Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Film Penyalin Cahaya dan Catatan Saya untuk Penontonnya

Film yang cocok jadi lembar abstrak “penelitian” berjudul: Cara Kasus Kekerasan Seksual Dilihat di Indonesia.

Ardyan M. Erlangga oleh Ardyan M. Erlangga
26 Januari 2022
A A
Penyalin Cahaya dan Catatan Saya untuk Penontonnya

Penyalin Cahaya dan Catatan Saya untuk Penontonnya. (Mojok.co/Ega Fansuri).

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Film ‘Penyalin Cahaya’ membumikan dan membunyikan berbagai problem masyarakat kita dalam menangani kasus kekerasan seksual.

Baiklah.

Meski sudut pandang ceritanya jelas berbeda, di awal tulisan ini saya tetap terdorong untuk membandingkan film Penyalin Cahaya dengan salah satu film Indonesia lain, tentu dengan tema yang serupa.

Bagi saya, ini merupakan salah satu cara untuk bisa menjawab: “apa dan bagaimana film Penyalin Cahaya itu?”

Dalam upaya melibatkan penonton agar tidak sekadar bersimpati, tapi sekaligus aktif memahami kenapa luka kekerasan seksual mustahil sembuh (kalaupun tersedia, mungkin “obat” terbaiknya adalah perbaikan sistem hukum), film 27 Steps of May lebih berhasil dibanding film Penyalin Cahaya.

Baiklah saya tahu, 27 Steps of May (semoga kamu sudah menontonnya) di permukaan tidak memiliki pretensi menyulut pencerahan penonton tentang isu kekerasan seksual yang belakangan mendesak direspons serius oleh semua pihak. Penyalin Cahaya lebih tegas mengemban misi tersebut.

Cerita May berpusat pada individu yang terluka (May dan ayahnya). Barangkali, karena semesta ceritanya mikro, gagasan utamanya menjadi lebih padu.

Lingkup persoalan 27 Steps of May adalah respons keluarga atas tragedi. Penyintas kekerasan seksual mampu bertahan melalui semua trauma itu berkat keluarga. Itu pun tetap ada sekian harga yang harus dibayar oleh semua pihak yang terdampak, langsung maupun tidak langsung.

Ketakutan pada warna, adiksi pada kekerasan, dan perjalanan yang panjang untuk lepas dari penyesalan sepanjang durasi 27 Steps of May, menggambarkan secara koheren satu visi sineasnya:

“Kekerasan seksual bukan salah korban. Bukan salah keluarga korban. Yang bersalah adalah pelaku, terlepas dari korban berhasil mendapat keadilan atau tidak.”

Di sisi lain, film Penyalin Cahaya berhasil membumikan berbagai problem dari cara masyarakat, institusi, hingga individu di negara ini, tiap kali merespons kasus kekerasan seksual. Berlapis masalah itu berhasil diterjemahkan menjadi sajian filmis sekaligus puitis.

Bisa dibilang, film Penyalin Cahaya semacam ringkasan permukaan problem kekerasan seksual di negara ini. Ringkasan ini dikemas dengan sajian yang nyaman disantap oleh mata, alur yang menyita perhatian, serta akting meyakinkan.

Namun karena sifatnya meringkas (dan menjadikan kesaksian para penyintas secara simbolik sebagai seruan moral), respons penonton saya pikir akan terbelah di akhir Penyalin Cahaya.

Sangat wajar bila sebagian penonton memiliki harapan memahami lebih lanjut, gagasan apa yang dipegang oleh sosok-sosok di balik layar. Sebab, ada pesan yang cukup kontradiktif di balik permukaan cerita Penyalin Cahaya.

Iklan

Tentu saja mereka yang terlibat produksi film Penyalin Cahaya berpihak pada korban atau penyintas kekerasan seksual. Itu sudah jelas.

Namun di sela-sela filmnya, terbuka ruang yang problematis, karena penonton diajak “memahami” pelaku lewat adegan yang buat saya mengganggu pakem realis sepanjang dua per tiga durasinya.

Alegori upaya Suryani, tokoh utama Penyalin Cahaya, yang diandaikan sang pelaku serupa Medusa (dan dia Perseus), bagi saya tidak memperkaya ceritanya. Medusa, yang diperkosa Poseidon dan kemudian direduksi menjadi monster yang dipenggal Perseus di lakon klasik Yunani, jelas punya nasib tragis.

Manifesto filsuf Hélène Cixous yang terbit pada 1975, “The Laugh of the Medusa“, sejak jauh-jauh hari mengingatkan kita bahwa kisah Medusa bisa dibaca sebagai pembungkaman perempuan yang diperkosa.

Nah, di titik itulah, menempatkan si pelaku bermonolog, yang pada intinya mendakwa langkah Sur mencari keadilan sia-sia karena benteng patriarki sedemikian kuat sejak dulu kala, jadi terasa, “Buat apa adegan ini masuk? Apakah tidak ada cara yang lebih subtil, dan berangkat dari sudut pandang perempuan untuk menyampaikan pesan yang lebih kurang sama?”

Selain itu, karena konflik utama Penyalin Cahaya dikemas sebagai thriller (ini film thriller yang kompeten), perjuangan Sur mencari keadilan sesekali bersaing dengan kebutuhan menggerakkan plot. Itu belum termasuk kesan cerita bila semua ini terjadi akibat kenaifan Sur sendiri.

Semua persoalan dalam film ini berentetan muncul karena Sur tidak menuruti ucapan ayahnya, dia tidak bisa menjaga diri, dan dia “kepengin eksis” di kampus. Padahal, apalah arti semua kenakalan tersebut—bahkan dari sudut pandang moral—dibanding tindakan memperjualbelikan foto privat untuk fetish yang liar.

