MOJOK.CO – Sebagai penerima beasiswa LPDP luar negeri, gemas rasanya saya tahu permintaan oknum awardee yang curhat duitnya kurang.

Malam itu seorang teman yang bekerja ngurusi dana abadi buat mbayarin sekolah putra putri terbaik bangsa Indonesia membagikan status melalui platform Whatsapp.

Jadi ada perwakilan penerima beasiswa LPDP luar negeri yang merasa bahwa biaya hidup yang diberikan oleh LPDP di negara tertentu –nama negaranya disensor oleh teman saya– perlu “penyesuaian untuk kebaikan bersama“.

Yaelah gayamu cah, tinggal bilang minta ditambahi wae kok ndadak mbulet kayak tahu, gitu batin saya.

Tanpa pikir panjang saya pun membalas status beliau, “Dari dulu kok masalahé gini terus,” plus emot ketawa. Lantas dibalas beberapa saat kemudian dengan kata, “Ho oh ki.“

FYI, saya juga dulu penerima beasiswa LPDP luar negeri, jadi lumayan tahu tentang permintaan-permintaan oknum awardee yang terkadang sungguh membagongkan sekali. Membuat saya ingin njempalik rasanya.

Saya masih ingat dulu pernah ada oknum yang mengusulkan jalur seleksi khusus bagi alumni beasiswa LPDP untuk mengisi pos-pos tertentu, misalnya dalam seleksi CPNS.

Alasannya, ada kemungkinan para alumni akan kesulitan untuk “berkontribusi“ dan jika negara tidak memiliki rencana strategis dan praktis terhadap penerima beasiswa LPDP, maka mereka akan berpotensi pulang sebagai masalah/gelombang pengangguran intelek. Bhaaa… Lah kok penak?

Terkait dengan biaya hidup tadi, saya jadi ingat permintaan template beberapa kenalan saat mereka tahu kalau saya sekolah di Prancis. “Bach, betul ya produk apel kroak alias Apple lebih murah di Prancis? Nitip dong satu kalau pas pulang?“

Baca juga:  Gelisah Karena Terus-Menerus Dipaksa Orangtua Ikut Seleksi CPNS

Lantas saya jawab, “Ya di sini memang semuanya lebih murah, dengan catatan, pendapatanmu sama dengan warga lokal Prancis.“

Lagian mahal atau murah kok cuma dipahami secara tekstual, lha yo ndak mashoook.

Sebagai gambaran, upah bersih minimum di Prancis pada tahun 2021 adalah 1.231 euro per bulan. Kalau dikonversi ke rupiah dengan kurs 17 ribu, maka upah minimum di Prancis sebulan setara dengan 3 gelas susu 11 kali UMR Kabupaten Sleman, alias senilai 20,9 juta.

Kalau cuma buat beli iPhone 12 Pro yang harga paling murahnya itu 1.159 euro atau 19,7 juta sih, gaji buruh Prancis satu bulan juga masih dapat uang kembalian. Sepele.

Nggak usah dibandingin sama UMR Sleman deh, terlalu njomplang. Dicoba pakai UMR DKI Jakarta yang notabene paling tinggi se-Indonesia, yaitu 4,4 juta, kita pun masih butuh nabung, seenggaknya 5 bulan, buat beli iPhone 12 Pro cash keras.

Itu pun dengan catatan 5 bulan harus nginep di kantor. Lha gajinya kan dah habis? Njuk gak bisa bayar kontrakan dan gak makan. Ngaaaaa.

Padahal kalau melihat jatah biaya hidup dari duit beasiswa LPDP luar negeri, di Prancis misalnya, itu sudah di atas upah minimum Prancis lho. Tahun 2019 tercatat 1.300 euro per bulan untuk satu gundul.

Kalau punya suami/istri dan 1 anak, masing-masing dapat tambahan 25 persen, jadi per bulan bisa dapat 1.950 euro. Masak sih segitu masih kurang? Mari kita kulik untuk perkiraan biaya hidup layak penerima beasiswa LPDP di luar negeri, dengan contoh kasus: mahasiswa berstatus single.

Murah atau mahal, sekali lagi, harus diletakkan dalam konteks ekonomi, dan tentu saja, tidak dapat berdiri sendiri.

Baca juga:  Penghancuran Al-Quran di Andalusia

Di Prancis, pengeluaran terbanyak adalah untuk sewa apartemen. Per bulan saya sekeluarga harus merogoh kocek 900 euro untuk tempat tinggal, sudah termasuk internet, air, gas, dan listrik.

Jika tinggal sendirian, sewa kamar apartemen per bulan berkisar 500 sampai 700 euro. Tempat tinggal memang mahal di Prancis, bahkan beberapa kolega saya pun masih memilih untuk sewa apartemen karena pengajuan kreditnya di bank untuk nyicil rumah 20 tahun tidak disetujui. Hiks.

Pengeluaran terbanyak kedua dan paling fleksibel untuk disiasati adalah yang terkait urusan perut alias makan.

Jika memasak sendiri, dengan 250 sampai 300 euro per bulan sebenarnya kalian sudah bisa makan enak dan bergizi plus bonus untuk 3-4 kali makan di restoran. Dan yang jelas ndak usah nyari makanan yang nggak ada ya.

Tempe penyet, cah kangkung, rujak mangga, dan es degan di Indonesia memang biasa aja. Tapi kalau di luar negeri ya udah jadi makanan mewah. Kraaaaaayyyy….

Langganan tiket transportasi kalau di Paris dan karesidenan sekitarnya cukup dengan 75 euro sepuasnya. Pulsa internet sebulan sekitar 25 euro. Kebutuhan lain macam sabun, sampo, pasta gigi, dan sejenisnya taruhlah 50 euro per bulan. Sampai sini kalau semua dijumlahkan totalnya ada 1.150 euro.

Masih ada sisa 150 euro bisa buat ditabung, belanja baju pas musim diskon, atau jalan-jalan keliling Eropa. Supaya lebih afdol kalau mau pasang bio “half time student, full time traveler“.

Baca juga:  5 Alasan Argentina Lolos ke Babak 16 Besar Piala Dunia 2018

Masalah perabotan, kalian bisa beli barang bekas di situs daring, keliling kampung pas jadwal buang sampah trus ambil yang masih bagus, nunggu warisan dari kenalan, atau aktif di situs khusus barang-barang gratis supaya tidak semakin mencemari Bumi.

Tiap desa atau asosiasi di kampung juga biasanya punya semacam jadwal rutin thrift shop gitu. Lha gimana, mereka punya empat musim dan cenderung bosenan dengan tren baju tahun lalu je. Ya harus kita manfaatkan saja dong.

Sebagai penggemar buku, beberapa koleksi buku berbahasa Prancis saya juga hasil mungut di tempat sampah, beli bekas, atau dikasih sama orang.

Jadi buat oknum awardee beasiswa LPDP luar negeri yang masih suka ribut minta kenaikan jatah biaya hidup, saya sampai sekarang masih tetap berani mengatakan: jatah beasiswa LPDP kamu itu nggak cukup untuk mencukupi biaya hidup atau mencukupi gaya hidupmu?

Muhasabah diri Anda wahai oknum awardee! Evaluasi diri!

BACA JUGA Sudah Tajir Kok Cari Beasiswa Bidikmisi, Kemaruk Amat Kayak Fir’aun dan tulisan Bachtiar W. Mutaqin lainnya.