Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Warga Kecamatan Selo Boyolali “Jihad” Mempertahankan Tanah, Enggan Menjualnya ke Investor Luar, Menolak Membuka Destinasi Wisata Secara Ugal-ugalan karena Bertani Adalah Prioritas

Khoirul Atfifudin oleh Khoirul Atfifudin
1 Juni 2025
A A
Jihad Warga Kecamatan Selo Boyolali Mempertahankan Tanah MOJOK.CO

Ilustrasi Jihad Warga Kecamatan Selo Boyolali Mempertahankan Tanah. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Menuju ladang tembakau di Kecamatan Selo Boyolali

Setelah memuaskan mata dengan pemandangan indah di Kecamatan Selo Boyolali, kami bergegas mengunjungi ladang tembakau. Pagi itu, kami berencana untuk mengambil footage dan menggali cerita kehidupan masyarakat Selo yang mayoritas bertani, khususnya di Desa Tarubatang dan sekitarnya. 

Masyarakat Kecamatan Selo Boyolali sendiri mengandalkan tembakau ketika musim kemarau. Saat kemarau panjang, mereka tidak bisa ganti tanaman begitu saja. Maklum, hanya tembakau yang bisa bertahan di sana.

Cukup lama saya mengobrol dengan beberapa petani di ladang tembakau. Banyak hal yang saya catat. Misalnya, petani tembakau di Kecamatan Selo Boyolali ini, dengan bercanda, menegaskan tidak ada yang namanya resign, apalagi ganti profesi. 

Padahal, bertani tembakau itu tidak mudah. Hantaman regulasi, kubu anti-antian terus menghajar mereka habis-habisan. Tapi mereka terus menekuni pekerjaannya itu. 

Terbukti, banyak di antara mereka mulai ikut bertani sejak kecil (taruhlah usia belasan). Dan kini usianya ada yang 50 tahun, bahkan ada juga yang sudah 80 tahun. Rasa-rasanya kok cuma petani yang bisa seperti itu. Makanya tidak salah kalau ada yang bilang jadi petani itu bisa bikin hati tenang. 

Menariknya lagi, di berbagai desa yang masuk wilayah Kecamatan Selo Boyolali, lahan pertanian dekat dengan rumah. Depan atau samping rumah ada lahan pertaniannya. 

Dari situ saya jadi teringat pernyataan ibu saya yang bilang enaknya petani itu ya kalau punya lahan dekat rumahnya. Saya mengamininya karena kapan saja para petani bisa mengamati lahan garapannya. 

Tidak tertarik untuk membuka wisata secara ugal-ugalan

Bukan hanya itu, desa yang masuk ke wilayah Kecamatan Selo Boyolali seperti yang awal saya cerita di awal memiliki pemandangan yang indah. Nah, saya jadi penasaran, kenapa mereka tidak membuat penginapan, vila, resto, dan sebagainya. 

Saya pikir mereka bisa dan mampu melakukannya. Mengingat lahan dan rumah yang ada di sekitar situ terbilang cukup luas. Akses jalanan ketika sudah sampai di Kecamatan Selo Boyolali juga bagus cukup mudah. Minus di lampu penerangan jalan saja. Coba ini di Jogja, pasti sudah muncul banyak fasilitas yang menunjang destinasi wisata. 

Nah, rasa penasaran itu terjawab ketika saya ngobrol dengan Pak Parman, pemilik basecamp yang kami tempati. Kata beliau, kebanyakan masyarakat di sini memang tidak terlalu tergiur dengan pembangunan seperti itu. Mereka lebih memilih menjadi petani saja. Entah bertani sayuran atau tembakau ketika kemarau. 

Bahkan kalau membicarakan tembakau di Kecamatan Selo Boyolali, para petani mengaku “berutang budi” karenanya. Pada 2011, di Desa Surodadi, semua petani bisa membeli mobil. Satu rumah, satu mobil, dan di sana ada 60 KK. Itu semua ya karena tembakau!

Baik-buruknya hasil tembakau, masyarakat sekitar Kecamatan Selo Boyolali tetap harus menanamnya. Tembakau memang memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan menjadi tanaman yang mampu bertahan di musim kemarau. 

Saya jadi kepikiran. Seandainya tidak ada tembakau, mungkin wilayah Kecamatan Selo Boyolali yang luas lahan pertaniannya mencapai ribuan hektar, akan menjadi vila, resto atau bangunan-bangunan wisata lainnya. Kekayaan yang muncul tidak akan dinikmati warga lokal, tapi taipan dengan modal besar. 

Warga Kecamatan Selo Boyolali tidak mau menjual lahan ke orang luar

Keteguhan hati untuk tetap bertani didukung juga oleh sikap warga Kecamatan Selo Boyolali yang tidak mau menjual tanah ke orang luar. Kata Pak Parman, ada kesepakatan soal ini.

Iklan

Jadi, kalau misal ada warga yang menjual tanah ke orang luar, dia harus membagi 50% hasil penjualan untuk desa. “Dari situ kan nggak ada yang jual mas akhirnya,” kata Pak Parman disertai gelak tawa.

