal kita jadi pembicara di seminar internasional, dan dana bantuan publikasi jurnal internasional jika artikel ilmiah kita terbit di jurnal dengan kategori Q1 dan Q2.

Terakhir, LPDP juga ngasih insentif kalau misal kita lulus lebih cepat—minimal enam bulan lebih cepat dari seharusnya.

Pokoknya LPDP berani membayari semua keperluan kuliah kamu, seberapa mahal pun itu. Syaratnya cuma dua: diterima di kampus yang dituju dan, tentu saja, diterima di seleksi LPDP-nya.

Nah, itu bagian yang enak-enak-nya. Sekarang bahas yang eneg-eneg-nya biar seimbang.  Di sini saya mau ngutip perkataan dari Uncle Ben Spiderman—dengan sedikit perubahan, “Remember, with great money comes great responsibility.”

Kalian pernah mikir nggak kenapa sih Kementerian Keuangan, lewat LPDP kok mau-maunya ngeluarin uang ratusan juta, bahkan miliaran buat nyekolahin satu orang yang belum jelas gimana kontribusinya buat negara?

Mana per Januari 2020, mengutip dari laman resmi LPDP, udah ada hampir 25 ribu orang lagi yang jadi penerima beasiswanya? Sebenernya apa sih yang negara harapkan?

Kalau melihat intisari statistik pendidikan tinggi yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi tahun 2020, jumlah orang yang bisa menempuh pendidikan S2 cuma 318.789 orang aja. Yang bisa sampai S3 jumlahnya lebih sedikit lagi, cuma 44.099 orang.

Jika di-breakdown lebih lanjut, dalam laporan statistik itu disebutkan kalau orang yang lanjut dari S1 ke S2 cuma sebanyak 4.46%. Dan dari jumlah 4.46% itu, yang bisa lanjut ke jenjang S3 cuma 13.86% aja. Dengan kata lain, orang Indonesia yang beneran kuliah dari S1, lanjut ke S2, dan selesai di S3 jumlahnya hanya 0,62% aja.

Itu jumlah yang sangat sangat sangat sedikit mengingat jumlah penduduk Indonesia tuh nomor 4 terbesar di dunia. Mana dari jumlah yang sangat sedikit itu kemungkinan mereka lulus semua juga nggak 100%. Masih ada kemungkinan putus kuliah karena berbagai alasan.

Artinya, lulus kuliah S2—apalagi sampai S3 adalah privilese yang sangat luar biasa. Dan privilese ini harus jadi beban biar yang kuliah dibayarin LPDP sadar diri dan nggak seenaknya sendiri.

Dengan daftar dan diterima beasiswa, artinya secara sadar kita menandatangai kontrak untuk membuat perubahan agar bikin negara setidaknya menjadi sedikit lebih baik. Masa iya kita nyaman-nyaman sendiri sementara yang bayarin sekolah (rakyat melalui pajaknya) kesusahan seumur hidupnya. Dikira LPDP yang punya Mbahmu, hah?

BACA JUGA Jatah Beasiswa Luar Negeri Bikin Kamu Berpeluang Banyakan Gaya atau tulisan Nia Lavinia lainnya.

Terakhir diperbarui pada 31 Agustus 2021 oleh

Tags: beasiswabeasiswa lpdpdisertasijurnalLPDPpenelitians2S3Tesis
Nia Lavinia

Nia Lavinia

Mahasiswa S2 Kajian Terorisme, Universitas Indonesia.

Artikel Terkait

Rasyiid, mahasiswa penerima Beasiswa KIP Kuliah UMSURA yang sisihkan uang untuk modal usaha MOJOK.CO
Sekolahan

Sisihkan Uang Beasiswa KIP Kuliah buat Modal Usaha, Kuliah Sambil Topang Ekonomi Keluarga hingga bikin Ibu Bangga

2 Juni 2026
Skandal Kopenhagen dan Travel Grant: Mengapa Sistem Akademik Indonesia Justru Melahirkan Conference Hunter Palsu? MOJOK.CO
Esai

Skandal Kopenhagen dan Travel Grant: Mengapa Sistem Akademik Indonesia Justru Melahirkan Conference Hunter Palsu?

29 Mei 2026
Rozi, dosen penyandang disabilitas Unair yang lulus S3. MOJOK.CO
Sekolahan

Perjalanan Dosen Unair yang Kehilangan 2 Kaki, Berhasil Selesaikan Kuliah S3 di FKH dengan IPK Sempurna

27 Mei 2026
Lulus S3 Jurusan Rekayasa Nuklir di ITB. MOJOK.CO
Sekolahan

Pesan dari Lulusan ITB yang Raih Gelar S3 di Usia 62 Tahun: Jangan Lupa Menikmati Hidup

25 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

pabrik semen, pracimantoro, wonogiri.MOJOK.CO

Babak Baru Perlawanan Warga Wonogiri Tolak Pabrik Semen di Pracimantoro, Bawa Ancaman Karst Gunungsewu ke Markas UNESCO

9 Juni 2026
Audiensi antara KPUS dan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi terkait anjloknya harga telur di Jateng MOJOK.CO

Upaya Merespons Situasi Harga Jual Telur di Jateng yang Anjlok dan Tidak Terserap

10 Juni 2026
Event lari Merbabu Skyrace makin diminati banyak orang lintas negara, jadi potensi sport tourisme di Jawa Tengah dengan daya tarik lari lintas alam di Gunung Merbabu MOJOK.CO

Merbabu Skyrace: Event Lari Melintasi Keindahan Gunung Merbabu, Sport Tourism yang Bikin Sebuah Dusun Mendunia

6 Juni 2026
Proyek pengelolaan sampah menjadi listrik (PSEL) Semarang Raya dilirik dunia MOJOK.CO

Proyek Sampah Jadi Listrik (PSEL) Semarang Raya Dilirik Dunia, Jadi Solusi Masa Depan Kota

5 Juni 2026
Uang recehan di dasbor motor Honda Genio ibu jadi berkah dan penyelamat bagi anak-anaknya dan orang-orang di lampu merah MOJOK.CO

Kebiasaan Ibu Taruh Uang Receh di Dasbor Motor: Jadi Berkah dan Penyelamat bagi Anaknya serta Orang-orang di Lampu Merah

9 Juni 2026
Meski tanpa sosok ayah (fatherless), tapi tidak hilang arah MOJOK.CO

Hidup Tanpa Sosok dan Peran Ayah Nyatanya Tak bikin Hilang Arah, Bisa Cari Arah Sendiri dan Malah bikin Orang Lain Iri

9 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.