Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Madiun, Kota dengan Ruang Publik yang Berlimpah Lebih Memesona ketimbang Jogja yang Katanya Kota Pendidikan

Fajar Junaedi oleh Fajar Junaedi
2 Februari 2024
A A
Jogja Begitu Merana, ketika Madiun Justru Makin Memesona MOJOK.CO

Ilustrasi Jogja Begitu Merana, ketika Madiun Justru Makin Memesona. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Mari mengagumi Madiun

Madiun adalah sebuah kota di bagian barat Jawa Timur. Kamu bisa mengakses Madiun dari Jogja melalui jalan raya maupun rel besi. Bus Eka, Sugeng Rahayu, dan Mira tersedia 24 jam di Terminal Giwangan. 

Kereta api dari arah Jakarta, Bandung, dan kota-kota lain di bagian barat Pulau Jawa yang menuju Surabaya dan Malang bisa dipastikan melalui stasiun Madiun. Tiket go show-nya cukup murah, hanya Rp90 ribu. Dua jam di dalam kereta, Madiun bisa dijejaki.

Keluar dari Stasiun Madiun, kursi dan bangku dari besi-kayu melengkapi trotoar yang lebar. Sebuah kondisi yang jarang terlihat di Jogja. Menuju ke barat Stasiun Madiun, ada Pasar Sepur. Pasar ini mendapatkan namanya karena letaknya di dekat Stasiun Madiun dan bengkel kereta. 

Pada zaman Pak Habibie mendapat kepercayaan Presiden Soeharto untuk memajukan industri strategis, bengkel kereta itu berubah menjadi PT. INKA. Dari sinilah kereta api dibuat, menjadikannya sebagai salah satu ikon Madiun.

Menuju ke selatan Pasar Sepur, nampaklah Jalan Pahlawan. Jalan ini menjadi jalan utama di kota Madiun. Sepanjang jalan ini, pusat pemerintahan kota dan pusat perbelanjaan berada. 

Yang paling menarik dari jalan Pahlawan adalah jalur lebar untuk pedestrian, yang kontras sekali dengan kondisi Jogja. Di beberapa titik, ada kursi dan bangku yang terbuat dari besi dan kayu. 

Bagi mahasiswa, tentu ini menjadi oase untuk nugas, tanpa perlu keluar uang sebagaimana saat nugas di kafe. Tidak perlu takut jika gerimis datang. Payung yang lebar melindungi dari hujan gerimis. Hanya hujan deras disertai angin yang tidak bisa dilawan payung yang ada.

Kota yang berhasil mengembalikan definisi ruang publik 

Dalam perspektif spasial, kita bisa memaknai ruang publik sebagai tempat di mana setiap orang memiliki hak untuk memasukinya tanpa harus membayar tiket masuk dan sejenisnya. Ruang publik bisa berbentuk jalan (termasuk di dalamnya pedestrian), tanah perkerasan (pavement), public squares, dan taman. 

Undang Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, menyebutkan bahwa ruang publik dapat dalam rupa Ruang Terbuka Hijau Publik (RTHP) atau Ruang Terbuka Non Hijau Publik (RTNHP). Pemerintah, secara institusional, harus menyediakan keduanya. Di Madiun, ruang kedua ruang publik ini tersedia dengan melimpah ruah. Bukan hanya di Jalan Pahlawan, ruang publik tersedia di berbagai sudut kota. Sangat berbeda kondisinya dengan Jogja, bukan?

Pembangunan ruang publik, secara serempak, juga memudarkan wilayah yang mulanya dikenal rawan kriminalitas. Jalan Bogowonto, yang terletak tidak jauh dari Alun-Alun Madiun, dulu adalah sebuah jalan yang di mana kereta api Madiun-Ponorogo berjalan dengan lintasan yang melengkung. 

Setelah kereta api Madiun-Ponorogo terakhir kali beroperasi pada 1982, Jalan Bogowonto menjadi lokasi penjualan minuman keras buatan lokal. Kini, di sana, gerbong kereta api dipasang kembali. Pemasangan gerbong kereta api menjadi rawatan ingatan bahwa pernah ada kereta api yang melintasi tengah Kota Madiun.

Jogja perlu belajar banyak dari Kota Brem

Di tahun 1990-an, Madiun adalah kota yang lekat dengan tawuran perguruan silat. Karnaval hari kemerdekaan yang biasanya melintas dari Alun-Alun ke Stadion Wilis laksana film Mandarin yang sedang populer di era tersebut. 

