Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Hantu “The Nun” Kamu Bilang Horor? Tunggu Sampai Suster Kepala di Sekolah Memanggil

Mario F. Lawi oleh Mario F. Lawi
16 September 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Ah, kata siapa suster hantu di film The Nun itu horor? Horor itu kalau dipanggil menghadap suster kepala waktu kamu masih sekolah.

Harus diakui, film The Nun membuat orang-orang yang pernah mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah Katolik jadi bernostalgia ramai-ramai. Menurut mereka, ketakutan akibat suster hantu di film yang disutradarai Corin Hardy itu tak ada apa-apanya dibanding ketakutan yang dialami ketika dipanggil Suster Kepala ke ruangannya.

Kalau boleh protes terhadap film tersebut, yang saya ingin kritisi justru karena The Nun dan film-film sejenis (termasuk Harry Potter) citra bahasa Latin makin dikenal sebagai bahasa mantra dari antah-berantah, sedangkan dalam bahasa yang sama Ars Poetica dari Horatius, puisi 16 Catullus yang pembukaan dan penutupnya begitu cabul, dan literatur-literatur ilmu pengetahuan dan seni ditulis dan disebarkan secara luas pada masa jayanya.

Kembali ke soal lembaga pendidikan Katolik. Kalau mereka, orang-orang yang bilang Suster Kepala lebih menakutkan dari suster hantu The Nun itu, pernah mengenyam pendidikan di seminari, mereka juga mungkin akan bilang bahwa Pastor Kepala Buntung di film Hantu Jeruk Purut tidak ada apa-apanya ketimbang pastor-pastor Praeses dan Prefek di seminari-seminari.

Nah, karena pernah mengalami keduanya, izinkan kali ini saya hanya akan bercerita soal seramnya dipanggil Suster Kepala ke ruangannya.

Namanya Suster Maria Antonia Mamoh, SSpS. Kami sapa beliau Suster Antonia. Beliau adalah Kepala SMP St. Theresia. SMP Katolik paling disiplin pada masanya (karena bahkan untuk urusan jajan pun kamu tak diperbolehkan beli di luar pagar sekolah), dan termasuk paling terkenal di Kota Kupang.

SMP St. Theresia bernaung di bawah Yayasan Regina Angelorum yang dikelola suster-suster dari kongregasi SSpS (singkatan dari Servae Spiritus Sancti) atau suster-suster Misi Abdi Roh Kudus. Selain menjabat sebagai kepala sekolah, Suster Antonia mengampu pelajaran Matematika untuk kelas tiga.

Apakah diajari Matematika oleh Suster Kepala pada jam terakhir di hari-hari menjelang ujian nasional (tentu saja dalam kondisi lapar dan setengah mengantuk) berarti mengalami penampakan dua hantu di waktu yang tidak tepat? Tidak. Artinya bisa lebih buruk, bisa juga lebih baik. (Ampun, Suster Antonia. Semoga sehat selalu).

Sebentar, sebentar, mengapa bisa lebih buruk?

(1) Dari dulu saya tak takut hantu. (2) Ketika rumus-rumus, gambar bangun datar dan bangun ruang di papan tulis berganti dengan coretan-coretan melingkar dan suara yang mulai meninggi, itu artinya kamu tidak boleh ribut dan mesti pasang perhatianmu lebih saksama.

Jangan bikin kegaduhan apa pun yang menyebabkan garis-garis lingkaran makin tebal dan suara makin melengking. Semua siswa di St. Theresia sudah tahu apa yang akan terjadi jika kamu melamun dan kehilangan konsentrasi; Suster Antonia tak akan tiba-tiba menyambitmu dengan spidol atau menjewer kupingmu seperti yang dilakukan guru-guru lain, melainkan kamu tak bakal tahan dengan kata-kata Suster yang begitu menusuk dan membuatmu merasa begitu sia-sia sudah pernah dilahirkan ke dunia.

Untuk urusan menajamkan kata-kata, saingan Suster Antonia hanya Ibu Tinik, guru Seni Rupa yang lebih pandai menggunakan ironi dari semua guru Bahasa Indonesia di St. Theresia.

Cara Suster Antonia biasanya berhasil. Nilai-nilai yang jelek di masa try-out pasti terdongkrak ketika ujian nasional. Saya mengalaminya sendiri, memperoleh nilai ujian nasional Matematika sembilan koma sekian setelah dua kali memperoleh nilai merah saat try-out.

Selain karena cara mengajarnya efektif dan intimidatif (kami boleh saja menggunjingkan guru-guru lain ketika mereka kesal, tetapi tak ada satu pun yang berani melakukan hal itu terhadap Suster), sebab yang tak kalah penting adalah lebih banyak waktu yang diluangkan para siswa untuk belajar (diselingi berdoa, atau mungkin mengulang-ulang doa Yesus di Getsemani, “Biarlah cawan derita ini berlalu dari hadapan kami, ya Bapa!”).