Betul Sur digambarkan terluka. Penonton menyaksikannya secara eksplisit, nyaris voyeuristik malah lewat kolase foto-foto area privat yang disimpan dan diambil pelaku. Masalahnya, di saat bersamaan penonton sekaligus terdistraksi untuk menebak-nebak siapa pelaku, apa yang akan terjadi berikutnya, dan lain sebagainya.

Keadilan tidak selalu, atau malah sangat jarang, menang. Kita yang hidup di dunia fana ini tentu memahaminya. Penyalin Cahaya berusaha jujur menyalin realitas pahit tersebut.

Adegan simbolis yang indah di akhir film Penyalin Cahaya, barangkali adalah usaha sineasnya meyakinkan kita, semakin banyak korban yang berani bicara, akan menghasilkan sesuatu. Sayangnya, butuh optimisme dosis tinggi untuk mencapai konklusi positif macam itu.

Saya sebetulnya tidak berharap Penyalin Cahaya menyediakan kesimpulan yang katartik, atau malah heroik. Kalau yang dicari adalah cerita dengan tema rape revenge seperti Marlina atau Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas menawarkan alternatif solusi keadilan yang lebih berani (sekalipun fantastik).

Kekerasan seksual adalah isu pelik. Saya tidak pernah menjadi korban kekerasan seksual. Meski begitu, ada yang sesak di dada ini sesudah kredit Penyalin Cahaya muncul di layar. Kemenangan Sur yang bahkan sekadar simbolis pun, sebelumnya sudah dirampok monolog sang pelaku yang problematis itu.

Barangkali memang itulah efek yang diharapkan, agar kita bergidik pada tebalnya ketidakadilan (di negara ini), sehingga sebagian besar penonton terdorong lebih peduli pada isu kekerasan seksual.

Sebagai film yang berupaya menyadarkan penonton seluas mungkin mengenai rumitnya mencari keadilan bagi korban kekerasan seksual, Penyalin Cahaya buat saya berhasil.

Namun beberapa pilihan artistik membuat pesannya sedikit ambigu. Diperumit pula keterlibatan terduga pelaku kekerasan seksual sebagai penulis skenarionya, wajar bila sebagian penonton akan gamang memosisikan keberpihakan film ini terhadap para penyintas.

Selepas menonton Penyalin Cahaya, yang saya ingat adalah keinginan mengajak bicara Sur, Tariq, atau Farah, tentang satu pesan yang saya dapat dari 27 Steps of May.

Sebab dari May, saya setidaknya akan terus ingat; jika kelak orang yang saya kenal atau bahkan saya sayang menjadi penyintas kekerasan seksual, saya harus tegas mengatakan ini padanya:

“Ini bukan salahmu. Semua ini bukan salahmu.”

BACA JUGA ‘PenyaIin Cahaya’ Pecahkan Rekor, Borong 12 Piala Citra dan tulisan Ardyan M. Erlangga lainnya.

Editor: Ahmad Khadafi

Terakhir diperbarui pada 26 Januari 2022 oleh

Tags: 27 steps of mayFilmkekerasan seksualmedusapenyalin cahayareview
Ardyan M. Erlangga

Ardyan M. Erlangga

Reviewer film, dosen, jurnalis, aktivis. Tinggal di Depok, Jawa Barat.

Artikel Terkait

Dosen UNIMA diduga lakukan kekerasan seksual ke mahasiswi FIPP hingga trauma dan bunuh diri MOJOK.CO
Aktual

Trauma Serius Mahasiswi UNIMA akibat Ulah Menjijikkan Oknum Dosen, Tertekan hingga Gantung Diri

2 Januari 2026
Film Tukar Takdir Nggak Sekadar Adegan Mesra Nicholas Saputra dan Adhisty Zara dalam Mobil! Mojok.co
Pojokan

Film Tukar Takdir Nggak Sekadar Adegan Mesra Nicholas Saputra dan Adhisty Zara!

8 Oktober 2025
film tema perselingkuhan.MOJOK.CO
Mendalam

Main Serong di Sinema Indonesia: Mengapa Kamu Menyukai Film Bertema Perselingkuhan?

22 September 2025
Fadli Zon menyangkal pemerkosaan massal dalam kerusuhan 1998. MOJOK.CO
Mendalam

Menyangkal Pemerkosaan Massal 1998 adalah Bentuk Pelecehan Dua Kali: Fadli Zon Seharusnya Minta Maaf, meskipun Maaf Saja Tak Cukup

16 Juni 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

InJourney salurkan bantuan pascabencana Sumatra. MOJOK.CO

Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM

17 Januari 2026
Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital: Harga RAM Makin Nggak Ngotak MOJOK.CO

Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital karena Harga RAM Makin Nggak Masuk Akal

16 Januari 2026
Cara wujudkan resolusi 2026 dengan finansial yang baik. MOJOK.CO

Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026

19 Januari 2026
Keluar dari organisasi mahasiswa ekstra kampus (ormek) PMII, dicap pengkhianat tapi lebih sukses MOJOK.CO

Nekat Keluar PMII karena Tak Produktif: Dicap Pengkhianat-Nyaris Dihajar, Tapi Bersyukur Kini “Sukses” dan Tak Jadi Gelandangan Politik

13 Januari 2026
Mie ayam di Jakarta jadi saksi para pekerja berusaha tetap waras meski penuh beban hidup MOJOK.CO

Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua

14 Januari 2026
Mohammad Zaki Ubaidillah, dari Sampang, Madura dan langkah wujudkan mimpi bulu tangkis di Daihatsu Indonesia Masters 2026 di Istora Senayan Jakarta MOJOK.CO

Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan

19 Januari 2026

Video Terbaru

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

18 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.