Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Inferiority Complex dalam Dunia Doktor: Inferior Boleh, Kompleks Jangan

“Tell me what we don’t know about Indonesia,” kata si supervisor yang dari Australia.

Musa Maliki oleh Musa Maliki
14 November 2021
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO ­- Perasaan minder dalam dunia doktor itu normal saja asalkan tidak melampaui batas ke “kompleks”. Inferior boleh, inferiority complex jangan.

Dua minggu lalu, seorang kawan, Wasisto Raharjo Jati menulis tentang “Inferiority Complex dalam Dunia Riset Indonesia” (24 Oktober 2021). Tulisan yang menggebu-gebu dan menggelora.

Tulisan tersebut ditanggapi Bayu Dardias berjudul “Inferiority Complex atau Perasaan Minder Bagian dari Eksistensi Akademisi” (3 November 2021) yang penuh gelora kerendahan hati dalam menyikapi dikotomi Barat dan Timur dan usaha melampaui keduanya.

Wasis dan Bayu mendapat pertanyaan yang sama dari supervisor, tapi responsnya beda: “Tell me what we don’t know about Indonesia,” (katakan pada saya, apa hal yang kami tak tahu soal Indonesia.)

Wasis memahaminya sebagai arogan supervisor sedangkan Bayu menanggapinya sebagai tantangan supervisor untuk Bayu dalam menggali gap (kebaruan) tulisan doktoralnya; Wasis melihatnya sebagai suatu relasi superior-interior sedangkan Bayu memaknai sebagai kerendahan hati supervisor.

Saat menempuh S3 di Charles Darwin University, kampus saya memang jauh dari hiruk pikuk popularitas ranking kampus dan para Indonesianis yang top.

Saya dibimbing Dennis Shoesmith, Prof (emeritus) Southeast Asia dan Wayne Cristaudo Prof (emeritus) political philosopher Barat-Yahudi. Saya belajar luar biasa dari kerendahan hati mereka yang mau mendengarkan harapan tulisan saya, lalu memberi petunjuk/tanda agar dapat diwujudkan.

Saat itu, saya datang dengan semangat kurang lebih sama dengan Wasis: dalam dikotomi Barat-Timur, cenderung essentialism.

Setelah keluar dari studi doktoral, saya menjadi biasa saja menanggapi berbagai macam hal, tidak terlalu essentialism atau mengawali dengan asumsi. Misalnya, bahwa Indonesia seperti ini dan itu, lalu yang lainnya bukan; hanya kita yang tahu diri kita yang lain ideologis.

Memang sulit mengolah perasaan rendah diri yang justru terekspresikannya melalui sikap reaksionis, ideologis, berontak. Perasaan rendah diri ini timbul-tenggelam. Jadi perasaan/mentalitas itu harus benar-benar disadari.

Saya ingat pendapat supervisor saya ketika saya ingin cerita sejarah modernitas Barat dengan cara mengkritiknya secara total. Saya mempunyai preferensi semua yang ada di Barat berwajah homogen dan salah.

Sebaliknya, Indonesia itu unik dan beragam. Namun, menurut supervisor yang disertasinya juga tentang Barat, Barat itu unik dan beragam. Jadi sebenarnya Barat dan Indonesia tidak jauh beda.

Masa itu telah berlalu. Kini saya menjadi lebih paham lagi apa yang dikatakan oleh para pembimbing saya.

Manusia itu kompleks di mana saja. Kita harus memahami kompleksitasnya, bukan malah membuat penyederhanaan yang bisa jadi mendistorsi realitas, bahkan ekstremnya distorsi itu membuat konflik dan salah paham di antara kita.

Iklan

Bahasa Inggris

Bagi saya, bahasa Inggris memang masalah besar orang Indonesia untuk mengatasi inferiority complex.

Dalam pergaulan di Canberra dan Darwin, saya berteman dengan orang Cina, India, Singapura, Korea, Rusia, Amerika, Brazil, Bangladesh (Manipur), Skotlandia, Vietnam, Iran, Thailand, Myanmar/Burma (Shan), dan bahkan orang Australia yang beragam etnisnya dan logatnya. Jadi saya merasakan keunikan dan persamaan antara tinggal di Selatan dengan tinggal di Utara Australia.