Iklan

Meski suasana kelas Matematika lumayan mencekam, saya jamin tak akan ada siswa yang mau berurusan dengan Suster Antonia di luar jam pelajaran Matematika. Sebab itu artinya cuma ada dua kemungkinan: pertama, kau melakukan kesalahan dan mesti menemui beliau di ruangannya karena bahkan guru BK-mu pun menyerah, dan kedua, jika perlu, hanya surat panggilan orang tua yang bisa menebus kesalahanmu.

Yang kedua tentu saja lebih buruk dari yang pertama, atau kedua-duanya bisa berakhir sama buruknya jika pada poin yang pertama ada tambahan kalimat, “Suster boleh minta bapa deng mama pung nomor HP?”

Suasana menunggu di luar ruangan kepala sekolah tentu saja tak kalah mencemaskan. Kamu sudah tahu kesalahanmu, tapi tak tahu hukuman apa yang akan ditimpakan kepadamu. Seperti pendosa infernal yang berdiri di hadapan Minos untuk menanti berapa belitan ekor yang akan mengirimnya ke tempat hukuman.

Mengapa lebih baik?

Kamu toh sesekali merindukan ketakutan-ketakutan itu. Bahkan kadang mengenang mereka bersama hal-hal konyol lain yang telah berlalu dengan perasaan yang bercampur aduk. Kalau manusia biasanya berterima kasih untuk hal-hal yang ia anggap menjadikannya lebih baik, tulisan ini adalah ungkapan terima kasih untuk Suster Antonia dan semua guru di St. Theresia.

Tentu saja itu kalimat agar saya tidak tiba-tiba dipanggil ke ruangan Suster Kepala, meski jelas-jelas sudah lulus.

Terakhir diperbarui pada 16 September 2018 oleh

Tags: bapaCorin HardyFilmhantuHantu Jeruk Purutharry potterKatolikpastorPraesesPrefekSt. Theresiasuster kepalathe nun
Mario F. Lawi

Mario F. Lawi

Artikel Terkait

Ketika Hukum Mandul dan Sang Jenderal Jagal Terus "Menyangkal", Hantu Masa Lalu Datang Memberi Keadilan.MOJOK.CO
Seni

Ketika Hukum Mandul dan Sang Jenderal Jagal Terus “Menyangkal”, Hantu Masa Lalu Datang Memberi Keadilan

10 Juni 2026
Vakum 6 Tahun, LA INDIE MOVIE Hadir Kembali Cari Talenta Perfilman Indonesia MOJOK.CO
Kilas

Vakum 6 Tahun, LA INDIE MOVIE Hadir Kembali Cari Talenta Perfilman Indonesia

7 Mei 2026
Na Willa, film anak yang obati inner child
Seni

‘Na Willa’, Merangkul Inner Child dan Kebutuhan akan Film Anak dari Muaknya Komodifikasi Ketakutan

27 Maret 2026
Sinefil.MOJOK.co
Urban

Orang Nggak Mau Dijuluki “Sinefil” karena Tahu Itu Ejekan, tapi Tetap Banyak yang Mengaku “Si Paling Film”

9 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Harga Pertamax Naik Lagi, dan Kali Ini Kita Tidak Boleh Diam dan Pasrah Lagi

Harga Pertamax Naik Lagi, dan Seperti Biasa, Kelas Menengah Jadi Korban, Lagi dan Lagi

10 Juni 2026
Peluncuran program pendidikan koperasi (perkoperasian) untuk sekolah-sekolah yang dipelopori Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) MOJOK.CO

Jawa Tengah Bikin Pendidikan Koperasi di Sekolah: Bekal Kewirausahaan dan Alternatif Lapangan Kerja untuk Gen Z-Gen Alpha

5 Juni 2026
Meski tanpa sosok ayah (fatherless), tapi tidak hilang arah MOJOK.CO

Hidup Tanpa Sosok dan Peran Ayah Nyatanya Tak bikin Hilang Arah, Bisa Cari Arah Sendiri dan Malah bikin Orang Lain Iri

9 Juni 2026
Salah paham terhadap paket intimate wedding di wedding organizer (WO) MOJOK.CO

Salah Paham pada Paket Intimate Wedding di WO: Dikira Tekan Biaya padahal Bisa Tetap Mahal, Karena Intimate dan Biaya Itu Dua Hal Berbeda

4 Juni 2026
Edi Dimyati, alumnus Unpad yang mendirikan perpustakaan di Jakarta Timur. MOJOK.CO

Sering Dikira Montir sampai Petugas Pertamina, Lulusan Unpad Ini Sebetulnya Punya Perpustakaan Gratis di Pinggiran Sungai Jakarta Timur

10 Juni 2026
pabrik semen, pracimantoro, wonogiri.MOJOK.CO

Babak Baru Perlawanan Warga Wonogiri Tolak Pabrik Semen di Pracimantoro, Bawa Ancaman Karst Gunungsewu ke Markas UNESCO

9 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.