Tumpahan solar yang menghancurkan masa depan keluarga
Data Ditlantas Polda Sumut mencatat 4.903 kasus kecelakaan lalu lintas sepanjang tahun 2025. Meski diklaim menurun, statistik ini tetap mematikan karena di lapangan, penyebab utama kecelakaan ini masih didominasi oleh maraknya truk logistik yang kelebihan muatan (Over Dimension Over Load). Truk-truk raksasa yang dipaksa memikul beban berlebih inilah yang merusak struktur aspal, memicu rem blong, hingga meneteskan solar di sepanjang jalan.
Akibatnya fatal, data menunjukkan sepanjang 2025 masih ada 1.225 nyawa manusia yang melayang sia-sia dan 1.448 korban luka berat di aspal Sumatera Utara akibat kegagalan struktural kendaraan muatan berat tersebut.
Kami menyaksikan bagaimana kelalaian sekecil tumpahan solar dan jalanan rusak di jalan lintas Sumatera yang dibiarkan lama terbengkalai bisa menghancurkan masa depan sebuah keluarga dalam hitungan detik.
Efek domino dari kombinasi minyak dan lubang kerukan ini sangat mekanis sekaligus biologis. Awalnya adalah kemacetan.
Begitu satu atau dua kendaraan roda dua tergelincir atau melambat ekstrem demi menghindari kerukan jalan yang licin, arus lalu lintas langsung tersendat.
Kecepatan melambat, emisi gas buang meningkat, dan sirkulasi udara di dalam kabin mobil non-AC mulai membuat kepala pening. Secara medis, terjebak di tengah kemacetan jalan lintas Sumatera dengan paparan panas ekstrem dan stres psikologis memicu lonjakan hormon kortisol. Sopir-sopir mulai kelelahan, dehidrasi mengintai, dan fokus visual mereka perlahan menurun akibat fatik kronis.
Koordinasi antarinstansi yang nggak bisa cepat
Jujur saja, sebagai sesama rekan ASN di pemerintahan, terkadang saya ingin mengetuk hati para pembuat kebijakan di sektor perhubungan dan pekerjaan umum. Di dalam ruang rapat dinas yang ber-AC nyaman, kita sering kali sibuk membahas target serapan anggaran dan laporan berlembar-lembar.
Namun di lapangan, koordinasi antarinstansi kita serendah traksi ban di atas solar. Dinas PU merasa tugasnya selesai begitu aspal dikeruk, sementara Dinas Perhubungan atau polisi lalu lintas tidak punya mekanisme cepat untuk menutup jalan atau menaburkan pasir begitu ada laporan solar tumpah.
Semua menunggu disposisi atau memperdebatkan status jalan (kabupaten, provinsi, atau nasional), menunggu arahan atasan, sementara di luar sana nyawa warga negara sedang dipertaruhkan.
Masalahnya, dalam kondisi jalan lintas Sumatera macet yang mengular itu, selalu ada saja pengendara yang kehilangan akal sehatnya karena tidak sabar. Mereka mencoba menyalip dari lajur yang salah atau memaksakan kendaraan melaju kencang begitu melihat ada celah sedikit.
Ketika pengendara mulai kehilangan akal sehatnya, di sinilah tumpahan solar dan jebakan aspal kerukan tadi menagih tumbal. Ketika rem diinjak secara mendadak di atas permukaan yang terlumuri minyak dan bergelombang, hukum fisika bekerja tanpa kompromi.
Gaya gesek ban lenyap. Kendaraan kehilangan traksi, terpelintir, dan berujung pada kecelakaan lalu lintas yang fatal.
Kecelakaan di jalan lintas Sumatera itu bukan takdir!
Sebagai klinisi, saya sering kali merasa jengkel dengan respons kolektif masyarakat kita yang terlampau cepat melabeli kecelakaan seperti ini sebagai takdir atau nasib buruk. Respons lainnya mungkin meminta pertanggung jawaban pejabat berwenang.
Maaf-maaf saja, menyebut rem blong atau ban slip karena solar dan lubang kerukan sebagai takdir adalah bentuk kemalasan berpikir yang akut.
Ini adalah kegagalan struktural. Ini adalah akibat dari pembiaran truk-truk kelebihan dimensi dan muatan yang tidak layak jalan tetap melenggang bebas, minimnya pengawasan kelaikan armada, serta lambatnya respon pihak berwenang untuk menaburkan pasir atau segera menyelesaikan proyek tambal sulam yang terlantar itu.
Menyelesaikan sengkarut jalan lintas Sumatera tidak bisa hanya dengan berdoa sebelum berangkat, walaupun itu sangat wajib hukumnya. Kita butuh ketegasan regulasi yang tidak licin seperti jalanan yang terkena solar dan tidak lambat seperti pengerjaan tambal sulam aspal.
Sebagai ASN, saya memanggil integritas rekan-rekan sejawat di instansi terkait. Jika jembatan timbang berfungsi dengan jujur tanpa kompromi, jika kontraktor jalan dipaksa menyelesaikan kerukan dalam hitungan hari.
Dan jika SOP penanganan darurat tumpahan zat cair berbahaya di jalan raya bisa berjalan tanpa birokrasi yang berbelit, maka kita tidak perlu menguras air mata di ruang forensik atau kamar jenazah rumah sakit.
Sudah saatnya kita berhenti memaklumi bahaya, karena aspal jalan lintas Sumatera seharusnya menjadi jalan penghidupan, bukan jalur cepat menuju liang kubur.
Penulis: Rifan Eka Putra Nasution
Editor: Agung Purrwandono
BACA JUGA Pandangan Baru Dunia setelah 202 Jam Naik Bis Lintas Sumatra-Jawa dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai.