Ketika saya kuliah di ANU College, bahasa Inggris-nya terlihat jelas. Berbeda dengan Australia Utara yang logatnya awalnya memang susah dipahami.

Selain itu, ketika saya kerja serabutan baik di Selatan maupun di Utara, saya belajar banyak sekali ragam logat bahasa Inggris dari yang paling “kumur-kumur” sampai paling bening. Kesadaran dan pemahaman ini membuat saya tidak minder (biasa saja).

Memang, awal tinggal di luar negeri, Canberra, saya merasa terasing dan minder. Pada minggu-minggu pertama 2010, saya memang kesulitan memahami apa yang disampaikan dosen dan supervisor cleaning.

Namun lambat laut, saya menjadi terbiasa dengan perbedaan logat itu sama halnya terbiasa dengan perbedaan ketika tinggal di Indonesia dengan ragam etnis dan agama.

Walaupun saya cuma kuliah-kuliahan di ANU “coret”, tapi saya selalu ikut diskusi-diskusi temen-teman Indonesia dan non-Indonesia. Misalnya, di “Indonesia update”, “Minaret” (kelompok diskusi Indonesia), dan beberapa pengajian (walaupun pengajiannya, biasa, beragam) serta diskusi informal.

Selain itu, saya sering diskusi juga dengan orang-orang Australia yang mereka hanya lulusan SMA saja atau D3 (vocational). Misalnya, satpam, para tukang dan teknisi mesin-mesin dari tema Tuhan, Agama sampai ke korupsi dan politisi di Australia dan Indonesia. Kita berkomunikasi dengan Bahasa Inggris dengan lancar dan logat beragam.

Perasaan minder, suatu perasaan rendah diri, hal itu normal saja asalkan tidak melampaui batas ke “kompleks”.

Sebab, jika sampai ke sana, hal itu akan berimplikasi memuja-muja, menghamba, meng-copy–paste, menduplikat, menjadi follower secara fanatif dan dogmatik seseorang, aliran, mazhab, idola yang kita anggap luar biasa, fantastis, dan sulit dijangkau oleh apa yang kita sadari secara mental dan eksistensial.

Benar kata Bayu, masalah bahasa itu cuma dibuat-buat saja sebagai masalah oleh kita yang bagi saya dan Bayu serta Wasis adalah bahasa ketiga. Dan masalah sebenarnya ada di diri kita—yang kalau kata anak-anak jaman now: overthinking.

Jadi ketika kita bertemu dengan berbagai macam orang di Australia dari segala pelosok penjuru dunia, maka urusan bahasa Inggris adalah urusan ekspresi saja. Asal kita dimengerti oleh yang lain, selesai urusan bahasa, apapun ekspresi logatnya.

***

Setelah lulus doktor, biasanya secara sederhana ada tiga tipe doktor: ada yang sangat produktif kerja-kerja, scopus, mroyek dan sejenisnya; ada yang sibuk mengurusi rutinitas jabatannya dalam birokrasi kampus; ada juga yang santai antara keduanya demi faktor eksternal.

Ada hal utama lagi dari ketiganya, jika diperas: sense of humility (kerendahan hati).

Saya kira, kita harus selalu terjaga-sadar untuk tetap rendah hati, karena studi doktoral adalah proses pencarian ilmu (fenomenologi keilmuan), bukan cari kuasa, uang, dan sejenisnya, kecuali niat sejak awal begitu, Anda bisa kecewa.

Namun logika mencari duit dengan makna memperoleh standar layak hidup manusiawi dari gelar ke-doktor-annya juga penting. Gelar doktor harus disesuaikan dengan pola kehidupan ke-doktoran-nya agar (bukan untuk kaya) menunjang kerja-kerja doktornya.