Pak Parman bercerita. Jadi dulu sempat ada lahan miliknya yang membuat orang tertarik. Mau disewa Rp16 juta per tahun katanya. Tapi, Pak Parman menolak. 

Nah, rumah yang kini menjadi basecamp itu dulu sempat disekat menjadi 6 kamar. Tapi akhirnya dibongkar karena ada beberapa orang yang menanyakan bisa disewa atau tidak.

“Pernah ada muda-mudi mau nyewa. Wah saya langsung menolaknya. Ini pasti mau gimana-gimana. Jadi saya mending bongkar saja kamar itu dan saya biarkan jadi ruang untuk tidur banyak orang,” kata Pak Parman. 

Tidak hanya itu, indahnya pemandangan di Kecamatan Selo Boyolali adalah incaran banyak investor. Tapi sekali lagi, masyarakat di sini menolaknya. Mereka lebih memilih mengandalkan lahan untuk bertani. Bagi masyarakat Selo, kunjungan wisatawan yang mayoritas mendaki adalah “sampingan” saja. Prioritas ya tetap bertani. 

Cerita Pak Parman dan beberapa petani di Kecamatan Selo Boyolali soal mempertahankan tanah membuat saya teringat wejangan almarhum Prie GS. 

Kata beliau, “Menjaga sawah, merawatnya, dan tidak mudah menjualnya bahkan walau hasil panen kecil, adalah bentuk jihad yang bisa dilakukan oleh warga desa.”

Penulis: Khoirul Atfifudin

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Selo Boyolali, Tempat Orang Tulus Bermukim dan catatan menarik lainnya di rubrik ESAI.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 1 Juni 2025 oleh

Tags: boyolaligunung merapigunung merbabuJihadKecamatan SeloKecamatan Selo Boyolaliklatenprie gstemanggung
Khoirul Atfifudin

Khoirul Atfifudin

Penyuka musik dan tertarik menulis.

Artikel Terkait

Event lari Merbabu Skyrace makin diminati banyak orang lintas negara, jadi potensi sport tourisme di Jawa Tengah dengan daya tarik lari lintas alam di Gunung Merbabu MOJOK.CO
Kilas

Merbabu Skyrace: Event Lari Melintasi Keindahan Gunung Merbabu, Sport Tourism yang Bikin Sebuah Dusun Mendunia

6 Juni 2026
Pesona Gerabah Lukis Khas Klaten di Festival Sepeda Internasional, Sukseskan Misi Kebudayaan yang Memukau Bule.MOJOK.CO
Eksplor

Pesona Gerabah Lukis Khas Klaten di Festival Sepeda Internasional, Sukseskan Misi Kebudayaan yang Memukau Bule

4 Juni 2026
Peserta nyentrik gowes ke Klaten untuk ikut KLIC Fest 2026. MOJOK.CO
Eksplor

“Onthelis” dari Nusantara Rela Gowes Berhari-hari dengan Sepeda Tua Guna Misi Kebudayaan yang Memukau Para Bule

3 Juni 2026
ilustrasi sepeda klaten.MOJOK.CO
Eksplor

Belajar Makna “Paseduluran” dari Penjual Onthel Lawas yang Sudah Tiga Dekade Hidup dari Pit Kebo

2 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jawa Tengah dan Bappenas bersinergi dalam percepatan pembangunan infrastruktur di Pantura dan Pansela MOJOK.CO

Pembangunan Infrastruktur Pantura dan Pansela Jadi Prioritas karena Jateng Punya Banyak Potensi Ekonomi

9 Juni 2026
Meski tanpa sosok ayah (fatherless), tapi tidak hilang arah MOJOK.CO

Hidup Tanpa Sosok dan Peran Ayah Nyatanya Tak bikin Hilang Arah, Bisa Cari Arah Sendiri dan Malah bikin Orang Lain Iri

9 Juni 2026
Salah paham terhadap paket intimate wedding di wedding organizer (WO) MOJOK.CO

Salah Paham pada Paket Intimate Wedding di WO: Dikira Tekan Biaya padahal Bisa Tetap Mahal, Karena Intimate dan Biaya Itu Dua Hal Berbeda

4 Juni 2026
Sejumlah titik ruas jalan rusak di Jawa Tengah (Jateng) dapat perbaikan di 2026 MOJOK.CO

Jalan Rusak di Jawa Tengah Dapat Perbaikan di 2026: Rusak Berat Diprioritaskan, Pengerjaan Dilarang Asal-asalan

5 Juni 2026
Usai lulus SMA jadi fotografer di Kota Lama Surabaya. MOJOK.CO

Jadi Fotografer Lepas di Kota Lama Surabaya usai Lulus SMA, Gaji Tak Seberapa asal Bisa Menabung untuk Masa Depan yang Lebih Cerah

4 Juni 2026
Edi Dimyati. MOJOK.CO

Kisah Pustakawan Menyulap Rumahnya di Pinggir Sungai Jakarta Timur agar Bisa Nongkrong Kalcer sambil Baca Buku

8 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.