Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Catatan Dokter tentang Jalan Lintas Sumatera: Jangan Jadikan Jalinsum Jalur Cepat Menuju Liang Kubur

Rifan Eka Putra Nasution oleh Rifan Eka Putra Nasution
15 Juni 2026
A A
Catatan Dokter tentang Jalan Lintas Sumatera: Jangan Jadikan Jalinsum Jalur Cepat Menuju Liang Kubur MOJOK.CO

Ilustrasi Catatan Dokter tentang Jalan Lintas Sumatera: Jangan Jadikan Jalinsum Jalur Cepat Menuju Liang Kubur. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tumpahan solar yang menghancurkan masa depan keluarga

Data Ditlantas Polda Sumut mencatat 4.903 kasus kecelakaan lalu lintas sepanjang tahun 2025. Meski diklaim menurun, statistik ini tetap mematikan karena di lapangan, penyebab utama kecelakaan ini masih didominasi oleh maraknya truk logistik yang kelebihan muatan (Over Dimension Over Load). Truk-truk raksasa yang dipaksa memikul beban berlebih inilah yang merusak struktur aspal, memicu rem blong, hingga meneteskan solar di sepanjang jalan. 

Akibatnya fatal, data menunjukkan sepanjang 2025 masih ada 1.225 nyawa manusia yang melayang sia-sia dan 1.448 korban luka berat di aspal Sumatera Utara akibat kegagalan struktural kendaraan muatan berat tersebut.

Iklan

Kami menyaksikan bagaimana kelalaian sekecil tumpahan solar dan jalanan rusak di jalan lintas Sumatera yang dibiarkan lama terbengkalai bisa menghancurkan masa depan sebuah keluarga dalam hitungan detik.

Efek domino dari kombinasi minyak dan lubang kerukan ini sangat mekanis sekaligus biologis. Awalnya adalah kemacetan. 

Begitu satu atau dua kendaraan roda dua tergelincir atau melambat ekstrem demi menghindari kerukan jalan yang licin, arus lalu lintas langsung tersendat. 

Kecepatan melambat, emisi gas buang meningkat, dan sirkulasi udara di dalam kabin mobil non-AC mulai membuat kepala pening. Secara medis, terjebak di tengah kemacetan jalan lintas Sumatera dengan paparan panas ekstrem dan stres psikologis memicu lonjakan hormon kortisol. Sopir-sopir mulai kelelahan, dehidrasi mengintai, dan fokus visual mereka perlahan menurun akibat fatik kronis.

Koordinasi antarinstansi yang nggak bisa cepat

Jujur saja, sebagai sesama rekan ASN di pemerintahan, terkadang saya ingin mengetuk hati para pembuat kebijakan di sektor perhubungan dan pekerjaan umum. Di dalam ruang rapat dinas yang ber-AC nyaman, kita sering kali sibuk membahas target serapan anggaran dan laporan berlembar-lembar. 

Namun di lapangan, koordinasi antarinstansi kita serendah traksi ban di atas solar. Dinas PU merasa tugasnya selesai begitu aspal dikeruk, sementara Dinas Perhubungan atau polisi lalu lintas tidak punya mekanisme cepat untuk menutup jalan atau menaburkan pasir begitu ada laporan solar tumpah. 

Semua menunggu disposisi atau memperdebatkan status jalan (kabupaten, provinsi, atau nasional), menunggu arahan atasan, sementara di luar sana nyawa warga negara sedang dipertaruhkan.

Masalahnya, dalam kondisi jalan lintas Sumatera macet yang mengular itu, selalu ada saja pengendara yang kehilangan akal sehatnya karena tidak sabar. Mereka mencoba menyalip dari lajur yang salah atau memaksakan kendaraan melaju kencang begitu melihat ada celah sedikit.

Ketika pengendara mulai kehilangan akal sehatnya, di sinilah tumpahan solar dan jebakan aspal kerukan tadi menagih tumbal. Ketika rem diinjak secara mendadak di atas permukaan yang terlumuri minyak dan bergelombang, hukum fisika bekerja tanpa kompromi. 

Gaya gesek ban lenyap. Kendaraan kehilangan traksi, terpelintir, dan berujung pada kecelakaan lalu lintas yang fatal.

Kecelakaan di jalan lintas Sumatera itu bukan takdir!