Jadi bukan malah men-downgrade para doktor, membatasi, mengkerdilkan, melemahkan ruang gerak ke-doktoran-nya, apalagi ditambah dengan drama intervensi politik praktis.

Dalam fenomenologi keilmuan, kerja ke-doktor-an adalah kerja nyata kerendahan hati kanthi laku dalam mengatasi kerendahan diri (inferiority complex) dan luapan reaksionis-emosional semata.

Walaupun orang lain kurang menghargai kerja doktor (ah cuma omong doang), lalu menyempitkannya, membatasinya, maka para doktor dalam statusnya tetap harus punya kesadaran rendah hati.

Bukan kesadaran rendah diri.

BACA JUGA Dibanding Finlandia atau Jepang, Standar Mutu Pendidikan di Indonesia Sebenarnya Tak Selalu Lebih Ambyar dan ESAI lainnya.

Terakhir diperbarui pada 14 November 2021 oleh

Tags: Australiabahasa inggrisdoktorinferiority complexInfinix Hot S3kuliahS3thailand
Musa Maliki

Musa Maliki

Dosen Hubungan Internasional (HI) di UPN Veteran Jakarta dan Universitas Paramadina    

Artikel Terkait

Rozi, dosen penyandang disabilitas Unair yang lulus S3. MOJOK.CO
Sekolahan

Perjalanan Dosen Unair yang Kehilangan 2 Kaki, Berhasil Selesaikan Kuliah S3 di FKH dengan IPK Sempurna

27 Mei 2026
Lulus S3 Jurusan Rekayasa Nuklir di ITB. MOJOK.CO
Sekolahan

Pesan dari Lulusan ITB yang Raih Gelar S3 di Usia 62 Tahun: Jangan Lupa Menikmati Hidup

25 Mei 2026
Harga Kopi dan Ketakutan Dosen Bergelar Doktor pada Portal Error Menjelang Deadline MOJOK.CO
Esai

Harga Kopi dan Ketakutan Dosen Bergelar Doktor pada Portal Error Menjelang Deadline

25 Mei 2026
WHV di Australia ternyata berat. MOJOK.CO
Sosok

Kerja Mati-matian di Australia, Tabungan Sampai Setengah Miliar tapi Nggak Bisa Dinikmati dan Terpaksa Pulang usai Kena Mental

4 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Campus League Basketball 2026 Regional Jakarta Season 1 tidak hanya jadi panggung prestasi basket, tapi juga warna baru solusi mobilitas masa depan anak muda dengan motor listrik Polytron MOJOK.CO

Puncak Campus League Basketball 2026 Jakarta S1: Tak Hanya Jadi Panggung Basket tapi Juga Hadirkan Solusi Mobilitas Masa Depan Anak Muda

2 Juni 2026
Kerja di Jakarta, Cara Terbaik Buat Melihat Sisi Buruk Manusia adalah Kerja di F&B.mojok.co

FnB di Jakarta Bikin Sengsara Pekerjanya: Bisnis Elite tapi Gaji Karyawannya Seuprit, yang Dimiliki Artis bahkan Lebih Tak Manusiawi

2 Juni 2026
Usai lulus SMA jadi fotografer di Kota Lama Surabaya. MOJOK.CO

Jadi Fotografer Lepas di Kota Lama Surabaya usai Lulus SMA, Gaji Tak Seberapa asal Bisa Menabung untuk Masa Depan yang Lebih Cerah

4 Juni 2026
ilustrasi sepeda klaten.MOJOK.CO

Belajar Makna “Paseduluran” dari Penjual Onthel Lawas yang Sudah Tiga Dekade Hidup dari Pit Kebo

2 Juni 2026
Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara MOJOK.CO

Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara

5 Juni 2026
Derita Bisnis Laundry: Cuan 15 Juta Hilang karena Kebodohan MOJOK.CO

Pengalaman Bisnis Laundry yang Cukup Menyedihkan, Berharap Cuan Besar 15 Juta per Bulan tapi Cuma Dapat 3 Juta: Boncos karena Kebocoran-Kebocoran Sepele

4 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.