MOJOK – Aplikasi AI akan membuat pekerjaan kasar dan berulang akan digantikan robot, sementara pekerjaan kreatif dan empati akan abadi. Itu janji bodong!
Beberapa tahun yang lalu, narasi revolusi industri 4.0 didengungkan dengan begitu gagahnya di berbagai seminar kampus dan acara televisi. Salah satu janji manis yang paling saya ingat adalah: “Pekerjaan kasar dan berulang akan digantikan oleh robot, sehingga manusia bisa fokus pada pekerjaan yang membutuhkan kreativitas dan empati.”
Sebagai mahasiswa Sosiologi yang sedang pusing memikirkan nasib setelah lulus, kalimat itu terdengar seperti angin surga. Di kepala saya, masa depan itu wujudnya gilang-gemilang.
Para buruh pabrik yang lelah mungkin akan dialihprofesikan, sementara anak-anak muda yang mendaku diri sebagai “pekerja kreatif”—desainer grafis, copywriter, ilustrator, hingga penulis lepas—akan menjadi kasta pekerja kerah putih baru yang tak tergantikan. Sebab, mesin tak punya soul, begitu kata pepatah puitis antikapitalis zaman itu.
Pembantaian massal dengan munculnya aneka aplikasi AI
Namun, realitas rupanya gemar meludah tepat di wajah kita. Hari ini, saat saya duduk di sebuah kafe di bilangan Grand Wisata, memesan segelas es kopi susu seharga dua puluh ribuan sebagai tiket sah untuk menumpang WiFi 100 Mbps berjam-jam, saya menyadari satu hal yang mengerikan: janji revolusi industri itu bodong.
Bukannya menciptakan robot untuk membantu manusia menguras WC mampet atau mempermudah urusan dorong angkot yang mogok saat Bekasi dilanda banjir, para teknokrat Silicon Valley justru menciptakan berbagai aplikasi AI Artificial Intelligence (AI) untuk melukis, mendesain logo, dan menulis artikel.
Ya, pekerjaan-pekerjaan mentereng yang dulu kita pikir aman dari kudeta mesin, kini justru berada di garis depan pembantaian massal.
Pekerja kreatif terlihat keren di luar, aslinya kejar upah UMR saja susah
Mari kita bedah fenomena ini dari kacamata sosial yang paling riil. Bagi sebagian besar pekerja kreatif lokal, terutama freelancer pemula atau fresh graduate, jangankan bermimpi bisa mengumpulkan pundi-pundi untuk DP rumah, menyentuh standar gaji UMR yang stabil saja susahnya minta ampun. Ekosistem industri kreatif kita sudah sejak lama digerogoti oleh kultur klien yang manipulatif.
Kita semua tahu rasanya berhadapan dengan klien yang meminta desain “harga teman”, revisi tanpa batas waktu hingga tipus meradang, atau yang paling bangsat: dibayar menggunakan koin exposure.
Profesi kreatif di negeri ini sering kali hanya terlihat keren dari luar (karena bisa kerja remote atau lesehan di kafe ber-AC), padahal di dalamnya penuh dengan keringat darah dan tulang punggung yang melengkung karena duduk belasan jam menatap layar.
Dan di tengah kondisi pasar kerja yang sudah babak belur itu, datanglah aneka aplikasi AI generatif seperti ChatGPT, Midjourney, dan kawan-kawannya.
Dalam kacamata kapitalisme yang pragmatis, aplikasi AI adalah wujud sempurna dari buruh idaman. Coba pikirkan baik-baik. AI tidak pernah menuntut didaftarkan BPJS Ketenagakerjaan. AI tidak butuh cuti haid di hari pertama.
Aneka aplikasi AI tidak akan membuat serikat pekerja lalu berdemo menuntut kenaikan upah minimum di bundaran HI. Dan yang paling penting, AI tidak akan pernah mengeluh apalagi sambat di Twitter/X pakai akun alter ketika disuruh merevisi draf artikel atau warna logo pada jam dua pagi.