Dua perguruan silat terkemuka, Persaudaraan Setia Hati Terate dan Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo selalu menjadi bintang. Keduanya berakar pada sejarah yang lekat, dengan atribut yang sama-sama hitam. Yang paling membedakannya saat karnaval adalah sabuk putih untuk perguruan yang disebut pertama, dan sabuk kuning untuk perguruan yang disebut terakhir.

Kebetulan, dulu sekali sebelum mukim di Jogja, saya bersekolah di Sekolah Menengah Atas Negeri 3 Madiun di pertengahan dekade 1990-an. Lokasi sekolah yang saat itu berada tidak jauh dari Stadion Wilis. Generasi kami menjadi saksi betapa kerasnya Kota Brem kala itu. 

Iklan

Saat karnaval, 2 perguruan tersebut biasanya ditaruh di paling depan dan paling belakang. Namun, tetap saja tawuran terjadi. Belum lagi, setiap awal bulan Suro dalam kalender Jawa, di mana keduanya menggelar tradisi masing-masing. Potensi tawuran bisa meledak.

Kini, semuanya tinggal kenangan. Kedua perguruan silat yang mengakar di Madiun tersebut telah berdamai. Di ruang publik yang berada di Madiun, kamu akan dengan mudah menjumpai anak muda dengan atribut kedua perguruan silat tersebut saling berinteraksi. Jogja, seharusnya belajar dari Madiun. Sebuah kota yang sukses bertransformasi dengan ruang publiknya!

Penulis: Fajar Junaedi

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Madiun Membuat Takjub: Kota yang Kini Cocok untuk Pensiun dan Hidup Bahagia dan analisis menarik lainnya di rubrik ESAI.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 2 Februari 2024 oleh

Tags: BabarsariBantuljalan kaliurangJawa TimurJogjamadiunruang publik jogjaruang terbuka hijau jogjaslemanstasiun madiunUADUIIUMY
Fajar Junaedi

Fajar Junaedi

Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan sekretaris Lembaga Pengembangan Olahraga Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Artikel Terkait

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, akan beri pendampingan korban daycare Little Aresha dan akan lakukan sweeping MOJOK.CO
Aktual

Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

27 April 2026
Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik MOJOK.CO
Pojokan

Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik, Membuat Derak Roda Ekonomi Bergerak ke Seluruh Pelosok DIY

26 April 2026
Dugaan penganiayaan anak di daycare Little Aresha, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Jogja MOJOK.CO
Aktual

Hancur Hati Ibu: Amat Percaya ke Daycare LA Jogja dan Suka Kasih Tip ke Pengasuh, Anak Saya Justru Dibuat Trauma Serius

25 April 2026
Tips Makan Soto Bening Jogja bagi Para Pendatang yang Selalu Gagal Menikmatinya Mojok.co
Pojokan

Tips Makan Soto Bening Jogja bagi Para Pendatang yang Selalu Gagal Menikmatinya

24 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

kos dekat kampus, kos murah.MOJOK.CO

Punya Kos Dekat Kampus Menguras Mental dan Finansial, Gara-Gara Teman Kuliah yang Sering Menginap tapi Tak Tahu Diri

29 April 2026
Perburuan burung kicau untuk penuhi pasar skena kicau mania tinggi, ternyata bisa ancam manusia dan bumi MOJOK.CO

Perburuan Burung Kicau untuk Penuhi Skena Kicau Mania Tinggi: Jawa Jadi Pasar Besar, Bisa Ancam Manusia dan Bumi

2 Mei 2026
Kos dekat kampus lebih baik bagi mahasiswa

Kos Dekat Kampus: Akal-akalan Mahasiswa “Malas” agar Tak Perlu Bangun Pagi dan Bisa Berangkat Mepet

29 April 2026
Hidup anak perempuan pertama dibebankan ekspektasi orang tua

Anak Perempuan Pertama di Keluarga Korbankan Kebebasan Masa Muda demi Penuhi Tuntutan Jadi Orang Tua untuk Adik, padahal “Sengsara” Sendirian

3 Mei 2026
Arta Wahana, pensiunan UGM isi waktu dengan berkebun selada (dok. UGM)

35 Tahun Mengabdikan Diri di UGM, Kini Pilih Budidaya Selada Hidroponik Malah Hasilkan Omzet Harian Rp750 Ribu

3 Mei 2026
UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang.MOJOK.CO

UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang

27 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.