Sebagai klinisi, saya sering kali merasa jengkel dengan respons kolektif masyarakat kita yang terlampau cepat melabeli kecelakaan seperti ini sebagai takdir atau nasib buruk. Respons lainnya mungkin meminta pertanggung jawaban pejabat berwenang. 

Maaf-maaf saja, menyebut rem blong atau ban slip karena solar dan lubang kerukan sebagai takdir adalah bentuk kemalasan berpikir yang akut. 

Iklan

Ini adalah kegagalan struktural. Ini adalah akibat dari pembiaran truk-truk kelebihan dimensi dan muatan yang tidak layak jalan tetap melenggang bebas, minimnya pengawasan kelaikan armada, serta lambatnya respon pihak berwenang untuk menaburkan pasir atau segera menyelesaikan proyek tambal sulam yang terlantar itu.

Menyelesaikan sengkarut jalan lintas Sumatera tidak bisa hanya dengan berdoa sebelum berangkat, walaupun itu sangat wajib hukumnya. Kita butuh ketegasan regulasi yang tidak licin seperti jalanan yang terkena solar dan tidak lambat seperti pengerjaan tambal sulam aspal. 

Sebagai ASN, saya memanggil integritas rekan-rekan sejawat di instansi terkait. Jika jembatan timbang berfungsi dengan jujur tanpa kompromi, jika kontraktor jalan dipaksa menyelesaikan kerukan dalam hitungan hari. 

Dan jika SOP penanganan darurat tumpahan zat cair berbahaya di jalan raya bisa berjalan tanpa birokrasi yang berbelit, maka kita tidak perlu menguras air mata di ruang forensik atau kamar jenazah rumah sakit. 

Sudah saatnya kita berhenti memaklumi bahaya, karena aspal jalan lintas Sumatera seharusnya menjadi jalan penghidupan, bukan jalur cepat menuju liang kubur.

Penulis: Rifan Eka Putra Nasution
Editor: Agung Purrwandono

BACA JUGA Pandangan Baru Dunia setelah 202 Jam Naik Bis Lintas Sumatra-Jawa dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 15 Juni 2026 oleh

Tags: jalan lintas sumateraKecelakaanlintas sumaterapilihan redaksi
Rifan Eka Putra Nasution

Rifan Eka Putra Nasution

dr. Rifan Eka Putra Nasution, M.Si adalah penulis dan pembicara kedokteran dan kesehatan sekaligus penikmat kopi.

Artikel Terkait

Ketika Video Korban Kecelakaan Mengubah Kematian Menjadi Tontonan MOJOK.CO
Esai

Ketika Video Korban Kecelakaan Mengubah Kematian Menjadi Tontonan

24 Juli 2026
Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO
Esai

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri

23 Juli 2026
Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO
Sehari-hari

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO
Sehari-hari

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif MOJOK.CO

Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif

21 Juli 2026
Tawadhu Tidak Seharusnya Membuat Santri Diam saat Menjadi Korban MOJOK.CO

Tawadhu sebagai Pisau Bermata Dua: Santri Tidak Seharusnya Dibungkam saat Menjadi Korban

26 Juli 2026
Nasi Kuning Muna Cung dan Kisahnya yang Membuat Wisatawan Rela Berjalan Kaki dari Malioboro MOJOK.CO

Nasi Kuning Muna Cung dan Kisahnya yang Membuat Wisatawan Rela Berjalan Kaki dari Malioboro

22 Juli 2026
Lika-Liku Meredam Tantrum Siswa Autis di Balik Keseruan Hari Anak Nasional Prambanan.MOJOK.CO

Lika-Liku Meredam Tantrum Siswa Autis di Balik Keseruan Hari Anak Nasional di Candi Prambanan

22 Juli 2026
Lulusan s2, susahnya legalisir ijazah setelah wisuda.MOJOK.CO

Nasib Lulusan S2 di Jakarta: Kuliah Dianggap Nggak Guna karena Kalah Saing dengan Tamatan SMA, tapi Tetap Merasa Bangga

23 Juli 2026
Punya teman si paling cashless yang sama sekali tidak pegang uang tunai (cash) merepotkan. Karena tidak semua hal bisa dibayar pakai QRIS MOJOK.CO

Teman Si Paling Cashless Pemuja QRIS bikin Repot Kita yang Sedia Tunai, Kepraktisan Semu di Balik Tren Dompet Kosong

24 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.