Bagi para pemilik modal dan klien-klien pelit, kehadiran AI adalah sebuah anugerah tak terhingga. Dulu, ketika seorang freelancer menolak dibayar murah, si klien mungkin masih harus repot mencari freelancer lain yang lebih putus asa. Sekarang? Senjata mereka jauh lebih mematikan.
“Wah, kalau Masnya minta fee lima ratus ribu untuk satu tulisan, kemahalan. Mending saya suruh staf intern saya generate pakai ChatGPT, gratis!”
Apakah hasilnya seotentik tulisan manusia? Tentu saja tidak. Teks AI sering kali kaku, nir-emosi, dan berhalusinasi. Gambar AI sering kali memiliki anatomi jari yang mengerikan.
Namun, mari kita jujur, mayoritas bos dan klien korporat tidak peduli pada “jiwa” atau “otentisitas” sebuah karya. Selama pesannya tersampaikan, harganya murah (bahkan nol rupiah), dan Key Performance Indicator (KPI) mingguan mereka tercapai, setan pun akan mereka pekerjakan. Estetika dan idealisme seni hanyalah urusan nomor sekian di hadapan efisiensi anggaran perusahaan.
Ironisnya, siapa yang mengajari mesin-mesin ini menjadi begitu pintar? Kita sendiri. Tulisan-tulisan kita, portofolio desain kita, dan jejak digital yang kita unggah dengan bangga di internet selama bertahun-tahun secara diam-diam disedot, dikunyah, dan dijadikan bahan bakar pelatihan (training data) oleh perusahaan teknologi raksasa. Kita secara tidak sadar telah melatih para algojo yang kini siap memenggal karier kita sendiri.
Sudah banyak aplikasi AI, pekerja kreatif tak lebih akan jadi mandor prompter
Tentu saja, selalu ada narasi positif yang mencoba menghibur para pekerja kreatif yang mulai panik ini. “AI tidak akan menggantikan manusia, tapi manusia yang menggunakan AI akan menggantikan manusia yang tidak menggunakan AI.” Kalimat motivasi ini sering kali dilemparkan oleh para tech-bro di LinkedIn.
Sekilas terdengar bijak, tapi sebenarnya sangat elitis. Realitasnya, tuntutan industri kini berubah wujud menjadi lebih eksploitatif.
Alih-alih dihargai sebagai kreator, kita kini didemosi menjadi sekadar “mandor mesin” atau AI Prompter. Beban kerja dilipatgandakan (karena dianggap prosesnya sudah dibantu AI), sementara nilai ekonomi pekerjaannya justru didevaluasi.
Belum sempat kita, para pekerja kreatif lokal, menikmati regulasi ketenagakerjaan yang layak dan upah yang manusiawi, posisi kita sudah keburu direbut oleh barisan kode biner.
Pada akhirnya, di tengah kecemasan eksistensial ini, mungkin kita harus merevisi ulang cita-cita masa depan. Jika pekerjaan yang mengandalkan otak dan kreativitas sudah dikuasai oleh kecerdasan buatan, mungkin satu-satunya cara bertahan hidup bagi manusia adalah kembali ke pekerjaan yang terlalu menjijikkan atau terlalu rumit secara fisik untuk dilakukan oleh robot.
Jadi, sembari menghabiskan sisa es kopi susu yang es batunya sudah mencair semua ini, saya mulai berpikir serius. Mungkin setelah wisuda nanti, ketimbang menyebar CV ke agensi kreatif yang sewaktu-waktu bisa memecat saya demi langganan ChatGPT Plus, ada baiknya saya mulai belajar ilmu perpipaan atau cara menyedot WC. Sebab sejauh yang saya tahu, di Indonesia belum ada aplikasi AI atau robot yang bisa di-prompt untuk membersihkan septic tank yang mampet. Belum… 🙂
Penulis: Muhammad Bagas Hafidz
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Sisi Gelap AI dan Ancaman Imperialisme Digital ala ‘Big Tech’ dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai













